Minggu, 31 Juli 2016

Pengangguran yang menjadi pengangguran

Sebagian orang beranggapan setelah ia menempuh jenjang pendidikan tinggi ia akan memperoleh pekerjaan yang membuat taraf kehidupan ia menjadi lebih baik. Ia dapat bekerja di perusahaan ternama ataupun mendapatkan status sosial yang baru. Menjadi manajer misalnya, menjadi staff akuntansi, atau sebut saja ia menjadi staff kantoran. Tentu saja hal ini masih sangat diimpikan bagi sebagian besar orang yang ada di Indonesia. Sehingga ia menghabiskan waktunya, uangnya, sebagian besar kebahagiaannya untuk berhadapan dengan tugas-tugas belajarnya dan dengan berbagai materi perkuliahan yang sama sekali mungkin tidak dibutuhkan ketika ia masuk dunia kerja. Hingga sampailah ia mendapatkan gelar dari tingkat pendidikan tinggi. Sarjana. Namun, tak ia sangka ketika ia menjalani waktu dalam belajar, ia kembali harus menerima kenyataan bahwa dunia pekerjaan yang ia impikan membuthkan beberapa kriteria yang lain. Misalnya ia harus punya spesialisasi tertentu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menekuni jenjang pendidikan setelah pendidikan tinggi dengan mendaftarkan dirinya ke pendidikan spesialis. Ia pun mendapatkannya. Ia kembali masuk ke dunia bursa kerja. Pahit. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan yang ia impikan. Ia kembali harus melanjutkan perjuangannya menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jenjang Master. Dua, tiga, empat tahun berlalu. Ia menjadi Master. Sekarang ia berada diatas angin. Ironi. Pekerjaan yang ia impikan ternyata sudah tak lagi menginginkannya. Umurnya telah melewati batas. Akhirnya ia masuk ke pekerjaan yang apa adanya.

Hari-hari masuk dalam dunia pekerjaan telah ia rasakan. Menjadi pengangguran yang berstempelkan mahasiswa telah ia lewati. Perlahan demi perlahan status sosialnya mulai berubah. Menjadi seseorang yang bekerja. Setidaknya ketika ia bertemu dengan orang-orang yang baru. Ia bisa menjawab pertanyaan, "kerja dimana sekarang?" Namun hakikat menjadi pengangguran tetap sama saja ia dapatkan. Ketika ia masuk ke dunia pekerjaan yang tidak ia impikan, ia akan menemui dunia pekerjaan yang dalam aktivitas kesehariannya, lebih banyak menganggurnya daripada bekerja. Dunia pekerjaan dimana para karyawan tidak dibina dengan pendidikan yang cukup atau pelatihan yang cukup sehingga visi dan misi dari perusahaan tidak sinergis dengan para karyawan. Dunia pekerjaan yang mana hari-harinya hanya menunggu masa saat gajian. Itupun dengan gaji yang tidak seberapa.Para karyawan yang masuk kadang masih saja bertanya-tanya, apa yang harus saya kerjakan? Apa yang sebaiknya saya kerjakan? Apa yang bisa saya bantu kerjakan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya karena tidak adanya poin visi atau misi dalam benak para karyawan. Sehingga motivasi karyawan terbatas hanya ketika ada pekerjaan yang datang menghampiri mereka. Katakanlah para karyawan telah dibekali dengan pendidikan, entah pendidikan pra jabatan atau yang lainnya. Beberapa diantara mereka masih lebih sering memangku dagu menatap layar komputer, dengan tatapan kosong, atau tatapan penuh status di media sosial atau menontov film dengan menggunakan media dan fasilitas yang disediakan kantor. 

Dengan kenyataan ini,saya cuma bisa bilang, yah begitulah.

Solusinya, cobalah pahami visi dan misi organisasi dimana tempat anda bekerja. Konsultasikan kepada atasa anda tentang capaian strategi yang sudah ia jalankan, sudah sejauh mana, sehingga ada gambaran bagi anda untuk mengerjakan sesuatu. Timbang nganggur.

Jumat, 29 Juli 2016

Seumur Hidup Menjadi Pendatang

Jangan salahkan ibu mengandung. Jangan pula salahkan dimana ibu melahirkan. Begitulah kira-kira, apa yang saya dan mungkin beberapa orang yang sama nasibnya dengan saya. Kami lahir di tempat yang bukan kota atau tempat kelahiran atau asal dimana orang tua kami dilahirkan dan dibesarkan. Saya dilahirkan di tempat orang tua saya bekerja. Dimana status mereka sebagai pendatang. 

Ketika saya duduk di bangku SD hingga SMA saya sering mendapatkan pertanyaan oleh beberapa teman saya. Pertanyaan yang sederhana namun belum tentu bisa memberikan jawaban yang sesungguhnya. Pertanyaan itu ialah, "kamu asli mana?." Pertanyaan ini begitu sederhana, dan selalu saya jawab juga dengan jawaban sederhana. "Maksudnya gimana?" iya, jawaban dalam bentuk pertanyaan. Lalu ia tanya lagi suku mana. Lalu ini menjadi sulit untuk di jelaskan. Karena yang beredar di sebagian besar masyarakat kita, jika seseorang lahir dan dibesarkan di suatu wilayah, jadilah orang tersebut menjadi bagian dari penduduk tempat tersebut. Katakanlah, ia lahir di Jogja, ia dibesarkan dan beranak pinak disitu, maka ia menjadi bagian dari orang Jogja. Nah, dalam silsilah keluarga saya, ketika ayah saya di tanya dia orang mana, ia akan menjawab ia orang Dobo. Karena ia lahir dan dibesarkan di Dobo. Keluarga besarnya tinggal di Dobo. Dobo merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara. Namun Kakek saya, adalah orang Bone. Beliau lahir dan di besarkan di Bone. Salah satu Pulau yang berada di Sulawesi. Hingga kemudian ia bersama ayahnya merantau ke pulau Maluku dan singgah di Kota Dobo. Adapun Kakek Buyut saya, saya tidak tahu beliau asli mana, lahir dimana dan dibesarkan di pulau atau kota mana, karena saya cuma tahu silsilah sampai kakek saya saja. Itu sekilas dari bapak dan kakek saya yang asal-usulnya dari pulau atau kota dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Saya? Saya lahir dan dibesarkan di Kota Jayapura. Dari yang semula provinsinya bernama Irian Jaya hingga menjadi Provinsi Papua. Bahkan hingga provinsi Papua di pecah menjadi Papua dan Papua Barat. Selama kurang lebih 17 Tahun saya hidup dari lahir hingga remaja. Namun, hingga matipun saya di tanah kelahiran dan dibesarkan bahkan hingga mengkeriput kulit tubuh ini, saya tidak akan pernah disebut sebagai putra daerah. Karena saya akan tetap disebut seumur hidup sebagai pendatang. 

Rambut saya lurus, agak bergelombang. Tidak ikal, tidak juga keriting. Kulit tubuh saya tidak hitam arang, juga tidak seputih salju. Aslinya kulit saya putih meskipun tak seputih salju, namun karena lama berinteraksi dan tinggal di kawasan tropis lama kelamaan kulit saya menjadi kecoklatan. Ibu saya bukan orang asli Papua, begitu juga bapak saya. Jadilah saya tidak termasuk dalam kriteria orang Papua. Sebagaimana potongan lirik lagu yang selalu dibangga-banggakan oleh orang Papua. "Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua." Bahkan ada sebagian orang pendatang yang bernasib seperti saya suka menyanyikannnya padahal hal itu sama sekali takkan mengubah status ia menjadi orang Papua. Lucu. Bahkan saya sempat membaca dalam sebuah koran lokal yang paling terkenal di Papua tentang kriteria orang Papua. Salah satu atau keduanya dari orang tua anak orang asli Papua (Baca, hitam kulit, keriting rambut), sudah 20 tahun tinggal di papua dll. 

Sekarang saya punya keluarga kecil. Ketika saya remaja saya pergi merantau ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya hidup selama 12 tahun lamanya. Melepas masa remaja, lajang dan mempunyai dua orang anak yang dilahirkan di Sleman Yogyakarta. Sekarang pertanyaannya, ketika ditanyakan kepada anak saya kelak ketika (Insya Allah) mereka seumuran saya, kira-kira apa jawaban mereka? Saya hanya bisa tersenyum saja. 

Setelah 12 tahun tinggal di Yogyakarta, kini saya kembali ke kota kelahiran, Jayapura. Entah sampai kapan disini. Hanya saja sekarang saya datang dengan perasaan yang baru, yakni tak lagi mengkhawatirkan atau bertanya-tanya siapa saya sebenarnya, suku mana, asli mana. Karena seumur hidup saya, saya akan tetap dan terus menjadi pendatang. Cukuplah sebuah hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjadi penghibur hati ini,  " عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416).

Begitulah kira-kira sebagaimana seorang musafir atau orang yang melakukan perjalanan, sepanjang hidupnya akan menjadi pendatang. Seumur hidup menjadi seorang pendatang.