Sabtu, 16 Juni 2012

Di Timur Matahari: review seorang penonton

Ketika mendengar ditayangkan Film Di Timur Matahari, saya langsung mulai mencari tahu informasi penayangan film tersebut dan juga mengecek info film ke studio 21. Ternyata benar film itu sudah tayang. Sehari sebelum memutuskan untuk menonton film itu, saya sempat bertemu dengan teman yang asalanya dari Jayapura, teman sewaktu SMA, yang sudah menonton film itu. Menurut dia sih bagus. Akhirnya saya pergi bersama kekasih saya (ceile gaya) ke studio 21 Amplas  nonton Film tersebut.

Film Di timur Matahari, secara keseluruhan bercerita tentang perdamaian atas perang di Papua. Sebenarnya bukan perang secara umum, tapi lebih kepada tradisi perang antar suku yang selama ini sering dilihat di TV atau di media massa cetak maupun elektronik. Meskipun Film ini berceritakan tentang peperangan suku dan bagaimana akhirnya suku itu "diharapkan" damai, film ini "membungkusnya" dengan latar kisah pertemanan anak kecil. Mazmur, thomas, suryani, agnes, yakim adalah anak-anak dalam film tersebut. Seperti anak-anak pada umumnya mereka tumbuh sebagai anak-anak yang lucu dan selalu punya kisah bahagia. Sayangnya kebahagiaan mereka ini "rusak" karena adanya perselisihan yang terjadi antara orang tua mereka. Mereka anak-anak yang dipersatukan oleh sebuah sekolah. Kebutuhan pendidikan dan keinginan untuk belajar membuat mereka selalu bersama-sama dalam pergi ke sekolah. Dari sekolah itu kebersamaan terbangun, meski mereka berasal dari anggota suku atau kelompok yang berbeda. 

Konflik dimulai ketika Bas, ayah mazmur ditipu oleh temannya yang merupakan suku sebelah. Ketika itu ia menjual burung merpati kesayangan ke seorang pembeli merpati. Pembeli merpati dikisahkan orang luar papua, yang menjadi penghubung antara Bas dan pembeli adalah temannya yang tinggal di suku sebelah. Hasil penjualan burung merpati itu hendak dijual ke orang tersebut, setelah dijual Bas mendapatkan sejumlah uang. Karena sayang kepada Mazmur sang anak dan juga Thomas anak adiknya si Alex, Bas pergi ke sebuah toko baju olahraga bersama mereka membeli Jersey sepakbola. Ditempat tersebut Bas, tahu uang yang digunakan adalah uang palsu. Ya uang palsu, semua lembaran yang diterimanya uang palsu. Geram mengetahui hal tersebut Bas kemudian keesokan harinya menemui temannya dan menghantam teman tersebut. Tak terima dengan perlakuan Bas ia melaporkan kepada temannya. Ditengah perjalanan pulang bersama Mazmur, Bas di bunuh dengan menggunakan panah. Mazmur yang melihat hal tersebut menangis dan lari ke rumah menyampaikan kabar buruk sekaligus duka kepada ibu dan seluruh masyarakat kampung. Disanalah awal mula peperangan. Selanjutnya silahkan nonton sendiri ya. :D

Inti Film ini ingin mendamaikan perbedaan suku yang ada di Papua. Seperti yang sebagian dari kita tahu Papua memiliki banyak suku, banyaknya suku tersebut membuat satu sama lain terkadang terjadi perselisihan bahkan peperangan. Belum lagi disana ada perbedaan dengan istilah, "orang gunung" dan "orang pantai". Dalam film ini juga disinggung mengenai hal tersebut. Orang gunung tidak menganggap TiBo (titus bonay) dan Okto (oktovianus maniani) sebagai saudara mereka. Mereka dianggap berbeda, karena mereka bukan orang gunung. Saya melihatnya dalam film ini si pembuat film mencoba mendamaikan hal tersebut, dan memang setahu saya orang gunung dan pantai itu seringkali berselisih. Saya juga tidak tahu mengapa. 

Film ini menurut saya tidak cocok dipertontonkan kepada anak-anak apalagi diperuntukkan secara khusus bahwa ini film anak. Ya, mungkin itu pandangan saya. Karena film ini tidak ada pesan secara khusus yang dapat dipahami anak-anak. Kalau untuk remaja dan dewasa mungkin pesan dari film ini akan lebih masuk. Film ini juga jika dibandingkan dengan Film Denias, nuansa keanak-anakannya lebih dimiliki oleh film Denias. Denias bercerita tentang pentingnya sekolah, keterbatasan, dan segala hal yang bisa diambil manfaatnya yang lebih banyak kepada anak-anak. Kalau untuk film Di Timur Matahari saya rasa tidak. Konflik yang ditampilkan sedemikian rupa tidak mampu menyampaikan pesan perdamaian ke anak-anak. Mungkin niatnya bagus bahwa dengan film ini anak-anak akan lebih jauh lagi dicegah agar tidak berperang dan sebagainya, namun menurut saya anak-anak belum "sampai" pemahamannya atas pesan ini. Film ini ditonton remaja saja belum tentu "sampai" pesannya apalagi anak-anak. Lebih baik mereka (anak-anak) disajikan film yang lebih ceria dan membantu mereka melihat sisi lain yang lebih indah dari Papua daripada sekedar diperlihatkan bagaimana perang terjadi, kekhawatiran yang muncul karena perang dan lain sebagainya. 

Ketiak saya nonton film ini disebelah saya ada seorang anak kecil, mungkin umurnya 4-5tahun. Sepanjang film ia terus bertanya pada ibunya, "ma itu kenapa?, kok dia begitu, kenapa harus begitu". Hal ini tentu saja butuh penjelasan yang ekstra hati-hati kepada sang anak. Karena bisa diterjemahkan beda oleh anak-anak. Dan rasanya kok terlalu buang-buang waktu memberikan tontonan dan penjelasan seperti itu kepada mereka. Semoga saja Film yang dibuat lebih memperhatikan konten kepada anak. Meskipun niatnya baik. Ibaratkan seorang anak yang masih SD dipakaikan seragam buat anak SMA ya ukuranya pasti belum pas sama badannya. Itu saja, hanya masalah waktu.

Selain itu saya juga merasa aneh tentang pemilihan tempat, Papua itu luas, Papua itu Indah, tapi mengapa yang selalu disoroti adalah keterbelakangannya, peperangannya, seolah hal tersebut tidak bisa hilang. mengapa ya kebaikan dari Papua seperti keberhasilan beberapa anak muda yang menjuarai olimpiade tidak di filmkan, kota yang juga sudah ada tidak disorot, selalu saja pedalaman. Memang benar di pedalaman sana ada yang belum terjamah tapi juga tidak harus selalu dijadikan bahan atau objek. Bagaimana tentang toleransi di Papua yang sangat baik, hubungan antara pendatang dan penduduk asli yang cukup akrab tetapi belakangan mulai dirusak oleh orang-orang yang tidak jelas. Sebenarnya juga bisa dijadikan bahan. Hal aneh juga yang saya temui dalam film itu, ada entah artis dari Jakarta yang berkulit putih dan berambut lurus dijadikan penduduk asli dengan cara dihitamkan kulitnya dan dikeritingkan rambutnya. Apakah mereka pembuat film tidak tau bahwa disana juga ada keluarga yang salah satunya penduduk asli dan pendatang? Kenapa mereka tidak jujur dalam menampilkan kondisi tersebut? Apakah karena penduduk lokal tersebut tidak mampu berakting? ah rasanya tidak pantas juga saya menanggapi secara serius, saya kan bukan pengamat film hehehe. Saya kan hanya penonton film yang penuh dengan rasa ingin kesempurnaan dalam menonton film, nyatanya tak ada kesempurnaan tersebut. 

Saya yakin film ini dibuat  agak tergesa-gesa, jadinya kurang maksimal. Itu hanya pendapat saya saja, semua orang bisa punya pendapat lain. Sekian.

Setelah Febri, Dion pun dipulangkan!!!

Hampir setiap minggu jika anda pengguna Twitter pasti heboh bila melihat Trending Topic World Wide. Ada sejumlah deretan nama dari para kontestan Indonesian Idol yang menempati entah posisi empat, tiga atau bahkan satu (pertama) pembicaraan di twitter. Asalnya dari mana? sudah jelas dari para penggemar Indonesian Idol. Indonesian Idol acara yang diselenggarakan di RCTI salah satu TV swasta nasional benar-benar menyita perhatian sebagian besar orang Indonesia. Termasuk saya. 

Tahun 2012, mungkin tahun yang paling heboh dalam Indonesian Idol. Selain pemilihan kontestan yang cukup baik dari sisi keunikan dan kualitasnya (menurut para juri dan beberapa musisi) juga didukung oleh Tekhnologi Informasi yang canggih sebut saja Sosial media. Sosial media yang paling heboh adalah twitter. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya penyelenggaraan Indonesian Idol selalu kurang mendapat perhatian yang banyak (menurut saya). Tapi tahun ini berbeda. Bagaimana tidak menjadi perhatian, ketika anda atau saya sedang mengamati timeline di twitter, pasti ada teman yang sedang men-twit tentang acara Indonesian Idol. Secara naluriah manusia yang penuh rasa keingintahuan yang tinggi tentu saja kita akan secara langsung mencarai tau apa yang sedang terjadi. Mengganti channel TV misalanya untuk melihat perhelatan ajang pencarian bakat tersebut. Namun bagi saya pribadi itu bukan ajang pencarian bakat, melainkan bisnis yang berkedok ajang pencarian bakat, khususnya melalui voting SMS. 

Mari kita bedah. Acara tersebut, mencoba mencari bakat suara penyanyi yang boleh dikatakan bagus untuk dijadikan Icon atau modal acara. Dengan modal penyanyi bersuara bagus, bertampang menarik, punya keunikan tersendiri maka para penyanyi jadi sumber pemasukan yang sangat besar. Tentu saja dibantu dengan partisipasi dari penonton melalui SMS dan juga Telephone. Kalau memang acara tersebut merupakan murni ajang pencarian bakat dan butuh dukungan penuh dari penonton setidaknya dalam melakukan eliminasi pihak penyelenggara menampilkan hasil Voting, entah dalam bentuk persentase atau bahkan dalam bentuk ranking. Sehingga jelas voting yang diberikan oleh penonton benar-benar menjadi penentu untuk pencarian bakat yang disebut Idol tersebut. Nyatanya pihak penyelenggara tidak memberikan hal tersebut. Hasilnya pun menjadi tidak akurat. Dalam era tekhnologi informasi yang berkembang pesat seperti sekarang ini rasanya tidak ada alasan bagi pihak penyelenggara untuk tidak menyediakan tekhnologi yang mendukung hal tersebut. Apalagi dengan berbagai promosi dari pihak sponsor yang berlimpah pemasukan yang besar selain SMS dan telepon tentu saja akan lebih memudahkan penyelenggara dalam merealisasikan hal tersebut. 

Indonesia terkejut, 2 minggu yang lalu Sean, salah satu finalis yang mempunyai talenta, suara yang dipuji beberapa juri dan juga musisi keluar dari ajang tersebut. Beruntung, ia diselamatkan oleh hak Vetto yang diberikan oleh Juri Indonesian Idol, Anang, Agnes dan Ahmad Dhani. Keberuntungan? saya pikir tidak. Ini semua sudah diatur oleh para penyelenggara. terbukti 2 minggu beruntun setelah kejadian tersebut Sean tidak sama sekali masuk di Zona tidak aman, itu artinya Sean Selamat. Mungkin dengan menghadirkan situasi itu dan ditambahi dengan dramatisasi dari penyanyi keuntungan dari SMS jadi berlipat ganda. Para penggemar Indonesian Idol jadi sangat menggebu-gebu "menyelamatkan" Sean agar tidak tereliminasi dengan mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya. Hasilnya Febri salah satu kontestan pun pulang, dan malam ini Dion menyusul kepulangan Febri. 

Dalam pandangan juri, Yoda salah satu kontestan yang penampilannya buruk dan tidak mengalami perubahan yang baik diprediksikan pulang. Pandangan juri tentu beda dengan pandangan penonton. *ups* Bukan penonton, tapi pihak penyelenggara tepatnya. Presenter Indonesian Idol sempat berkata bahwa malam ini adalah salah satu malam dimana perolehan SMS yang diterima oleh pihak penyelenggara sangatlah tinggi. itu artinya sangat banyak yang berpartisipasi dalam mengirimkan SMS dan menggunakan telephon. Tetapi anehnya, dia mengatakan bahwa kelolosan beberapa kontestan yang ia bacakan tidak berdasarkan rangking siapa yang mendapatkan SMS terbanyak. Lantas berdasarkan apa?

Okey, rasanya tulisan ini seolah ingin menyerang pihak penyelenggara Indonesian Idol. Mungkin memang begitu. Bukan juga karena saya pendukung Febri atau Dion atau bahkan kontestan lain yang sebelumnya gugur karena acara ini. Tetapi yang ingin saya capai dengan tulisan ini hanya satu "transparansi". Ya, transparansi dari hasil voting yang diberikan oleh penonton. Sebagai penonton yang memberikan voting tentu saja ingin tahu siapa yang lolos dan tidak lolos secara jujur, terbuka. Dampaknya beberapa penonton bisa menerima keluarnya sang "idola".

Ajang ini memang bukan ajang yang 100% persen menjamin keberhasilan kontestannya akan Bersinar didunia industri musik Indonesia. Saya melihat acara ini sebagai hiburan biasa. Hiburan yang memberikan nuansa dalam memandang potensi penyanyi yang mungkin tidak terjangkau oleh tangan-tangan para pelaku bisnis musik sesungguhnya. Mereka memiliki bakat tapi tidak mendapatkan kesempatan berupa keberuntungan. Hanya saja dalam konteks Indonesian Idol seharusnya memang pihak penyelenggara lebih terbuka dalam menyajikan hasil kalau saja memang acara ini mencarai bakat penyanyi bukan sekedar hanya Bisnis semata.

Acara ini memang bisnis, keterbukaan terhadap hasil dari voting tersebut merupakan etika bisnis yang dijaga oleh penyelenggara kepada penontonnya. Sehingga kesan dari mempermainkan "perasaan" para pelanggannya (pencinta acara dengan mengeluarkan SMS atau menelpon) tidak keterlaluan. Apa salahnya untuk terbuka kepada penonton? toh ini hanya ajang latihan buat para kontestan. Akhirnya dengan cara seperti itu para kontestan juga akan terbantu seberapa populernya mereka jika digambarkan dalam sebuah angka-angka voting baik dalam persentase atau jumlah SMS yang diterima atas nama dan penampilan mereka. Mereka juga seharusnya diperlakukan sebagai "pekerja" bisnis yang sadar akan kemampuan dalam melayani para penonton maupun penggemarnya. Bukan sekedar dijadikan "mesin" peraup keuntungan belaka. 

Sekian. 


Jumat, 15 Juni 2012

Izrail (dipostingkan kembali)

“izrail”

aku bahkan tak tau bagaimana wujudnya. tampangnya. juga bentuk tubuhnya, tapi aku merasakan ia sangat dekat, dan terus mengikutiku. ia memandang dengan pandangan yang begitu tajam. tak sedikitpun teralihkan pandangannya atasku. ia sedang menunggu waktu. waktu ketika perintah itu harus ia laksanakan, sebagai tugasnya. tugas hamba. hamba Tuhannya. sedangkan aku terus berlari mencoba menjauh darinya. tapi tidak bisa, dengan berbagai cara apapun ia terus mengikutiku. tanpa lelah dan tak pernah mengeluh. aku? seringkali lalai pada tugasku sebagai hamba. hidup dengan keluhan dan berbagai rasa lelah. tertawa dan gembira sembari lupa. melupakan Dia yang kuasa. terlupakan dengan sengaja. Dan menyisakan sedikit penyesalan yang tak merubah sesuatu hal pun. sayangnya aku masih setia menunggu. menunggu sebuah giliran. untuk berubah, atau tidak pernah sama sekali. hal yang tidak bisa kulakukan hanya menutup kelopak mata, berserah agar aku dikembalikan pada jalan cerah itu. jalan yang pernah kulewati. jalan terang yang membawa seluruh jiwaku. tidak tertawa pada kegelisahan.

Lagi, semangat menulis

menulis untuk sebuah kebebasan!

tak banyak orang didunia ini yang gemar menulis. bahkan tak sedikit dari orang didunia ini yang tidak menulis. tetapi bagi sebagian orang didunia ini menulis adalah sebuah ekspresi kebebasan. ya kebebasan mengenai sebuah pandangan, atau kebebasan sekedar menuliskan sebuah tulisan. bisa cerita, curahan hati, bisa juga kekesalan atau berbagi informasi.
menulis sejatinya memperkenalkan diri kita. melalaui sebuah tulisan. menulis itu ya sekedar menulis. menulis bukan untuk dinilai bagus atau tidaknya sebuah tulisan, populer atau tidaknya tulisan yang kita tulis. menulis ya menulis. rangkaian kata-kata dan berjejeran kalimat-kalimat yang kadang tidak punya arti atau makna. ya itulah tulisan.
menurut pendapatku tulisan itu ada dua tipe. tulisan yang bisa dimengerti orang lain. dan tidak dimengerti. sederhana. terkadang seseorang yang menulis hanya sekedar menuliskan sesuatu. tanpa makna. bahkan tanpa ingin dikomentari. karena segala sesuatu di dunia ini tak pantas utuk dikomentari apalagi hanya dituliskan utuk sekedar ingin dikomentari. sebagaimana tulisan ini. ini hanya sebuah tulisan. tulisan yang ditulis penuh kebebasan tanpa tedeng aling-aling. tanpa tujuan tanpa makna. tapi tentu saja bermakna bagi yang menulis. menulis adalah sebuah kebebasan, tanpa merenggut kebebasan orang lain. tetap menulis dan tetap berarti itu saja sudah cukup. tak lebih bahkan banyak kekurangan, bukan berati berhenti menulis. walau hanya satu kata, bahkan satu huruf saja, itu menulis, meski belum dikatakan sebuah tulisan.

waktu luang (diposting kembali)

Waktu Yang Luang!

Cahaya matahari terang benderang. Sungguh terik siang ini. Siapa saja yang melintas seakan terbakar sekujur tubuhnya, hingga matang datang di dalam lapisan kulitnya. Hujan pun tak kunjung datang. Padahal ia dinantikan berpuluhatn juta manusia di bawah kaki langit. Tanaman hijau sudah merenta tua, rambutnya beruban kuning kemuning, tanah jua retak, tandus tak beraura. Terkadang trai langit di tutup, awan hitam pun datang, bergemuruhlah langit disertai kilatan cahaya kilat. Tapi siapa sangka hujan tak kunjung datang. Pantas saja ada sebuah lagu tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu cerah. Hujan oh hujan, di sisi bumi yang terik kau dinanti.
Siang pun terus berlanjut. Dentang waktu yang terus berjalan membuatku menjadi tak mengerti mau ku buat apa waktu yang begitu luang ini. Masa, ku isi dengan berbaring malas terus di tempat tidur? Atau ku isi terus dengan menonton kotak kaca berukuran 14 inchi dengan gamar yang tak begitu jelas yang itu juga isinya hanya tontonan yang tidak bermanfaat. Ada cerita tentang cinta. Cerita yang membawa para penontonnya tersenyum sendiri bahkan tertawa, haru bahkan menangis, entahlah. Cinta yang abstrak dan dianggap sebagai penggerak jiwa dan raga dikemas dalam bentuk yang sangat murah dan di jadikan konsumsi hari-harinya yang tidak membawa manfaat sedikit pun pada manusia disekitarnya. Apalagi yang dipertontonkan adalah cinta terhadap manusia. Ada nih satu sinetron yang sungguh menggelitik, ketika seorang wanita dan lelaki sudah mengikatkan diri secara sadar juga disaksikan para manusia dan Tuhannya dengan media pernikahan masih mencintai istri orang lain yang dulunya tak sempat diutarakan cintanya. Ini sungguh gila bukan lagi bodoh. Produser film tersebut mencoba menggiring persepsi manusia yang menontonnya ke arah kegilaan modern. Kegilaan yang berujung pada kekisruhan sosial secar tidak langsung. Hanya dengan sebuah tontonan meski berdurasi 1 jam tetapi jika ditampilkan setiap hari selama berbulan-bulan maka hasilnya tak ayal lagi sebuah penanaman ideologi yang disebut kegilaan modern. Kegilaan modern apa itu? Ah itu spontan saja keluar dari benakku untuk memberikan istilah kepada para orang-orang yang membuat bahkan untuk para pecinta tayangan tersebut. Dasar gila. Masih ada lagi beragam cerita fiktif yang dibuat kalau ku komentari satu per satu aku yang capek dan membuat waktuku terbuang sia-sia saja.
Sebenarnya persoalan ini muncul ketika aku berada di lingkungan terkecil dirumah yakni keluargaku. Keluarga yang ku maksud adalah keluarga dimana aku, adik-adik, kaka bapak dan ibu, bukanlah keluarga dimana aku bersama istri dan anak-anakku, masih lama terwujud kala yang terakhir ini. Ada lagi sebuah tayangan yangmuncul dari kotak hitam berukuran 14 inchi tersebut, yakni penayangan gosip. Aduuuuuh. Mengapa kegilaan ini tidak segera dihentikan apakah kemudian peradaban yang penuh dengan tekhnolgi informasi ini puya cita-cita untuk menjadikan masyarakatnya menjadi gila semuanya. Fitnah ditebar dimana-mana meskipun hal yang diperbincangkan merupakan kebenaran, tetapi apabila itu bagian dari aib seharusnya tidak diperbincangkan ke publik. Perilaku itu merupakan bentukan dari kebiasaan. Setiap kali kita terbiasa untuk menkonsumsi tayangan tersebut maka dapat berimplikasi terhadap perilaku keseharian kita. oelh karena itu sudahlah, hal tersebut sepantasnya di buang ditempat sampah.
Aku tidak merasa heran dengan adanya segelintir orang yang kemudian memisahkan diri dari komunitas mayoritas hanya untuk menyelamatkan dirinya dari belenggu wabah penyakit komunal di sekitarnya. Aku lebih setuju, karena bagaimanapun ketika kucing dipelihara dan hidup di lingkungan para anjing galak maka, ia pun bisa menjadi sangat galak dan beringas. Hilangnya rasa kesetiaan dan taatnya seekor kucing. Hidup ini tidak bisa terus menerus seperti ikan tuna, yang selama hidupnya menentang air air yang deras demi berhijrah ke sungai yang teduh. Kita boleh mencari pelajaran dari setiap makhluk yang ada di dunia ini tetapi bukan berati kita lantas menjadi tidak terkontrol padahal kita adalah pemimpin alam semesta.
Jayapura 10 oktober 2008

Tak kenal Maka Kenalan

Sebuah perkenalan!

Malam itu tepatnya jam 11 malam waktu Indonesia timur di rumah sakit Umum daerah dok 2 sepasang Insan sedang cemas menunggu kelahiran sang bayi pertama mereka. Hari itu bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1987, adalah hari yang bersejarah di dalam hidup Fachruddin Pasolo dan dwi nurhaenita kusumawari. Keduanya Pegawai Negeri Sipil di kota Jayapura tersebut, setelah terlahirnya bayi pertama mereka kelak, akan dipanggil mama dan bapak untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai suami dan istri.  Suara mungil itu pun muncul, dengan teriakan tangis yang kencang pertanda hidupnya yang nyaman di dalam rahim telah usai, hidupnya akan segera dialnjutkan di dalam perut Bumi. Suara Adzan berkumandang ditelinga sebelah kanan bayi tersebut, sebelah kiri berkumandang setelahnya iqamah yang menandakan bahawa bayi tersebut kelak menjadi seorang muslim yang taat terhadap Tuhan-Nya, berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat kelak di lingkungan sekitarnya. Nama Muhammad Ridhwansyah Pasolo, diberikan untuk menjadikan bayi tersebut pembeda sebagaimana Allah SWT membedakan para ciptaanNya dengan memberi nama Adam kepada manusia sang Khalifah di muka bumi yang akan menjadi rahmatan lil alamanin (rahmat semesta alam).
Muhammad di ambil dari nama ayah Fachruddin Pasolo, yakni Muhammad daeng pasolo.  Ridhwansyah adalah nama bayi tersebut, dan pasolo adalah penanda bahwa ia termasuk di dalam keluarga besar pasolo. pasolo juga dikenal sebagai marga dari sebuah keturunan yang harapannya dapat menjadi pengenal kelak di suatu saat. Bayi itu kelak tumbuh dewasa di lingkungan Indonesia bagian Timur yakni jayapura. Ya Itulah aku, teman-teman sering memanggilku iwan. Perkataan bijak pernah berkata bahwa nama adalah doa yang diharapkan oleh pemberi nama. Ketika ku bertanya kepada mamaku, ridhwansyah memiliki doa bahwa kelak akan menjadi raja yang mengantarakan para rakyatnya untuk masuk ke dalam SurgaNya. Raja adalah arti kata Syah, sedangkan ridhwan adalah nama salah satu malaikat yang menjadi penjaga surga di akhirat kelak. Namun ada juga guyonan, karena hanya penjaga pintu surag jadi ridhwan gak masuk surga. ya itulah guyonon, soal surga dan neraka kita serahkan pada pengadilan tertinggi sepanjang masa, bagi kita yang mempercayaiNya.
Iwan adalah nama kecilku, diambil dari kata ridhwan, sebenarnya aku lebih suka dipanggil ridhwan tetapi nama iwan kayaknya lebih akrab di telinga orang-orang pada saat itu. Sehingga dari kecil hingga saat ini banyak oarng yang memangggilku Iwan. hanya saja tren nama iwan mulai bergeser dengan panggilan pasolo semenjak aku duduk di bangku Sekolah menengah pertama atau SMP. Panggilan pasolo bukanlah panggilan yang menyenangkan, apalagi ketika itu barang siapa yang memangggilku dengan pasolo segera aku akan menatapnya dengan amarah yang membara karena ia telah berani memanggil nama besar keluarga pasolo, apalagi jika nama tersebut di perolok maka semakin besar api amarahku. Apa mau dikata, bumi tetap saja bundar meski orang menilai bumi ini datar,  karena ada dua nama iwan dikelasku yakni kelas 1 i maka teman-temanku memanggilku pasolo. yah untuk saat itu aku diterima ku dipanggil pasolo, tetapi dengan syarat harus iwan pasolo.
Waktu terus berputar seiring dengan berputarnya bumi pada porosnya, mataharipun melintas di orbitnya dengan teratur tanpa sedikitpun keluar dari garis yang telah ditetapkan. Semua makhlukpun demikian, diatur dengan hukum dan ketentuanNya sesuai dengan kebutuhan masing-masing makhluk. termasuk manuia. ketika beranjak remaja, yakni pada usia 13-14 tahun saat di bangku Sekolah menengan Atas (SMA) namaku semakin populer dengan sebutan pasolo. Bahkan ketika suatu waktu temanku bermain ke rumah bertanya tentang ku , ia bertanya kepada bapakku yang kebetulan juga ada adikku, bahwa, Om, pasolo ada? dengan kening yang berkerut bapakku (yang sering ku panggil pa bos) kembali bertanya, pasolo yang mana? saya juga pasolo. Bersyukur ada seorang teman yang tahu nama kecilku yakni iwan. setelah itu baru bapakku mengerti bahwa yang dimaksud pasolo adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.. oooh iwan, begitu jawabnya. begitulah aku dan panggilan teman-temanku terhadapku.
Bangku SMA telah menjadi nostalgia penuh kenangan dimana pada saat itu aku mencoba segala macam wujud dunia dalam berbagai bentuk. biarlah itu semus menjadi rekaman sejarah yang harapannya tidak terulang. Nama Pasolopun kian terkenal seiring dengan kepindahan Studi ku dari kota jayapura ke kota Djogjakarta. Memulai studi di perguruan tinggi tertua Di Indonesia, teman-temanku ternyata lebih senang memanggilku pasolo, karena unik, keren serta beragam alasan lainnya. semenjak itulah aku dipanggil pasolo. kecuali 2 hal, dirumah aku dipanggil abang karena merupakan anak tertua,  dan kekasihku memanggilku cay. gak tahulah aneh. tetapi dalam kesempatan perkenalan itu panggil saja aku Pasolo.

Hai

Menyapa kepada layar kaca yang bersinar. Rasanya memang agak aneh. Tak ada juga yang tahu, apa yang sedang saya kerjakan, apa yang sedang saya lakukan, kalau saya tidak menuliskan dan mempublikasikannya. Mungkin inilah salah satu pentingnya menulis. Selain ingin meninggalkan jejak pemikiran kita, juga ingin berbagi kepada orang lain yang mungkin membutuhkan tulisan kita. Atau bahkan hanya sekedar menambah tumpukan sampah-sampah tulisan yang dibiarkan berserakan di jagad dunia maya. Apa sajalah itu bentuk komentarnya dan juga tanggapannya. saya mencoba menulis lagi. Lagi_lagi menulis. aktivitas yang sangat berat bagi seseorang yang tidak terbiasa menulis. Menulis bagi saya sekedar mengasah otak, sembari berbagi cerita dengan diri sendiri, mengingat kembali hal-hal yang di lihat, dilakukan dan dipikirkan. Terkadang manusia yang ada di dunia ini atau lebih spesifik yang ada di lingkungan terkecil kita enggan sekedar mendengarkan cerita kita. Penagalaman kita. Pikiran kita. Tak apa, ketika tiada orang yang mendengarkan dan menyimak, diri kita sendirilah yang bisa diajak bercerita melalui tulisan. Perkara tulisan tersebut mau dibaca atau tidak dan dikomentari orang lain atau tidak, cuek saja. Karena menulis adalah bagian hidup kita yang terabaikan oleh pendegaran dan penyimakan dari orang lain.

Sebelumnya saya sering menulis. Seperti kebanyakan orang atau segelintir orang. Tulisan saya dulu banyak difriendster. Salah satu sosial media yang populer sebelum kemudian disingkirkan oleh facebook dan twitter. friendster sudah berubah wujud dari sosial media jadi sosial gaming media. tempatnya orang-orang bermain game. otomatis tulisan saya hilang karena ketika ada pemberitahuan akan diubah saya tidak mengetahuinya. Beberapa tulisan saya ada di multiply, wordpress. Ya sekedar menulis. Menulis itu membutuhkan waktu yang disediakan. Tak pernah akan ada sebauh tulisan jika tak ada waktu yang disediakan untuk menulis. Setelah lama membaca-baca tulisan orang lain saya juga ingin menyediakan waktu untuk menulis paling tidak beberapa kalimat atau paragraf. Meskipun terlalu susah menuliskan kejadian yang dialami atau pikiran yang berkeliaran dialam pikiran untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Dicoba. Mulia saat ini saya mau menulis kecil-kecilan saja, sedikit-sedikit melalui blogger yang ada di google saja. Soalnya saya tidak terlalu mahir menggunakan media word press, multiply dll. Tampaknya ini media cukup sederhana. Cukup sekian.