Rabu, 28 September 2016

Long life learner: cerita dari Jogja

Long life learner

Saya pertama kali mendengar kalimat ini dari dosen akuntansi saya. Secara makna berarti, pembelajar seumur hidup. Sebagian orang menghabiskan uangnya untuk investasi di bidang pendidikan. Puluhan. Bahkan mungkin ratusan juta, untuk belajar. Belajar apa saja. Bisa yang berkaitan tentang agamanya atau dunianya. Atau dua-duanya. Pertanyaanya, seberapa pentingnya belajar? Maka jawabannya sangat penting. Kecuali anda ingin dikatakan bodoh. Orang yang menjadi pembelajar bukan berarti ia pintar. Melainkan ia sedang beranjak meninggalkan satu kebodohannya tentang beragam hal di dunia ini. Misalnya ketika anda belajar tentang akuntansi, maka sebebnarnya anda sedang berusaha untuk beranjak dari kebodohan anda tentang akuntansi. Setidaknya, ketika anda bertemu dengan orang (yang seringkali merasa dirinya) pintar, anda tidak mudah dibodoh-bodohi. 

Beberapa hari ini saya bertemu dengan bukan cuma satu orang, tapi puluhan orang pembelajar. Meskipun hampir semua dari mereka adalah pengajar yang berpengalaman di bidang Akuntansi. Namun, mereka masih ingin terus belajar tentang akuntansi. Mereka adalah para Dosen di perguruan tinggi dan juga para guru di SMK yang khusus untuk mengajarkan mata kuliah akuntansi. Pengalaman mereka bukan cuma 1-2 tahun mengajarkan akuntansi melainkan 5 hingga bahkan ada yang sudah 26 tahun mengajarkan akuntansi. Kompetensi mereka sudah teruji. Kecuali saya yang jauh dari mereka yang berpengalaman. Saya sendiri belum ada satu tahun mengajarkan akuntansi. Namun, mereka, para pengajar itu dengan rendah hatinya masih ingin mengikuti program pembelajaran. Menjadi pelajar. Pembelajar. Program yang diadakan oleh salah satu universitas negeri ternama di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Seharusnya dengan jumlah kuantitatif pengalaman mereka dalam mengajar, mereka sudah tidak butuh belajar lagi. Tapi begitulah mereka. Mereka masih merasa kurang dalam ilmu, dan rela mengeluarkan uangnya yang tidak sedikit demi meningkatkan pengetahuan mereka. Para peserta pelatihan dan pengajaran akuntansi berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari sumatera, seperti Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan beberapa tempat lainnya. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara (timur dan barat) bahkan saya sendiri dari Papua. Saya benar-benar sendirian dari Papua.

Saya punya pengalama unik ketika mengikuti program tersebut. Saya bertemu dosen-dosen senior dan hebat. Seperti salah satu orang diantara mereka yang menjadi teman saya berbincang dan bertukar pikiran selama kegiatan, pak Abdurrahman namanya. Beliau dari Makassar. Mengajar di Unhas, sudah dari sejak tahun 90an. Masa ketika saya bahkan belum masuk dalam tingkatan sekolah dasar. Luar biasa. Beliau juga menjadi auditor di beberapa perusahaan dan telah mengembangkan beberapa pemograman akuntansi. Namun sedikitpun saya tidak melihat bagaimana beliau menunjukkan kepada orang lain bahwa beliau itu hebat dan sangat berpengalaman dalam mengajar. Hal yang ditunjukkan malah sebaliknya. Beliau menunjukkan pada orang lain bahwa beliau sangat butuh belajar. Bahkan ketika berbicara dengan saya, beliau mengatakan "saya ini, masih nol tentang akuntansi. Mungkin diantara pada dosen disini saya masih kurang sekali tentang akuntansi." Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya langsung membatin. "Beliau yang sudah lama begini saja masih bilang beliau butuh belajar, apalagi kamu wahai Ridhwan, masih cupu, tentu masih sangat perlu sekali belajar." Cerita demi cerita dari beliau, saya dengarkan tentang suka dan duka mengajar. Kadang saya bertanya tentang tips-tips mengajarkan akuntansi kepada mahasiswa, bahkan saya coba menjelaskan bagaimana cara saya mengajar agar beliau tanggapi dan berikan masukan. Sungguh pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya dapatkan di tempat lain.

Sejak pertemuan itulah saya menjadi yakin bahwa menjadi seorang pembelajar itu tak mengenal waktu. Sampai mati kita akan belajar. Baik itu belajar tentang perkara dunia maupun yang menyangkut akhirat. Atau belajar kedua-duanya sebagaimana yang sedang digeluti oleh pak Abdurrahman dan seringkali ia ceritakan kepada saya.

Ayo (terus) belajar.

Senin, 15 Agustus 2016

Studi doktoral?

Beberapa waktu ini saya didorong untuk kembali "nyemplung" ke bangku kelas. Kali ini bangku kelas yang menurut saya sangat mewah. Meski sudah banyak orang-orang yang mendudukinya dan berhasil, bahkan dengan waktu yang relatif sangat cepat. Itulah bangku studi doktoral. Sebagai contoh, pimpinan di Instansi saya bekerja, ia menghabiskan waktu menyelesaikan pendidikan doktoralnya hanya dalam waktu 2 tahun, dan itu bukan cuma 1 orang. Saya sampaikan pada beliau rasa takjub saya. Beliau berkata "sebenarnya sekolah itu nasib-nasiban. Ada yang cepat ada yang lama. Tergantung dari kitanya saja bagaimana. Alhamdulillah, saya bisa cepat." Akhirnya saya terlibat perbincangan yang seru dan berakhir pada kalimat. "Mumpung masih muda. Pergi sekolah saja. Kalau soal dana bisa dicari dari beasiswa. Kalau sudah tua, gak enak. Saya saja "menyesal" kenapa sejak muda dulu saya tidak sekolah lagi (studi doktoral). Apalagi kamu masih muda, anak-anak juga belum terlalu besar. Cepat-cepatlah sekolah." 

Dalam benak saya tentang studi doktoral, itu sebuah studi yang tak hanya prestisus tapi juga akan penuh dengan perjuangan akademik yang sangat panjang, biaya yang besar dan tanggung jawab yang juga besar jika bisa berhasil melewati jenjang tersebut. Saat ini saja dengan gelar Master yang saya peroleh dari kelas pasca sarjana saya masih merasa belum bisa "berkarya" dengan baik. Ditambah lagi dengan dorongan untuk melanjutkan studi. Belum lagi saya masih terbayang betapa menderitajya saya menyelesaikan tesis. Tulisan ilmiah yang menurut sebagian orang mudah dan gampang. Tapi tidak bhi saya. Meskipun bisa menulis dalam hal-hal yang mudah. Namun untuk menulis secara ilmiah saya asudah lempar handuk duluan. Mungkin ini yang disebut kalah sebeleum bertanding? Ya. Bisa jadi. Atau mungkin lebih tepatnya. Sadar diri sebelum keblinger. 

Studi doktoral? Ah entahlah. Kemana takdir mengalir disitu saya oke-oke saja. Saya hanyalah hamba, yang mengikuti jalan takdir yang telah ditetapkan. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pengangguran yang menjadi pengangguran

Sebagian orang beranggapan setelah ia menempuh jenjang pendidikan tinggi ia akan memperoleh pekerjaan yang membuat taraf kehidupan ia menjadi lebih baik. Ia dapat bekerja di perusahaan ternama ataupun mendapatkan status sosial yang baru. Menjadi manajer misalnya, menjadi staff akuntansi, atau sebut saja ia menjadi staff kantoran. Tentu saja hal ini masih sangat diimpikan bagi sebagian besar orang yang ada di Indonesia. Sehingga ia menghabiskan waktunya, uangnya, sebagian besar kebahagiaannya untuk berhadapan dengan tugas-tugas belajarnya dan dengan berbagai materi perkuliahan yang sama sekali mungkin tidak dibutuhkan ketika ia masuk dunia kerja. Hingga sampailah ia mendapatkan gelar dari tingkat pendidikan tinggi. Sarjana. Namun, tak ia sangka ketika ia menjalani waktu dalam belajar, ia kembali harus menerima kenyataan bahwa dunia pekerjaan yang ia impikan membuthkan beberapa kriteria yang lain. Misalnya ia harus punya spesialisasi tertentu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menekuni jenjang pendidikan setelah pendidikan tinggi dengan mendaftarkan dirinya ke pendidikan spesialis. Ia pun mendapatkannya. Ia kembali masuk ke dunia bursa kerja. Pahit. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan yang ia impikan. Ia kembali harus melanjutkan perjuangannya menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jenjang Master. Dua, tiga, empat tahun berlalu. Ia menjadi Master. Sekarang ia berada diatas angin. Ironi. Pekerjaan yang ia impikan ternyata sudah tak lagi menginginkannya. Umurnya telah melewati batas. Akhirnya ia masuk ke pekerjaan yang apa adanya.

Hari-hari masuk dalam dunia pekerjaan telah ia rasakan. Menjadi pengangguran yang berstempelkan mahasiswa telah ia lewati. Perlahan demi perlahan status sosialnya mulai berubah. Menjadi seseorang yang bekerja. Setidaknya ketika ia bertemu dengan orang-orang yang baru. Ia bisa menjawab pertanyaan, "kerja dimana sekarang?" Namun hakikat menjadi pengangguran tetap sama saja ia dapatkan. Ketika ia masuk ke dunia pekerjaan yang tidak ia impikan, ia akan menemui dunia pekerjaan yang dalam aktivitas kesehariannya, lebih banyak menganggurnya daripada bekerja. Dunia pekerjaan dimana para karyawan tidak dibina dengan pendidikan yang cukup atau pelatihan yang cukup sehingga visi dan misi dari perusahaan tidak sinergis dengan para karyawan. Dunia pekerjaan yang mana hari-harinya hanya menunggu masa saat gajian. Itupun dengan gaji yang tidak seberapa.Para karyawan yang masuk kadang masih saja bertanya-tanya, apa yang harus saya kerjakan? Apa yang sebaiknya saya kerjakan? Apa yang bisa saya bantu kerjakan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya karena tidak adanya poin visi atau misi dalam benak para karyawan. Sehingga motivasi karyawan terbatas hanya ketika ada pekerjaan yang datang menghampiri mereka. Katakanlah para karyawan telah dibekali dengan pendidikan, entah pendidikan pra jabatan atau yang lainnya. Beberapa diantara mereka masih lebih sering memangku dagu menatap layar komputer, dengan tatapan kosong, atau tatapan penuh status di media sosial atau menontov film dengan menggunakan media dan fasilitas yang disediakan kantor. 

Dengan kenyataan ini,saya cuma bisa bilang, yah begitulah.

Solusinya, cobalah pahami visi dan misi organisasi dimana tempat anda bekerja. Konsultasikan kepada atasa anda tentang capaian strategi yang sudah ia jalankan, sudah sejauh mana, sehingga ada gambaran bagi anda untuk mengerjakan sesuatu. Timbang nganggur.

Jumat, 29 Juli 2016

Seumur Hidup Menjadi Pendatang

Jangan salahkan ibu mengandung. Jangan pula salahkan dimana ibu melahirkan. Begitulah kira-kira, apa yang saya dan mungkin beberapa orang yang sama nasibnya dengan saya. Kami lahir di tempat yang bukan kota atau tempat kelahiran atau asal dimana orang tua kami dilahirkan dan dibesarkan. Saya dilahirkan di tempat orang tua saya bekerja. Dimana status mereka sebagai pendatang. 

Ketika saya duduk di bangku SD hingga SMA saya sering mendapatkan pertanyaan oleh beberapa teman saya. Pertanyaan yang sederhana namun belum tentu bisa memberikan jawaban yang sesungguhnya. Pertanyaan itu ialah, "kamu asli mana?." Pertanyaan ini begitu sederhana, dan selalu saya jawab juga dengan jawaban sederhana. "Maksudnya gimana?" iya, jawaban dalam bentuk pertanyaan. Lalu ia tanya lagi suku mana. Lalu ini menjadi sulit untuk di jelaskan. Karena yang beredar di sebagian besar masyarakat kita, jika seseorang lahir dan dibesarkan di suatu wilayah, jadilah orang tersebut menjadi bagian dari penduduk tempat tersebut. Katakanlah, ia lahir di Jogja, ia dibesarkan dan beranak pinak disitu, maka ia menjadi bagian dari orang Jogja. Nah, dalam silsilah keluarga saya, ketika ayah saya di tanya dia orang mana, ia akan menjawab ia orang Dobo. Karena ia lahir dan dibesarkan di Dobo. Keluarga besarnya tinggal di Dobo. Dobo merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara. Namun Kakek saya, adalah orang Bone. Beliau lahir dan di besarkan di Bone. Salah satu Pulau yang berada di Sulawesi. Hingga kemudian ia bersama ayahnya merantau ke pulau Maluku dan singgah di Kota Dobo. Adapun Kakek Buyut saya, saya tidak tahu beliau asli mana, lahir dimana dan dibesarkan di pulau atau kota mana, karena saya cuma tahu silsilah sampai kakek saya saja. Itu sekilas dari bapak dan kakek saya yang asal-usulnya dari pulau atau kota dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Saya? Saya lahir dan dibesarkan di Kota Jayapura. Dari yang semula provinsinya bernama Irian Jaya hingga menjadi Provinsi Papua. Bahkan hingga provinsi Papua di pecah menjadi Papua dan Papua Barat. Selama kurang lebih 17 Tahun saya hidup dari lahir hingga remaja. Namun, hingga matipun saya di tanah kelahiran dan dibesarkan bahkan hingga mengkeriput kulit tubuh ini, saya tidak akan pernah disebut sebagai putra daerah. Karena saya akan tetap disebut seumur hidup sebagai pendatang. 

Rambut saya lurus, agak bergelombang. Tidak ikal, tidak juga keriting. Kulit tubuh saya tidak hitam arang, juga tidak seputih salju. Aslinya kulit saya putih meskipun tak seputih salju, namun karena lama berinteraksi dan tinggal di kawasan tropis lama kelamaan kulit saya menjadi kecoklatan. Ibu saya bukan orang asli Papua, begitu juga bapak saya. Jadilah saya tidak termasuk dalam kriteria orang Papua. Sebagaimana potongan lirik lagu yang selalu dibangga-banggakan oleh orang Papua. "Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua." Bahkan ada sebagian orang pendatang yang bernasib seperti saya suka menyanyikannnya padahal hal itu sama sekali takkan mengubah status ia menjadi orang Papua. Lucu. Bahkan saya sempat membaca dalam sebuah koran lokal yang paling terkenal di Papua tentang kriteria orang Papua. Salah satu atau keduanya dari orang tua anak orang asli Papua (Baca, hitam kulit, keriting rambut), sudah 20 tahun tinggal di papua dll. 

Sekarang saya punya keluarga kecil. Ketika saya remaja saya pergi merantau ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya hidup selama 12 tahun lamanya. Melepas masa remaja, lajang dan mempunyai dua orang anak yang dilahirkan di Sleman Yogyakarta. Sekarang pertanyaannya, ketika ditanyakan kepada anak saya kelak ketika (Insya Allah) mereka seumuran saya, kira-kira apa jawaban mereka? Saya hanya bisa tersenyum saja. 

Setelah 12 tahun tinggal di Yogyakarta, kini saya kembali ke kota kelahiran, Jayapura. Entah sampai kapan disini. Hanya saja sekarang saya datang dengan perasaan yang baru, yakni tak lagi mengkhawatirkan atau bertanya-tanya siapa saya sebenarnya, suku mana, asli mana. Karena seumur hidup saya, saya akan tetap dan terus menjadi pendatang. Cukuplah sebuah hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjadi penghibur hati ini,  " عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416).

Begitulah kira-kira sebagaimana seorang musafir atau orang yang melakukan perjalanan, sepanjang hidupnya akan menjadi pendatang. Seumur hidup menjadi seorang pendatang.