Kemarin saya pergi ke sebuah mall di Jogja, galeria mall. Salah satu diantara tiga mall yang dianggap besar di Yogyakarta, setelah malioboro mall dan ambarukmo plaza. Saya pergi ke galeria mall awalnya untuk menemani Rina membeli baju dan celana kantornya. Celana dan bajunya sudah mulai sempit katanya. Ia butuh satu atau dua set baju. Setelah meraih tujuan. Kebiasaanku ke mall, mengunjungi toko buku. Melihat-lihat judul buku baru yang menarik untuk dibaca meskipun di rumah kontrakan ada beberapa judul buku bagus best seller yang lagi antri belum terbaca. Penyakit, gatal tangan kalau melintas toko buku. Maklum jarang pergi ke luar rumah. Hampir sejam saya di toko buku. Rina, lagi pergi lihat-lihat barang lainnya, sudah kuberitahu dia sebelumnya kalau saya pergi ke toko buku. Dia sudah paham. Ada dua buku yang akhirnya saya beli. Markesot bertutur karya Emha Aninun Najib dan Ayah, Cinta yang terlupakan karya Edelweis Almira.
Sesampainya di rumah saya lebih memilih membaca buku kedua. Ayah, cinta yang terlupakan. Halaman demi halaman saya baca. Buku tersebut menceritakan kisah-kisah seorang ayah yang memang pantas untuk tidak dilupakan selain ibu. Tak berlebihan kalau buku itu menjadi best seller selama sebulan, begitu ungkap penerbit pada cover buku. Isinya benar-benar menggugah, menyentuh, dan membawa kembali segala memori Indah bersama ayah. Bagi siapapun yang membacanya. Termasuk saya. Saya akhirnya tertarik untuk menceritakan pengalaman saya juga, dengan ayah yang saya panggil Pa bos.
Masing-masing kita, punya panggilan tersendiri kepada ayah kita. Layakanya ibu yang dipanggil mama, mami, bunda, ibu, umi. Ayah pun demikian. Bapak, papa, dedi, abi, kalau saya memanggilnya Pa bos. Panggilan yang memang tidak umum. Panggilan itu mulai ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. SMP. Sebelumnya saya memanggil beliau dengan panggilan bapak. Sama seperti teman-teman kebanyakan. Awalnya mengapa saya memanggil Pa bos karena sebuah kejadian. Dahulu beliau sempat sakit-sakitan. Karena pekerjaannya dan usahanya yang keras dalam menghidupi kami keluarga. Suatu ketika saya dipanggil oleh mama saya saat sedang asyik bermain. Kata mama pulang wan, bapak cari. Bapak sakit, bapak suruh hibur-hibur bapak sedikit di rumah. Waktu itu saya sempat heran kenapa saya? Bapak kan sering memukuli saya kalau sudah mengganggu adik saya. Bahkan kalau belajar malas-malasan, ikat pinggang bapak pasti menempel di kaki, badan dan tangan. Kenapa saya? Akhirnya saya pulang mengiyakan perintah mama. Dengan polos saya pulang melihat kondisi bapak. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, matanya sayu, berkeringat, dingin. Kemudian dia membuka kedua tangannya dengan lebar, lantas dia bilang sini dulu bang, hibur-hibur bapak, biar sehat. Saya yang baru pulang bermain di depan makin bingung, hibur dengan cara apa? Saya sendiri tak tahu cara menghibur. Mungkin orang tua punya pandangan berbeda terhadap anaknya. Seberapa besar anaknya ia tetap anak kecil yang lucu di matanya. Akhirnya saya ajaklah bercerita. Cerita apa saja. Cerita lucu? Tidak juga. Karena saya tidak bisa bercerita lucu kepada orang lain kecuali cerita lucu pada diri sendiri. Itupun memerlukan waktu itu kemudian menertawai. Saya bercerita pengalaman disekolah dan pengalaman yang saya anggap lucu belakangan. Kemudian saya pijat kepala beliau, badan beliau. Perlahan beliau mulai tersenyum. Saya tambahkan juga gerak-gerik badanku yang dulu memang gendut, hitam ketika digoyangkan membawa kelucuan tersendiri. Bapakku tertawa. Pokoknya hari itu saya benar-benar sebagai entertainer sejati dirumah. Malah mungkin mengalahkan kelucuan olga apabila ia dibilang lucu, atau sule sekalipun. Tak lama, setelah kondisi bapak membaik. Bapak pergi kembali ke kantor, mengajar dan melakukan aktivitas lain. Jaman itu ada panggilan yang menurut anak-anak, lucu. Diantara kami sering memanggil sesorang dengan panggilan, bos.... booos. Atau dengan panggilan paaaaa booooos, hormat. Setelah menghibur bapak saya minta ijin main lagi sebentar keluar. Diijinkan. Asik bermain dengan teman-teman, cerita dan tertawa, mobil dinas yang biasa digunakan bapak keluar dari gang rumah. Sebuah mobil carry, berplat merah yang hanya bermuatan sembilan orang plus supir. Mobil tersebut kemudian melintas, mengacaukan barisan permainan kami. Bapak, dengan tersenyum sambil membunyikan klakson pada kami dan melambaikan tangan. Beliau kembali mrlanjutkan aktivitasnya. Lantas saya berteriak paaaa booosss, hormat. Sambil melambaikan tangan. Bapak makin tersenyum lebar dan pergi. Hari-hari berikutnya saya keasikan dengan kosa kata itu, saya panggil bapakku dengan kata paa booss. Beliau tidak mempermasalahkannya malah suka. Akhirnya hingga sekarang saya memanggil bapak saya tercinta dengan panggilan pa bos.