"Ambillah uang ini untukmu, agar kamu bisa memesan taxi untuk pulang. Ketika mendengar kamu tidak bisa pulang, saya ikut sedih." Inilah perkataan seorang PK kepada Jaggu. Ya, ia memang tak punya nama namun ia sering dipanggil dengan PK. Tingkah lakunya yang seperti orang mabuk juga lantas menjadikan nama itu pantas kepadanya, PK, yang dalam sebutan bahasa orang India, berarti mabuk, orang mabuk.
PK dikisahkan sebagai seseorang yang berasal dari planet diluar bumi. Diantara sekitar 20.000 galaksi yang ada di alam semesta, ada beberapa galaksi yang punya kehidupan sebagaimana kehidupan di bumi. Disanalah planet PK tinggal. PK sendiri mendatangi bumi karena ingin melakukan penelitian, karena terlihat dari planet ia berada ada kehidupan yang sama dengan tempat ia berada. Hanya saja di planet tempat tinggalnya, PK tidak memiliki bahasa, mereka berkomunikasi dengan pikiran mereka, mereka juga tidak memakai pakaian alias telanjang.
PK pergi ke bumi tujuannya hanya sementara untuk melakukan penelitian, namun ketika pertama kali ia sampai ke bumi di daerah Mandawa, salah satu daerah di daerah India, ia bertemu dengan seseorang. Orang itu melihat aneh PK yang berada di Padang gurun tanpa berbusana sama sekali. Lalu ia tertarik dengan sebuah kalung yang berada di leher PK. Kalung tersebut memancarkan cahaya dan berwarna hijau, sang orang yang terlihat sudah tua tersebut lalu mengambil kalung yang ada pada leher PK dan melarikan diri mengikuti sebuah kereta barang yang menuju ke kota Delhi.
Perjalanan pulang pun dimulai
Jaggu jannani adalah seorang wanita muda yang bekerja sebagai wartawan. Sebelumnya ia pernah tinggal di kota Belgia beberapa saat, ketika itu ia ingin menghadiri sebuah pertunjukan puisi dari tokoh yang ia kagumi, yang bermarga bachan, yang sekaligus menjadi ayah dari amitabachan. Ketika tinggal di Belgia ia mempunyai kisah unik bertemu dengan seorang pemuda bernama Syaafaraz Yusuf. Syaafaraz adalah seorang pemuda yang sedang menjalankan studi di universitas beliung, sebelumnya ia adalah seorang pekerja di kedutaan Pakistan, dan menunjukkan bahwa ia seorang pakistani, seorang muslim dari negara Pakistan. Ketika itu Syaafaraz juga sedang memburu tiket untuk menghadiri konser yang sama dengan apa yang dubur oleh Jaggu. Dari situlah mereka berkenalan. Ketika mengetahui Syaafaraz dari Pakistan ada semacam keraguan dalam hati Jaggu, karena sebagaimana kita ketahui Pakistan dan India adalah dua negara yang punya perbedaan mencolok, India adalah negara Hindu, Pakistan adalah negara muslim. Meskipun dahulu mereka adalah satu kesatuan. Adanya perbedaan agama, negara membuat cinta mereka terhalang, orang tua Jaggu yang merupakan penganut salah sebuah agama di India menentang hubungan Jaggu dengan syaafaraz, bahkan meminta kepada guru spiritual Keluarga mereka, tuan Tapaswi untuk memberikan saran. Ketika itu tuan Tapaswi yang meyakini muslim sebagai munafik, mengatakan bahwa syaafaraz tidak akan menikahi Jaggu, dan akan meninggalkan Jaggu. Pada hari pernikahan tiba, Jaggu menunggu syaafaraz di gereja untuk melangsungkan pernikahan namun ia malah mendapati sebuah surat kaleng dari seorang anak kecil, yang isinya karena perbedaan agama dan juga negara menjadikan mereka tidak bisa hidup bersama.
Setelah kejadian itu Jaggu pulang ke rumahnya di Delhi dengan menekuni kembali kehidupannya sebagai seorang wartawan, ia mencari berita bersama temannya dan kadang ia mengarang berita karena di Delhi, mereka tidak begitu perhatian dengan suatu berita. Pada suatu ketika ia bertemu dengan PK. PK ketika itu mengenakan sebuah helm kuning dan berdandan dengan pakaian yang sangat aneh dan unik di mata Jaggu, selain itu ia juga membagi-bagikan sebuah selebaran yang isi selebaran itu adalah "dicari Tuhan, Tuhan telah menghilang, bagi siapa yang menemukannya hubungi PK."
Karena kisahnya yang begitu unik dan membuat Jaggu penasaran akhirnya ia mengikuti PK, berkenalan dan mencari tahu kisahnya.
Mengapa PK membuat selebaran tersebut? Ya, tidak lain karena ia ingin pulang ke rumahnya dan ia mencari remote kontrol yang dikalungkan di lehernya telah direbut oleh orang yang ia jumpai di saat pertama kali ia turun ke bumi. Remote kontrol yang ia kalungkan direbut hingga ia harus mencarinya di Delhi. Remote kontrol itu berguna untuk memberikan sinyal kepada orang di planetnya agar ia bisa dijemput pulang kembali ke planetnya.
Ketika berada di Delhi, PK menemui polisi melaporkan apa yang ia alami, dengan melihat segala keanehan yang dimiliki oleh PK, sang polisi mengatakan kepada PK agar meminta pertolongan kepada Bahwan (Tuhan) dalam bahasa India. Begitu juga hal yang ia alami ketika bertanya kepada orang-orang disana, hampir semua orang yang ia jumpai memberi rekomendasi pada PK untuk mengadukan masalahnya ini dan meminta pertolongan kepada Tuhan. PK pun akhirnya mulai menelusuri satu persatu rumah ibadah, atau rumah Tuhan yang ditunjukkan. Ia memulainya di sebuah kuil. Di depan kuil dijual patung-patung Tuhan dari berbagai macam ukuran ada yang kecil sedang hingga besar. Harganya pun bervariasi ada yang 20 rupe, 50, hingga 100. Karena tak tahu harus memilih Tuhan yang mana si penjual pun memberikan kepadanya patung Tuhan berharga 15 rupe. Ketika telah mendapatkan patung itu ia mulai mencobanya, ia menepi bersama deretan para pengemis sambil mengatakan "Tuhan saya sangat lapar" tiba-tiba ada ornag yang lewat membagi-bagi makanan kepada PK dan deretan orang miskin peminta-peminta. PK yakin bahwa Tuhan mengabulkan dianya ketika ia lapar lalu ia sangat gembira dan mencoba meminta permohonan lain, ia meminta remote controlnya namun tidak berhasil. Berkaki-kali coba tetap tidak berhasil, PK lalu mendatangi penjual patung Tuhan dan melakukan komplain atas patung yang ia beli. Disana muncul banyak pertanyaan tentang Tuhan. Seperti kenapa Tuhan tidak mengabulkanku, lalu kenapa Tuhan diciptakan oleh si penjual? kenapa meminta harus melewati Patung jika Tuhan bisa mengabulkannya secara langsung dan banyak pertanyaan yang menggelitik. Dari sinilah perjalanan mencari Tuhan PK berlanjut.
Semua itu berakhir karena cinta
Singkat cerita kisah PK di angkat ke media tempat Jaggu bekerja, pertanyaan tentang Tuhan dan perilaku beberapa pemuka agama dan oknum agama yang melakukan komersialisasi agama menjadikannya sumber berita yang unik, hingga pada pertemuan PK dan tuan Tapaswi yang ternyata memiliki remote kontrol milik PK.
Bagaimana kelanjutan ceritanya ya? Hmmm, alangkah lebih baik jika anda menonton sendiri, karena ada banyak hal yang lucu dan cukup kritis yang disajikan oleh para produser dan sutradara film ini.
Semua berakhir pada sebuah kisah cinta yang sebenarnya mengantarkan seseorang kembali pulang ke rumahnya. Tertarik, nonton saja. Sebenarnya ini film sudah lama, tepatnya tahun 2014 yang lalu, hanya saja saya baru menontonnya dan membuat resensi saya. Selamat menonton, jadikan tontonan sebatas tontonan, karena tontonan itu bukan tuntunan dan selamanya tidak bisa jadi tuntunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar