Jumat, 15 Juni 2012

waktu luang (diposting kembali)

Waktu Yang Luang!

Cahaya matahari terang benderang. Sungguh terik siang ini. Siapa saja yang melintas seakan terbakar sekujur tubuhnya, hingga matang datang di dalam lapisan kulitnya. Hujan pun tak kunjung datang. Padahal ia dinantikan berpuluhatn juta manusia di bawah kaki langit. Tanaman hijau sudah merenta tua, rambutnya beruban kuning kemuning, tanah jua retak, tandus tak beraura. Terkadang trai langit di tutup, awan hitam pun datang, bergemuruhlah langit disertai kilatan cahaya kilat. Tapi siapa sangka hujan tak kunjung datang. Pantas saja ada sebuah lagu tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu cerah. Hujan oh hujan, di sisi bumi yang terik kau dinanti.
Siang pun terus berlanjut. Dentang waktu yang terus berjalan membuatku menjadi tak mengerti mau ku buat apa waktu yang begitu luang ini. Masa, ku isi dengan berbaring malas terus di tempat tidur? Atau ku isi terus dengan menonton kotak kaca berukuran 14 inchi dengan gamar yang tak begitu jelas yang itu juga isinya hanya tontonan yang tidak bermanfaat. Ada cerita tentang cinta. Cerita yang membawa para penontonnya tersenyum sendiri bahkan tertawa, haru bahkan menangis, entahlah. Cinta yang abstrak dan dianggap sebagai penggerak jiwa dan raga dikemas dalam bentuk yang sangat murah dan di jadikan konsumsi hari-harinya yang tidak membawa manfaat sedikit pun pada manusia disekitarnya. Apalagi yang dipertontonkan adalah cinta terhadap manusia. Ada nih satu sinetron yang sungguh menggelitik, ketika seorang wanita dan lelaki sudah mengikatkan diri secara sadar juga disaksikan para manusia dan Tuhannya dengan media pernikahan masih mencintai istri orang lain yang dulunya tak sempat diutarakan cintanya. Ini sungguh gila bukan lagi bodoh. Produser film tersebut mencoba menggiring persepsi manusia yang menontonnya ke arah kegilaan modern. Kegilaan yang berujung pada kekisruhan sosial secar tidak langsung. Hanya dengan sebuah tontonan meski berdurasi 1 jam tetapi jika ditampilkan setiap hari selama berbulan-bulan maka hasilnya tak ayal lagi sebuah penanaman ideologi yang disebut kegilaan modern. Kegilaan modern apa itu? Ah itu spontan saja keluar dari benakku untuk memberikan istilah kepada para orang-orang yang membuat bahkan untuk para pecinta tayangan tersebut. Dasar gila. Masih ada lagi beragam cerita fiktif yang dibuat kalau ku komentari satu per satu aku yang capek dan membuat waktuku terbuang sia-sia saja.
Sebenarnya persoalan ini muncul ketika aku berada di lingkungan terkecil dirumah yakni keluargaku. Keluarga yang ku maksud adalah keluarga dimana aku, adik-adik, kaka bapak dan ibu, bukanlah keluarga dimana aku bersama istri dan anak-anakku, masih lama terwujud kala yang terakhir ini. Ada lagi sebuah tayangan yangmuncul dari kotak hitam berukuran 14 inchi tersebut, yakni penayangan gosip. Aduuuuuh. Mengapa kegilaan ini tidak segera dihentikan apakah kemudian peradaban yang penuh dengan tekhnolgi informasi ini puya cita-cita untuk menjadikan masyarakatnya menjadi gila semuanya. Fitnah ditebar dimana-mana meskipun hal yang diperbincangkan merupakan kebenaran, tetapi apabila itu bagian dari aib seharusnya tidak diperbincangkan ke publik. Perilaku itu merupakan bentukan dari kebiasaan. Setiap kali kita terbiasa untuk menkonsumsi tayangan tersebut maka dapat berimplikasi terhadap perilaku keseharian kita. oelh karena itu sudahlah, hal tersebut sepantasnya di buang ditempat sampah.
Aku tidak merasa heran dengan adanya segelintir orang yang kemudian memisahkan diri dari komunitas mayoritas hanya untuk menyelamatkan dirinya dari belenggu wabah penyakit komunal di sekitarnya. Aku lebih setuju, karena bagaimanapun ketika kucing dipelihara dan hidup di lingkungan para anjing galak maka, ia pun bisa menjadi sangat galak dan beringas. Hilangnya rasa kesetiaan dan taatnya seekor kucing. Hidup ini tidak bisa terus menerus seperti ikan tuna, yang selama hidupnya menentang air air yang deras demi berhijrah ke sungai yang teduh. Kita boleh mencari pelajaran dari setiap makhluk yang ada di dunia ini tetapi bukan berati kita lantas menjadi tidak terkontrol padahal kita adalah pemimpin alam semesta.
Jayapura 10 oktober 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar