Aku tak sedang berjalan. Juga tak sedang berdiam diri. Aku dan pikiranku terus berlomba bergerak, bahkan berlari bersama. Meski nyatanya. Aku lebih jauh berlari hingga pikiranku tertinggal jauh di belakangku. Namun bukankah aku juga pikiranku? Dan pikiranku juga bagian dariku?
Siang boleh terik, tapi langit tak kehilangan akal untuk menggelapkan diri. Membayangi sinar matahari agar tak sampai terkelupas kulit manusia karenanya. Berkeringat saja sudah cukup. Langit tahu manusia banyak mengeluh. Tak sedikit juga yang bersyukur. Berat, namun mereka yang bersyukur lebih menikmati kehidupan dari mereka yang seringkali lupa. Sudah merupakan takdir, bahwa manusia itu pelupa. Namun takdir bukan tak bisa diubah. Ada juga sekumpulan yang menolak lupa. Termasuk menolak lupa bersyukur. Aku dan mungkin kamu mencoba berada dalam barisan perlawanan untuk menolak lupa bersyukur. Bersyukurlah, kita masih sejalan, sebaris.
Malam tetap akan begulir. Sore pun akan datang sebelum malam. Selama waktu terus berjalan tak ada yang mampu menghentikannya walau sedetik. Kecuali aku atau kamu, berhenti dan diberhentikan yang Maha kuasa.
Kepada hari-hari yang selalu sama. Doa dan harapan terus menggema hingga ke langit. Bahkan hanya sampai langit-langit, karena terhalang dosa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar