Ini aku tesis. Masihkah kau ingat padaku. Sudah setahun lamanya kita menjalin hubungan. Tak juga berakhir di meja persidangan.
Kau biarkan aku tersimpan sendiri di dalam folder. Tak pernah lagi kau sapa. Kau tatap, kau sentuh. Aku senantiasa menanti kehadiranmu. Membawaku pada dosen pembimbing. Agar bersama berdua memberi senyuman pada kedua orangtuamu. Juga keluarga dan kekasihmu.
Sabtu, 19 Januari 2013
Sebait rindu dari tesis
Selasa, 15 Januari 2013
Bergumam
Aku tak sedang berjalan. Juga tak sedang berdiam diri. Aku dan pikiranku terus berlomba bergerak, bahkan berlari bersama. Meski nyatanya. Aku lebih jauh berlari hingga pikiranku tertinggal jauh di belakangku. Namun bukankah aku juga pikiranku? Dan pikiranku juga bagian dariku?
Siang boleh terik, tapi langit tak kehilangan akal untuk menggelapkan diri. Membayangi sinar matahari agar tak sampai terkelupas kulit manusia karenanya. Berkeringat saja sudah cukup. Langit tahu manusia banyak mengeluh. Tak sedikit juga yang bersyukur. Berat, namun mereka yang bersyukur lebih menikmati kehidupan dari mereka yang seringkali lupa. Sudah merupakan takdir, bahwa manusia itu pelupa. Namun takdir bukan tak bisa diubah. Ada juga sekumpulan yang menolak lupa. Termasuk menolak lupa bersyukur. Aku dan mungkin kamu mencoba berada dalam barisan perlawanan untuk menolak lupa bersyukur. Bersyukurlah, kita masih sejalan, sebaris.
Malam tetap akan begulir. Sore pun akan datang sebelum malam. Selama waktu terus berjalan tak ada yang mampu menghentikannya walau sedetik. Kecuali aku atau kamu, berhenti dan diberhentikan yang Maha kuasa.
Kepada hari-hari yang selalu sama. Doa dan harapan terus menggema hingga ke langit. Bahkan hanya sampai langit-langit, karena terhalang dosa.
Sabtu, 12 Januari 2013
Kutangkap kau, meski hanya bayanganmu.
Siang itu ,tak ada sinar matahari yang menebarkan cahayanya dengan terang. Langit tetap saja biru, meski awan-awan hitam berkumpul menyelimuti langit. Udaranya memang membuat gerah, tak jarang tubuhku berpeluh keringat. Padahal hanya duduk kerjaku. Bersama beberapa orang aku pergi melintasi jalanan meninggalkan kota sejenak. Terpilihlah menjadi pengemudi kendaraan. Tak ada pilihan lain. Aku dikelilingi para wanita. Suatu kehormatan, aku didaulat sebagai pemimpin dan penunjuk arah dijaman emansipasi wanita. Mereka, masih menghargai lelaki, dan menempatkannya diatas, didepan, dan dengan setianya para wanita itu ikut dibelakang. Sadar, mereka tak punya pilihan lain.
Hampir tiga jam, bahkan lebih. Menembus deretan panjang kendaraan. Melalui kebisingan suara kendaraan. Sampailah pada sebuah museum. Tempat barang-barang tua, bersejarah dan tak terpakai dijadikan layak pakai. Dipakai untuk mendorong pengunjung merogoh kocek. Sayang sekaligus beruntung, hari itu tak satupun kantong bersimpankan duit bocor, kalaupun ada hanya sekembar kertas. Rp. 2000. Diberikan kepada seorang lelaki tua renta, penjaga parkiran kendaraan. Musem kereta api Ambarawa Jawa Tengah.
Setiap momen aku simpan. Dalam memori otakku dan juga dalam memori card yang ada di smartphone dan kamera pinjaman. Ku tangkap dari berbagai sudut pandang. Berharap akan menjadi abadi, meski takkan pernah abadi. Kereta, rel, mesin kereta, dan stasiun. Semuanya tua. Museum, disanalah mereka ditata dan dijadikan obyek hiburan. Dengan sedikit penjelasan, mereka menguntungkan meski tua dan tak terpakai lagi. Dari kejauhan pandang kulihat tubuh indah menari-nari ditaman bunga. Berpindah dari satu tempat, ketempat lainnya. Begitu mempesona. Tak bisa, bahkan tak ada kesempatan sedikitpun aku menyentuhnya. Hanya pandanganku yang dapat memegangnya erat. Itu pun tak mudah. Sabar. Akhirnya aku menangkapnya. Menangkap keindahan itu. Walau ia jauh, tak tersentuh jemariku. Aku menangkap bayangannya. Tersimpan sebagai kenangan. Menjadi senyuman kala mata rindu melihatnya. Aku menangkapmu meski dalam bayangan.