Jumat, 23 Maret 2018

Saya dan Drama Korea


Tayangan drama Korea merupakan tayangan televisi yang banyak menghipnotis penontonnya. Bahkan melahirkan banyak sekali penggemar-penggemar baru. Segala usia, maupun segala profesi. Saya pun akhirnya belakangan ini menyukai drama Korea. Agak aneh memang. Apalagi bagi seorang lelaki. 
Rekan kerja saya yang sama profesinya dengan saya pernah berkata begini " Haaaah? kamu itu dosen yang tepat waktu kalau ngajar. Tampang sangar, dan cool, pendiam,  disegani para mahasiswa, ternyata  tontonannya drama korea. haaaa?? ga salah?." Ya kira-kira begitu yang disampaikan rekan saya. Apalagi rekan saya itu wanita. Bayangkan saja bagaimana cara menuturkannya kepada saya dengan gaya wanita pada umumnya. Lalu iya melanjutkan keheranannya itu pertanyaan singkat sederhana dan dilanjutkan pernyataan. "Kok bisaaa??? sih mass??? Aku aja yang cewek, ya meskipun suka tapi ga terlalu lah. Kamu kok suka?." 
Jadi, mengenal drama Korea itu bukan hal yang baru bagi saya. Dulu, ketika saya kuliah teman-teman saya khususnya yang cewek, sangat suka nonton drama korea. Dulu, drama yang sedang booming, judulnya Full House. Tidak banyak yang saya tahu tentang tayangan itu. Saya hanya tahu pemeran laki-lakinya bernama Rain. Seiring berjalannya waktu saya baru tahu Rain itu nama asli pemerannya bukan nama di dalam tayangan tersebut. Tayangan Korea lalu berkembang dan semakin menjamur di Indonesia. Bahkan bukan cuma drama Korea saja tetapi juga berkembang boyband dan girl band Korea. Gonjang-ganjing itu sampe merembes ke dunia musik Indonesia yang mengarah ke Korea Style. Ditambah lagi kekasihku yang kini menjadi istriku sangat menggandrungi baik film, tayangan drama, hingga musik Korea. Bahkan ketika tahun 2010 saya, diajak untuk menemani dia kursus bahasa Korea. Hedeh. Itu adalah saat dimana saya merasa "hidupku kok begini-begini amat? kok sampe harus belajar bahasa Korea segala?" Ini semua karena cinta. Hahaha begitu konyolnya saya ketika itu. Saya bahkan harus ikut program bahasa Korea itu sampai 2 level. Level dasar dan level dasar (mengulang karena tidak lulus). Masa-masa menjalani kursus bahasa itu berlalu saya tidak juga bergeming, untuk menyukai Korea. Baik budaya, bahasa, lagu, musik, film maupun drama Korea. Bagi saya itu hanya trend kaum muda ketika itu saja. Pikir saya " ah paling juga nanti hilang seperti trend sebelumnya." Saya hanya fokus mencintai kekasih yang menjadi istriku, sedangkan ia masih saja menyukai tayangan drama Korea meski kami sudah mempunyai 3 buah hati. 
8 tahun berlalu, barulah saya tergerak dan muncul rasa penasaran saya tentang tayangan Korea. Darimana? dari teman-teman yang sayang kunjungi di Lombok. Lombok? iya Lombok. Jadi, diawal tahun 2018, saya pergi ke Lombok mengunjungi teman-teman saya. Teman-teman yang saya kenal dari bermain game online. Kami bermain game online bersama sejak tahun 2010. Tak pernah sekalipun bertemu, namun kami sangat akrab di dalam dunia game
Saat saya bertemu dengan mereka, sebagaimana kawan lama tak bertemu. Begitu hangat dan akrab. Saya diajak jalan berkeliling Lombok. Lalu bermain game bersama.
Malam sebelum saya  pulang meninggalkan lombok. Saya menginap di rumah teman saya. Kami bermain game dirumahnya hingga  malam. Kemudian  berhenti main game, kami capek.  Lalu salah seorang teman saya beranjak dari tempat kami bermain game. Ia mengambil rokoknya dan kopi hitam di cangkir yang telah disiapkan untuknya di ruang sebelah. Tak lama kemudian ia kembali. Layar game yang tadinya kami gunakan untuk bermain game, ia ubah ke layar website. Lalu ia mulai menayangkan drama Korea dilayar PCnya yang berukuran 21inch. Saya terkejut. Lalu saya mengoceh " asem nonton apaan nih? filem Korea? buset dah. sangar-sangar nontonnya Korea." 
"Bagus nih po (panggilan nama gameku). Lu aja po nih, yang belum tau. Yakin deh, lu nonton, ketagihan lu." 
Saya tertawa mendengarnya. Sambil tertawa saya mengamati dia dan keluarganya, yang asik bercerita. 
"sudah sampe mana ini bang? kok dia udah kesini aja?" 
"Gak tau abang juga nih, abang juga kelewat episode ini, kemarin kan abang pergi.
"oh, ini, dia ke masa depan lagi ni bang. Aku dah lewat ini, aku dah lewat episode 5"
Saya menyimak percakapan itu kayaknya kok seru. Kayaknya ini keluarga pada doyan sama tayangan Korea. Saya tanya ke mereka "emang film apa sih ini? tentang apa maksudnya?" 
"oh ini tentang dokter-dokter po, dia dari masa lalu, terus dia terjebak ke masa depan. Lucu ini. Hmm.. gimana ya, kalo diceritain panjang, lu ikut nonton aja dah"
Akhirnya saya pun ikut menonton. Meskipun tidak dengan serius. Sambil nonton saya sambil main game di HP saya. Tidak terlalu fokus dengan film. Sedangkan teman saya itu nonton hingga subuh menjelang. Lalu ia mengantarkan saya ke bandara. Kamipun berpisah dan kembali menjalani aktivitas kami masing-masing. 
Sesampainya dirumah saya, saya bercerita tentang bagaimana saya bertemu dengan teman-teman saya kepada istri saya. Termasuk kemana saya diajak berkeliling, bagaimana tempat-tempat wisata disana. Banyak hal, termasuk saya cerita kok teman-teman saya juga suka drama Korea. Istri saya sambil tertawa kecil bertanya
"nonton film apa emang?" saya jawab "gak tau, cuman tentang dokter masa lalu ke masa depan" 
"oh Dr.Heo kali. Film baru tuh tahun 2017 kemarin." 
"mungkin, coba tar deh ku tanya"
Ketika pas ada kesempatan saya chat dengan teman, saya tanyakan judul drama Korea yang tempo hari dia tonton. Kata dia " Live up your name" 
Saya search di google, oh iya benar nama lain judul drama ini emang Dr. Heo. Saya sampaikan ke istri. Lalu ia bilang "tuh kan bener, bagus sih. Lucu juga. Aku dah nonton. Ini lagi nonton judul lain." Hmm.. seperti biasa gumamku. 
"Cari aja di viu, ada kok." Dan itulah kata pamungkas yang mengubah jalan hidupku. Dengan penuh rasa penasaran, saya download Filmnya dari episode 1-16. Saya tonton selama 1 hari. Selesai. Dari tayangan inilah kemudian saya penasaran dengan drama Korea lainnya. Drama yang dulunya saya terheran-heran kenapa banyak orang yang menyukainya. Ternyata. Drama Korea itu memang tidak bisa dipandang remeh. Beberapa judul drama bahkan kualitas gambarnya sudah seperti Film layar lebar. Emosi dalam tayangan yang dihadirkan oleh aktor dan aktris, harus diakui hebat. Itu sebabnya ketika saya nonton drama ini, saya tertawa, kesal, marah, tegang bahkan sedih (tidak sampai menangis). Hingga saat ini saya menjadi barisan penggemar drama Korea, pun dengan beberapa judul film Korea. 
Itulah cerita saya. Kalau kamu?

Kamis, 22 Maret 2018

Saya dan sekolah

Belakangan ini, saya masih terpikirkan tentang dorongan untuk sekolah lagi. Kadang saya berfikir, takdir apa yang saya dapatkan dari Allah ini. Saya adalah salah seorang diantara orang-orang yang kurang atau mungkin bahkan tidak berprestasi dalam sekolah. Namun mengapa saya masih berada pada lingkungan sekolah.

Saya masuk ke dunia sekolah, usia 5 tahun. Sekolah dasar. Pada usia 16 Tahun, saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga Sekolah menengah Atas. Saya masuk ke sekolah yang punya jenjang tertinggi, itulah disebut dengan perguruan tinggi, ketika usia saya tepat 17 tahun. Saya ingat betul hari kedua saya menyelesaikan pesona ta'aruf saya merayakan hari uang tahun ke 17 di tanah perantauan, Jogja, bersama seorang teman yang bahkan baru saya kenal, dan dia adalah orang yang pertama kali saya traktir makan dengan ongkos hidup sebagai mahasiswa. Ongkos hidup saya sebagai mahasiswa ketika itu Rp. 300.000 selama sebulan. Saya mentraktirnya makan sate. Saya masih ingat betul. Hari itulah saya "resmi" menjadi mahasiswa di Universitas Islam Indonesia. Saya selesai dari UII, 5 tahun kemudian. Usia saya 22 Tahun. Saya merasa lelah belajar di sekolah. Saya memilih untuk mencoba jalan lain yang tidak ditempuh sebagian besar teman-teman saya. Jalan mencari pekerjaan. 

Saya dan beberapa teman saya memilih merintis usaha. Hampir setahun usaha itu berjalan namun kandas, karena ternyata kerasnya dunia usaha membuat beberapa teman, termasuk saya roboh. Saya kembali mendapatkan dorongan sekolah lagi. Saya bosan, namun saya merasa penasaran. Khususnya tentang ilmu bisnis dan dunianya. Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka trial dan error ketika itu. Jadi saya memilih untuk pergi belajar mendalami apa yang salah sembari belajar pada praktik yang selama ini ada diberbagai belahan dunia. Saya pun mau tidak mau harus kembali sekolah. Saya sekolah profesi, 1 tahun lalu saya lanjutkan ke jenjang master. Usia saya 23 tahun ketika berada di jenjang master. Saya lulus dari jenjang master ini 4 tahun. Waktu yang  tidak biasa. Ternyata persoalnnya bukan hanya bisa dan belajar saja tetapi persoalan lain dalam kehidupan ini yang tidak bisa saya kelola. Pada usia 27 Tahun. Dengan usaha yang keras saya akhirnya bisa lulus. Saya merasa ini adalah final dari proses belajar saya. Cukup. Saya akan kembali ke jalur yang saya tempuh dahulu bersama teman-teman. Yakni jalur yang saya hindari. Yakni jalur tidak mencari pekerjaan, namun menciptakan pekerjaan. Selagi saya ingin berjalan diatas jalur ini, ternyata takdir berkata lain. Kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat, batal. Saya dipanggil pulang ke kampung halaman. 

Orang tua memanggil saya pulang. Sesampainya di kampung halaman, Jayapura, saya disambut oleh tak hanya keluarga tetapi pihak yang saya tidak duga-duga. Sekolah. Tepatnya perguruan tinggi. Saya langsung berfikir, Oooh, inikah yang dikatakan takdir. Saya merasa sudah cukup untuk belajar, namun kita saya harus untuk kembali belajar, bahkan kali ini saya harus belajar ekstra karena saya diminta untuk menjadi pengajar. Tak pernah terbayangkan diusia saya ketika itu 28 menjelang 29 tahun saya harus menjadi pengajar. Bahkan saat ini saya sudah 2 tahun menjadi pengajar, dengan menghadapi situasi yang tak pernah saya bayangkan. Saya bukan hanya mempelajari bahasan yang saya ajarkan, saya harus mempelajari manusia. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya pelajari lebih dalam. Belum usai saya belajar, saya sudah mendapatkan dorongan untuk kembali belajar di sekolah. Saya didorong untuk kembali masuk ke dunia sekolah pada jenjang yang paling tinggi. Yakni jenjang doktor. Bagi saya ini takdir yang tidak bisa saya pahami. Andaikan saja saya benar-benar masuk pada sekolah tertinggi itu, saya pun akan kembali bertanya. Mengapa harus saya? Saya, orang yang tidak berprestasi, bahkan tak pernah memuaskan dalam berprestasi dalam sekolah sejak saya lahir hingga sekolah terakhir saya. Padahal, di luar sana banyak orang yang jauh berprestasi dari saya. Inilah takdir yang punya rahasia besar dan tidak bisa terungkap dalam kehidupan saya.