Long life learner
Saya pertama kali mendengar kalimat ini dari dosen akuntansi saya. Secara makna berarti, pembelajar seumur hidup. Sebagian orang menghabiskan uangnya untuk investasi di bidang pendidikan. Puluhan. Bahkan mungkin ratusan juta, untuk belajar. Belajar apa saja. Bisa yang berkaitan tentang agamanya atau dunianya. Atau dua-duanya. Pertanyaanya, seberapa pentingnya belajar? Maka jawabannya sangat penting. Kecuali anda ingin dikatakan bodoh. Orang yang menjadi pembelajar bukan berarti ia pintar. Melainkan ia sedang beranjak meninggalkan satu kebodohannya tentang beragam hal di dunia ini. Misalnya ketika anda belajar tentang akuntansi, maka sebebnarnya anda sedang berusaha untuk beranjak dari kebodohan anda tentang akuntansi. Setidaknya, ketika anda bertemu dengan orang (yang seringkali merasa dirinya) pintar, anda tidak mudah dibodoh-bodohi.
Beberapa hari ini saya bertemu dengan bukan cuma satu orang, tapi puluhan orang pembelajar. Meskipun hampir semua dari mereka adalah pengajar yang berpengalaman di bidang Akuntansi. Namun, mereka masih ingin terus belajar tentang akuntansi. Mereka adalah para Dosen di perguruan tinggi dan juga para guru di SMK yang khusus untuk mengajarkan mata kuliah akuntansi. Pengalaman mereka bukan cuma 1-2 tahun mengajarkan akuntansi melainkan 5 hingga bahkan ada yang sudah 26 tahun mengajarkan akuntansi. Kompetensi mereka sudah teruji. Kecuali saya yang jauh dari mereka yang berpengalaman. Saya sendiri belum ada satu tahun mengajarkan akuntansi. Namun, mereka, para pengajar itu dengan rendah hatinya masih ingin mengikuti program pembelajaran. Menjadi pelajar. Pembelajar. Program yang diadakan oleh salah satu universitas negeri ternama di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.
Seharusnya dengan jumlah kuantitatif pengalaman mereka dalam mengajar, mereka sudah tidak butuh belajar lagi. Tapi begitulah mereka. Mereka masih merasa kurang dalam ilmu, dan rela mengeluarkan uangnya yang tidak sedikit demi meningkatkan pengetahuan mereka. Para peserta pelatihan dan pengajaran akuntansi berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari sumatera, seperti Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan beberapa tempat lainnya. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara (timur dan barat) bahkan saya sendiri dari Papua. Saya benar-benar sendirian dari Papua.
Saya punya pengalama unik ketika mengikuti program tersebut. Saya bertemu dosen-dosen senior dan hebat. Seperti salah satu orang diantara mereka yang menjadi teman saya berbincang dan bertukar pikiran selama kegiatan, pak Abdurrahman namanya. Beliau dari Makassar. Mengajar di Unhas, sudah dari sejak tahun 90an. Masa ketika saya bahkan belum masuk dalam tingkatan sekolah dasar. Luar biasa. Beliau juga menjadi auditor di beberapa perusahaan dan telah mengembangkan beberapa pemograman akuntansi. Namun sedikitpun saya tidak melihat bagaimana beliau menunjukkan kepada orang lain bahwa beliau itu hebat dan sangat berpengalaman dalam mengajar. Hal yang ditunjukkan malah sebaliknya. Beliau menunjukkan pada orang lain bahwa beliau sangat butuh belajar. Bahkan ketika berbicara dengan saya, beliau mengatakan "saya ini, masih nol tentang akuntansi. Mungkin diantara pada dosen disini saya masih kurang sekali tentang akuntansi." Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya langsung membatin. "Beliau yang sudah lama begini saja masih bilang beliau butuh belajar, apalagi kamu wahai Ridhwan, masih cupu, tentu masih sangat perlu sekali belajar." Cerita demi cerita dari beliau, saya dengarkan tentang suka dan duka mengajar. Kadang saya bertanya tentang tips-tips mengajarkan akuntansi kepada mahasiswa, bahkan saya coba menjelaskan bagaimana cara saya mengajar agar beliau tanggapi dan berikan masukan. Sungguh pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya dapatkan di tempat lain.
Sejak pertemuan itulah saya menjadi yakin bahwa menjadi seorang pembelajar itu tak mengenal waktu. Sampai mati kita akan belajar. Baik itu belajar tentang perkara dunia maupun yang menyangkut akhirat. Atau belajar kedua-duanya sebagaimana yang sedang digeluti oleh pak Abdurrahman dan seringkali ia ceritakan kepada saya.
Ayo (terus) belajar.
Seharusnya dengan jumlah kuantitatif pengalaman mereka dalam mengajar, mereka sudah tidak butuh belajar lagi. Tapi begitulah mereka. Mereka masih merasa kurang dalam ilmu, dan rela mengeluarkan uangnya yang tidak sedikit demi meningkatkan pengetahuan mereka. Para peserta pelatihan dan pengajaran akuntansi berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari sumatera, seperti Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan beberapa tempat lainnya. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara (timur dan barat) bahkan saya sendiri dari Papua. Saya benar-benar sendirian dari Papua.
Saya punya pengalama unik ketika mengikuti program tersebut. Saya bertemu dosen-dosen senior dan hebat. Seperti salah satu orang diantara mereka yang menjadi teman saya berbincang dan bertukar pikiran selama kegiatan, pak Abdurrahman namanya. Beliau dari Makassar. Mengajar di Unhas, sudah dari sejak tahun 90an. Masa ketika saya bahkan belum masuk dalam tingkatan sekolah dasar. Luar biasa. Beliau juga menjadi auditor di beberapa perusahaan dan telah mengembangkan beberapa pemograman akuntansi. Namun sedikitpun saya tidak melihat bagaimana beliau menunjukkan kepada orang lain bahwa beliau itu hebat dan sangat berpengalaman dalam mengajar. Hal yang ditunjukkan malah sebaliknya. Beliau menunjukkan pada orang lain bahwa beliau sangat butuh belajar. Bahkan ketika berbicara dengan saya, beliau mengatakan "saya ini, masih nol tentang akuntansi. Mungkin diantara pada dosen disini saya masih kurang sekali tentang akuntansi." Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya langsung membatin. "Beliau yang sudah lama begini saja masih bilang beliau butuh belajar, apalagi kamu wahai Ridhwan, masih cupu, tentu masih sangat perlu sekali belajar." Cerita demi cerita dari beliau, saya dengarkan tentang suka dan duka mengajar. Kadang saya bertanya tentang tips-tips mengajarkan akuntansi kepada mahasiswa, bahkan saya coba menjelaskan bagaimana cara saya mengajar agar beliau tanggapi dan berikan masukan. Sungguh pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya dapatkan di tempat lain.
Sejak pertemuan itulah saya menjadi yakin bahwa menjadi seorang pembelajar itu tak mengenal waktu. Sampai mati kita akan belajar. Baik itu belajar tentang perkara dunia maupun yang menyangkut akhirat. Atau belajar kedua-duanya sebagaimana yang sedang digeluti oleh pak Abdurrahman dan seringkali ia ceritakan kepada saya.
Ayo (terus) belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar