Selasa, 11 Desember 2012

Menjadi Penulis?

Menulis layaknya memberi. Apa saja yang kau dapatkan, kau terima, akan lebih berarti jika kamu memberi. Bahkan hidup, selalu  bicara tentang memberi. Mati sekalipun tetap memberi. Menjadi penulis bagi beberapa orang mungkin akan berarti. Kehidupannya diangkat dari level fana menuju level abadi. Setidaknya abadi untuk beberapa zaman. Semua orang bisa menulis. Begitulah kata para motivator dunia kepenulisan. Ya. Memang semua orang bisa menulis. Namun tidak semua orang bisa jadi penulis. Menjadi penulis untuk diri sendiri sekalipun. Apa gunanya menulis untuk diri sendiri? Setidaknya menulis untuk diri sendiri adalah cermin diri yang muncul tanpa kepalsuan. Jujur apa adanya.

Betapa bahagianya seorang penulis. Tak sekedar mendapat pujian. Ia juga mendapat cela. Dengan menjadi penulis ia menempatkan dirinya ditengah hiruk pikuk manusia. Berpendapat dan berkomunikasi dengan pembacanya. Perkara tulisannya sekedar selamat pagi. Tetap saja tulisannya telah membuatnya tetap hidup. Walau tak tahu penulisnya telah mati dan tak lagi hidup. Huruf, dan kata-kata yang telah menjadi kalimat, menghidupkannya diantara para pembaca.

Sempat terlintas dibenakku, sesaat dan mampir. Suatu saat aku juga ingin menjadi penulis. Minimal sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tulisanku disimpan dalam perpustakaan. Skripsi. Sebentar lagi tesis. Meski belum usai, segera masuk dalam perpustakaan. Tak peduli apakah dibaca atau tidak. Tak terbayang bila setiap orang yang menjalani kehidupannya didunia pendidikan khususnya perguruan tinggi tak pernah menuliskan skripsi atau tesis. Lantas apa bukti ia pernah menjadi seorang intelektual. Tak cukup bertumpuk-tumpuk tulisan mengenai tugas kuliah. Tak cukup juga tulisan ilmiah popoler yang terbit pada koran harian bahkan majalah sekalipun. Tulisan yang tinggal diperpustakaan lebih berarti daripada ribuan artikel yang tercecer di berbagai koran tanpa pernah didokumentasi dalam sebuah kliping.

Menjadi penulis, itulah yang sedang kulakukan. Menulis untuk diri sendiri. Ya, kelulusan dari perguruan tinggi kan berbicara mengenai hasil pemikiran yang tertuang diatas lembaran tulisan. Cepat atau lambat menjadi penulis akan segera tersemat padaku. Penulis untuk diri sendiri. Demi sebuah gelar, yang entah akan dipergunakan atau hanya masuk menjadi catatan hidup pernah berpendidikan di perguruan tinggi semata.

Senin, 10 Desember 2012

Sempoyongan

Aku berjalan sempoyongan. Meninggalkan motor yang baru saja ku parkir digarasi. Kudorong pintu pagar hingga merapat. Masih sempoyongan. Langkahku menuju pintu rumah terasa berat. Seakan ada seribu anak monyet menempel dikakiku, bergelantungan, sambil berteriak. Saku jaket kurogoh, mencari kunci pintu rumah. Dapat. Luar biasa, secepat ini kudapat. Biasanya aku harus merogoh saku jaket, celana, baju, membongkar tas untuk mendapatkan kunci. Pelupa. Tak pernah ingat dimana menyimpan kunci. Keberuntungan berpihak padaku.

Dipagi yang masih minim sinar matahari, berlangit mendung, namun bising suara besi-besi bermotor mondar-mandir, aku menemukan kunci pintu rumahku. Sambil berkaca pada kaca jendela, tanganku bersama kunci masuk ke lobang pintu. Berputar-putar membuka kuncian. Aku lihat wajahku, kusam, berminyak, rambut mengembang tak beraturan, dan sedikit sisa kotoran dimata yang tak sempat terbilas air keran ditempat penginapan tadi. *grek* pintu terbuka. Aku masuk tanpa melepas alas kaki.

Masih sempoyongan, badan tersandar sesekali pada dinding tembok. Mataku menyelidik pada ruang tamu yang masih saja berantakan sejak seminggu  lalu. Susunan kardus buku sebulan lalu masih rapih tersusun. Sepeda santai mulai dihiasi sarang laba-laba. Rak-rak buku kosong, kujadikan tempat sepatu, sandal, menaruh tas kecil, dan helm.

Dua ekor kucing peliharaan menatap heran, aku yang berjalan sempoyongan. Berdiri oleng, sambil menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Dalam hati mereka "kenapa bro? Kamu baik-baik saja? Jalan yang benar bro, jangan miring-miring. Sudah banyak yang miring di dunia ini bro, kamu jangan". "Iya bro". Timpal kucing lain. Mereka membuntutiku dibawah kedua kaki. Kemana kakiku melangkah. Mereka mengeluskan tubuh dikakiku, hingga bulu-bulu rontok menempel dicelana panjangku.

Tangan kananku menggantung kunci motor. Tangan kiriku menahan berat badan ditembok yang hampir roboh. Semoga tembok tak ikut roboh menahan berat badanku yang sudah mencapai 92kilogram. Aku berjalan melangkah, mengambil box kecil berwarna kuning. Tempat mengisi makanan kucing. Ku buka perlahan, lalu ku tuangkan pada wadah makan kucing. Tuang ke sisi kiri. Tuang ke sisi kanan. Kedua kucing, tak lagi membuntutiku, berlari menuju sumber suara, sumber bau, sumber energi. Makanan kucing. "Dasar kucing" kesalku.
"Ngeeong" mungkin ia mengucap rasa terimakasih. Atau mungkin ia memaki, " dasar kamu bro, si tubuh gempal besar yang cuma bisa mengeluh, suka pulang pagi, penampilan berantakan, bau kasur, tak bersemangat. Huh." Lanjutnya sambil mengunyah biskuit makanan kucing.

Ku lupakan mereka berdua lalu menuju kamar. Mereka, kedua ekor kucing yang hanya tahu makan, tidur lebih dari 12jam, lalu bermain-main sendiri dan sesekali menyapa tuannya sudah sepantasnya bahagia merasakan makanan itu. Makanan yang terhidang sehari dua kali, itupun jika tuannya tak lupa memberi makan.

Pintu kamar terbuka. Tertutup kemudian. Beban dipundak berpindah pada sudut kamar. Ransel itu kembali pada tempatnya. Baju, celana, jaket, celana dalam, tergantung pada tempatnya. Sarung menyelimuti badan. Tatapan iba televisi kepadaku tak membuat goyah. Ia sudah lama mati. Tak hidup. Tak berdaya lagi menyebar kebodohan. Ia hanya menjadi benda mati. Tak peduli aku. Tubuhku roboh diatas kasur. Melanjutkan sisa mimpi yang belum tuntas. Pada sebuah kasur tua dengan dua bantal satu guling aku meringkuk menelan sadar. Pergi ke tempat yang tak pernah terjamah manusia siapapun kecuali aku.

Aku terbangun. Terkejut. Hidungku mengendus bau makanan. Mataku langsung fokus pada sebuah kantong plastik. Astaga. Dasar Pelupa. Nasi pecel. Baru saja ku beli karena lapar. Menunda tidur. Mari makan sebelum tidur. Bersiap menghadapi kenyataan setelahnya berat tubuh yang bertambah. Lagi. Bersama televisi yang kembali hidup dan menawarkan kebodohan.

Sabtu, 08 Desember 2012

Ah!! itu kamu, Akhirnya Kita Bertemu.

Oh. Ini ya, yang dibilang sunrise? Langit yang konon tak kalah indah dibandingkan sunset. Ya memang ada perbedaan warna langit. Kalau sunset langit memerah, kemudian lama kelamaan menjadi jingga hingga kemudian gelap. Sunset, langit putih. Perlahan mulai kuning, dan akhirnya pun gelap. Karena lama kupandangi sinarnya.

Cukup lama memang aku tak melihat sunrise. Meski terbangun di saat shubuh dan menunaikan shalat subuh di masjid. Tak sekalipun bertemu dengan sunrise. Sinar mentari pagi. Kala subuh langit masih menghitam. Udara pun dingin. Tak ada kehangatan. Sunyi. Hanya ada suara adzan dan iqomah yang mengawali kebisingan pagi hari. Selepas subuh aku disibukkan dengan tontonan berita di televisi, bacaan-bacaan buku yang masih menarik perhatian, atau juga aktivitas merampungkan tulisan yang tak kunjung usai. Mentari pagi, sunrise, tak pernah ku jumpai. Kondisi terburuk, sesuai berjalan pada kegelapan, aku masuk pada kelelapan tidur. Di tempat lain beberapa orang menunggu sunrise dengan penuh persiapan. Di pantai-pantai. Di gunung. Bahkan ditengah kota. Siapa lagi kalo bukan pecinta alam, fotografer atau pembuat film. Mereka orang-orang rajin yang menanti sunrise. Keindahannya ditangkap. Disebarkan ke khalayak ramai. Mengingatkan pada khalayak bahwa keindahan itu selalu muncul dipagi hari. Sebelum kebosanan, kompetisi, rutinitas menghampiri. Alangkah bahagianya jika memulai hari dengan melihat sesuatu yang indah. Agar menjalani hari lebih tenang. Siap menghadapi berbagai masalah.

Ah itu kamu. Akhirnya tubuh yang selalu terbalut diingin dipagi hari, hangat. Sinarmu memang cerah. Kamu bukan mitos. Kamu ada. Kamu. Akhirnya kamu. Kita bertemu.

Rabu, 05 Desember 2012

Kala senja

Hari belum juga berganti.
Matahari masih saja terselimuti kawanan awan hitam.
Sinarnya masih ada walau sedikit.
Manusia sibuk dalam aktivitasnya kala hidup.
Diantaranya ada yang separuh mati.

Tertidur lelap dikala tubuhnya kuat untuk beraktivitas.
Seakan tanda jiwa lelah tak pernah terasa.
Kesempatan hidup masih diberikan.
Energi tubuh kian menumpuk menjadi lemak.
Percuma hidup jika segala aktivitas hanya menjadi diam.
Percuma berdoa jika doa hanya menjadi penghias diri yang kalut akan hidup.

Kepada sang pemilik jiwa dan segala kehidupan.
Bersujud memuja kelemahan diri dihadapan sang Maha kuat.
Berusaha berbenah dari ketidakpastian arah hidup.
Bergegas mencari titik balik perubahan.

Ah kamu, masihkah cinta kepadaNya?

Senin, 03 Desember 2012

Selamat pagi

Selamat pagi. Masih hidup juga pagi ini. Bersyukur? Pasti. Tidak beryukur? Tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Apapun kondisinya, masih diberikan kehidupan sama yang Maha hidup harus disyukuri. Biar ditambahkan nikmat oleh Allah. Dikuatkan dalam menghadapi masalah, diberi petunjuk ketika tak ada petunjuk.

Kalau saja matahari tak pernah mengeluh beredar dalam lingkaran orbitnya. Sebagaimana pun bumi yang masih terus berputar. Itu tandanya kita sebagai makhluk hidup sebisa mungkin agar menjalani kehidupan tetap pada hukum yang ditetapkan olehNya.

Oh Tuhan
Engkau sungguh Maha pemurah. Maha pengasih, Maha penyayang.
Hambamu yang berlumur dosa kah hidupkan. Kau beri kesempatan selalu untuk bersyukur. Bahkan ketika hambaMu lupa akan kehadiranMu engkau tetap memberi kesempatan sebelum segala sesuatunya berakhir.

Selamat menjalankan aktivitas. Selamat menebar manfaat bagi jiwa raga yang selalu bersyukur.