Jumat, 15 Juni 2012

Tak kenal Maka Kenalan

Sebuah perkenalan!

Malam itu tepatnya jam 11 malam waktu Indonesia timur di rumah sakit Umum daerah dok 2 sepasang Insan sedang cemas menunggu kelahiran sang bayi pertama mereka. Hari itu bertepatan dengan tanggal 22 Agustus 1987, adalah hari yang bersejarah di dalam hidup Fachruddin Pasolo dan dwi nurhaenita kusumawari. Keduanya Pegawai Negeri Sipil di kota Jayapura tersebut, setelah terlahirnya bayi pertama mereka kelak, akan dipanggil mama dan bapak untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai suami dan istri.  Suara mungil itu pun muncul, dengan teriakan tangis yang kencang pertanda hidupnya yang nyaman di dalam rahim telah usai, hidupnya akan segera dialnjutkan di dalam perut Bumi. Suara Adzan berkumandang ditelinga sebelah kanan bayi tersebut, sebelah kiri berkumandang setelahnya iqamah yang menandakan bahawa bayi tersebut kelak menjadi seorang muslim yang taat terhadap Tuhan-Nya, berbakti kepada kedua orang tua dan bermanfaat kelak di lingkungan sekitarnya. Nama Muhammad Ridhwansyah Pasolo, diberikan untuk menjadikan bayi tersebut pembeda sebagaimana Allah SWT membedakan para ciptaanNya dengan memberi nama Adam kepada manusia sang Khalifah di muka bumi yang akan menjadi rahmatan lil alamanin (rahmat semesta alam).
Muhammad di ambil dari nama ayah Fachruddin Pasolo, yakni Muhammad daeng pasolo.  Ridhwansyah adalah nama bayi tersebut, dan pasolo adalah penanda bahwa ia termasuk di dalam keluarga besar pasolo. pasolo juga dikenal sebagai marga dari sebuah keturunan yang harapannya dapat menjadi pengenal kelak di suatu saat. Bayi itu kelak tumbuh dewasa di lingkungan Indonesia bagian Timur yakni jayapura. Ya Itulah aku, teman-teman sering memanggilku iwan. Perkataan bijak pernah berkata bahwa nama adalah doa yang diharapkan oleh pemberi nama. Ketika ku bertanya kepada mamaku, ridhwansyah memiliki doa bahwa kelak akan menjadi raja yang mengantarakan para rakyatnya untuk masuk ke dalam SurgaNya. Raja adalah arti kata Syah, sedangkan ridhwan adalah nama salah satu malaikat yang menjadi penjaga surga di akhirat kelak. Namun ada juga guyonan, karena hanya penjaga pintu surag jadi ridhwan gak masuk surga. ya itulah guyonon, soal surga dan neraka kita serahkan pada pengadilan tertinggi sepanjang masa, bagi kita yang mempercayaiNya.
Iwan adalah nama kecilku, diambil dari kata ridhwan, sebenarnya aku lebih suka dipanggil ridhwan tetapi nama iwan kayaknya lebih akrab di telinga orang-orang pada saat itu. Sehingga dari kecil hingga saat ini banyak oarng yang memangggilku Iwan. hanya saja tren nama iwan mulai bergeser dengan panggilan pasolo semenjak aku duduk di bangku Sekolah menengah pertama atau SMP. Panggilan pasolo bukanlah panggilan yang menyenangkan, apalagi ketika itu barang siapa yang memangggilku dengan pasolo segera aku akan menatapnya dengan amarah yang membara karena ia telah berani memanggil nama besar keluarga pasolo, apalagi jika nama tersebut di perolok maka semakin besar api amarahku. Apa mau dikata, bumi tetap saja bundar meski orang menilai bumi ini datar,  karena ada dua nama iwan dikelasku yakni kelas 1 i maka teman-temanku memanggilku pasolo. yah untuk saat itu aku diterima ku dipanggil pasolo, tetapi dengan syarat harus iwan pasolo.
Waktu terus berputar seiring dengan berputarnya bumi pada porosnya, mataharipun melintas di orbitnya dengan teratur tanpa sedikitpun keluar dari garis yang telah ditetapkan. Semua makhlukpun demikian, diatur dengan hukum dan ketentuanNya sesuai dengan kebutuhan masing-masing makhluk. termasuk manuia. ketika beranjak remaja, yakni pada usia 13-14 tahun saat di bangku Sekolah menengan Atas (SMA) namaku semakin populer dengan sebutan pasolo. Bahkan ketika suatu waktu temanku bermain ke rumah bertanya tentang ku , ia bertanya kepada bapakku yang kebetulan juga ada adikku, bahwa, Om, pasolo ada? dengan kening yang berkerut bapakku (yang sering ku panggil pa bos) kembali bertanya, pasolo yang mana? saya juga pasolo. Bersyukur ada seorang teman yang tahu nama kecilku yakni iwan. setelah itu baru bapakku mengerti bahwa yang dimaksud pasolo adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya.. oooh iwan, begitu jawabnya. begitulah aku dan panggilan teman-temanku terhadapku.
Bangku SMA telah menjadi nostalgia penuh kenangan dimana pada saat itu aku mencoba segala macam wujud dunia dalam berbagai bentuk. biarlah itu semus menjadi rekaman sejarah yang harapannya tidak terulang. Nama Pasolopun kian terkenal seiring dengan kepindahan Studi ku dari kota jayapura ke kota Djogjakarta. Memulai studi di perguruan tinggi tertua Di Indonesia, teman-temanku ternyata lebih senang memanggilku pasolo, karena unik, keren serta beragam alasan lainnya. semenjak itulah aku dipanggil pasolo. kecuali 2 hal, dirumah aku dipanggil abang karena merupakan anak tertua,  dan kekasihku memanggilku cay. gak tahulah aneh. tetapi dalam kesempatan perkenalan itu panggil saja aku Pasolo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar