Kamis, 06 Juni 2013

Sah!

Cukup singkat waktunya. Namun belum selesai ketegangan belum terlaksana yang namanya akad nikah.
Hari yang dinanti itu tiba. Segala doa-doa dari beberapa rangkaian ibadah terkirimkan dengan cepat ke penjuru langit. Lancar. Semoga lancar segala sesuatunya diberikan oleh Allah saat tiba waktunya. 6 juni 2013, Alhamdulillah saya tak lagi sendiri, paling tidak tak lagi merasa sendirian. Saya telah menjadi pasangan buat istri saya. Ehm. Heuheuheu.
Deg-degannya itu datang, ketika para penghulu sudah mulai menapaki ruangan dengan langkah-langkah mereka. Tergurat senyum panjang sesekali dibawah kumis-kumis mereka. Dengan pakaian rapih serba abu-abu dan peci hitam, mereka melangkah mantap sambil menenteng sebuah tas hitam berukuran sedang. Tas itu berisi dokumen-dokumen penting. Termasuk didalamnya buku nikah. Setelah pantat mereka jatuh di atas kursi, tak lama munculkalimat-kalimat yang makin membuatku tegang. "Sudah hapal belum mas, akad nikahnya? Ini baru yang pertama kali kan? Sambil tersenyum memastikan kepada saya. Tentu saja, saya menjawab iya. Lantas ia tertawa kecil.
Ia kemudian mengeluarkan berkas-berkas, dibantu seorang temannya yang duduk di sebelah kanan. Dia memberikan secarik kertas kepada wali nikah, dan secarik kertas lainnya kepada saya. " dibaca saja, gak usah di hafal. Kalo hafal ya lebih bagus, kalau bisa dilafalkan dalam satu nafas" begitu ujarnya kepada saya, terus ia memberi aba-aba kepada mc dengan kode anggukan kepalanya. Tanda acara dapat dimulai. Mc pun membuka acara. Membaca susunan acara secara keseluruhan, dan mengawali acara dengan pembacaan ayat-ayat suci. Ketegangan di dalam dada saya itu sedikit mereda, setelah teman saya membacakan lantunan ayat-ayat suci sebelum memasuki acara inti yakni Akad nikah. Selesai pembacaan ayat suci. Acara di ambil alih oleh penghulu, lebih tepatnya diserahkan langsung oleh MC kepada penghulu.  Sesaat kemudian, penghulu membacakan khutbah nikah yang memang, sudah menjadi semacam rukun sebelum akad nikah dilaksanakan. Setelah ia memberi perintah kepada saya dan wali nikah. "micnya pegang ditangan kiri pak, tangan kanannya sambil jabat tangan masnya, masnya juga gitu. Sini mas, agak maju." Saya menjulurkan tangan menjabat tangan orang tua pasangan saya yang juga menjadi wali nikah, menikahkan langsung anaknya, tanpa memberikannya kepada wali hakim. " Hai engkau, Muhammad Ridhwansyah Pasolo" saya menjawab " Ya, saya." "Engkau aku nikahkan dengan anakku Rati Aprina dengan mas kawin emas sebesar 6 gram" tegang, dalam hati saya minta agar lidah tak kelu. Dihadapan para keluarga sambil berjabat tangan wali, dengan ibu jari saling berhadapan, " saya terima nikahnya Rati Aprina binti Abdul Rasyid untuk saya sendiri dengan mas kawin emas sebesar 6 gram dibayar tunai" plong, setelah kalimat itu terucap " gimana para saksi?" Tanya dari penghulu, kepada para saksi. Om saya dan mbah istri saya. Mereka mengangguk sambil mengatakan sah. "Alhamdulilllah" seru seisi ruangan. Lantas saya melepas jabat tangan saya kepada wali. Penghulu menengadahkan tangannya ke atas lalu berdoa kepada kami. Selesai berdoa saya menandatangani buku nikah, berkas-berkas nikah. Penghulu memberikan buku nikah kepada saya secara simbolis. Lalu saya memberikan kepada istri kotak mas kawin. Selesai sudah proses akad nikah. Alhamdulillah saya dan Rina telah menjadi suami dan istri. Selamat datang dunia, aku akan mengarungi kehidupanku tak lagi sendiri atau merasa sendirian. Aku telah bersama. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar