Sabtu, 16 Juni 2012

Setelah Febri, Dion pun dipulangkan!!!

Hampir setiap minggu jika anda pengguna Twitter pasti heboh bila melihat Trending Topic World Wide. Ada sejumlah deretan nama dari para kontestan Indonesian Idol yang menempati entah posisi empat, tiga atau bahkan satu (pertama) pembicaraan di twitter. Asalnya dari mana? sudah jelas dari para penggemar Indonesian Idol. Indonesian Idol acara yang diselenggarakan di RCTI salah satu TV swasta nasional benar-benar menyita perhatian sebagian besar orang Indonesia. Termasuk saya. 

Tahun 2012, mungkin tahun yang paling heboh dalam Indonesian Idol. Selain pemilihan kontestan yang cukup baik dari sisi keunikan dan kualitasnya (menurut para juri dan beberapa musisi) juga didukung oleh Tekhnologi Informasi yang canggih sebut saja Sosial media. Sosial media yang paling heboh adalah twitter. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya penyelenggaraan Indonesian Idol selalu kurang mendapat perhatian yang banyak (menurut saya). Tapi tahun ini berbeda. Bagaimana tidak menjadi perhatian, ketika anda atau saya sedang mengamati timeline di twitter, pasti ada teman yang sedang men-twit tentang acara Indonesian Idol. Secara naluriah manusia yang penuh rasa keingintahuan yang tinggi tentu saja kita akan secara langsung mencarai tau apa yang sedang terjadi. Mengganti channel TV misalanya untuk melihat perhelatan ajang pencarian bakat tersebut. Namun bagi saya pribadi itu bukan ajang pencarian bakat, melainkan bisnis yang berkedok ajang pencarian bakat, khususnya melalui voting SMS. 

Mari kita bedah. Acara tersebut, mencoba mencari bakat suara penyanyi yang boleh dikatakan bagus untuk dijadikan Icon atau modal acara. Dengan modal penyanyi bersuara bagus, bertampang menarik, punya keunikan tersendiri maka para penyanyi jadi sumber pemasukan yang sangat besar. Tentu saja dibantu dengan partisipasi dari penonton melalui SMS dan juga Telephone. Kalau memang acara tersebut merupakan murni ajang pencarian bakat dan butuh dukungan penuh dari penonton setidaknya dalam melakukan eliminasi pihak penyelenggara menampilkan hasil Voting, entah dalam bentuk persentase atau bahkan dalam bentuk ranking. Sehingga jelas voting yang diberikan oleh penonton benar-benar menjadi penentu untuk pencarian bakat yang disebut Idol tersebut. Nyatanya pihak penyelenggara tidak memberikan hal tersebut. Hasilnya pun menjadi tidak akurat. Dalam era tekhnologi informasi yang berkembang pesat seperti sekarang ini rasanya tidak ada alasan bagi pihak penyelenggara untuk tidak menyediakan tekhnologi yang mendukung hal tersebut. Apalagi dengan berbagai promosi dari pihak sponsor yang berlimpah pemasukan yang besar selain SMS dan telepon tentu saja akan lebih memudahkan penyelenggara dalam merealisasikan hal tersebut. 

Indonesia terkejut, 2 minggu yang lalu Sean, salah satu finalis yang mempunyai talenta, suara yang dipuji beberapa juri dan juga musisi keluar dari ajang tersebut. Beruntung, ia diselamatkan oleh hak Vetto yang diberikan oleh Juri Indonesian Idol, Anang, Agnes dan Ahmad Dhani. Keberuntungan? saya pikir tidak. Ini semua sudah diatur oleh para penyelenggara. terbukti 2 minggu beruntun setelah kejadian tersebut Sean tidak sama sekali masuk di Zona tidak aman, itu artinya Sean Selamat. Mungkin dengan menghadirkan situasi itu dan ditambahi dengan dramatisasi dari penyanyi keuntungan dari SMS jadi berlipat ganda. Para penggemar Indonesian Idol jadi sangat menggebu-gebu "menyelamatkan" Sean agar tidak tereliminasi dengan mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya. Hasilnya Febri salah satu kontestan pun pulang, dan malam ini Dion menyusul kepulangan Febri. 

Dalam pandangan juri, Yoda salah satu kontestan yang penampilannya buruk dan tidak mengalami perubahan yang baik diprediksikan pulang. Pandangan juri tentu beda dengan pandangan penonton. *ups* Bukan penonton, tapi pihak penyelenggara tepatnya. Presenter Indonesian Idol sempat berkata bahwa malam ini adalah salah satu malam dimana perolehan SMS yang diterima oleh pihak penyelenggara sangatlah tinggi. itu artinya sangat banyak yang berpartisipasi dalam mengirimkan SMS dan menggunakan telephon. Tetapi anehnya, dia mengatakan bahwa kelolosan beberapa kontestan yang ia bacakan tidak berdasarkan rangking siapa yang mendapatkan SMS terbanyak. Lantas berdasarkan apa?

Okey, rasanya tulisan ini seolah ingin menyerang pihak penyelenggara Indonesian Idol. Mungkin memang begitu. Bukan juga karena saya pendukung Febri atau Dion atau bahkan kontestan lain yang sebelumnya gugur karena acara ini. Tetapi yang ingin saya capai dengan tulisan ini hanya satu "transparansi". Ya, transparansi dari hasil voting yang diberikan oleh penonton. Sebagai penonton yang memberikan voting tentu saja ingin tahu siapa yang lolos dan tidak lolos secara jujur, terbuka. Dampaknya beberapa penonton bisa menerima keluarnya sang "idola".

Ajang ini memang bukan ajang yang 100% persen menjamin keberhasilan kontestannya akan Bersinar didunia industri musik Indonesia. Saya melihat acara ini sebagai hiburan biasa. Hiburan yang memberikan nuansa dalam memandang potensi penyanyi yang mungkin tidak terjangkau oleh tangan-tangan para pelaku bisnis musik sesungguhnya. Mereka memiliki bakat tapi tidak mendapatkan kesempatan berupa keberuntungan. Hanya saja dalam konteks Indonesian Idol seharusnya memang pihak penyelenggara lebih terbuka dalam menyajikan hasil kalau saja memang acara ini mencarai bakat penyanyi bukan sekedar hanya Bisnis semata.

Acara ini memang bisnis, keterbukaan terhadap hasil dari voting tersebut merupakan etika bisnis yang dijaga oleh penyelenggara kepada penontonnya. Sehingga kesan dari mempermainkan "perasaan" para pelanggannya (pencinta acara dengan mengeluarkan SMS atau menelpon) tidak keterlaluan. Apa salahnya untuk terbuka kepada penonton? toh ini hanya ajang latihan buat para kontestan. Akhirnya dengan cara seperti itu para kontestan juga akan terbantu seberapa populernya mereka jika digambarkan dalam sebuah angka-angka voting baik dalam persentase atau jumlah SMS yang diterima atas nama dan penampilan mereka. Mereka juga seharusnya diperlakukan sebagai "pekerja" bisnis yang sadar akan kemampuan dalam melayani para penonton maupun penggemarnya. Bukan sekedar dijadikan "mesin" peraup keuntungan belaka. 

Sekian. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar