Sabtu, 16 Juni 2012

Di Timur Matahari: review seorang penonton

Ketika mendengar ditayangkan Film Di Timur Matahari, saya langsung mulai mencari tahu informasi penayangan film tersebut dan juga mengecek info film ke studio 21. Ternyata benar film itu sudah tayang. Sehari sebelum memutuskan untuk menonton film itu, saya sempat bertemu dengan teman yang asalanya dari Jayapura, teman sewaktu SMA, yang sudah menonton film itu. Menurut dia sih bagus. Akhirnya saya pergi bersama kekasih saya (ceile gaya) ke studio 21 Amplas  nonton Film tersebut.

Film Di timur Matahari, secara keseluruhan bercerita tentang perdamaian atas perang di Papua. Sebenarnya bukan perang secara umum, tapi lebih kepada tradisi perang antar suku yang selama ini sering dilihat di TV atau di media massa cetak maupun elektronik. Meskipun Film ini berceritakan tentang peperangan suku dan bagaimana akhirnya suku itu "diharapkan" damai, film ini "membungkusnya" dengan latar kisah pertemanan anak kecil. Mazmur, thomas, suryani, agnes, yakim adalah anak-anak dalam film tersebut. Seperti anak-anak pada umumnya mereka tumbuh sebagai anak-anak yang lucu dan selalu punya kisah bahagia. Sayangnya kebahagiaan mereka ini "rusak" karena adanya perselisihan yang terjadi antara orang tua mereka. Mereka anak-anak yang dipersatukan oleh sebuah sekolah. Kebutuhan pendidikan dan keinginan untuk belajar membuat mereka selalu bersama-sama dalam pergi ke sekolah. Dari sekolah itu kebersamaan terbangun, meski mereka berasal dari anggota suku atau kelompok yang berbeda. 

Konflik dimulai ketika Bas, ayah mazmur ditipu oleh temannya yang merupakan suku sebelah. Ketika itu ia menjual burung merpati kesayangan ke seorang pembeli merpati. Pembeli merpati dikisahkan orang luar papua, yang menjadi penghubung antara Bas dan pembeli adalah temannya yang tinggal di suku sebelah. Hasil penjualan burung merpati itu hendak dijual ke orang tersebut, setelah dijual Bas mendapatkan sejumlah uang. Karena sayang kepada Mazmur sang anak dan juga Thomas anak adiknya si Alex, Bas pergi ke sebuah toko baju olahraga bersama mereka membeli Jersey sepakbola. Ditempat tersebut Bas, tahu uang yang digunakan adalah uang palsu. Ya uang palsu, semua lembaran yang diterimanya uang palsu. Geram mengetahui hal tersebut Bas kemudian keesokan harinya menemui temannya dan menghantam teman tersebut. Tak terima dengan perlakuan Bas ia melaporkan kepada temannya. Ditengah perjalanan pulang bersama Mazmur, Bas di bunuh dengan menggunakan panah. Mazmur yang melihat hal tersebut menangis dan lari ke rumah menyampaikan kabar buruk sekaligus duka kepada ibu dan seluruh masyarakat kampung. Disanalah awal mula peperangan. Selanjutnya silahkan nonton sendiri ya. :D

Inti Film ini ingin mendamaikan perbedaan suku yang ada di Papua. Seperti yang sebagian dari kita tahu Papua memiliki banyak suku, banyaknya suku tersebut membuat satu sama lain terkadang terjadi perselisihan bahkan peperangan. Belum lagi disana ada perbedaan dengan istilah, "orang gunung" dan "orang pantai". Dalam film ini juga disinggung mengenai hal tersebut. Orang gunung tidak menganggap TiBo (titus bonay) dan Okto (oktovianus maniani) sebagai saudara mereka. Mereka dianggap berbeda, karena mereka bukan orang gunung. Saya melihatnya dalam film ini si pembuat film mencoba mendamaikan hal tersebut, dan memang setahu saya orang gunung dan pantai itu seringkali berselisih. Saya juga tidak tahu mengapa. 

Film ini menurut saya tidak cocok dipertontonkan kepada anak-anak apalagi diperuntukkan secara khusus bahwa ini film anak. Ya, mungkin itu pandangan saya. Karena film ini tidak ada pesan secara khusus yang dapat dipahami anak-anak. Kalau untuk remaja dan dewasa mungkin pesan dari film ini akan lebih masuk. Film ini juga jika dibandingkan dengan Film Denias, nuansa keanak-anakannya lebih dimiliki oleh film Denias. Denias bercerita tentang pentingnya sekolah, keterbatasan, dan segala hal yang bisa diambil manfaatnya yang lebih banyak kepada anak-anak. Kalau untuk film Di Timur Matahari saya rasa tidak. Konflik yang ditampilkan sedemikian rupa tidak mampu menyampaikan pesan perdamaian ke anak-anak. Mungkin niatnya bagus bahwa dengan film ini anak-anak akan lebih jauh lagi dicegah agar tidak berperang dan sebagainya, namun menurut saya anak-anak belum "sampai" pemahamannya atas pesan ini. Film ini ditonton remaja saja belum tentu "sampai" pesannya apalagi anak-anak. Lebih baik mereka (anak-anak) disajikan film yang lebih ceria dan membantu mereka melihat sisi lain yang lebih indah dari Papua daripada sekedar diperlihatkan bagaimana perang terjadi, kekhawatiran yang muncul karena perang dan lain sebagainya. 

Ketiak saya nonton film ini disebelah saya ada seorang anak kecil, mungkin umurnya 4-5tahun. Sepanjang film ia terus bertanya pada ibunya, "ma itu kenapa?, kok dia begitu, kenapa harus begitu". Hal ini tentu saja butuh penjelasan yang ekstra hati-hati kepada sang anak. Karena bisa diterjemahkan beda oleh anak-anak. Dan rasanya kok terlalu buang-buang waktu memberikan tontonan dan penjelasan seperti itu kepada mereka. Semoga saja Film yang dibuat lebih memperhatikan konten kepada anak. Meskipun niatnya baik. Ibaratkan seorang anak yang masih SD dipakaikan seragam buat anak SMA ya ukuranya pasti belum pas sama badannya. Itu saja, hanya masalah waktu.

Selain itu saya juga merasa aneh tentang pemilihan tempat, Papua itu luas, Papua itu Indah, tapi mengapa yang selalu disoroti adalah keterbelakangannya, peperangannya, seolah hal tersebut tidak bisa hilang. mengapa ya kebaikan dari Papua seperti keberhasilan beberapa anak muda yang menjuarai olimpiade tidak di filmkan, kota yang juga sudah ada tidak disorot, selalu saja pedalaman. Memang benar di pedalaman sana ada yang belum terjamah tapi juga tidak harus selalu dijadikan bahan atau objek. Bagaimana tentang toleransi di Papua yang sangat baik, hubungan antara pendatang dan penduduk asli yang cukup akrab tetapi belakangan mulai dirusak oleh orang-orang yang tidak jelas. Sebenarnya juga bisa dijadikan bahan. Hal aneh juga yang saya temui dalam film itu, ada entah artis dari Jakarta yang berkulit putih dan berambut lurus dijadikan penduduk asli dengan cara dihitamkan kulitnya dan dikeritingkan rambutnya. Apakah mereka pembuat film tidak tau bahwa disana juga ada keluarga yang salah satunya penduduk asli dan pendatang? Kenapa mereka tidak jujur dalam menampilkan kondisi tersebut? Apakah karena penduduk lokal tersebut tidak mampu berakting? ah rasanya tidak pantas juga saya menanggapi secara serius, saya kan bukan pengamat film hehehe. Saya kan hanya penonton film yang penuh dengan rasa ingin kesempurnaan dalam menonton film, nyatanya tak ada kesempurnaan tersebut. 

Saya yakin film ini dibuat  agak tergesa-gesa, jadinya kurang maksimal. Itu hanya pendapat saya saja, semua orang bisa punya pendapat lain. Sekian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar