Senin, 15 Agustus 2016

Studi doktoral?

Beberapa waktu ini saya didorong untuk kembali "nyemplung" ke bangku kelas. Kali ini bangku kelas yang menurut saya sangat mewah. Meski sudah banyak orang-orang yang mendudukinya dan berhasil, bahkan dengan waktu yang relatif sangat cepat. Itulah bangku studi doktoral. Sebagai contoh, pimpinan di Instansi saya bekerja, ia menghabiskan waktu menyelesaikan pendidikan doktoralnya hanya dalam waktu 2 tahun, dan itu bukan cuma 1 orang. Saya sampaikan pada beliau rasa takjub saya. Beliau berkata "sebenarnya sekolah itu nasib-nasiban. Ada yang cepat ada yang lama. Tergantung dari kitanya saja bagaimana. Alhamdulillah, saya bisa cepat." Akhirnya saya terlibat perbincangan yang seru dan berakhir pada kalimat. "Mumpung masih muda. Pergi sekolah saja. Kalau soal dana bisa dicari dari beasiswa. Kalau sudah tua, gak enak. Saya saja "menyesal" kenapa sejak muda dulu saya tidak sekolah lagi (studi doktoral). Apalagi kamu masih muda, anak-anak juga belum terlalu besar. Cepat-cepatlah sekolah." 

Dalam benak saya tentang studi doktoral, itu sebuah studi yang tak hanya prestisus tapi juga akan penuh dengan perjuangan akademik yang sangat panjang, biaya yang besar dan tanggung jawab yang juga besar jika bisa berhasil melewati jenjang tersebut. Saat ini saja dengan gelar Master yang saya peroleh dari kelas pasca sarjana saya masih merasa belum bisa "berkarya" dengan baik. Ditambah lagi dengan dorongan untuk melanjutkan studi. Belum lagi saya masih terbayang betapa menderitajya saya menyelesaikan tesis. Tulisan ilmiah yang menurut sebagian orang mudah dan gampang. Tapi tidak bhi saya. Meskipun bisa menulis dalam hal-hal yang mudah. Namun untuk menulis secara ilmiah saya asudah lempar handuk duluan. Mungkin ini yang disebut kalah sebeleum bertanding? Ya. Bisa jadi. Atau mungkin lebih tepatnya. Sadar diri sebelum keblinger. 

Studi doktoral? Ah entahlah. Kemana takdir mengalir disitu saya oke-oke saja. Saya hanyalah hamba, yang mengikuti jalan takdir yang telah ditetapkan. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pengangguran yang menjadi pengangguran

Sebagian orang beranggapan setelah ia menempuh jenjang pendidikan tinggi ia akan memperoleh pekerjaan yang membuat taraf kehidupan ia menjadi lebih baik. Ia dapat bekerja di perusahaan ternama ataupun mendapatkan status sosial yang baru. Menjadi manajer misalnya, menjadi staff akuntansi, atau sebut saja ia menjadi staff kantoran. Tentu saja hal ini masih sangat diimpikan bagi sebagian besar orang yang ada di Indonesia. Sehingga ia menghabiskan waktunya, uangnya, sebagian besar kebahagiaannya untuk berhadapan dengan tugas-tugas belajarnya dan dengan berbagai materi perkuliahan yang sama sekali mungkin tidak dibutuhkan ketika ia masuk dunia kerja. Hingga sampailah ia mendapatkan gelar dari tingkat pendidikan tinggi. Sarjana. Namun, tak ia sangka ketika ia menjalani waktu dalam belajar, ia kembali harus menerima kenyataan bahwa dunia pekerjaan yang ia impikan membuthkan beberapa kriteria yang lain. Misalnya ia harus punya spesialisasi tertentu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menekuni jenjang pendidikan setelah pendidikan tinggi dengan mendaftarkan dirinya ke pendidikan spesialis. Ia pun mendapatkannya. Ia kembali masuk ke dunia bursa kerja. Pahit. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan yang ia impikan. Ia kembali harus melanjutkan perjuangannya menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jenjang Master. Dua, tiga, empat tahun berlalu. Ia menjadi Master. Sekarang ia berada diatas angin. Ironi. Pekerjaan yang ia impikan ternyata sudah tak lagi menginginkannya. Umurnya telah melewati batas. Akhirnya ia masuk ke pekerjaan yang apa adanya.

Hari-hari masuk dalam dunia pekerjaan telah ia rasakan. Menjadi pengangguran yang berstempelkan mahasiswa telah ia lewati. Perlahan demi perlahan status sosialnya mulai berubah. Menjadi seseorang yang bekerja. Setidaknya ketika ia bertemu dengan orang-orang yang baru. Ia bisa menjawab pertanyaan, "kerja dimana sekarang?" Namun hakikat menjadi pengangguran tetap sama saja ia dapatkan. Ketika ia masuk ke dunia pekerjaan yang tidak ia impikan, ia akan menemui dunia pekerjaan yang dalam aktivitas kesehariannya, lebih banyak menganggurnya daripada bekerja. Dunia pekerjaan dimana para karyawan tidak dibina dengan pendidikan yang cukup atau pelatihan yang cukup sehingga visi dan misi dari perusahaan tidak sinergis dengan para karyawan. Dunia pekerjaan yang mana hari-harinya hanya menunggu masa saat gajian. Itupun dengan gaji yang tidak seberapa.Para karyawan yang masuk kadang masih saja bertanya-tanya, apa yang harus saya kerjakan? Apa yang sebaiknya saya kerjakan? Apa yang bisa saya bantu kerjakan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya karena tidak adanya poin visi atau misi dalam benak para karyawan. Sehingga motivasi karyawan terbatas hanya ketika ada pekerjaan yang datang menghampiri mereka. Katakanlah para karyawan telah dibekali dengan pendidikan, entah pendidikan pra jabatan atau yang lainnya. Beberapa diantara mereka masih lebih sering memangku dagu menatap layar komputer, dengan tatapan kosong, atau tatapan penuh status di media sosial atau menontov film dengan menggunakan media dan fasilitas yang disediakan kantor. 

Dengan kenyataan ini,saya cuma bisa bilang, yah begitulah.

Solusinya, cobalah pahami visi dan misi organisasi dimana tempat anda bekerja. Konsultasikan kepada atasa anda tentang capaian strategi yang sudah ia jalankan, sudah sejauh mana, sehingga ada gambaran bagi anda untuk mengerjakan sesuatu. Timbang nganggur.

Jumat, 29 Juli 2016

Seumur Hidup Menjadi Pendatang

Jangan salahkan ibu mengandung. Jangan pula salahkan dimana ibu melahirkan. Begitulah kira-kira, apa yang saya dan mungkin beberapa orang yang sama nasibnya dengan saya. Kami lahir di tempat yang bukan kota atau tempat kelahiran atau asal dimana orang tua kami dilahirkan dan dibesarkan. Saya dilahirkan di tempat orang tua saya bekerja. Dimana status mereka sebagai pendatang. 

Ketika saya duduk di bangku SD hingga SMA saya sering mendapatkan pertanyaan oleh beberapa teman saya. Pertanyaan yang sederhana namun belum tentu bisa memberikan jawaban yang sesungguhnya. Pertanyaan itu ialah, "kamu asli mana?." Pertanyaan ini begitu sederhana, dan selalu saya jawab juga dengan jawaban sederhana. "Maksudnya gimana?" iya, jawaban dalam bentuk pertanyaan. Lalu ia tanya lagi suku mana. Lalu ini menjadi sulit untuk di jelaskan. Karena yang beredar di sebagian besar masyarakat kita, jika seseorang lahir dan dibesarkan di suatu wilayah, jadilah orang tersebut menjadi bagian dari penduduk tempat tersebut. Katakanlah, ia lahir di Jogja, ia dibesarkan dan beranak pinak disitu, maka ia menjadi bagian dari orang Jogja. Nah, dalam silsilah keluarga saya, ketika ayah saya di tanya dia orang mana, ia akan menjawab ia orang Dobo. Karena ia lahir dan dibesarkan di Dobo. Keluarga besarnya tinggal di Dobo. Dobo merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara. Namun Kakek saya, adalah orang Bone. Beliau lahir dan di besarkan di Bone. Salah satu Pulau yang berada di Sulawesi. Hingga kemudian ia bersama ayahnya merantau ke pulau Maluku dan singgah di Kota Dobo. Adapun Kakek Buyut saya, saya tidak tahu beliau asli mana, lahir dimana dan dibesarkan di pulau atau kota mana, karena saya cuma tahu silsilah sampai kakek saya saja. Itu sekilas dari bapak dan kakek saya yang asal-usulnya dari pulau atau kota dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Saya? Saya lahir dan dibesarkan di Kota Jayapura. Dari yang semula provinsinya bernama Irian Jaya hingga menjadi Provinsi Papua. Bahkan hingga provinsi Papua di pecah menjadi Papua dan Papua Barat. Selama kurang lebih 17 Tahun saya hidup dari lahir hingga remaja. Namun, hingga matipun saya di tanah kelahiran dan dibesarkan bahkan hingga mengkeriput kulit tubuh ini, saya tidak akan pernah disebut sebagai putra daerah. Karena saya akan tetap disebut seumur hidup sebagai pendatang. 

Rambut saya lurus, agak bergelombang. Tidak ikal, tidak juga keriting. Kulit tubuh saya tidak hitam arang, juga tidak seputih salju. Aslinya kulit saya putih meskipun tak seputih salju, namun karena lama berinteraksi dan tinggal di kawasan tropis lama kelamaan kulit saya menjadi kecoklatan. Ibu saya bukan orang asli Papua, begitu juga bapak saya. Jadilah saya tidak termasuk dalam kriteria orang Papua. Sebagaimana potongan lirik lagu yang selalu dibangga-banggakan oleh orang Papua. "Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua." Bahkan ada sebagian orang pendatang yang bernasib seperti saya suka menyanyikannnya padahal hal itu sama sekali takkan mengubah status ia menjadi orang Papua. Lucu. Bahkan saya sempat membaca dalam sebuah koran lokal yang paling terkenal di Papua tentang kriteria orang Papua. Salah satu atau keduanya dari orang tua anak orang asli Papua (Baca, hitam kulit, keriting rambut), sudah 20 tahun tinggal di papua dll. 

Sekarang saya punya keluarga kecil. Ketika saya remaja saya pergi merantau ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya hidup selama 12 tahun lamanya. Melepas masa remaja, lajang dan mempunyai dua orang anak yang dilahirkan di Sleman Yogyakarta. Sekarang pertanyaannya, ketika ditanyakan kepada anak saya kelak ketika (Insya Allah) mereka seumuran saya, kira-kira apa jawaban mereka? Saya hanya bisa tersenyum saja. 

Setelah 12 tahun tinggal di Yogyakarta, kini saya kembali ke kota kelahiran, Jayapura. Entah sampai kapan disini. Hanya saja sekarang saya datang dengan perasaan yang baru, yakni tak lagi mengkhawatirkan atau bertanya-tanya siapa saya sebenarnya, suku mana, asli mana. Karena seumur hidup saya, saya akan tetap dan terus menjadi pendatang. Cukuplah sebuah hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjadi penghibur hati ini,  " عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416).

Begitulah kira-kira sebagaimana seorang musafir atau orang yang melakukan perjalanan, sepanjang hidupnya akan menjadi pendatang. Seumur hidup menjadi seorang pendatang. 

Minggu, 24 Mei 2015

The Teacher's Diary

Tuang Pong. Salah seorang guru muda yang ditugaskan untuk mengajarkan mata pelajaran olahraga dihukum oleh tempat ia mengajar. Ia dihukum karena dianggap melakukan hal yang tidak pantas kepada muridnya. Hukuman dari sekolah ada dua pilihan, ia dikeluarkan dari sekolah dan ia tetap bisa mengajar di sekolah namun ia harus di skors selama 1 semester dan mengajar di rumah kapal. Tuan pong memilih pilihan kedua. 

Rumah kapal merupakan program yang dibuat oleh pihak sekolah untuk membantu memberikan pendidikan kepada anak-anak para nelayan yang memang susah untuk pergi ke daratan, karena rumah mereka yang tinggal di area sungai di salah satu tempat di Thailand. Program rumah kapal sebenarnya sudah ingin dihentikan oleh pihak sekolah, namun beberapa anggota dalam sekolah memutuskan mempertahankan keberadaan rumah kapal selagi bisa memberikan bantuan juga tempat yang bagus untuk mendidik para guru yang tidak sesuai kriteria sekolah atau yang telah melakukan pelanggaran. 

Tuan Pong, bukan satu-satunya guru yang mengajar di rumah kapal, sebelumnya pernah ada guru yang juga di skors oleh pihak sekolah namanya nyonya Ann. Ia dihukum karena tidak ingin menghapus Tato bintang kecil di tangannya. Sebagai guru tentu saja hal itu tidak pantas, apalagi hal tersebut akan menjadi perhatian anak muridnya kelak. 
Tugas tuan Pong dan nyonya Ann, kurang lebih sama, mereka membantu anak-anak para nelayan untuk belajar dan ketika ada ujian semester mereka bisa naik tingkat atau lulus dalam program sekolah. 

Rumah kapal, letaknya jauh dari pemukiman kota. Sebagaimana namanya ia berada di tengah sungai, dan hanya bisa di tempuh dengan sebuah perahu. Tidak ada listrik, tidak ada pasar, juga tidak ada fasilitas sebagaimana yang ada di kota. Ketika pertama kali tuang Ponh berada di rumah kapal ia bingung apa yang harus ia kerjakan. Ia pun memutuskan untuk membersihkan ruangan kelas. Namun ketika lama menunggu ia tidak juga menemui satu pun murid yang datang ke rumah kapal. Ketika menunggu murid ia pun menemukan sebuah buku catatan Diary, milik nyonya Ann. Dari buku Diary tersebut ia banyak belajar. Mulai dari bagaimana, ia harus pergi meminta pertolongan orang-orang nelayan untuk diantarkan ke rumah-rumah dan mengajak anaknya sekolah hingga bagaimana cara bertahan hidup disana. 
Sekolah orang galau. Begitulah sebuah nama pada buku catatan diarinya yang di tulis oleh nyonya Ann. 
Ketika galau dan bosan ia melakukan hal-hal yang unik lalu ia tuliskan ke dalam catatan diarinya, termasuk kerja ia punya masalah dengan pacarnya hingga banyak peristiwa aneh. 
Tuan pong menikmati bacaan lembar demi lembar dari catatan yang di tulis oleh nyonya Ann. Hingga sampai ia terbesit untuk bertemu dan mencari nyonya Ann. Kira-kira ketemu gak ya? Enting ya gimana? Dan apa reaksi nyonya Ann? Silahkan di tonton sendiri. 

Dari film ini ada sebuah pelajaran menarik, yakni menulis. Ya menulis, siapa tahu Tulisanmu bermanfaat bagi orang lain. 


Selasa, 28 April 2015

Merantau; kisah kecil perantauan

Keluargaku adalah keluarga perantau. Bapakku perantau di Jayapura. Mencari kehidupan yang lebih baik dengan bekerja hingga berkeluarga disana. Disanalah aku lahir. Di tempat perantauan bapakku. Begitu juga dengan almarhum kakekku, ia dahulu adalah seorang pedagang besar. Merantau dari sulawesi bersama ayahnya untuk berdagang. Ayah kakekku keturunan bangsawan di bone. Namun ia taat dalam agamanya sehingga ia lebih memilih untuk menjadi orang biasa. Tanpa gelar bangsawan. Tanpa embel-embel anak raja, atau penerus kerajaan. Ia hanya tahu bahwa hidup didunia ini yang terpenting ialah berbuat baik. Tak peduli siapa engkau, keturunan darimana hingga seberapa besarnya hartamu. Kalau tak bermanfaat bagi kebaikan orang lain, kamu tak pantas dikenang dan hidup diantara sekumpulan manusia bahkan alam sekalipun. Itu sebabnya ia menghilangkan dua huruf ng dibelakang nama marga keluarga, pasolo. Konon meski dua huruf, jika dibunyikan, orang akan tahu bahwa itu gelar bangsawan. Entahlah. Itu cerita turun temurun. Jelas sudah bahwa haru ini siapapun tak ada yang memakai dua huruf n dan g dibelakang nama marga. Lagipula tak ada yang ingin jadi bangsawan (bangsawan dalm arti sebenarnya). Buat apa?

Oyang, begitu panggilan bapak kakekku menyebarkan agama islam di pulau maluku. Ia datang bersama anaknya (kakekku). Tentu saja melalui jalur perdagangan. Beberapa orang di daerah maluku utara maupun tenggara pernah mendengar "kesaktian" oyang. Mereka mengira oyang salah satu pendekar sakti. Oyangku terlihat "sakti" karena ia banyak mengamalkan dzikir kepada Allah, begitu cerita turun temurun dari keluargaku. Banyak hal aneh yang mereka lihat dari mendiang oyang. Satu diantaranya berpindah ke beberapa tempat bahkan buah mulut disana oyang pernah berceramah pada hari Jum'at di tiga tempat yang berbeda sekaligus. Akal masyarakat setempat tak sanggup menalarnya. Konon beberapa orang dari dataran arab pun dibuat takjub, karena oyang pernah ke tanah suci mekkah disaat belum banyak transportasi udara maupun laut kesana. Itu sebabnya pergaulannya luas bahkan konon orang arab belajar agama padanya. Oyang, kakek dan juga bapakku perantau dengan kisah masing-masing. Sebagai penyebar agama, pedagang dan menjadi abdi masyarakat, bekerja sebagai pegawai negeri itu yang dilakukan bapakku.

Lain kisah bapakku, lain juga kisah mamaku. Mama, seorang perantau sejati. Bagaimana tidak? Ia merantau sejak umur lima tahun. Selepas meninggalnya eyang laki-laki (bapaknya mama), mama tinggal bersama tantenya. Ia dibawa ke tempat yang tidak dekat dari rumahnya. Jayapura. Madiun, Jawa timur secara geografis letaknya jauh dari Jayapura. Menggunakan kapal laut butuh enam hari terombang ambing dilautan. Kapal terbang,12jam dilangit secara kumulatif. Menembus awan, diguncang angin, memandangi petir jika hujan tiba. Langsung dan nyata. Sejak kecil hingga bekerja, kemudian menikah dan memiliki keturunan, mama tinggal di Jayapura. Pulang untuk melihat kedua orang tuanya, terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Entah kapan, tak tentu. Selain jarak, ongkos juga berat. 

Kisah perantauan mereka berlanjut hingga ke keturunannya. Aku salah satunya. Aku merantau menuntut ilmu. Di kota pelajar, begitu orang-orang menjulukinya. Jogjakarta. Slogan aman, nyaman tentram akan kau dapati ketika pertama datang ke Jogja dan itu benar. Tak sekedar slogan seperti ditempat lainnya atau slogan kosong para politisi yang tampil dimedia televisi.

Entah sampai kapan aku disini aku tak tahu. Sudah 10 tahun memasuki tahun ke 11 aku disini. Tak tahu kenapa juga aku masih betah disini. Disini aku masih tetap sama, menjadi pelajar. Meskipun statusku kini telah menikah dan akan memiliki dua anak, insya Allah, tetap saja aku masih belum tahu kenapa aku bisa disini. Aku hanya tahu ini bagian dari takdir. Kadang aku berfikir, ketika ada orang yang berkata ilmu itu dituntut dari dicari hingga mati, masa iya, aku harus menuntut ilmu di jogja saja? Lalu kapan aku bisa bermanfaat nabi orang lain. Kapan aku bisa mengembangkan ilmuku? Kapan juga aku bisa mendapatkan tambahan ilmu yang bisa jadi dari pengalaman, dari pergaulan, juga dari tempat yang aku sendiri tak tahu. Apa mungkin aku sudah terlalu nyaman seperti ikan di laut yang berenang dilakukan lepas. Tak ada nelayan, tak ada gangguan, hanya ada gelombang, sesekali petir, dan aku menjalani proses hidup yang teduh dengan tetap menuntut ilmu. Menuntut ilmu dunia juga ilmu syar'i. Ilmu syar'i, kadang aku jenuh dan bosan, karena merasa, apa yang aku dapatkan hari ini dan hari kemarin hanya sedikit. Namun benarlah kata orang bijak, sabar adalah kunci untuk masuk ke samudra ilmu yang lebih luas lagi. Lihatlah betapa lama kita tahu bahwa Colombus yang menemukan daratan Amerika, apakah kita sudah tahu ternyata ada orang sebelum Colombus yang menemukannya? Atau, berapa lama kita tahu kita hidup menjadi budak dunia, sementara kita semua dilahirkan dengan merdeka dari rahim-rahim ibu kita?

Ini adalah kisah perantauan yang belum berakhir. Aku masih hidup, keturunanku mulai muncul satu per satu. Entah sampai mana anak cucuku akan pergi merantau, sebagai perantau aku bersyukur pernah hidup ditengah orang yang punya riwayat perantauan cukup lama. Meski sesungguhnya, kita semua adalah perantau, kita sedang menemukan jalan pulang. Kembali ke surga, atau tersesat ke neraka.

Salam rantau.

Senin, 27 April 2015

Ketika cinta menuntutmu

Pernahkah terdengar olehmu kisah seseorang "terpaksa" melakukan hal ini dan itu untuk seseorang yang ia cintai? Rasanya, hampir semua orang yang dianda rasa cinta melakukan hal serupa. 

Setiap kita yang mencintai seseorang dituntut untuk melakukan beberapa hal kepada yang ia cintai. 

Orang yang mencintai dunia Kuliner, dituntut untuk bisa membedakan mana yang asin, mana yang manis, mana yang pahit, mana yang asam, mana yang pedas. Jika tidak ada hal-hal ini pada dirinya, bagaimana bisa ia dikatakan sebagai seorang pecinta Kuliner. Belum lagi ia dituntut untuk menyediakan beberapa kocek yang tidak sedikit, untuk melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Menelusuri jalan entah jauh atau dekat demi mencari Kuliner terbaik bagi lidahnya juga lambungnya. 

Orang yang mencintai dunia design dan dunia fashion. Ia dituntut untuk bisa mengetahui segala hal tentang fashion. Terutama ia dituntut, harus punya daya imajinasi tinggi, selera yang tinggi. Tidak mungkin ia mau seleranya disamakan dengan selera orang yang sama sekali tidak mencintai design dan fashion. 

Orang mencintai dunia sepakbola, tentu saja ia juga punya tuntutan. Ia sedia mengorbankan uangnya, waktunya, atau mungkin beberapa acara yang menurut orang lain penting tapi tidak untuk dia, hanya untuk menyaksikan tim sepakbola kesayangannya. 

Orang yang mencintai dunia otomotif pada sebuah kendaraan tertentu. Ia dituntut untuk bisa menyediakan uang yang tidak sedikit bagi kesukaannya, kecintaannya, bahkan ia dibilang gila karena menjalani perjalanan jauh sekalipun tetap ia jalani demi kecintaannya pada dunia otomotif. 

Orang yang cinta dunia travel ini, ia dituntut punya uang, punya pengetahuan tentang lokasi kemana ia akan pergi, dituntut punya persiapan perbekalan yang cukup, juga ia dituntut harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar tidak terganggu ketika ia travelling. 

Dan diantara banyak kecintaan, semua itu pasti ada tuntutan. 

Mencintai seseorang, mencintai istri, mencintai suami, anak, orang tua, sahabat, keluarga, kerabat, lingkungan, semua ada tuntutan. Segala tuntutan ada jenjangnya, tingkatannya, namun segalanya kalah dengan rasa cinta yang sudah terlanjur menetap di hati. Akan dilakukan segala hal agar bisa dekat, bisa Selakau mendapatkan yang ia cintai, bisa bersama dan bisa langgeng bersamanya. 

Lantas. Bagaimanakah menurutmu, jika orang yang sudah cinta kepada yang lebih besar dari seua itu, lebih mulia dari semua itu, lebih menakjubkan dari segalanya? Mencintai Allah Subhanahu wa ta'ala. Tuhan yang menciptakannya, yang menghidupkan ya, yang mematikannya, yang akan membangkitkanNya kembali, yang akan membahagiakannya di surga jika ia taat,dan menyiksanya di neraka jika ia bermaksiat. Yang memberikan segala bentuk kecintaan yang ada di jati-hati para manusia, bagaimana? Adalah semua itu dibiarkan mencinta tanpa tuntutan?

Maka cinta itu selalu ada tuntutan. Siapapun anda yang telah jatuh cinta takkan berat untuk melaksanakan segala tuntutan, dan memenuhi tuntutan. 

Bersabar atas tuntutan yang ada akan membuat kita jauh lebih bahagia ketika kita sampai kepada apa yang kita cintai. 

Kejujuran kunci kebebasan, pelajaran penting dari Film Big Eyes

Mungkin tak hanya saya yang merasa kurang percaya diri dengan kemampuan diri masing-masing. Selalu saja ada semacam bayang-bayang kekhawatiran yang muncul ketika hendak memulai sesuatu atau memperkenalkan ide yang kita punya. Saya tidak tahu, apakah anda juga demikian? Tapi mari saya ajak anda sedikit mengambil pelajaran dari sebuah film yang berjudul Big Eyes yang baru saja beberapa hari saya tonton. 

Big Eyes. Begitu judul filmnya. Film ini menceritakan sebuah kisah nyata dari seorang Margareth, seorang wanita yang melarikan diri dari rumahnya bersama seorang anak perempuannya Jane. Dalam kehidupan rumah tangganya ia senantiasa diperlakukan oleh suaminya Ulbrich. Karena tidak tahan dengan perlakuan itu ia memilih lari dari kenyataan hidupnya itu untuk pindah ke sebuah tempat, tepatnya di kota San Fransisco. 

Kesedihan-kesedihan yang ia alami bersama anaknya Jane, selalu ia ekspresikan ke dalam lukisannya, hingga suatu saat karena tuntutan hidup dan harus menafkahi dirinya dan anaknya Margareth memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang disana ada banyak pelukis independen memamerkan hasilnya. Bukan di sebuah galeri, bukan juga di sebuah pertokoan akan terapi di pinggiran jalan, mungkin kalau di tempat kita bisa dibilang seperti pedagang kaki lima lah. 

Disaat sedang menjualkan lukisannya  ia terpikat dengan seseorang pria yang menurutnya cukup mempesona, punya karya lukisan yang juga bagus dan memiliki komunikasi yang sangat baik dalam menarik perhatian para pengunjung yang sedang melewati jalanan. 

Lukisan Margareth memang berbeda dengan lukisan para pelukis pada saat itu, diantara para pelukis ada yang melukis dengan tema pemandangan, ada juga portrait, dan beberapa teman lainnya. Margareth meskipun dengan tema portrait memiliki keunikan tersendiri, yakni pada bola mata lukisan yang ia buat. Hampir semua karakter yang digambarkan olehnya mempunyai bola mata yang besar, inilah kenapa kemudian disebut dengan Big Eyes. 

Pria yang ditemui oleh Margareth bernama Walter Keane. Setelah beberapa waktu mereka berkenalan mereka mulai dekat jingga akhirnya mereka menikah. Ketika itu Margareth berdzikir bahwa ia membutuhkan Keane karena ketika Keane memperkenalkan dirinya ia berprofesi sebagi penjual apartemen, mungkin di tempat kita disebut sales apartemen. Sebagai sales atau lebih tepatnya Marketing apartemen Keane cukup sukses, namun perusahaan tempat ia bergabung mengalami kemunduran. Keanemencoba menawarkan kepada Margareth untuk menjual lukisannya. Di sinilah masalah itu muncul. Margareth mempunyai kebiasaan setiap lukisan yang ia buat ia bubuhkan tanda nama belakang suaminya, seolah ia ingin menutup diri dan tidak ingin identitas dirinya itu diketahui oleh orang lain. Selain itu juga ia punya keyakinan bahwa karya lukisan dari seorang perempuan memang ketika itu belum bisa diterima oleh orang pada umumnya. Jadilah ia senantiasa membubuhkan nama Keane pada setiap lukisannya. Lagipula jika secara logika hal itu dibenarkan karena dalam pandangan orang barat ketika itu, saat seorang wanita sudah menikah dengan seorang pria maka ia menambahkan nama belakang suaminya pada namanya sendiri jadilah ia bernama Margareth Keane. Sehingga dengan adanya naman ini lukisan itu menjadi milik bersama. 

Walter Keanehlai memasarkan hasil karya lukisan istrinya tersebut. Berawal di sebuah bar ia terlibat perkelahian dengan seorang pemilik bar dan diliput oleh wartawan gosip ketika itu,maka mulailah tersebar isu bahwa perkelahian mereka disebabkan oleh lukisan Big Eyes. Keesokan harinya bar tersebut dikunjungi banyak orang hanya untuk melihat lukisan Big Eyes yang membuat Walter berkelahi dengan pemilik bar. Orang yang melihatnya mulai tertarik dengan lukisan dan membeli satu persatu lukisan Big Eyes. Hingga suatu saat ada seorang pengusaha dari Italia yang berkunjung di bar dan menyukai lukisan tersebut, lalu ia menanyakan siapa yan membuat lukisan tersebut. Ketika itu ada Margareth, juga ada Walter, karena melihat potensi lukisan yang akan terjual maka Walter pun mengakui bahwa itu lukisannya. 

Singkat cerita, Walter Keane menjadi sangat terkenal dengan lukisan tersebut. Ia dan Margareth mendapatkan banyak sekali uang dari hasil penjualan lukisan, dan setiap waktu Margareth terus berkarya dan mereka berdua menghasilkan uangnya. Namun, dibalik kesuksesan mereka berdua dalam hati kecil Margareth ia merasa sedih karena selama ini yang melukis lukisan tersebut adalah dirinya dan yang dianggap atau dikenal orang adalah Walter Keane. Sebuah kemewahan dan popularitas yang ada tidak menjadikan ia bahagia, karena semua itu datang dari kebohongan ya sendiri. Ketika Jane, anaknya pernah bertanya bukankah itu lukisan ibu? Ia membohonginya dan mengatakan bahwa itu lukisan Walter. Disitulah merasa bersalah dan sedih. Namun karena cintanya kepada Walter yang begitu besar dan tak ingin menyakiti hatinya ia rela memendam hal ini. Sampai pada akhirnya ia merasa di bohongi oleh Walter. Walter yang mengaku bisa melukis terbuat adalah pembohong, yang sama sekali tidak bisa. Setiap lukisan yang bertema kota adalah hasil karya orang lain yang kemudian ia ganti namanya dengan cara menimpa nama tersebut dengan namanya sendiri. Selama kurang lebih 10 tahun Margareth mengurung dirinya sendiri dalam kebohongan. Akhirnya ia pun meninggalkan Walter, meminta bercerai dan mengadukan kepada pengadilan, dan ia memenangkan perkara tersebut., orang-orang pun akhirnya tahu siapa yang membuat karya lukisan Big Eyes. 

Dari kisah ini ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil. 
1. Kejujuran. Siapa saja orangnya, jika ia tidak jujur dalam melakukan sesuatu maka ia selamanya akan menjadi orang yang tidak bahagia dalam hidupnya. Perbuatan bohong juga menyakiti diri sendiri dan juga orang lain. Kejujuran merupakan kunci kebahagiaan seseorang tak peduli apapun yang terjadi maka jujur itu adalah perkara baik yang harus kita jaga. Jujur itu juga termasuk percaya kepada diri kita sendiri, yakin pada diri kita dan tidak minder pada diri kita. Kejujuran juga akan menjadikan kita menjadi orang yang pemberani memperjuangkan kejujuran yang kita miliki, memperjuangkan kemampuan yang kita miliki.

2. Kebebasan. Tidak semua perkara yang menyenangkan itu membebaskan diri kita. Lihat bagaimana yang di alami Margareth dalam kisah diatas, ia mendapatkan segala kesenangannya, ia memiliki suami, ia memiliki rumah mewah bahkan kehidupannya jauh lebih menyenangkan namun ia tidak memiliki kebebasan. Ia harus enam tiada berbuat sesuatu yang bukan merupakan dirinya, ia selalu terkurung dalam rasa bersalah sehingga ia tidak menjadi orang yang bebas. Kebebasan inilah yang dicari semua orang. Tentu saja bukan kebebasan yang di maknai sewenang-wenang dalam melakukan sesuatu, akan terapi bebas dalam meja peradilan apa yang ada di dalam diri kita namun tidak menyakiti diri kita, juga orang lain, tidak mengganggu diri kita dan orang lain. Kebebasan dalam kebaikan bukan kebebasan diatas keburukan. 

Sungguh beruntung orang yang memelihara kedua hal ini dalam dirinya, ia akan beruntung.