Senin, 27 Mei 2013
Tentang sebuah keberanian
Minggu, 26 Mei 2013
Gempa Jogja 7 tahun yang lalu
Masih pagi sekali waktu itu. Dingin, dan masih berkabut. Saya bersama teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan Senior Course HMI cabang Jogja, baru selesai menunaikan ibadah shalat subuh. Baru dua hari saya mengikuti pelatihan itu, yang sebenarnya berdurasi enam hari. Pelatihan yang merupakan syarat agar seseorang bisa memandu dan menjadi pemateri di latihan kader yang diselenggarakan oleh HMI. Selepas subuh, saya masih terjaga. Semalam suntuk kami berdiskusi, menerima materi dan mengerjakan beberapa tugas rutin selama pelatihan. Karena konon, pamali kalau langsung tidur selepas subuh, jadi dengan mata terkantuk-kantuk dan sedikit pusing di kepala, juga lapar di pagi hari, saya mengambil sebuah buku untuk saya baca. Saya tidak ingat judul buku apa waktu itu, yang jelas buku itu tentang kepemimpinan. Lembar demi lembar saya baca, tanpa terasa langit di luar rumah pada pagi itu mulai memerah. Mulai sedikit hangat karena sinar matahari, tapi masih terasa hawa dinginnya. Beberapa teman saya sudah tidur di lantai dengan pulasnya. Ya, waktu itu memang tidak ada kasur yang menjadi alas tidur kami. Itu sudah merupakan bagian ketentuan dari panitia pelaksana. Pengecualian hanya pada kader HMI, yang juga peserta cewek, juga panitia cewek. Ada juga teman yang masih asik mengobrol, entah sisi dunia mana lagi yang mereka perbincangkan. Negara Indonesia kah? Negara luar bahkan bicara tentang peradaban hingga filsafat. Seorang teman sempat menawarkan kopi panas saat itu. Namun saya berfikir, kalau di pagi hari, dengan kondisi belum tidur yang cukup, lantas saya memilih meminum kopi, akan semakin membuat mata terbelalak dan terjaga untuk waktu yang lebih lama lagi. Apalagi durasi pelatihan yang masih lama, tersisa empat hari lagi. Kondisi tubuh saya bisa drop, kemungkinan sakit akan lebih besar. Hasilnya saya gagal mengikuti pelatihan dengan baik. Saya putuskan untuk menolak ikut minum kopi, dia berlalu ke teras depan.
Kadisoka. Ya, itu nama daerah tempat kami menjalani pelatihan. Lokasinya di bagian utara sleman Yogyakarta, namun sedikit menjorok ke arah timur dari stadion maguwoharjo. Kami menyewa sebuah rumah yang mirip pendopo dari alumni HMI. Tempatnya luas untuk berdiskusi dan memang sering dijadikan tempat kegiatan HMI. Selain luas, nyaman, tempat tersebut juga jauh dari keramaian, lebih tenang. Saya mengambil buku tentang kepemimpinan yang saya pinjam di perpustakaan kampus saya, fakultas ekonomi UII. Lantas karena masih ngantuk, saya mengambil posisi di salah satu sudut ruangan dekat teras rumah. Selain hangat dan tidak terlalu dingin, saya juga jadi bisa bersandar di dinding rumah sambil membaca buku. Kalau posisi membaca buku saya waktu itu tidur, saya bisa jadi tertidur dan itu tidak baik. Maka saya pun bersandar dan menjulurkan kaki lalu memangku buku di bahu, tangan saya dilipat hingga hanya satu telapak tangan saya, tangan kanan, yang membiarkan buku tetap terbuka untuk di baca.
Hampir setengah jam, sambil melihat jam di handphone ericson saya, saya telah membaca beberapa lembar buku. Mata saya mulai terasa berat. Salah seorang teman saya yang terbangun dari tidurnya sementara, ia melihat saya sedang asik membaca buku di samping posisi ia tidur. Ia berkata " dah wan, jangan terlalu dipaksa. Tidur aja dulu bentar." Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu dia kembali melanjutkan tidurnya dan memperbaiki posisi tidurnya yang semula terlentang jadi miring ke kanan dengan tangan kanan sebagai bantal di pipinya. Badannya meringkuk. Tidur pulas dia. Saya pun mulai menimbang usulannya. Saya sudah mengantuk dan tak tahan untuk tetap terjaga, bahkan waktu membaca kadang saya tertidur sebenta,r terus kaget, terbangun dan lanjut membaca lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk meletakkan buku disamping tas kecil saya, mengambil handphone disamping dan mencoba mendekatkannya agar lebih dekat dengan saya. Sebelum tidur sudah saya buatkan dering alarm jam 7 pagi. Jam 8 kami sudah harus mandi dan bersiap menerima materi lagi. Waktu itu jam handphone masih menunjukkan pukul 05.00. Dari posisi duduk bersandar dan kaki yang berslonjor, posisi badan saya berubah jadi tidur. Saya masih belum bisa menutup mata meski sudah ngantuk. Banyak pikiran dan pertanyaan masih melintas. Tubuh saya sekarang terlentang dengan kedua tangan tersilang dibawah kepala. Lama kelamaan, pandangan saya gelap. Saya tertidur.
Baru saja rasanya saya merasakan tidur yang nikmat itu, saya lalu bertemu dengan seseorang. Wajahnya tidak jelas. Tapi dia berbusana putih, terang sekali tubuhnya. Dia memegang tangan saya. Dia bilang " yuk ikut saya!" Saya jawab " mau kemana? Saya lagi ikut pelatihan. Enggak, ah kamu aja yang pergi, saya mau disini saja." Orang itu ngotot dan ngeyel tetap mau mengajak saya pergi dengan cepat. Saya tak mau kalah, tetap ngotot juga, untuk menolak. Tiba-tiba saya dengar teriakan teman di sebelah saya. Ia berteriak kencang sekali. "Allllaaaahu akbar. Alllaaaahu akbar." Saya kaget, terus terbangun dari tidur. Lalu dia teman saya itu lari melangkahi tubuh saya yang tiba-tiba saja sudah dalam posisi sebelum tidur tadi. Setengah duduk. Dengan pandangan mata yang masih samar-samar, saya mendengar teman saya itu berteriak. Terus dia bilang " Gempa! Gempa!" Saya masih belum mengerti apa yang dia maksud, tapi karena melihat teman saya berhamburan lari ke depan teras rumah saya pun ikut panik. Bahkan teman saya itu, menarik tangan saya hingga terseret dari posisi setengah duduk jadi berdiri. Entah kekuatan apa yang baru saya dapatkan, dari posisi duduk, saya langsung lompat. Dengan kondisi seperti itu, masih mengumpulkan nyawa dan tiba-tiba harus berdiiri bahkan lari, saya pun terjatuh.
Di depan teras, ada 4 anak tangga kecil yang harus dilewati sebelum sampai ke halaman rumah. Saya menginjak anak tangga teratas dan langsung melompat menuju halaman rumah. Teman saya itu sudah sampai di halaman rumah. Dan kamu tahu? Saya tidak dalam posisi berdiri. Saya terjatuh. Dua kali saya berusaha berdiri. Tapi tidak bisa. Guncangan itu begitu kuat. Saya berdiri lagi. Sama saja, saya jatuh. Lantas teman yang melihat saya membantu saya berdiri, menarik saya agar tidak terlalu dekat dekat atap. Jangan sampai kejatuhan atap rumah. Selamat. Saya sampai di halaman rumah. Ketika saya menengok ke belakang, plafon rumah yang terbuat dari kayu itu runtuh bersamaan dengan genteng rumah yang terbuat dari bata. Kejadian itu begitu cepat. Namun, guncangan itu belun juga usai. Teman-teman dan kakak pemandu, histeris. Mereka ada yang berteriak "Allahu akbar, Astagfirullah, La hawlawala quata illa billah" dan macam-macam ucapan lain. Saya melihat sekeliling, kebanyakan teman sudah keluar. Para warga yang tinggal di sekitar rumah tempat pelatihan juga pada keluar rumah. Bahkan maaf, ada seorang tetangga wanita, berusia kurang lebih 25-30an keluar dari kamar mandi dengan handuk dan kepala yang masih dihiasi busa shampo. Ia menjerit histeris, dan raut wajahnya begitu ketakutan.
Akhirnya guncangan itu berhenti. Kami saling menatap satu sama lain di halaman rumah. Sembari menunggu reda guncangan yang kadang masih ada walau lebih kecil frekuensi getarannya. Satu persatu kami masuk kembali ke dalam rumah untuk mengecek barang dan kondisi teman yang lain. Saya yang waktu itu juga ketakutan langsung masuk mengambil handphone saya. Karena cuma itu harta berharga saya ketika itu. Ternyata aman. Meski disampingnya terdapat reruntuhan kayu dan juga genteng. Ternyata, sang pemilik rumah, terluka akibat reruntuhan rumah. Kepalanya berdarah, mengucur deras sekali. Beberapa diantara kami membantu ibu tersebut, lainnya membersihkan puing-puing reruntuhan. Sekitar sepuluh menit berselang kami mulai berbincang. Saya kembali ke halaman rumah tempat teman saya sedang berkumpul. Sambil sesekali mengambil gambar reruntuhan dari kamera handphone saya. Tak lama kemudian saya lihat seekor ayam tiba-tiba lari ke atas pohon di depan rumah. Ia naik tinggi sekali, terus ia berkokok. Kami yang ada disitu, heran. Dan benar saja dugaan saya, ternyata itu adalah signal alam, binatang lebih tahu apa yang akan terjadi. Guncangan itu kembali datang. Gempa itu datang, sedikit lebih kencang dari yang pertama. Tapi durasinya lebih cepat. Seorang teman spontan memeluk pohon agar tidak terjatuh. Yang lain langsung mengambil posisi jongkok. Saya? Hanya berdiri komat-kamit baca mantra. Pikiran saya melayang, apakah ini kiamat? Nyatanya tidak. Kami semua bersama warga disana trauma. Selama sejam lebih tak ada lagi yang masuk rumah. Semua masih diluar. Sambil berbincang, agar melupakan kejadian barusan. Ada juga yang bahu membahu membantu warga laun membersihkan puing-puing bangunan. Setelah lama tak ada guncangan, saya langsung terbesit satu nama. Cewek, Titin namanya. Dia adalah cewek yang dekat dengan saya, saya menganggap dia sebagai kakak saya di Jogja. Ia sering berbagi cerita dengan saya, meski awalnya kami beemusuhan secara organisasi. Saya mencoba menelpon dia. Ternyata tidak bisa, tidak aktif. Saya sms, pending. Sinyal di hape tidak stabil. Mungkin efek dari gempa. Salah satu teman memutar radio dari hapenya. Kami berkumpul mendengarkan berita, hanya satu radio yang mengudara, entah radio apa saya lupa. Ia menyiarkan bahwa memang terjadi gempa di seluruh Jogja, yang paling parah di daerah selatan. Bantul.
Kondisi sudah normal, tiba-tiba ada beberapa orang lari. Berteriak-teriak. Air sudah dekat, sambil memacu sepeda motor. Ada juga yang bilang tsunami-tsunami. Seketika, warga sekitar dan kami para peserta panik. Saya melihat orang-orang berduyun-duyun lari. Ada yang di dorong kursi roda. Ada yang naik mobil sampai penuh isi mobilnya. Ada yang lari, ada yang berboncengan sampai empat orang. Semua panik. Isu tsunami sudah sampai di telinga kami semua. Beberapa peserta sudah pasrah. Saya pun ikutan lari, tapi sambil berfikir, apa beneran tsunami? Sambil membatin, saya bilang, ya sudah kalo ini memang tsunami, biarlah kalau sudah ajal ya sudah. Saya lalu mengetikkan sms di handphone saya, bilang kepada orang tua saya. Isinya kira-kira begini:
Assalamualaikum. Pa bos, mama, maafkan segala kesalahan dan dosa abang karena banyak buat dosa. Semoga kita berjumpa di lain kesempatan. Wassalamualaikum.
Sms itu saya kirimkan, pending, bahkan gagal. Lama saya berdiri, dengan tas yang berisi buku dan baju saya, menunggu datangnya tsunami. Tapi lama, tak kunjung datang. Semua itu hanya isu. Saya hanya bisa menggerutu dalam hati, dan senyum-senyum melihay sms tak terkirim tadi. Setelah kejadian itu barulah signal handphone mulai normal. Sms yang saya kirim ke mbak Titin masuk dan ia balas ia baik-baik saja. Ia bahkan menanyakan balik keadaan saya. Setelah itu, pa bos menelpon karena melihat informasi di televisi atas parahnnya gempa Jogja. Saya dan teman-teman tidak tahu banyak, karena kerusakan disekitar kami, tidak begitu parah. Pelatihan kami dipeecepat, yang seharusnya enam hari menjadi empat hari. Kondisi dan situasi gempa membuat banyak diantara para pemateri pelatihan lebih mencemaskan rumah dan keluarganya daripada memilih mengisi materi di pelatihan yang kami adakan. Hingga selesainya pelatihan 2 hari kemudian, saya bersama teman pulang ke kos masing-masing dan melihat bahwa memang terjadi kerusakan dahsyat di daerah bantul. Rumah-rumah rata dengan tanah. Ribuan korban terenggut. Ratusan kepala keluarga bersedih, mereka juga terisolasi dan kelaparan. Sebagai mahasiswa ketika itu kami yang memilih tetap tinggal diantara teman kami yabg disuruh pulang kampung oleh orang tua masing-masing, memilih membantu para korban sebisa kami. Kami kumpulkan pakaian, makanan, hingga membuat posko gempa. Syukurnya karena kepedulian nasional, banyak bantuan datang. Kami akhirnya jadi relawan yang menyalurkan bantuan.
Kejadian gempa 7 tahun lalu itu benar-benar akan saya ingat sepanjang hidup saya. Begitu menegangkan dan menyeramkan. Saya yakin orang-orang yang selamat dan ikut merasakan gempa, punya cerita masing-masing dan pengalaman tentang gempa. Panik itu pasti. Karena waktu itu kami semua masih belum lepas dari ingatan kejadian aceh yang berawal dari gempa dan di lanjutkan dengan tsunami. Sehingga ketika ada isu tsunami semua orang disini panik. Apalagi isu yang beekembang juga ketika itu, akan keaktifab gunung merapi yang juga baru saja meletus di tahun 2005. Jadilah tahun 2006 itu tahun yang kelam bagi orang jogja dan mahasiswa yang ada di Jogja. Sebuah kenangan yang takkan mudah dilupakan. Sekarang, Jogja sudah semakin maju. Mereka bangkit dari bencana, memulihkan diri dan menjadi semakin terbuka dengan perubahan. Jogja memang istimewa, istimewa di hati. :)
Pintu Harmonika
Jumat, 24 Mei 2013
The English Teacher; Sebuah Film
Jumat, 17 Mei 2013
Tentang nama I (baca; ai)
Perkenalkan nama I Ridhwan. Sebelumnya disini I gunakan kata I. Biar kamu bisa bebas, ya, mau mengartikan I itu saya, gue, aku, akyyyuuu, AQoeH, eke atau apa saja terserah. Apalah arti sebuah nama, begitu kata pepatah. Bagi I, nama itu berarti. Kadang I berfikir kenapa I di beri nama Ridhwan. Katanya, nama itu adalah doa atau harapan orang tua buat anaknya. Ada teman I ,namanya nurjannah, artinya cahaya surga, wuih. Firdaus, artinya surga paling baik. Rahman, Rohim, pengasih, penyayang. Lah I, Ridhwan. Penjaga pintu surga.
Apa mungkin waktu mau kasih nama gitu, orang tua I berfikir gini, pas I baru lahir, bapak I lihat I yang lagi nete, terus bapak I bilang ke mama I "mah, kita sudah beri nama anak kita ridhwan. Syukur mah, pintu surga sudah ada yang jagain buat kita. Anak kita. Si Ridhwan." Terus mama jawab, Alhamdulillah ya pak. Sesuatu." Tar-ntar itu kata syahrini. Bukan emak I dia. Kalo dia emak I, I netek ama Syahrini dong?
Kebayang gitu ya suatu saat di akhirat kelak. Ada orang yang melambaikan tangan. Manggil nama I. Ridhwan. Ridhwan. Siapa ya itu? Ini bapakmu nak. Oh bapak, sini pak masuk surga. Terus ada lagi. Ridhwan. Ridhwan. Ini mama nak. Oh mama, masuk surga. Ridhwan. Ridhwan. Ternyata dua orang. Oh itu adik-adik saya, masuk. Terakhir ada lagi. Ridhwan. Ridhwan. Eh siapa itu? Sambil memincingkan mata karena mata I dulu pernah minus, ini aku, Mantan kamu. Tiba-tiba I langsung galau. Langsung berdoa pada Tuhan. Ya Tuhan, apa yang harus I lakukan ya Tuhan. Bantu hamba ya Tuhan. Kata Tuhan. Ridhwan, ini di akhirat, move on dong move on. Akhirnya dengan penuh kekuatan I mengatakan. Kita harusnya tidak bertemu lagi disini. Silahkan pergi dari depan muka I. Tiba-tiba ada orang yang narik tangan tu cewek. Dia bilang, sayang, udah ku bilang jangan lagi pergi ke dia. Mending kamu sama aku aja. Cewe itu pun di bawa sama dia. Nama cowok itu Malik. I pun akhirnya bahagia.
Namanya hidup ya, kita harus tetap bersyukur ya. Meski kadang sedih juga kenapa ya I diberi nama Ridhwan. Apakah orang tua I hanya ingin I jadi penjaga pintu surga saja, gak masuk surga? Tapi ya itu kita emang harus bersyukur. I bersyukur karena bukan cuma I yang diberi nama Ridhwan ternyata, banyak juga orang Indonesia yang diberi nama Ridhwan. Men, I gak sendirian men. Kadang juga I mikir, gila kalau orang-orang yang namanya Ridhwan se Indonesia di kumpulin rame-rame, kita udah bisa buat Laskar Ridhwan. Alias, laskar penjaga pintu surga. Itu keren banget men. Lebih keren daripada the avengers men.
Heran juga, kenapa ya banyak yang namanya Ridhwan. Saking banyaknya nama Ridhwan itu pasaran banget. Apa waktu itu pas mama I lagi hamil tua, terus bapak I pergi ke pasar beli belanjaan gantiin mamak gitu, terus ada yang jualan nama murah. Mari pak mari, dibeli, mumpung lagi murah. Buat calon anak, Ridhwan pak Ridhwan. Obral nama Ridhwan. Akhirnya bapak I beli satu nama, itu pun juga antri sambil desak-desakkan dan dapat. Terus pulang sambil bawa belanjaan bilang ke mama, ma tadi bapak beli belanjaan terus ada yang jual nama Ridhwan jadi bapak beli aja sekalian.
Nama itu memang penting ya. I anak pertama dari saudari-saudari I. Makanya sebagai anak pertama nama itu tidak terlalu penting. Yang penting dikasih nama. Untuk pembelajaran kalau mau jadikan anak lagi, lagi dan lagi.
Jadi anak pertama itu ada enaknya ada juga tidak enaknya ya. Enaknya kalau ada apa-apa selalu di dahulukan. Makan, duluan. Ada oleh-oleh dibagi duluan. Cobain nasi basi, duluan. Eh itu kan yang tidak enak ya. Tidak enaknya itu, anak pertama konon harus jadi contoh buat adik-adiknya ya. Kalau dia berhasil maka adik-adiknya juga ikut. Terinspirasi. Kalau dia gagal, atau nakal, dia disalahin kenapa jadi nakal dan gak boleh di contoh sama adik-adiknya. Tahu gitu dulu I ga usah minta adik aja ya, sama bapak sama mama. Lagian kalaupun I gak minta pasti mama atau bapak yang minta adik. Nasib.
Sebagai anak laki-laki paling ganteng di rumah I senang banget. Soalnya kalau kumpul bersama saudara atau teman ganteng I selalu tenggelam. Ya gak apa, hidup itu harus disyukuri. Karena setidaknya di keluarga I paling ganteng, saingan berat I juga paling poll ya bapak. Sayangnya bapak I ganteng. Makanya I bangga dengan status I sebagai anak laki-laki paling ganteng bukan laki-laki paling ganteng di keluarga.
Sekian dari I. Sampai ketemu di surga.
Rabu, 01 Mei 2013
Menanti hujan
Aku menyukai hujan. Aku suka diguyur hujan. Karena dalam hujan, tak ada orang yang tahu air mataku menetes karena sedih. Di dalam hujan, tak ada orang yang tahu, seberapa besar keringat yang mengucur atas kerja kerasku. Di dalam hujan, aku bisa memaki siapa pun tanpa ada yang tahu seberapa banyak air liurku membuncah dari mulutku. Hujan, tempat aku mengeluarkan segala rasa. Sekarang, sudah bukan musim hujan, haruskah menunggu hujan untuk mengeluarkan segala rasa?
Tuhan memang baik
Orang-orang seringkali berkata, Tuhan itu baik. Tuhan Maha baik. Bahkan tak jarang diantara mereka memberikan ekspresinya dengan berbagai bentuk. Tuhan memang baik?
Mungkin orang-orang yang menganggap Tuhan itu baik, karena setiap keinginan yang mereka minta pada Tuhan, selalu terkabul. Ya, terlepas dari, apakah dia berusaha lebih keras atas keinginannya atau berusaha biasa-biasa saja. Bagi mereka, Tuhan memang baik. Saya kadang berfikir, tanpa dikabulkan segala keinginan atau permintaan pun, Tuhan itu baik dan selalu baik. Buruk itu hanya datang dari prasangka kita yang menganggap Tuhan itu buruk, jahat, tidak adil, dan sebagainya. Coba ya, kita lihat, baik ke dalam diri kita sendiri, atau lihat disekeliling kita. Orang-orang disekitar kita, keluarga, sahabat, kenalan, orang lain, alam, binatang, segala hal di sekitar kita. Bukan sekedar dilihat. Setelah melihat, coba kita renungi, ya, memikirkan sejenak. Kita kan manusia yang jarang berfikir, jadi cobalah sedikit berfikir tentang hal ini. Ada orang yang taat sekali beribadah, bisa kita lihat dari sudut pandang agama kita masing-masing. Seperti saya, Islam misalnya. Ada seseorang yang seringkali ke masjid. Shalat atau entah apalah yang dia kerjakan. Kalau senin kamis, ia seringkali terlihat atau memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia sedang berpuasa. Orang ini, karena ibadah yang ia lakukan, mendapatkan kesuksesan yang berlimpah ruah. Rejekinya bagus, jodohnya cantik atau rupawan, meski dia tidak demikian. Hartanya melimpah dan suka melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan dalam bentuk harta, minimal dia tersenyum. Iya, minimal. Dengan kehidupannya yang seperti itu, belum lagi ia di posisikan mulia di antara orang lain di sekitarnya, menunjukkan bahwa Tuhan itu memang baik kan? Ia lantas selalu mengucapkan syukur. Ya, ucapan syukurnya kadang di dalam hati, kadang di media sosial atau kadang ia tuliskan sampai masuk ke media massa dan elektronik. Seisi dunia tahu ia bersyukur kepada Tuhan yang memang baik itu. Karena keinginannya di penuhi oleh Tuhan. Lantas, Tuhan memang baik bukan? Apa yang ia kerjakan, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tuhan menjadi baik, sekali, menurut dia.
Di sisi lain, ada orang-orang yang seringkali lalai. Ya, secara kasat mata, orang lain ke masjid, shalat berjamaah, dia asik sendiri di rumah. Main game, baca buku, menulis, bercinta (dalam arti yang sebenarnya) atau tertawa tawa dengan temannya. Diberikan kehidupan, ya minimal, meski kecil tapi berharga, yakni nafas. Selain itu juga di berikan akal yang sehat, meski tak pernah di gunakan atau sedikit sekali digunakan. Paras cantik, ganteng, yang seringkali jadi alat pamer, juga kaya dan miskin. Dari segala kenikmatan ( katakan saja itu kenikmatan meski benar-benar nikmat) ia jarang beribadah. Tuhan memang baik bukan? Tuhan (tetap) baik.
Tak peduli, ia yang kafir, yang sholeh, yang jahat, yang baik. Diberikannya kebaikan. Tentu dalam kadar Dia. Lalu, bagaimana yang mendapatkan kesusahan setiap harinya. Sudah jelek, miskin, mau melakukan segala sesuatu, selalu saja tak pernah mulus. Bahkan ia sering berdoa, berkali-kali. Tapi tak kunjung dapat apa yang dia mau. Apakah Tuhan tetap baik? Jawabannya ya tetap baik. Karena, baik dan buruk ada dalam prasangka kita terhadap Tuhan. Orang yang ingkar dan lalai, dapat kebaikan dari Tuhan, orang yang taat pun dapat kebaikan dari Tuhan. Tuhan memang baik.
Nah, mulai sekarang, marilah kita berprasangka kalau Tuhan itu mrmang baik. Meski kita merasa seakan dan seolah-olah mendapatkan kehidupan yang tidak adil, dipermainkan, hina dan sebagainya. Tetaplah berprasangka Tuhan itu baik. Kalau memang tak mau berprasangka demikian, silahkan menganggap Tuhan itu tidak ada. Meski anggapanmu itu hanya ada di pikirannu. Tuhan itu tetap ada, dan baik.