Jangan salahkan ibu mengandung. Jangan pula salahkan dimana ibu melahirkan. Begitulah kira-kira, apa yang saya dan mungkin beberapa orang yang sama nasibnya dengan saya. Kami lahir di tempat yang bukan kota atau tempat kelahiran atau asal dimana orang tua kami dilahirkan dan dibesarkan. Saya dilahirkan di tempat orang tua saya bekerja. Dimana status mereka sebagai pendatang.
Ketika saya duduk di bangku SD hingga SMA saya sering mendapatkan pertanyaan oleh beberapa teman saya. Pertanyaan yang sederhana namun belum tentu bisa memberikan jawaban yang sesungguhnya. Pertanyaan itu ialah, "kamu asli mana?." Pertanyaan ini begitu sederhana, dan selalu saya jawab juga dengan jawaban sederhana. "Maksudnya gimana?" iya, jawaban dalam bentuk pertanyaan. Lalu ia tanya lagi suku mana. Lalu ini menjadi sulit untuk di jelaskan. Karena yang beredar di sebagian besar masyarakat kita, jika seseorang lahir dan dibesarkan di suatu wilayah, jadilah orang tersebut menjadi bagian dari penduduk tempat tersebut. Katakanlah, ia lahir di Jogja, ia dibesarkan dan beranak pinak disitu, maka ia menjadi bagian dari orang Jogja. Nah, dalam silsilah keluarga saya, ketika ayah saya di tanya dia orang mana, ia akan menjawab ia orang Dobo. Karena ia lahir dan dibesarkan di Dobo. Keluarga besarnya tinggal di Dobo. Dobo merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara. Namun Kakek saya, adalah orang Bone. Beliau lahir dan di besarkan di Bone. Salah satu Pulau yang berada di Sulawesi. Hingga kemudian ia bersama ayahnya merantau ke pulau Maluku dan singgah di Kota Dobo. Adapun Kakek Buyut saya, saya tidak tahu beliau asli mana, lahir dimana dan dibesarkan di pulau atau kota mana, karena saya cuma tahu silsilah sampai kakek saya saja. Itu sekilas dari bapak dan kakek saya yang asal-usulnya dari pulau atau kota dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Saya? Saya lahir dan dibesarkan di Kota Jayapura. Dari yang semula provinsinya bernama Irian Jaya hingga menjadi Provinsi Papua. Bahkan hingga provinsi Papua di pecah menjadi Papua dan Papua Barat. Selama kurang lebih 17 Tahun saya hidup dari lahir hingga remaja. Namun, hingga matipun saya di tanah kelahiran dan dibesarkan bahkan hingga mengkeriput kulit tubuh ini, saya tidak akan pernah disebut sebagai putra daerah. Karena saya akan tetap disebut seumur hidup sebagai pendatang.
Rambut saya lurus, agak bergelombang. Tidak ikal, tidak juga keriting. Kulit tubuh saya tidak hitam arang, juga tidak seputih salju. Aslinya kulit saya putih meskipun tak seputih salju, namun karena lama berinteraksi dan tinggal di kawasan tropis lama kelamaan kulit saya menjadi kecoklatan. Ibu saya bukan orang asli Papua, begitu juga bapak saya. Jadilah saya tidak termasuk dalam kriteria orang Papua. Sebagaimana potongan lirik lagu yang selalu dibangga-banggakan oleh orang Papua. "Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua." Bahkan ada sebagian orang pendatang yang bernasib seperti saya suka menyanyikannnya padahal hal itu sama sekali takkan mengubah status ia menjadi orang Papua. Lucu. Bahkan saya sempat membaca dalam sebuah koran lokal yang paling terkenal di Papua tentang kriteria orang Papua. Salah satu atau keduanya dari orang tua anak orang asli Papua (Baca, hitam kulit, keriting rambut), sudah 20 tahun tinggal di papua dll.
Sekarang saya punya keluarga kecil. Ketika saya remaja saya pergi merantau ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya hidup selama 12 tahun lamanya. Melepas masa remaja, lajang dan mempunyai dua orang anak yang dilahirkan di Sleman Yogyakarta. Sekarang pertanyaannya, ketika ditanyakan kepada anak saya kelak ketika (Insya Allah) mereka seumuran saya, kira-kira apa jawaban mereka? Saya hanya bisa tersenyum saja.
Setelah 12 tahun tinggal di Yogyakarta, kini saya kembali ke kota kelahiran, Jayapura. Entah sampai kapan disini. Hanya saja sekarang saya datang dengan perasaan yang baru, yakni tak lagi mengkhawatirkan atau bertanya-tanya siapa saya sebenarnya, suku mana, asli mana. Karena seumur hidup saya, saya akan tetap dan terus menjadi pendatang. Cukuplah sebuah hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjadi penghibur hati ini, " عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي
الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ
عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ
تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ،
وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau
hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang
bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila
engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari.
Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga
sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan
pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy
no.6416).
Begitulah kira-kira sebagaimana seorang musafir atau orang yang melakukan perjalanan, sepanjang hidupnya akan menjadi pendatang. Seumur hidup menjadi seorang pendatang.