Minggu, 24 Februari 2013

Operation wedding

"Laut tidak pernah meninggalkan pantai. Bulan tidak pernah meninggalkan bumi. Bintang tidak pernah meninggalkan langit. Seperti aku yang tidak pernah meninggalkan kamu." Kalimat-kalimat itu di ucapkan oleh Rendi kepada Windi. Di depan kelas, di hadapan para mahasiswa, atas perintah dosen yang mendapati Rendi berbisik-bisik pada seorang laki-laki untuk membalas surat dari Windi dikelas. Rendi adalah sahabat Windi sejak SD. Sejak kecil Rendi sudah menyukai Windi. Windi selalu mendapat gangguan dari rendi. Namun sebuah pukulan dalam kelas bela diri mengubah pandangan seorang rendi yang menyukai windi, meskipun baru duduk di bangku sekolah dasar. Selepas dari sekolah dasar, rendi ikut orang tuanya. SMP di maluku, SMA di Papua, 10 tahun terpisah dari Windi. Pada saat SD, Rendi pernah memberi seekor ikan mas dan sebuah gambar Rendi love Windi diberikan di hari Valentine. Sudah sepuluh tahun berlalu, mereka bertemu kembali di sebuah kampus. Pertemuan lama itu yang menjadi awal Rendi kembali mencintai Windi lebih dalam.

Keseriusan Rendi mencintai Windi, tidak sekedar ucapan atau main-main semata, hal ini dibuktikan lewat usahanya untuk melamar Windi. Hal itu dia lakukan karena sebelumnya ayah dari Windi melarangnya berpacaran dengan Rendi. Ayah Windi menganggap usia, menjadi salah satu alasan mengapa ia belum bisa pacaran, dan statusnya yang sedang kuliah. Rendi yang sudah hampir selesai menyelesaikan kuliahnya di fakultas kedokteran berani melamar Windi, yang masih kuliah mengambil jurusan komunikasi. Pada saat melamar Windi, sang ayah kemudian menertawai Rendi karena keputusannya untuk melamar dinilai terlalu berani. Alasannya, masih muda, belum bekerja, lantas mau dikasih makan apa anak saya, begitu ujar ayah Windi. Namun Rendi tak putus asa dan berusaha meyakinkan pada Ayah Windi bahwa dia sanggup dan bertanggungjawab atas pilihannya melamar Windi. Lantas sang ayah pun menyetujui dengan satu syarat. Berhubung Windi masih mempunyai tiga orang kakak yang juga belum menikah meski sudah mempunyai pacar masing-masing, maka lamaran akan diterima ketika tiga orang pacar tersebut melamar kakak Windi. Ayah Windi berjanji ketika ketiga pacar kakaknya datang untuk melamar takkan di tolak.

Ternyata kondisi ketiga pacar kakak Windi jauh dari harapan. Herman, pacar dari Vera seorang yang penakut dan seringkali mudah putus asa. Terbukti ia pernah melakukan percobaan bunuh diri, namun selalu gagal. Hal itu yang membuat Vera tidak yakin bahwa Herman akan berani menghadapi pak Kardi, Ayah mereka yang notabene pensiunan angkatan laut yang terkenal tegas, galak dan berwibawa dihadapan Herman. Beni, pacar Lira, telah dijodohkan oleh orang tuanya. Meski lebih menyukai Lira, Beni tak sanggup membantah perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Hingga Lira pun berfikir Herman takkan punya kesempatan untuk bisa melamar Lira. Sedangkan yang terakhir, kakak tertuanya Tara, punya pacar Feri. Seorang konsultan yang selalu mendapatkan dan menghadapi klien-klien dengan persoalan rumah tangga, dari keseluruhan kliennya berakhir perceraian. Dampaknya, Feri takut dengan pernikahan, karena berasumsi hal tersebut juga akan terjadi jika ia melakukan pernikahan, kemudian perceraian. Tara sebenarnya juga ingin menikah karena saat menjalin hubungan dengan Tara, tanpa diketahui oleh Feri, Tara telah mengandung janin hasil hubungan intim mereka sebelum nikah.

Windi yang sudah ingin menikah dengan Rendi lantas mulai merencanakan strategi agar ketiga pacar kakaknya, mau datang ke rumah dan melamar mereka. Mereka pun membentuk tim yang diberi nama operation wedding. Setelah melakukan beberapa rencana dengan berhasil, akhirnya ketiga pacar kakaknya datang lalu melamar pada ayah mereka. Sang ayah yang sudah berjanji takkan menolak setiap pacar kakaknya maupun Rendi yang datang ke rumah pun tak bisa ingkar janji. Muncul lah sebuah persyaratan. Sebelum lamaran diterima, keempat pria itu, salah satunya harus bisa mengalahkan rekor tahan nafas Windi. Di keluarga Windi, Windi adalah pemenang rekor menahan nafas di dalam air terlama setelah Tara, Lira dan Vera.

Mampukah mereka melakukannya? Berhasilkah mereka menikah? Apakah masalah akan segera terselesaikan? Nonton sendiri ya biar penasarannya hilang hehehe.

Film ini adalah sebuah film yang dibuat oleh monty tiwa. Genre film ini menurut saya lebih kepada film komedi keluarga. Satu sisi memperlihatkan bagaimana hubungan dalam keluarga, antara ayah dan anak juga antara kakak adik. Ibu dalam film ini diceritakan telah meninggal, sehingga dalam film ini sosok ayah sebagai "single parent" lebih ditonjolkan dalam menjaga anak-anaknya dari kecil hingga remaja. Bagaimana kegagalan seorang ayah dan juga keberhasilan ayah dalam menjaga anaknya. Film ini memberikan banyak pesan, ada juga masalah, konflik, namun begitu tetap dalam suguhan komedi. Sehingga lebih mudah di cerna. Pada akhirnya penonton lah yang kembali memiliki hak penuh dalam menarik kesimpulan film.

Film ini adalah salah satu film Indonesia yang tayang di bioskop selain Rectoverso, Habibie Ainun (yang masih tayang sejak bulan desember), Mika dan satu lagi film horor Indonesia saya lupa judulnya. Berhubung kurang begitu tertarik sama film horor Indonesia jadi saya lebih memilih menonton film Indonesia yang bergenre lainnya. Oke. Begitulah sedikit review film. Sampai ketemu di review film lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar