Rabu, 27 Februari 2013

Cerita tentang Pa bos

Kemarin saya pergi ke sebuah mall di Jogja, galeria mall. Salah satu diantara tiga mall yang dianggap besar di Yogyakarta, setelah malioboro mall dan ambarukmo plaza. Saya pergi ke galeria mall awalnya untuk menemani Rina membeli baju dan celana kantornya. Celana dan bajunya sudah mulai sempit katanya. Ia butuh satu atau dua set baju. Setelah meraih tujuan. Kebiasaanku ke mall, mengunjungi toko buku. Melihat-lihat judul buku baru yang menarik untuk dibaca meskipun di rumah kontrakan ada beberapa judul buku bagus best seller yang lagi antri belum terbaca. Penyakit, gatal tangan kalau melintas toko buku. Maklum jarang pergi ke luar rumah. Hampir sejam saya di toko buku. Rina, lagi pergi lihat-lihat barang lainnya, sudah kuberitahu dia sebelumnya kalau saya pergi ke toko buku. Dia sudah paham. Ada dua buku yang akhirnya saya beli. Markesot bertutur karya Emha Aninun Najib dan Ayah, Cinta yang terlupakan karya Edelweis Almira.

Sesampainya di rumah saya lebih memilih membaca buku kedua. Ayah, cinta yang terlupakan. Halaman demi halaman saya baca. Buku tersebut menceritakan kisah-kisah seorang ayah yang memang pantas untuk tidak dilupakan selain ibu. Tak berlebihan kalau buku itu menjadi best seller selama sebulan, begitu ungkap penerbit pada cover buku. Isinya benar-benar menggugah, menyentuh, dan membawa kembali segala memori Indah bersama ayah. Bagi siapapun yang membacanya. Termasuk saya. Saya akhirnya tertarik untuk menceritakan pengalaman saya juga, dengan ayah yang saya panggil Pa bos.

Masing-masing kita, punya panggilan tersendiri kepada ayah kita. Layakanya ibu yang dipanggil mama, mami, bunda, ibu, umi. Ayah pun demikian. Bapak, papa, dedi, abi, kalau saya memanggilnya Pa bos. Panggilan yang memang tidak umum. Panggilan itu mulai ketika saya duduk di bangku sekolah menengah pertama. SMP. Sebelumnya saya memanggil beliau dengan panggilan bapak. Sama seperti teman-teman kebanyakan. Awalnya mengapa saya memanggil Pa bos karena sebuah kejadian. Dahulu beliau sempat sakit-sakitan. Karena pekerjaannya dan usahanya yang keras dalam menghidupi kami keluarga. Suatu ketika saya dipanggil oleh mama saya saat sedang asyik bermain. Kata mama pulang wan, bapak cari. Bapak sakit, bapak suruh hibur-hibur bapak sedikit di rumah. Waktu itu saya sempat heran kenapa saya? Bapak kan sering memukuli saya kalau sudah mengganggu adik saya. Bahkan kalau belajar malas-malasan, ikat pinggang bapak pasti menempel di kaki, badan dan tangan. Kenapa saya? Akhirnya saya pulang mengiyakan perintah mama. Dengan polos saya pulang melihat kondisi bapak. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, matanya sayu, berkeringat, dingin. Kemudian dia membuka kedua tangannya dengan lebar, lantas dia bilang sini dulu bang, hibur-hibur bapak, biar sehat. Saya yang baru pulang bermain di depan makin bingung, hibur dengan cara apa? Saya sendiri tak tahu cara menghibur. Mungkin orang tua punya pandangan berbeda terhadap anaknya. Seberapa besar anaknya ia tetap anak kecil yang lucu di matanya. Akhirnya saya ajaklah bercerita. Cerita apa saja. Cerita lucu? Tidak juga. Karena saya tidak bisa bercerita lucu kepada orang lain kecuali cerita lucu pada diri sendiri. Itupun memerlukan waktu itu kemudian menertawai. Saya bercerita pengalaman disekolah dan pengalaman yang saya anggap lucu belakangan. Kemudian saya pijat kepala beliau, badan beliau. Perlahan beliau mulai tersenyum. Saya tambahkan juga gerak-gerik badanku yang dulu memang gendut, hitam ketika digoyangkan membawa kelucuan tersendiri. Bapakku tertawa. Pokoknya hari itu saya benar-benar sebagai entertainer sejati dirumah. Malah mungkin mengalahkan kelucuan olga apabila ia dibilang lucu, atau sule sekalipun. Tak lama, setelah kondisi bapak membaik. Bapak pergi kembali ke kantor, mengajar dan melakukan aktivitas lain. Jaman itu ada panggilan yang menurut anak-anak, lucu. Diantara kami sering memanggil sesorang dengan panggilan, bos.... booos. Atau dengan panggilan paaaaa booooos, hormat. Setelah menghibur bapak saya minta ijin main lagi sebentar keluar. Diijinkan. Asik bermain dengan teman-teman, cerita dan tertawa, mobil dinas yang biasa digunakan bapak keluar dari gang rumah. Sebuah mobil carry, berplat merah yang hanya bermuatan sembilan orang plus supir. Mobil tersebut kemudian melintas, mengacaukan barisan permainan kami. Bapak, dengan tersenyum sambil membunyikan klakson pada kami dan melambaikan tangan. Beliau kembali mrlanjutkan aktivitasnya. Lantas saya berteriak paaaa booosss, hormat. Sambil melambaikan tangan. Bapak makin tersenyum lebar dan pergi. Hari-hari berikutnya saya keasikan dengan kosa kata itu, saya panggil bapakku dengan kata paa booss. Beliau tidak mempermasalahkannya malah suka. Akhirnya hingga sekarang saya memanggil bapak saya tercinta dengan panggilan pa bos.

Selasa, 26 Februari 2013

Bercerita pada cermin

Tak sulit untuk mencarinya jika ia tiba-tiba menghilang di sebuah mall. Cukup pergi ke tempat informasi, bertanya pada petugas setempat, dimana letak toko buku. Ia pasti ada disana. Dia memang punya selera yang buruk dengan pakaian, celana. Melihat ia berbusana seperti orang yang baru diberi baju. Alakadarnya. Tak ada kombinasi warna yang menarik ketika melihatnya. Juga tak ada kesan modis, cakep atau tampan di wajahnya. Ia sama sekali tak peduli. Bahkan ketika ia di dandani oleh pakar busana sekalipun ia akan merasa biasa-biasa saja. Hobinya cuma satu. Buku.

Entah apa yang ada dibenaknya, ia lebih suka membeli banyak buku daripada baju satu set. Menurutnya satu setel baju dipakai berminggu-minggu lebih baik dibandingkan membaca buku satu judul yang hanya itu-itu saja. Ia sudah kecanduan. Benar-benar candu. Satu hal yang terkadang sangat ku benci saat jalan bersamanya, apabila melintas di depan toko buku ia seperti tertarik magnet paling kuat di bumi ini. Tak terlepas. Langsung menempel di toko buku. Pernah suatu hari ia baru saja diberikan uang oleh keluarganya. Uang itu tak sedikit, cukup besar. Kalau saja ia gunakan uang itu untuk membeli beberapa set busana ia pasti takkan terlihat kampungan seperti sekarang. Sudah bisa kau tebak? Ya, ia membelanjakan semua uangnya membeli buku. Semua, iya semua, tanpa tersisa. Ia tak berfikir akan bisa makan apa selama sebulan penuh, ia tak berfikir bagaimana ia akan menahan laparnya untuk beberapa makanan nikmat. Ia hanya berfikir bagaimana otaknya tak kosong, rasa ,lapar" akalnya terpuaskan. Berisi dengan beragam bacaan. Komedi, drama, thriller, fantasi, filsafat, sejarah, semua jenis buku masuk di kepalanya. Herannya ketika aku bertanya "apakah semua yang kamu baca itu melekat pada memorimu?" Ia menjawab, "tentu saja tidak.Tapi aku suka membaca. Karena mengisi waktu paling menyenangkan adalah membaca. Dengan membaca seakan aku sedang bertemu banyak orang. Beragam pemikiran dan mereka selalu berdialog melalui buku mereka. Aku suka." Begitu kata dia.

Aku sudahi pembicaraanku pada cermin. Rambutku yang basah perlahan sudah mulai mengering setelah beberapa menit aku gosok dengan handuk. Kumis kecilku juga sudah semua terpangkas.  Baju, celana? Penampilan? Ah apa pentingnya. Seperti biasa, yang penting rapih, sudah cukup. Sekarang sudah saatnya aku pergi ke kamar menyelesaikan beberapa bacaan buku-buku yang baru ku beli. Nikmatnya hidup.

Minggu, 24 Februari 2013

Operation wedding

"Laut tidak pernah meninggalkan pantai. Bulan tidak pernah meninggalkan bumi. Bintang tidak pernah meninggalkan langit. Seperti aku yang tidak pernah meninggalkan kamu." Kalimat-kalimat itu di ucapkan oleh Rendi kepada Windi. Di depan kelas, di hadapan para mahasiswa, atas perintah dosen yang mendapati Rendi berbisik-bisik pada seorang laki-laki untuk membalas surat dari Windi dikelas. Rendi adalah sahabat Windi sejak SD. Sejak kecil Rendi sudah menyukai Windi. Windi selalu mendapat gangguan dari rendi. Namun sebuah pukulan dalam kelas bela diri mengubah pandangan seorang rendi yang menyukai windi, meskipun baru duduk di bangku sekolah dasar. Selepas dari sekolah dasar, rendi ikut orang tuanya. SMP di maluku, SMA di Papua, 10 tahun terpisah dari Windi. Pada saat SD, Rendi pernah memberi seekor ikan mas dan sebuah gambar Rendi love Windi diberikan di hari Valentine. Sudah sepuluh tahun berlalu, mereka bertemu kembali di sebuah kampus. Pertemuan lama itu yang menjadi awal Rendi kembali mencintai Windi lebih dalam.

Keseriusan Rendi mencintai Windi, tidak sekedar ucapan atau main-main semata, hal ini dibuktikan lewat usahanya untuk melamar Windi. Hal itu dia lakukan karena sebelumnya ayah dari Windi melarangnya berpacaran dengan Rendi. Ayah Windi menganggap usia, menjadi salah satu alasan mengapa ia belum bisa pacaran, dan statusnya yang sedang kuliah. Rendi yang sudah hampir selesai menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran berani melamar Windi, yang masih kuliah mengambil jurusan komunikasi. Pada saat melamar Windi, sang ayah kemudian menertawai Rendi karena keputusannya untuk melamar dinilai terlalu berani. Alasannya, masih muda, belum bekerja, lantas mau dikasih makan apa anak saya, begitu ujar ayah Windi. Namun Rendi tak putus asa dan berusaha meyakinkan pada Ayah Windi bahwa dia sanggup dan bertanggungjawab atas pilihannya melamar Windi. Lantas sang ayah pun menyetujui dengan satu syarat. Berhubung Windi masih mempunyai tiga orang kakak yang juga belum menikah meski sudah mempunyai pacar masing-masing, maka lamaran akan diterima ketika tiga orang pacar tersebut melamar kakak Windi. Ayah Windi berjanji ketika ketiga pacar kakaknya datang untuk melamar takkan di tolak.

Ternyata kondisi ketiga pacar kakak Windi jauh dari harapan. Herman, pacar dari Vera seorang yang penakut dan seringkali mudah putus asa. Terbukti ia pernah melakukan percobaan bunuh diri, namun selalu gagal. Hal itu yang membuat Vera tidak yakin bahwa Herman akan berani menghadapi pak Kardi, Ayah mereka yang notabene pensiunan angkatan laut yang terkenal tegas, galak dan berwibawa dihadapan Herman. Beni, pacar Lira, telah dijodohkan oleh orang tuanya. Meski lebih menyukai Lira, Beni tak sanggup membantah perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Hingga Lira pun berfikir Herman takkan punya kesempatan untuk bisa melamar Lira. Sedangkan yang terakhir, kakak tertuanya Tara, punya pacar Feri. Seorang konsultan yang selalu mendapatkan dan menghadapi klien-klien dengan persoalan rumah tangga, dari keseluruhan kliennya berakhir perceraian. Dampaknya, Feri takut dengan pernikahan, karena berasumsi hal tersebut juga akan terjadi jika ia melakukan pernikahan, kemudian perceraian. Tara sebenarnya juga ingin menikah karena saat menjalin hubungan dengan Tara, tanpa diketahui oleh Feri, Tara telah mengandung janin hasil hubungan intim mereka sebelum nikah.

Windi yang sudah ingin menikah dengan Rendi lantas mulai merencanakan strategi agar ketiga pacar kakaknya, mau datang ke rumah dan melamar mereka. Mereka pun membentuk tim yang diberi nama operation wedding. Setelah melakukan beberapa rencana dengan berhasil, akhirnya ketiga pacar kakaknya datang lalu melamar pada ayah mereka. Sang ayah yang sudah berjanji takkan menolak setiap pacar kakaknya maupun Rendi yang datang ke rumah pun tak bisa ingkar janji. Muncul lah sebuah persyaratan. Sebelum lamaran diterima, keempat pria itu, salah satunya harus bisa mengalahkan rekor tahan nafas Windi. Di keluarga Windi, Windi adalah pemenang rekor menahan nafas di dalam air terlama setelah Tara, Lira dan Vera.

Mampukah mereka melakukannya? Berhasilkah mereka menikah? Apakah masalah akan segera terselesaikan? Nonton sendiri ya biar penasarannya hilang hehehe.

Film ini adalah sebuah film yang dibuat oleh monty tiwa. Genre film ini menurut saya lebih kepada film komedi keluarga. Satu sisi memperlihatkan bagaimana hubungan dalam keluarga, antara ayah dan anak juga antara kakak adik. Ibu dalam film ini diceritakan telah meninggal, sehingga dalam film ini sosok ayah sebagai "single parent" lebih ditonjolkan dalam menjaga anak-anaknya dari kecil hingga remaja. Bagaimana kegagalan seorang ayah dan juga keberhasilan ayah dalam menjaga anaknya. Film ini memberikan banyak pesan, ada juga masalah, konflik, namun begitu tetap dalam suguhan komedi. Sehingga lebih mudah di cerna. Pada akhirnya penonton lah yang kembali memiliki hak penuh dalam menarik kesimpulan film.

Film ini adalah salah satu film Indonesia yang tayang di bioskop selain Rectoverso, Habibie Ainun (yang masih tayang sejak bulan desember), Mika dan satu lagi film horor Indonesia saya lupa judulnya. Berhubung kurang begitu tertarik sama film horor Indonesia jadi saya lebih memilih menonton film Indonesia yang bergenre lainnya. Oke. Begitulah sedikit review film. Sampai ketemu di review film lainnya.

Jumat, 22 Februari 2013

Sekte Rumi

Sudah lima tahun aku terlibat dalam kelompok ini. Segelintir kelompok yang punya ikatan persaudaraan yang kuat. Ada satu tujuan dan beragam cara untuk mempertahankan hidup. Tujuan utama kelompok ini ada, untuk memenangkan setiap permainan. Membunuh, maupun dibunuh. Terluka atau dilukai, jadi kebiasaan tiap kali kelompok ini bertemu. Aku masih ingat betul ajakan temanku ketika masuk dalam kelompok ini. Hal terpenting yang kamu pertahankan adalah bertahan hidup sekuat tenagamu.

"Santai saja, pertarungan nanti kita akan saling membantu kok, tapi kamu perlu ingat ini beda. Tidak sama seperti latihan. Nanti, saat permainan dimulai, kamu tak boleh lengah sedikitpun. Matamu harus terus mengawasi sekitar, tanganmu harus cekatan, akalmu menjadi senjata paling utama. Hanya itu yang bisa kamu lakukan agar tak mati terlebih dahulu. " ujar temanku yang sudah lebih awal menggeliluti seluk beluk permainan ini.

Ketika malam telah datang, kelompok kami berkumpul. Beberapa diantaranya pergi ke warung kelontong. Membeli rokok, sebotol air mineral besar dan juga beberapa makanan ringan, kalau ada. Rokok menurut mereka menjadi salah satu pengalihan agar stress saat bertarung dapat diredakan. Konsentrasi, harus tetap terjaga. Menyerang dan bertahan menggunakan strategi melawan kelompok lain, butuh konsistensi konsentrasi. Sekali saja buyar tak ada kemenangan yang akan didapatkan. Masing-masing dari kami punya peranan. Ada yang menjadi "tumbal", ada yang menyerang dari jarak jauh, ada yang punya skill membunuh ada juga yang selalu mendukung setiap kali kelompok maju dan ada yang membantu melindungi kelompok dari serangan musuh. Kelompok ini hanya beranggotakan lima orang. Lawannya juga hanya lima orang. Kelima orang tersebut punya kecakapan masing-masing. Bertahan hidup itu tak mudah sehingga orang yang tak cakap dalam permainan tak akan pernah diundang ke dalam kelompok. Karena hanya akan menjadi beban kelompok.

Hal yang aku sukai dalam kelompok ini adalah setiap perang berakhir, tak ada kekecewaan. Saling bercerita, menertawai dan selalu diselingi dengan rasa hormat satu dengan yang lain. Kelompok ini sering mendatangi beberapa tempat. Rumi, adalah tempat yang paling sering kami datangi. Itulah mengapa kami seringkali menyebut gerombolan kami dengan nama sekte rumi.

Selasa, 19 Februari 2013

M A M A

Kasih sayang ibu selamanya. Kira-kira begitu ungkapan pada poster film MAMA. Sebuah genre film horor yang diangkat dari sebuah cerita sederhana, menurut saya. Jadi cerita dimulai ketika Jeff, seorang yang dianggap mengalami gangguan jiwa membunuh istrinya dan berusaha membawa lari kedua anaknya. Victoria dan Lilly. Jeff tak tahu harus membawa mereka berdua kemana, dalam keadaan jiwa yang sangat terganggu, ia terus mengemudikan kendaraan dengan cepat. Terlalu cepat. Mobil mereka pun terjungkal ke jurang. Syukur, mereka bertiga selamat. Victoria masih berumur sekitar 5 tahun, adiknya Lilly 1-3tahun. Setelah kejadian tersebut Jeff membawa kedua anaknya ke tempat yang lebih aman. Sambil mencari-cari tempat, ia kemudian bertemu sebuah pondok di cliffton rage. Gangguan jiwa yang dialami oleh Jeff membuatnya ingin menghabisi dirinya sendiri. Namun entah karena apa ia ingin menghabisi anaknya terlebih dahulu. Kacamata anaknya Victoria ia lepaskan, pandangan Victoria kabur bila tak menggunakan kacamata. Sambil berharap Victoria tak akan mengingat atau melihat jelas bagaimana ia akan dihabisi. Ketika pelatuk pistol ingin ditarik, Jeff terhalang. Ada sebuah bayangan yang menariknya dan membawanya pergi jauh dari pondok tersebut. Hilang. Tak pernah diketahui. Victoria tak mengertu kemana ayahnya pergi. Ia dan Lilly menunggu diperapian pondok dengan api masih menyala yang dinyalakan sebelumnya oleh ayah mereka. Hanya api itu yang membantu menghangatkan mereka. Malam tiba, ayahnya belum juga kembali, Victoria masih menunggu sambil membekap Lilly. Tiba-tiba sebuah buah cerry menggelinding ke arah mereka, rasa lapar mereka teratasi sejenak. Lantas muncul sosok bayangan, dialah MAMA.

Lima tahun berlalu, Lukas adik Jeff masih saja melakukan pencarian Victoria dan Lilly. Setelah lama menunggu, akhirnya kabar mengenai Victoria dan Lilly sampai juga. Mereka berdua ditemukan. Lukas lalu pergi ke sebuah tempat sosial yang mrnampung sementara Victoria dan Lilly. Lima tahun berlalu mereka berdua menjadi sangat liar. Karena hidup tanpa interaksi manusia. Hanya dengan bintang liar disekitar. Lukas, ia hidup bersama Annabel, istrinya yang saat ini belum menginginkan seorang anak dari rahimnya sendiri. Kabar ini sekaligus membuat Annabel cemas, karena ia belum merasa sanggup mengurusi anak-anak. Lantas bagaimana kelanjutannya? Nonton sendiri ya. Hehehe.

Sebuah kesimpulan yang ku ambil dari film ini, bahwa mama adalah orang yang tulus mencintai dan menyayangi seorang (yang dianggap) anak. Meskipun ia (anak) bukan terlahir daru rahimnya sendiri.

Selamat menonton.

Jumat, 15 Februari 2013

Basi basa basi

Hai blog, lama juga ya tidak bareng-bareng lagi. Kamu kesepian? Sama aku juga. Seharusnya kita bisa bareng yah, kan kita berdua sama-sama kesepian. Iya juga ya, kenapa kita tidak terus barengan aja. Sapa tau barengan ini ada juga yang mau ikutan bareng, kan jadi rame. Hmm...

Selama aku dalam kesepian, berbagai judul film dan buku tumben mau jadi temanku. Biasanya mereka tidak mau berteman denganku. Kata buku, aku selalu tak pernah tuntas berdialog dengannya. Kata film, aku selalu tertidur ketika dia sedang bercerita. Itu sebabnya mereka tak mau berteman denganku. Tapi sekarang, lihatlah aku blog. Mereka senang berteman denganku. Buku, selalu puas berdialog hingga usai lembaran akhirnya. Film, selalu tersenyum karena aku tak lagi tidur saat bercerita. Bahkan aku menuliskan beberapa isi ceritanya, ku ceritakan ke orang lain. Cuma kamu blog yang tidak sempat ku sapa. Baru bisa sekarang. Hehehe. Ga apa ya. Nanti aku cerita lagi ya blog. Aku mau pergi kembali ke tempat persunyianku.