Beberapa waktu ini saya didorong untuk kembali "nyemplung" ke bangku kelas. Kali ini bangku kelas yang menurut saya sangat mewah. Meski sudah banyak orang-orang yang mendudukinya dan berhasil, bahkan dengan waktu yang relatif sangat cepat. Itulah bangku studi doktoral. Sebagai contoh, pimpinan di Instansi saya bekerja, ia menghabiskan waktu menyelesaikan pendidikan doktoralnya hanya dalam waktu 2 tahun, dan itu bukan cuma 1 orang. Saya sampaikan pada beliau rasa takjub saya. Beliau berkata "sebenarnya sekolah itu nasib-nasiban. Ada yang cepat ada yang lama. Tergantung dari kitanya saja bagaimana. Alhamdulillah, saya bisa cepat." Akhirnya saya terlibat perbincangan yang seru dan berakhir pada kalimat. "Mumpung masih muda. Pergi sekolah saja. Kalau soal dana bisa dicari dari beasiswa. Kalau sudah tua, gak enak. Saya saja "menyesal" kenapa sejak muda dulu saya tidak sekolah lagi (studi doktoral). Apalagi kamu masih muda, anak-anak juga belum terlalu besar. Cepat-cepatlah sekolah."
Dalam benak saya tentang studi doktoral, itu sebuah studi yang tak hanya prestisus tapi juga akan penuh dengan perjuangan akademik yang sangat panjang, biaya yang besar dan tanggung jawab yang juga besar jika bisa berhasil melewati jenjang tersebut. Saat ini saja dengan gelar Master yang saya peroleh dari kelas pasca sarjana saya masih merasa belum bisa "berkarya" dengan baik. Ditambah lagi dengan dorongan untuk melanjutkan studi. Belum lagi saya masih terbayang betapa menderitajya saya menyelesaikan tesis. Tulisan ilmiah yang menurut sebagian orang mudah dan gampang. Tapi tidak bhi saya. Meskipun bisa menulis dalam hal-hal yang mudah. Namun untuk menulis secara ilmiah saya asudah lempar handuk duluan. Mungkin ini yang disebut kalah sebeleum bertanding? Ya. Bisa jadi. Atau mungkin lebih tepatnya. Sadar diri sebelum keblinger.
Studi doktoral? Ah entahlah. Kemana takdir mengalir disitu saya oke-oke saja. Saya hanyalah hamba, yang mengikuti jalan takdir yang telah ditetapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar