Waktu Yang Luang!
Cahaya matahari terang benderang. Sungguh terik siang ini. Siapa saja yang melintas seakan terbakar sekujur tubuhnya,
hingga matang datang di dalam lapisan kulitnya. Hujan pun tak kunjung
datang. Padahal ia dinantikan berpuluhatn juta manusia di bawah kaki
langit. Tanaman hijau sudah merenta tua, rambutnya beruban
kuning kemuning, tanah jua retak, tandus tak beraura. Terkadang trai
langit di tutup, awan hitam pun datang, bergemuruhlah langit disertai
kilatan cahaya kilat. Tapi siapa sangka hujan tak kunjung datang. Pantas
saja ada sebuah lagu tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari
ini kulihat begitu cerah. Hujan oh hujan, di sisi bumi yang terik kau
dinanti.
Siang
pun terus berlanjut. Dentang waktu yang terus berjalan membuatku
menjadi tak mengerti mau ku buat apa waktu yang begitu luang ini. Masa,
ku isi dengan berbaring malas terus di tempat tidur? Atau ku isi terus
dengan menonton kotak kaca berukuran 14 inchi dengan gamar yang tak
begitu jelas yang itu juga isinya hanya tontonan yang tidak bermanfaat.
Ada cerita tentang cinta. Cerita yang membawa para penontonnya tersenyum
sendiri bahkan tertawa, haru bahkan menangis, entahlah. Cinta yang
abstrak dan dianggap sebagai penggerak jiwa dan raga dikemas dalam
bentuk yang sangat murah dan di jadikan konsumsi hari-harinya yang tidak
membawa manfaat sedikit pun pada manusia disekitarnya. Apalagi yang
dipertontonkan adalah cinta terhadap manusia. Ada nih satu sinetron yang
sungguh menggelitik, ketika seorang wanita dan lelaki sudah mengikatkan
diri secara sadar juga disaksikan para manusia dan Tuhannya dengan
media pernikahan masih mencintai istri orang lain yang dulunya tak
sempat diutarakan cintanya. Ini sungguh gila bukan lagi bodoh. Produser
film tersebut mencoba menggiring persepsi manusia yang menontonnya ke
arah kegilaan modern. Kegilaan yang berujung pada kekisruhan sosial
secar tidak langsung. Hanya dengan sebuah tontonan meski berdurasi 1 jam
tetapi jika ditampilkan setiap hari selama berbulan-bulan maka hasilnya
tak ayal lagi sebuah penanaman ideologi yang disebut kegilaan modern.
Kegilaan modern apa itu? Ah itu spontan saja keluar dari benakku untuk
memberikan istilah kepada para orang-orang yang membuat bahkan untuk
para pecinta tayangan tersebut. Dasar gila. Masih ada lagi beragam
cerita fiktif yang dibuat kalau ku komentari satu per satu aku yang
capek dan membuat waktuku terbuang sia-sia saja.
Sebenarnya
persoalan ini muncul ketika aku berada di lingkungan terkecil dirumah
yakni keluargaku. Keluarga yang ku maksud adalah keluarga dimana aku,
adik-adik, kaka bapak dan ibu, bukanlah keluarga dimana aku bersama
istri dan anak-anakku, masih lama terwujud kala yang terakhir ini. Ada
lagi sebuah tayangan yangmuncul dari kotak hitam berukuran 14 inchi
tersebut, yakni penayangan gosip. Aduuuuuh. Mengapa kegilaan ini tidak
segera dihentikan apakah kemudian peradaban yang penuh dengan tekhnolgi
informasi ini puya cita-cita untuk menjadikan masyarakatnya menjadi gila
semuanya. Fitnah ditebar dimana-mana meskipun hal yang diperbincangkan
merupakan kebenaran, tetapi apabila itu bagian dari aib seharusnya tidak
diperbincangkan ke publik. Perilaku itu merupakan bentukan dari
kebiasaan. Setiap kali kita terbiasa untuk menkonsumsi tayangan tersebut
maka dapat berimplikasi terhadap perilaku keseharian kita. oelh karena
itu sudahlah, hal tersebut sepantasnya di buang ditempat sampah.
Aku
tidak merasa heran dengan adanya segelintir orang yang kemudian
memisahkan diri dari komunitas mayoritas hanya untuk menyelamatkan
dirinya dari belenggu wabah penyakit komunal di sekitarnya. Aku lebih
setuju, karena bagaimanapun ketika kucing dipelihara dan hidup di
lingkungan para anjing galak maka, ia pun bisa menjadi sangat galak dan
beringas. Hilangnya rasa kesetiaan dan taatnya seekor kucing. Hidup
ini tidak bisa terus menerus seperti ikan tuna, yang selama hidupnya
menentang air air yang deras demi berhijrah ke sungai yang teduh. Kita
boleh mencari pelajaran dari setiap makhluk yang ada di dunia ini tetapi
bukan berati kita lantas menjadi tidak terkontrol padahal kita adalah
pemimpin alam semesta.
Jayapura 10 oktober 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar