Senin, 10 Desember 2012

Sempoyongan

Aku berjalan sempoyongan. Meninggalkan motor yang baru saja ku parkir digarasi. Kudorong pintu pagar hingga merapat. Masih sempoyongan. Langkahku menuju pintu rumah terasa berat. Seakan ada seribu anak monyet menempel dikakiku, bergelantungan, sambil berteriak. Saku jaket kurogoh, mencari kunci pintu rumah. Dapat. Luar biasa, secepat ini kudapat. Biasanya aku harus merogoh saku jaket, celana, baju, membongkar tas untuk mendapatkan kunci. Pelupa. Tak pernah ingat dimana menyimpan kunci. Keberuntungan berpihak padaku.

Dipagi yang masih minim sinar matahari, berlangit mendung, namun bising suara besi-besi bermotor mondar-mandir, aku menemukan kunci pintu rumahku. Sambil berkaca pada kaca jendela, tanganku bersama kunci masuk ke lobang pintu. Berputar-putar membuka kuncian. Aku lihat wajahku, kusam, berminyak, rambut mengembang tak beraturan, dan sedikit sisa kotoran dimata yang tak sempat terbilas air keran ditempat penginapan tadi. *grek* pintu terbuka. Aku masuk tanpa melepas alas kaki.

Masih sempoyongan, badan tersandar sesekali pada dinding tembok. Mataku menyelidik pada ruang tamu yang masih saja berantakan sejak seminggu  lalu. Susunan kardus buku sebulan lalu masih rapih tersusun. Sepeda santai mulai dihiasi sarang laba-laba. Rak-rak buku kosong, kujadikan tempat sepatu, sandal, menaruh tas kecil, dan helm.

Dua ekor kucing peliharaan menatap heran, aku yang berjalan sempoyongan. Berdiri oleng, sambil menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Dalam hati mereka "kenapa bro? Kamu baik-baik saja? Jalan yang benar bro, jangan miring-miring. Sudah banyak yang miring di dunia ini bro, kamu jangan". "Iya bro". Timpal kucing lain. Mereka membuntutiku dibawah kedua kaki. Kemana kakiku melangkah. Mereka mengeluskan tubuh dikakiku, hingga bulu-bulu rontok menempel dicelana panjangku.

Tangan kananku menggantung kunci motor. Tangan kiriku menahan berat badan ditembok yang hampir roboh. Semoga tembok tak ikut roboh menahan berat badanku yang sudah mencapai 92kilogram. Aku berjalan melangkah, mengambil box kecil berwarna kuning. Tempat mengisi makanan kucing. Ku buka perlahan, lalu ku tuangkan pada wadah makan kucing. Tuang ke sisi kiri. Tuang ke sisi kanan. Kedua kucing, tak lagi membuntutiku, berlari menuju sumber suara, sumber bau, sumber energi. Makanan kucing. "Dasar kucing" kesalku.
"Ngeeong" mungkin ia mengucap rasa terimakasih. Atau mungkin ia memaki, " dasar kamu bro, si tubuh gempal besar yang cuma bisa mengeluh, suka pulang pagi, penampilan berantakan, bau kasur, tak bersemangat. Huh." Lanjutnya sambil mengunyah biskuit makanan kucing.

Ku lupakan mereka berdua lalu menuju kamar. Mereka, kedua ekor kucing yang hanya tahu makan, tidur lebih dari 12jam, lalu bermain-main sendiri dan sesekali menyapa tuannya sudah sepantasnya bahagia merasakan makanan itu. Makanan yang terhidang sehari dua kali, itupun jika tuannya tak lupa memberi makan.

Pintu kamar terbuka. Tertutup kemudian. Beban dipundak berpindah pada sudut kamar. Ransel itu kembali pada tempatnya. Baju, celana, jaket, celana dalam, tergantung pada tempatnya. Sarung menyelimuti badan. Tatapan iba televisi kepadaku tak membuat goyah. Ia sudah lama mati. Tak hidup. Tak berdaya lagi menyebar kebodohan. Ia hanya menjadi benda mati. Tak peduli aku. Tubuhku roboh diatas kasur. Melanjutkan sisa mimpi yang belum tuntas. Pada sebuah kasur tua dengan dua bantal satu guling aku meringkuk menelan sadar. Pergi ke tempat yang tak pernah terjamah manusia siapapun kecuali aku.

Aku terbangun. Terkejut. Hidungku mengendus bau makanan. Mataku langsung fokus pada sebuah kantong plastik. Astaga. Dasar Pelupa. Nasi pecel. Baru saja ku beli karena lapar. Menunda tidur. Mari makan sebelum tidur. Bersiap menghadapi kenyataan setelahnya berat tubuh yang bertambah. Lagi. Bersama televisi yang kembali hidup dan menawarkan kebodohan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar