Saya masuk ke dunia sekolah, usia 5 tahun. Sekolah dasar. Pada usia 16 Tahun, saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga Sekolah menengah Atas. Saya masuk ke sekolah yang punya jenjang tertinggi, itulah disebut dengan perguruan tinggi, ketika usia saya tepat 17 tahun. Saya ingat betul hari kedua saya menyelesaikan pesona ta'aruf saya merayakan hari uang tahun ke 17 di tanah perantauan, Jogja, bersama seorang teman yang bahkan baru saya kenal, dan dia adalah orang yang pertama kali saya traktir makan dengan ongkos hidup sebagai mahasiswa. Ongkos hidup saya sebagai mahasiswa ketika itu Rp. 300.000 selama sebulan. Saya mentraktirnya makan sate. Saya masih ingat betul. Hari itulah saya "resmi" menjadi mahasiswa di Universitas Islam Indonesia. Saya selesai dari UII, 5 tahun kemudian. Usia saya 22 Tahun. Saya merasa lelah belajar di sekolah. Saya memilih untuk mencoba jalan lain yang tidak ditempuh sebagian besar teman-teman saya. Jalan mencari pekerjaan.
Saya dan beberapa teman saya memilih merintis usaha. Hampir setahun usaha itu berjalan namun kandas, karena ternyata kerasnya dunia usaha membuat beberapa teman, termasuk saya roboh. Saya kembali mendapatkan dorongan sekolah lagi. Saya bosan, namun saya merasa penasaran. Khususnya tentang ilmu bisnis dan dunianya. Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka trial dan error ketika itu. Jadi saya memilih untuk pergi belajar mendalami apa yang salah sembari belajar pada praktik yang selama ini ada diberbagai belahan dunia. Saya pun mau tidak mau harus kembali sekolah. Saya sekolah profesi, 1 tahun lalu saya lanjutkan ke jenjang master. Usia saya 23 tahun ketika berada di jenjang master. Saya lulus dari jenjang master ini 4 tahun. Waktu yang tidak biasa. Ternyata persoalnnya bukan hanya bisa dan belajar saja tetapi persoalan lain dalam kehidupan ini yang tidak bisa saya kelola. Pada usia 27 Tahun. Dengan usaha yang keras saya akhirnya bisa lulus. Saya merasa ini adalah final dari proses belajar saya. Cukup. Saya akan kembali ke jalur yang saya tempuh dahulu bersama teman-teman. Yakni jalur yang saya hindari. Yakni jalur tidak mencari pekerjaan, namun menciptakan pekerjaan. Selagi saya ingin berjalan diatas jalur ini, ternyata takdir berkata lain. Kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat, batal. Saya dipanggil pulang ke kampung halaman.
Orang tua memanggil saya pulang. Sesampainya di kampung halaman, Jayapura, saya disambut oleh tak hanya keluarga tetapi pihak yang saya tidak duga-duga. Sekolah. Tepatnya perguruan tinggi. Saya langsung berfikir, Oooh, inikah yang dikatakan takdir. Saya merasa sudah cukup untuk belajar, namun kita saya harus untuk kembali belajar, bahkan kali ini saya harus belajar ekstra karena saya diminta untuk menjadi pengajar. Tak pernah terbayangkan diusia saya ketika itu 28 menjelang 29 tahun saya harus menjadi pengajar. Bahkan saat ini saya sudah 2 tahun menjadi pengajar, dengan menghadapi situasi yang tak pernah saya bayangkan. Saya bukan hanya mempelajari bahasan yang saya ajarkan, saya harus mempelajari manusia. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya pelajari lebih dalam. Belum usai saya belajar, saya sudah mendapatkan dorongan untuk kembali belajar di sekolah. Saya didorong untuk kembali masuk ke dunia sekolah pada jenjang yang paling tinggi. Yakni jenjang doktor. Bagi saya ini takdir yang tidak bisa saya pahami. Andaikan saja saya benar-benar masuk pada sekolah tertinggi itu, saya pun akan kembali bertanya. Mengapa harus saya? Saya, orang yang tidak berprestasi, bahkan tak pernah memuaskan dalam berprestasi dalam sekolah sejak saya lahir hingga sekolah terakhir saya. Padahal, di luar sana banyak orang yang jauh berprestasi dari saya. Inilah takdir yang punya rahasia besar dan tidak bisa terungkap dalam kehidupan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar