Selasa, 26 Februari 2013

Bercerita pada cermin

Tak sulit untuk mencarinya jika ia tiba-tiba menghilang di sebuah mall. Cukup pergi ke tempat informasi, bertanya pada petugas setempat, dimana letak toko buku. Ia pasti ada disana. Dia memang punya selera yang buruk dengan pakaian, celana. Melihat ia berbusana seperti orang yang baru diberi baju. Alakadarnya. Tak ada kombinasi warna yang menarik ketika melihatnya. Juga tak ada kesan modis, cakep atau tampan di wajahnya. Ia sama sekali tak peduli. Bahkan ketika ia di dandani oleh pakar busana sekalipun ia akan merasa biasa-biasa saja. Hobinya cuma satu. Buku.

Entah apa yang ada dibenaknya, ia lebih suka membeli banyak buku daripada baju satu set. Menurutnya satu setel baju dipakai berminggu-minggu lebih baik dibandingkan membaca buku satu judul yang hanya itu-itu saja. Ia sudah kecanduan. Benar-benar candu. Satu hal yang terkadang sangat ku benci saat jalan bersamanya, apabila melintas di depan toko buku ia seperti tertarik magnet paling kuat di bumi ini. Tak terlepas. Langsung menempel di toko buku. Pernah suatu hari ia baru saja diberikan uang oleh keluarganya. Uang itu tak sedikit, cukup besar. Kalau saja ia gunakan uang itu untuk membeli beberapa set busana ia pasti takkan terlihat kampungan seperti sekarang. Sudah bisa kau tebak? Ya, ia membelanjakan semua uangnya membeli buku. Semua, iya semua, tanpa tersisa. Ia tak berfikir akan bisa makan apa selama sebulan penuh, ia tak berfikir bagaimana ia akan menahan laparnya untuk beberapa makanan nikmat. Ia hanya berfikir bagaimana otaknya tak kosong, rasa ,lapar" akalnya terpuaskan. Berisi dengan beragam bacaan. Komedi, drama, thriller, fantasi, filsafat, sejarah, semua jenis buku masuk di kepalanya. Herannya ketika aku bertanya "apakah semua yang kamu baca itu melekat pada memorimu?" Ia menjawab, "tentu saja tidak.Tapi aku suka membaca. Karena mengisi waktu paling menyenangkan adalah membaca. Dengan membaca seakan aku sedang bertemu banyak orang. Beragam pemikiran dan mereka selalu berdialog melalui buku mereka. Aku suka." Begitu kata dia.

Aku sudahi pembicaraanku pada cermin. Rambutku yang basah perlahan sudah mulai mengering setelah beberapa menit aku gosok dengan handuk. Kumis kecilku juga sudah semua terpangkas.  Baju, celana? Penampilan? Ah apa pentingnya. Seperti biasa, yang penting rapih, sudah cukup. Sekarang sudah saatnya aku pergi ke kamar menyelesaikan beberapa bacaan buku-buku yang baru ku beli. Nikmatnya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar