Menulis layaknya memberi. Apa saja yang kau dapatkan, kau terima, akan lebih berarti jika kamu memberi. Bahkan hidup, selalu bicara tentang memberi. Mati sekalipun tetap memberi. Menjadi penulis bagi beberapa orang mungkin akan berarti. Kehidupannya diangkat dari level fana menuju level abadi. Setidaknya abadi untuk beberapa zaman. Semua orang bisa menulis. Begitulah kata para motivator dunia kepenulisan. Ya. Memang semua orang bisa menulis. Namun tidak semua orang bisa jadi penulis. Menjadi penulis untuk diri sendiri sekalipun. Apa gunanya menulis untuk diri sendiri? Setidaknya menulis untuk diri sendiri adalah cermin diri yang muncul tanpa kepalsuan. Jujur apa adanya.
Betapa bahagianya seorang penulis. Tak sekedar mendapat pujian. Ia juga mendapat cela. Dengan menjadi penulis ia menempatkan dirinya ditengah hiruk pikuk manusia. Berpendapat dan berkomunikasi dengan pembacanya. Perkara tulisannya sekedar selamat pagi. Tetap saja tulisannya telah membuatnya tetap hidup. Walau tak tahu penulisnya telah mati dan tak lagi hidup. Huruf, dan kata-kata yang telah menjadi kalimat, menghidupkannya diantara para pembaca.
Sempat terlintas dibenakku, sesaat dan mampir. Suatu saat aku juga ingin menjadi penulis. Minimal sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tulisanku disimpan dalam perpustakaan. Skripsi. Sebentar lagi tesis. Meski belum usai, segera masuk dalam perpustakaan. Tak peduli apakah dibaca atau tidak. Tak terbayang bila setiap orang yang menjalani kehidupannya didunia pendidikan khususnya perguruan tinggi tak pernah menuliskan skripsi atau tesis. Lantas apa bukti ia pernah menjadi seorang intelektual. Tak cukup bertumpuk-tumpuk tulisan mengenai tugas kuliah. Tak cukup juga tulisan ilmiah popoler yang terbit pada koran harian bahkan majalah sekalipun. Tulisan yang tinggal diperpustakaan lebih berarti daripada ribuan artikel yang tercecer di berbagai koran tanpa pernah didokumentasi dalam sebuah kliping.
Menjadi penulis, itulah yang sedang kulakukan. Menulis untuk diri sendiri. Ya, kelulusan dari perguruan tinggi kan berbicara mengenai hasil pemikiran yang tertuang diatas lembaran tulisan. Cepat atau lambat menjadi penulis akan segera tersemat padaku. Penulis untuk diri sendiri. Demi sebuah gelar, yang entah akan dipergunakan atau hanya masuk menjadi catatan hidup pernah berpendidikan di perguruan tinggi semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar