Senin, 27 April 2015

Kejujuran kunci kebebasan, pelajaran penting dari Film Big Eyes

Mungkin tak hanya saya yang merasa kurang percaya diri dengan kemampuan diri masing-masing. Selalu saja ada semacam bayang-bayang kekhawatiran yang muncul ketika hendak memulai sesuatu atau memperkenalkan ide yang kita punya. Saya tidak tahu, apakah anda juga demikian? Tapi mari saya ajak anda sedikit mengambil pelajaran dari sebuah film yang berjudul Big Eyes yang baru saja beberapa hari saya tonton. 

Big Eyes. Begitu judul filmnya. Film ini menceritakan sebuah kisah nyata dari seorang Margareth, seorang wanita yang melarikan diri dari rumahnya bersama seorang anak perempuannya Jane. Dalam kehidupan rumah tangganya ia senantiasa diperlakukan oleh suaminya Ulbrich. Karena tidak tahan dengan perlakuan itu ia memilih lari dari kenyataan hidupnya itu untuk pindah ke sebuah tempat, tepatnya di kota San Fransisco. 

Kesedihan-kesedihan yang ia alami bersama anaknya Jane, selalu ia ekspresikan ke dalam lukisannya, hingga suatu saat karena tuntutan hidup dan harus menafkahi dirinya dan anaknya Margareth memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang disana ada banyak pelukis independen memamerkan hasilnya. Bukan di sebuah galeri, bukan juga di sebuah pertokoan akan terapi di pinggiran jalan, mungkin kalau di tempat kita bisa dibilang seperti pedagang kaki lima lah. 

Disaat sedang menjualkan lukisannya  ia terpikat dengan seseorang pria yang menurutnya cukup mempesona, punya karya lukisan yang juga bagus dan memiliki komunikasi yang sangat baik dalam menarik perhatian para pengunjung yang sedang melewati jalanan. 

Lukisan Margareth memang berbeda dengan lukisan para pelukis pada saat itu, diantara para pelukis ada yang melukis dengan tema pemandangan, ada juga portrait, dan beberapa teman lainnya. Margareth meskipun dengan tema portrait memiliki keunikan tersendiri, yakni pada bola mata lukisan yang ia buat. Hampir semua karakter yang digambarkan olehnya mempunyai bola mata yang besar, inilah kenapa kemudian disebut dengan Big Eyes. 

Pria yang ditemui oleh Margareth bernama Walter Keane. Setelah beberapa waktu mereka berkenalan mereka mulai dekat jingga akhirnya mereka menikah. Ketika itu Margareth berdzikir bahwa ia membutuhkan Keane karena ketika Keane memperkenalkan dirinya ia berprofesi sebagi penjual apartemen, mungkin di tempat kita disebut sales apartemen. Sebagai sales atau lebih tepatnya Marketing apartemen Keane cukup sukses, namun perusahaan tempat ia bergabung mengalami kemunduran. Keanemencoba menawarkan kepada Margareth untuk menjual lukisannya. Di sinilah masalah itu muncul. Margareth mempunyai kebiasaan setiap lukisan yang ia buat ia bubuhkan tanda nama belakang suaminya, seolah ia ingin menutup diri dan tidak ingin identitas dirinya itu diketahui oleh orang lain. Selain itu juga ia punya keyakinan bahwa karya lukisan dari seorang perempuan memang ketika itu belum bisa diterima oleh orang pada umumnya. Jadilah ia senantiasa membubuhkan nama Keane pada setiap lukisannya. Lagipula jika secara logika hal itu dibenarkan karena dalam pandangan orang barat ketika itu, saat seorang wanita sudah menikah dengan seorang pria maka ia menambahkan nama belakang suaminya pada namanya sendiri jadilah ia bernama Margareth Keane. Sehingga dengan adanya naman ini lukisan itu menjadi milik bersama. 

Walter Keanehlai memasarkan hasil karya lukisan istrinya tersebut. Berawal di sebuah bar ia terlibat perkelahian dengan seorang pemilik bar dan diliput oleh wartawan gosip ketika itu,maka mulailah tersebar isu bahwa perkelahian mereka disebabkan oleh lukisan Big Eyes. Keesokan harinya bar tersebut dikunjungi banyak orang hanya untuk melihat lukisan Big Eyes yang membuat Walter berkelahi dengan pemilik bar. Orang yang melihatnya mulai tertarik dengan lukisan dan membeli satu persatu lukisan Big Eyes. Hingga suatu saat ada seorang pengusaha dari Italia yang berkunjung di bar dan menyukai lukisan tersebut, lalu ia menanyakan siapa yan membuat lukisan tersebut. Ketika itu ada Margareth, juga ada Walter, karena melihat potensi lukisan yang akan terjual maka Walter pun mengakui bahwa itu lukisannya. 

Singkat cerita, Walter Keane menjadi sangat terkenal dengan lukisan tersebut. Ia dan Margareth mendapatkan banyak sekali uang dari hasil penjualan lukisan, dan setiap waktu Margareth terus berkarya dan mereka berdua menghasilkan uangnya. Namun, dibalik kesuksesan mereka berdua dalam hati kecil Margareth ia merasa sedih karena selama ini yang melukis lukisan tersebut adalah dirinya dan yang dianggap atau dikenal orang adalah Walter Keane. Sebuah kemewahan dan popularitas yang ada tidak menjadikan ia bahagia, karena semua itu datang dari kebohongan ya sendiri. Ketika Jane, anaknya pernah bertanya bukankah itu lukisan ibu? Ia membohonginya dan mengatakan bahwa itu lukisan Walter. Disitulah merasa bersalah dan sedih. Namun karena cintanya kepada Walter yang begitu besar dan tak ingin menyakiti hatinya ia rela memendam hal ini. Sampai pada akhirnya ia merasa di bohongi oleh Walter. Walter yang mengaku bisa melukis terbuat adalah pembohong, yang sama sekali tidak bisa. Setiap lukisan yang bertema kota adalah hasil karya orang lain yang kemudian ia ganti namanya dengan cara menimpa nama tersebut dengan namanya sendiri. Selama kurang lebih 10 tahun Margareth mengurung dirinya sendiri dalam kebohongan. Akhirnya ia pun meninggalkan Walter, meminta bercerai dan mengadukan kepada pengadilan, dan ia memenangkan perkara tersebut., orang-orang pun akhirnya tahu siapa yang membuat karya lukisan Big Eyes. 

Dari kisah ini ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil. 
1. Kejujuran. Siapa saja orangnya, jika ia tidak jujur dalam melakukan sesuatu maka ia selamanya akan menjadi orang yang tidak bahagia dalam hidupnya. Perbuatan bohong juga menyakiti diri sendiri dan juga orang lain. Kejujuran merupakan kunci kebahagiaan seseorang tak peduli apapun yang terjadi maka jujur itu adalah perkara baik yang harus kita jaga. Jujur itu juga termasuk percaya kepada diri kita sendiri, yakin pada diri kita dan tidak minder pada diri kita. Kejujuran juga akan menjadikan kita menjadi orang yang pemberani memperjuangkan kejujuran yang kita miliki, memperjuangkan kemampuan yang kita miliki.

2. Kebebasan. Tidak semua perkara yang menyenangkan itu membebaskan diri kita. Lihat bagaimana yang di alami Margareth dalam kisah diatas, ia mendapatkan segala kesenangannya, ia memiliki suami, ia memiliki rumah mewah bahkan kehidupannya jauh lebih menyenangkan namun ia tidak memiliki kebebasan. Ia harus enam tiada berbuat sesuatu yang bukan merupakan dirinya, ia selalu terkurung dalam rasa bersalah sehingga ia tidak menjadi orang yang bebas. Kebebasan inilah yang dicari semua orang. Tentu saja bukan kebebasan yang di maknai sewenang-wenang dalam melakukan sesuatu, akan terapi bebas dalam meja peradilan apa yang ada di dalam diri kita namun tidak menyakiti diri kita, juga orang lain, tidak mengganggu diri kita dan orang lain. Kebebasan dalam kebaikan bukan kebebasan diatas keburukan. 

Sungguh beruntung orang yang memelihara kedua hal ini dalam dirinya, ia akan beruntung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar