Senin, 27 Mei 2013

Tentang sebuah keberanian

Apakah kamu orang yang berani? Ya, berani! Kalau iya seberapa berani kamu? Ya, dalam hal apa saja. Keberanian seseorang konon akan semakin berkurang ketika seseorang mulai masuk kepada zona kedewasaan secara umur maupun dalam arti sebenarnya. Orang-orang yang meninggalkan zona kemudaannya akan cenderung lebih takut. Takut dalam melangkah, bertindak, bahkan berfikir sekalipun. Kamu pernah berada dalam suatu kondisi dimana kamu tahu, apa yang harus kamu lakukan tapi kamu tidak berani untuk melakukannya? Kondisi itu belakangan saya alami. Entah dalam hal apa saja. Baik dalam melakukan sebuah kebaikan maupun dalam keburukan. Contoh? Ah tidak perlu. Saya hanya ingin menceritakan apa yang saya alami dan saya rasakan belakangan ini. Terkesan seperti curhay ya? Tak apa kan? Kalau sudah tak ingin membaca, silahkan tinggalkan.
Menurut saya semakin bertambah umur seseorang, maka keberanian yang ada dalam dirinya semakin berkurang. Ini karena pengalaman yang ia alami menjadikan ia lebih hati-hati dalam melangkah. Tak jarang saking hati-hatinya ia bahkan takut untuk melangkah. Takut untuk mengambil keputusan. Ada banyak hal yang kemudian menjadi pertimbangannya. Ia menjadi lebih banyak menimbang sana-sini sebelum berbuat. Berbeda ketika umurnya masih anak-anak atai remaja. Ketika masa anak-anak atau remaja, ia akan lebih berani. Karena ia tidak banyak tahu atas konsekuensi yang akan ia dapati setelah melakukan suatu hal. Ia lebih cenderung berani. Berani bertanya, berani berbicara, berani jujur, berani mengakui kesalahannya. Semakin bertambah umur ia takkan seperti itu. Tak lagi spontan. Mungkin karena ia tau dampak yang ia dapatkan setelahnya.
Okelah saya beri contoh. Seorang anak muda jika diberikan mobil sport ferari terbaru, ia akan menggunakan mobil tersebut untuk balapan, misalnya. Balap, balapan, itu dibutuhkan keberanian di dalamnya. Tanpa keberanian seseorang tidak akan mampu untuk memutuskan mengendalikan kendaraan dengan sangat cepat. Sederhananya ia tidak akan balapan. Berbeda dengan seseorang yang sudah tua atau dewasa barangkali begitu. Ia akan berfikir matang-matang untuk balap. Ia mungkin akan lebih memilih mengendarai mobil tersebut ke pusay kota. Pamer atau entah apalah tapi tidak untuk balapan. Karena ia takut. Ia tak lagi berani seperti waktu ia muda. Ia akan berfikir kalau saya mengendalikan mibil dengan cepat, balap, bagaimana jika saya tertabrak mobil lain? Bagaimana jika saya menabrak orang lain? Bagaimana jika mobil yang saya gunakan tiba-tiba hilang kendali karena bannya pecaj sewaktu saya balap? Bagaimana juga perasaan orang yang saya sayangi atau menyayangi saya ketika mereka mendapati saya menabrak atau tertabrak? Bagimana jika saya di tangkap polisi? Dan lain-lain. Ada banyak pertimbangan yang muncul. Ya itu hanya salah satu contoh. Banyak lagi hal disekeliling kita yang bisa kamu jadikan contoh. Hanya saja saya ingin tegaskan bahwa, keberanian itu kenapa harus berkurang seiring waktu berjalan? Bukankah seharusnya semakin bertambah umur kita, harusnya kita jadi lebih berani dalam bertindak?
Apalagi jika kita melakukan sebuah kesalahan dalam hidup kita, kesalahan yang berakibay bukan hanya pada diri sendiri, melainkan melibatkan orang lain. Saya yakin, banyak diantata kita yang tidak berani dalam mengakui kesalahannya. Atau, tidak berani dalam meminta maaf atas kesalahannya. Mereka lebih memilih menyembunyikannya dan mengutuk diri mereka sendiri sambil menyesali perbuatan salah yang mereka lakukan. Mereka membayangkan bagaimana nantinya ganjaran yang diberikan oleh orang lain atas kesalahan yang ia lakukan. Membayangkan juga atas permohonan maaf yang takkan pernah ia dapatkan atas kesalahannya. Membayangkan tentang masalah yang baru saja ia buat akibat dari keaalahan yang ia lakukan. Keberanian pun hilang. Berbeda dengan anak kecil atau remaja, yang jika melakukan kesalahan ia akan tetap berani dalam mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf. Orang yang merasa dirugikan pun akan memaklumi tindakannya yang salah. Hingga ia tak perlu cemas ataa perbuatannya. Ia akan mencoba berbuat lebih baik lagi.

Minggu, 26 Mei 2013

Gempa Jogja 7 tahun yang lalu

Masih pagi sekali waktu itu. Dingin, dan masih berkabut. Saya bersama teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan Senior Course HMI cabang Jogja, baru selesai menunaikan ibadah shalat subuh. Baru dua hari saya mengikuti pelatihan itu, yang sebenarnya berdurasi enam hari. Pelatihan yang merupakan syarat agar seseorang bisa memandu dan menjadi pemateri di latihan kader yang diselenggarakan oleh HMI. Selepas subuh, saya masih terjaga. Semalam suntuk kami berdiskusi, menerima materi dan mengerjakan beberapa tugas rutin selama pelatihan. Karena konon, pamali kalau langsung tidur selepas subuh, jadi dengan mata terkantuk-kantuk dan sedikit pusing di kepala, juga lapar di pagi hari, saya mengambil sebuah buku untuk saya baca. Saya tidak ingat judul buku apa waktu itu, yang jelas buku itu tentang kepemimpinan. Lembar demi lembar saya baca, tanpa terasa langit di luar rumah pada pagi itu mulai memerah. Mulai sedikit hangat karena sinar matahari, tapi masih terasa hawa dinginnya. Beberapa teman saya sudah tidur di lantai dengan pulasnya. Ya, waktu itu memang tidak ada kasur yang menjadi alas tidur kami. Itu sudah merupakan bagian ketentuan dari panitia pelaksana. Pengecualian hanya pada kader HMI, yang juga peserta cewek, juga panitia cewek. Ada juga teman yang masih asik mengobrol, entah sisi dunia mana lagi yang mereka perbincangkan. Negara Indonesia kah? Negara luar bahkan bicara tentang peradaban hingga filsafat. Seorang teman sempat menawarkan kopi panas saat itu. Namun saya berfikir, kalau di pagi hari, dengan kondisi belum tidur yang cukup, lantas saya memilih meminum kopi, akan semakin membuat mata terbelalak dan terjaga untuk waktu yang lebih lama lagi. Apalagi durasi pelatihan yang masih lama, tersisa empat hari lagi. Kondisi tubuh saya bisa drop, kemungkinan sakit akan lebih besar. Hasilnya saya gagal mengikuti pelatihan dengan baik. Saya putuskan untuk menolak ikut minum kopi, dia berlalu ke teras depan.

Kadisoka. Ya, itu nama daerah tempat kami menjalani pelatihan. Lokasinya di bagian utara sleman Yogyakarta, namun sedikit menjorok ke arah timur dari stadion maguwoharjo. Kami menyewa sebuah rumah yang mirip pendopo dari alumni HMI. Tempatnya luas untuk berdiskusi dan memang sering dijadikan tempat kegiatan HMI. Selain luas, nyaman, tempat tersebut juga jauh dari keramaian, lebih tenang. Saya mengambil buku tentang kepemimpinan yang saya pinjam di perpustakaan kampus saya, fakultas ekonomi UII. Lantas karena masih ngantuk, saya mengambil posisi di salah satu sudut ruangan dekat teras rumah. Selain hangat dan tidak terlalu dingin, saya juga jadi bisa bersandar di dinding rumah sambil membaca buku. Kalau posisi membaca buku saya waktu itu tidur, saya bisa jadi tertidur dan itu tidak baik. Maka saya pun bersandar dan menjulurkan kaki lalu memangku buku di bahu, tangan saya dilipat hingga hanya satu telapak tangan saya, tangan kanan, yang membiarkan buku tetap terbuka untuk di baca.

Hampir setengah jam, sambil melihat jam di handphone ericson saya, saya telah membaca beberapa lembar buku. Mata saya mulai terasa berat. Salah seorang teman saya yang terbangun dari tidurnya sementara, ia melihat saya sedang asik membaca buku di samping posisi ia tidur. Ia berkata " dah wan, jangan terlalu dipaksa. Tidur aja dulu bentar." Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu dia kembali melanjutkan tidurnya dan memperbaiki posisi tidurnya yang semula terlentang jadi miring ke kanan dengan tangan kanan sebagai bantal di pipinya. Badannya meringkuk. Tidur pulas dia. Saya pun mulai menimbang usulannya. Saya sudah mengantuk dan tak tahan untuk tetap terjaga, bahkan waktu membaca kadang saya tertidur sebenta,r terus kaget, terbangun dan lanjut membaca lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk meletakkan buku disamping tas kecil saya, mengambil handphone disamping dan mencoba mendekatkannya agar lebih dekat dengan saya. Sebelum tidur sudah saya buatkan dering alarm jam 7 pagi. Jam 8 kami sudah harus mandi dan bersiap menerima materi lagi. Waktu itu jam handphone masih menunjukkan pukul 05.00. Dari posisi duduk bersandar dan kaki yang berslonjor, posisi badan saya berubah jadi tidur. Saya masih belum bisa menutup mata meski sudah ngantuk. Banyak pikiran dan pertanyaan masih melintas. Tubuh saya sekarang terlentang dengan kedua tangan tersilang dibawah kepala. Lama kelamaan, pandangan saya gelap. Saya tertidur.

Baru saja rasanya saya merasakan tidur yang nikmat itu, saya lalu bertemu dengan seseorang. Wajahnya tidak jelas. Tapi dia berbusana putih, terang sekali tubuhnya. Dia memegang tangan saya. Dia bilang " yuk ikut saya!" Saya jawab " mau kemana? Saya lagi ikut pelatihan. Enggak, ah kamu aja yang pergi, saya mau disini saja." Orang itu ngotot dan ngeyel tetap mau mengajak saya pergi dengan cepat. Saya tak mau kalah, tetap ngotot juga, untuk menolak. Tiba-tiba saya dengar teriakan teman di sebelah saya. Ia berteriak kencang sekali. "Allllaaaahu akbar. Alllaaaahu akbar." Saya kaget, terus terbangun dari tidur. Lalu dia teman saya itu lari melangkahi tubuh saya yang tiba-tiba saja sudah dalam posisi sebelum tidur tadi. Setengah duduk. Dengan pandangan mata yang masih samar-samar, saya mendengar teman saya itu berteriak. Terus dia bilang " Gempa! Gempa!" Saya masih belum mengerti apa yang dia maksud, tapi karena melihat teman saya berhamburan lari ke depan teras rumah  saya pun ikut panik. Bahkan teman saya itu, menarik tangan saya hingga terseret dari posisi setengah duduk jadi berdiri. Entah kekuatan apa yang baru saya dapatkan, dari posisi duduk, saya langsung lompat. Dengan kondisi seperti itu, masih mengumpulkan nyawa dan tiba-tiba harus berdiiri bahkan lari, saya pun terjatuh.

Di depan teras, ada 4 anak tangga kecil yang harus dilewati sebelum sampai ke halaman rumah. Saya menginjak anak tangga teratas dan langsung melompat menuju halaman rumah. Teman saya itu sudah sampai di halaman rumah. Dan kamu tahu? Saya tidak dalam posisi berdiri. Saya terjatuh. Dua kali saya berusaha berdiri. Tapi tidak bisa. Guncangan itu begitu kuat. Saya berdiri lagi. Sama saja, saya jatuh. Lantas teman yang melihat saya membantu saya berdiri, menarik saya agar tidak terlalu dekat dekat atap. Jangan sampai kejatuhan atap rumah. Selamat. Saya sampai di halaman rumah. Ketika saya menengok ke belakang, plafon rumah yang terbuat dari kayu itu runtuh bersamaan dengan genteng rumah yang terbuat dari bata. Kejadian itu begitu cepat. Namun, guncangan itu belun juga usai. Teman-teman dan kakak pemandu, histeris. Mereka ada yang berteriak "Allahu akbar, Astagfirullah, La hawlawala quata illa billah" dan macam-macam ucapan lain. Saya melihat sekeliling, kebanyakan teman sudah keluar. Para warga yang tinggal di sekitar rumah tempat pelatihan juga pada keluar rumah. Bahkan maaf, ada seorang tetangga wanita, berusia kurang lebih 25-30an keluar dari kamar mandi dengan handuk dan kepala yang masih dihiasi busa shampo. Ia menjerit histeris, dan raut wajahnya begitu ketakutan.

Akhirnya guncangan itu berhenti. Kami saling menatap satu sama lain di halaman rumah. Sembari menunggu reda guncangan yang kadang masih ada walau lebih kecil frekuensi getarannya. Satu persatu kami masuk kembali ke dalam rumah untuk mengecek barang dan kondisi teman yang lain. Saya yang waktu itu juga ketakutan langsung masuk mengambil handphone saya. Karena cuma itu harta berharga saya ketika itu. Ternyata aman. Meski disampingnya terdapat reruntuhan kayu dan juga genteng. Ternyata, sang pemilik rumah, terluka akibat reruntuhan rumah. Kepalanya berdarah, mengucur deras sekali. Beberapa diantara kami membantu ibu tersebut, lainnya membersihkan puing-puing reruntuhan. Sekitar sepuluh menit berselang kami mulai berbincang. Saya kembali ke halaman rumah tempat teman saya sedang berkumpul. Sambil sesekali mengambil gambar reruntuhan dari kamera handphone saya. Tak lama kemudian saya lihat seekor ayam tiba-tiba lari ke atas pohon di depan rumah. Ia naik tinggi sekali, terus ia berkokok. Kami yang ada disitu, heran. Dan benar saja dugaan saya, ternyata itu adalah signal alam, binatang lebih tahu apa yang akan terjadi. Guncangan itu kembali datang. Gempa itu datang, sedikit lebih kencang dari yang pertama. Tapi durasinya lebih cepat. Seorang teman spontan memeluk pohon agar tidak terjatuh. Yang lain langsung mengambil posisi jongkok. Saya? Hanya berdiri komat-kamit baca mantra. Pikiran saya melayang, apakah ini kiamat? Nyatanya tidak. Kami semua bersama warga disana trauma. Selama sejam lebih tak ada lagi yang masuk rumah. Semua masih diluar. Sambil berbincang, agar melupakan kejadian barusan. Ada juga yang bahu membahu membantu warga laun membersihkan puing-puing bangunan. Setelah lama tak ada guncangan, saya langsung terbesit satu nama. Cewek, Titin namanya. Dia adalah cewek yang dekat dengan saya, saya menganggap dia sebagai kakak saya di Jogja. Ia sering berbagi cerita dengan saya, meski awalnya kami beemusuhan secara organisasi. Saya mencoba menelpon dia. Ternyata tidak bisa, tidak aktif. Saya sms, pending. Sinyal di hape tidak stabil. Mungkin efek dari gempa. Salah satu teman memutar radio dari hapenya. Kami berkumpul mendengarkan berita, hanya satu radio yang mengudara, entah radio apa saya lupa. Ia menyiarkan bahwa memang terjadi gempa di seluruh Jogja, yang paling parah di daerah selatan. Bantul.

Kondisi sudah normal, tiba-tiba ada beberapa orang lari. Berteriak-teriak. Air sudah dekat, sambil memacu sepeda motor. Ada juga yang bilang tsunami-tsunami. Seketika, warga sekitar dan kami para peserta panik. Saya melihat orang-orang berduyun-duyun lari. Ada yang di dorong kursi roda. Ada yang naik mobil sampai penuh isi mobilnya. Ada yang lari, ada yang berboncengan sampai empat orang. Semua panik. Isu tsunami sudah sampai di telinga kami semua. Beberapa peserta sudah pasrah. Saya pun ikutan lari, tapi sambil berfikir, apa beneran tsunami? Sambil membatin, saya bilang, ya sudah kalo ini memang tsunami, biarlah kalau sudah ajal ya sudah. Saya lalu mengetikkan sms di handphone saya, bilang kepada orang tua saya. Isinya kira-kira begini:
Assalamualaikum. Pa bos, mama, maafkan segala kesalahan dan dosa abang karena banyak buat dosa. Semoga kita berjumpa di lain kesempatan. Wassalamualaikum.
Sms itu saya kirimkan, pending, bahkan gagal.  Lama saya berdiri, dengan tas yang berisi buku dan baju saya, menunggu datangnya tsunami. Tapi lama, tak kunjung datang. Semua itu hanya isu. Saya hanya bisa menggerutu dalam hati, dan senyum-senyum melihay sms tak terkirim tadi. Setelah kejadian itu barulah signal handphone mulai normal. Sms yang saya kirim ke mbak Titin masuk dan ia balas ia baik-baik saja. Ia bahkan menanyakan balik keadaan saya. Setelah itu, pa bos menelpon karena melihat informasi di televisi atas parahnnya gempa Jogja. Saya dan teman-teman tidak tahu banyak, karena kerusakan disekitar kami, tidak begitu parah. Pelatihan kami dipeecepat, yang seharusnya enam hari menjadi empat hari. Kondisi dan situasi gempa membuat banyak diantara para pemateri pelatihan lebih mencemaskan rumah dan keluarganya daripada memilih mengisi materi di pelatihan yang kami adakan. Hingga selesainya pelatihan 2 hari kemudian, saya bersama teman pulang ke kos masing-masing dan melihat bahwa memang terjadi kerusakan dahsyat di daerah bantul. Rumah-rumah rata dengan tanah. Ribuan korban terenggut. Ratusan kepala keluarga bersedih, mereka juga terisolasi dan kelaparan. Sebagai mahasiswa ketika itu kami yang memilih tetap tinggal diantara teman kami yabg disuruh pulang kampung oleh orang tua masing-masing, memilih membantu para korban sebisa kami. Kami kumpulkan pakaian, makanan, hingga membuat posko gempa. Syukurnya karena kepedulian nasional, banyak bantuan datang. Kami akhirnya jadi relawan yang menyalurkan bantuan.

Kejadian gempa 7 tahun lalu itu benar-benar akan saya ingat sepanjang hidup saya. Begitu menegangkan dan menyeramkan. Saya yakin orang-orang yang selamat dan ikut merasakan gempa, punya cerita masing-masing dan pengalaman tentang gempa. Panik itu pasti. Karena waktu itu kami semua masih belum lepas dari ingatan kejadian aceh yang berawal dari gempa dan di lanjutkan dengan tsunami. Sehingga ketika ada isu tsunami semua orang disini panik. Apalagi isu yang beekembang juga ketika itu, akan keaktifab gunung merapi yang juga baru saja meletus di tahun 2005. Jadilah tahun 2006 itu tahun yang kelam bagi orang jogja dan mahasiswa yang ada di Jogja. Sebuah kenangan yang takkan mudah dilupakan. Sekarang, Jogja sudah semakin maju. Mereka bangkit dari bencana, memulihkan diri dan menjadi semakin terbuka dengan perubahan. Jogja memang istimewa, istimewa di hati. :)

Pintu Harmonika

Pintu Harmonika. Beberapa hari yang lalu, hari Jumat tepatnya, saya pergi ke bioskop. Awalnya saya ingin menonton Film terbaru dari sekuel Fast & Furios. Siang menjelang sore, saya pergi bersama Rina. Kami memesan tiket di tempat penjualan tiket, dan wow, tiket film tersebut habis terjual. kalaupun ada, duduk di barisan paling depan. Paling depan? kalau shalat berjamaah si oke-oke saja saya mau untuk memilih tempat paling depan, kecuali Rina, dia mungkin akan memilih paling belakang. Masalahnya barisan paling depan menonton film itu, sudah tidak ada kebaikannya, keuntunganya, dan kenikmatannya, yang ada hanya membuat leher jadi sakit, mata molotot, tidak dapat menikmati Film sama sekali. Kemudian saya mulai beralih ke studio lain, melihat judul-judul film lain yang menarik untuk di tonton. Terpilihlah sebuah Film Indonesia diantara beberapa FIlm Indonesia yang sedang tayang, seperti, Cinta Brontosaurus, Optatissimus, jangan menangis Sinar. Saya memilih pintu harmonika. Sebelum film ini tayang, saya sudah pernah membaca bukunya. Di buku tersebut, kisah antara Rizal, Juni dan David, begitu seru. Di buat seru oleh penulisnya. Kisahnya sederhana, tentang Tiga orang anak dari penghuni Ruko, yang sama-sama menemukan sebuah lokasi yang mereka sebut sebagai surga. Mengapa mereka sebut surga, karena di sebuah tanah lapang, yang disana, tumbuh beberapa rerumputan dan terdapat bangunan yang agak tua, mereka meluangkan waktunya dengan Positif. Rizal misalnya, lebih suka menghabiskan waktunya untuk menulis dalam blog, bercengkrama dengan temannya di facebook, twitter dan BBMan. Juni, dan david, meluangkan waktunya dengan membaca buku dan komik. Komik yang sering mereka baca bersama, buku-buku detektif, khusunya komik Conan, sang detektif cilik yang terkenal itu. 

Rizal, anak SMA, yang punya hobi ngeblog. Dalam blognya Rizal memperkenalkan diri sebagai anak orang kaya yang kerjaannya setiap minggu travel ke beberapa negara. Hobbinya keluar negeri, begitu ia tulis. Karena aktif menulis dalam blog, Rizal terkenal di sekolahnya, digandrungi cewek-cewek, punya banyak fans dan selalu diberi kado oleh para fansnya di sekolah. Selain itu Rizal juga menjadi selebtwit, karena hobinya menulis blog. Dia pun menyebut dirinya seorang blogger. Rizal juga merupakan seorang cowok yang punya pandangan bahwa cowok berotot, itu juga harus punya otak yang cerdas. Suatu waktu Rizal, dipanggil oleh gurunya, terkait nilai Rizal yang jelek. Rizal diberi keringanan, jika saja ia mau dan berhasil membantu Cyntia, ketua grup dance yang ingin mengikuti sebuah kompetisi dance dalam mengumpulkan dana. 

Rizal pun berkenalan dengan Cyntia, gadis, yang dalam pandangan Rizal, bak bidadari, jutek, tetapi selalu saja mengetuk hatinya. Mereka memulai upaya mengumpulkan dana, salah satunya dengan ide Rizal yang menjual kue malaikat. Kue Malaikat itu dibuat oleh tetangganya, Imelda, yang juga merupakan Ibu dari David. Rizal yakin, kue itu akan laku karena kue itu memiliki rasa yang unik. Dalam beberapa minggu mereka hampir memenuhi target dalam pengumpulan dana. Rizal yang tak kehabisan akal, juga menggunakan kepopulerannya, dengan mengadakan lelang dinner bersama Rizal. Cyntia, mulai bertanya-tanya, dengan ide itu. Ia menganggap, Rizal terlalu percaya diri, menganggap dirinya terkenal. Rizal, sebagai cowok yang tidak ingin begitu saja di cibir oleh Cyntia lantas menantang Cyntia untuk melakukan pencarian, siapa itu Rizal. Rizal berkata" Google me!" kepada Cyntia. Selain untuk mengumpulkan dana, Rizal juga sebenarnya punya niat lain, agar ia dapat dinner bersama Rizal. Rizal tinggal di sebuah ruko bersama ayahnya. Mereka berasal dari medan, mereka pindah ke ruko tersebut, bertiga bersama ibunya. Sayangnya, Ibu Rizal, telah meninggal karena sakit. Jadinya Rizal hanya tinggal berdua dengan bapaknya. Suatu saat, ayah Rizal jatuh sakit. Rizal yang tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya, memilih untuk tidak masuk sekolah dan membantu ayahnya dirumah. Pada saat ayahnya menyuruh Rizal untuk membawa gas pesanan tante Imelda, tak disangka, Cyntia lewat di depan rumahnya dan memergoki Rizal, sedang membopong tabung gas 12 Kg. Sejak kejadian itu, Cyntia tau, bahwa Rizal bukanlah anak orang kaya, seperti yang selama ini sering ia kemukakan di blognya, twitter, bahkan facebooknya. Begitu juga dengan kebiasaannya pergi ke luar negeri bersama bapaknya setiap minggu. Rizal merasa bersalah, dengan Cyntia. Belum lagi rasa bersalah itu usai, di dunia maya, blog, twitter, facebook ia di bully oleh para pengikut setianya, yang tidak menyangka Rizal telah melakukan kebohongan besar hanya untuk sebuah pencitraan diri yang semu. Hal ini berdampak pada program dia dan Cyntia dalam menggalang dana, Rizal akhirnya meminta maaf atas hal tersebut. Selain pada Cyntia, ia menyampaikan maafnya, juga pengakuan atas dirinya selama ini, lewat blognya. Dengan besar hati ia menerima segala cacian, ia juga tahu bahwa apa yang dilakukan sudah membuat rasa kepercayaan orang kepada dirinya menghilang. Namun, Rizal tetap percaya diri, dan akhirnya ia di maafkan oleh Cyntia dan juga para pengikutnya di Blog. Penggalangan dana mereka pun berhasil. 

Rumah Rizal bersebelahan dengan Juni dan David. Juni, anak SMP, yang belakangan ini sedang menjalani masa Skors dari sekolah selama lima hari. Hal ini ia dapatkan akibat dari perbuatannya yang memukuli sekelompok anak baru (adik angkatannya) yang pecicilan di sekolahnya. Geram dan mencoba mengingatkan perilaku mereka, Juni, malah di tantang oleh adik kelasnya itu. Juni yang terbakar amarah lantas memukul gadis tersebut, Manda namanya. Setelah kejadian itu, ternyata berdampak pada kehidupan keluarganya. Ayah Juni, gagal mendapatkan orderan dari kliennya. Klien yang baru saja memesan sepuluh lusin orderan baju untuk di sablon ternyata adalah ayah Manda. Karena ulah Juni, yang menyebabkan Manda harus dirawat dirumah sakit, membuat ayah Manda membatalkan pesanan yang sedang dikerjakan oleh ayah Juni. Hari-hari skors Juni, ia sebut sebagai Penjara. Ia tak boleh pergi kemana-mana, tanpa sepengetahuan dari orang tuanya. Juni mempunyai adik, namanya Diba. Adik Juni tak serajin Juni, apalagi dalam hal belajar, Diba lebih suka bermain daripada belajar. Itu sebabnya Diba, selalu mendapatkan nilai jelek ulangan matematika. Juni mengenal Rizal, di Surga. Mereka seringkali bertemu disana. Belakangan, setelah di skors, mereka jarang bertemu. Hanya kalau ada waktu dan kesempatan untuk kabur, barulah Juni pergi ke Surga. Menjalankan aktivitasnya. Di Surga jugalah, Juni diajarkan bela diri oleh Rizal. Rizal yang sangat menyukai Bruce Lee, mengajarkan bela diri, JUN FANG GANG FU, begitu bela diri itu dinamakan oleh Rizal. Bela diri itu diajarkan, karena sebelumnya, Juni di bully oleh teman sekolahnya. Tak tega melihat teman yang sudah dianggap adik olehnya selalu di bully, Rizal melatih Juni bela diri. Sayangnya, Juni baru menyadari bahwa bela diri yang ia pelajari itu ternyata dikemudian hari ia jadikan sebagai alat untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang dulu pernah ia rasakan. Bullying.

 Hari-hari Juni, dirumah ia habiskan dengan membantu orang tua, mulai dari membersihkan rumah, membantu Diba belajar, hingga membantu mengerjakan orderan sablon ayahnya. Suatu ketika, karena DIba sakit, Juni salah menyablon pesanan yang akan diambil dalam waktu 2 jam mendatang. Ayahnya marah kepada Juni. Juni yang merasa bahwa dirinya tidak bersalah karena, sebelumnya ibu Juni memberitahukan bahwa letak desain sablon ada di dekat meja, sudah benar ia lakukan. Ternyata ada amplop lain yang merupakan desain yang seharusnya di sablon oleh Juni. Mereka pun terlibat dalam pertengkaran antara ayah dan anak. Melihat situasi tersebut, ibu Juni, melerai pertengkaran mulut tersebut, karena seharusnya mereka berada disisi Diba yang sedang sakit, bukan malah bertengkar. Juni, yang selama ini tidak tahu bagaimana kondisi ayahnya kemudian menyesali perbuatannya. Ia baru tahu belakanga, bahwa ternyata ayahnya sedang dalam kesulitan ekonomi. Satu-satunya harapan untuk bangkit dari ekonomi yang buruk, telah di gagalkan oleh Juni, yang memukul klien tersebesar mereka. Ayah Juni akhirnya kehabisan akal dan dengan terpaksa menjual Ruko yang mereka tinggali dan juga beberapa mesin dan alat sablon. Miris akan hal tersebut, Juni meminta maaf atas segala kesalahannya, hingga akhirnya hubungan ia dan ayahnya menjadi baik. Setelah menjalani hari-hari yang tidak menyenangkan di rumah, yang ia sebut sebagai penjara, Juni, kembali ke sekolahnya. ia langsung mendatangi Manda dan meminta maaf atas kejadian yang telah berlalu. Mereka pun saling memaafkan.

Selain kisah Rizal dan Juni, dikisahkan juga kisah David. David adalah anak dari Imelda. Seorang pembuat kue yang tinggal di sebelah rumah Juni. David tinggal bersama ibunya, imelda. ia ditinggalkan oleh ayahnya, sejak di dalam kandungan, karena ayahnya adalah seorang penjudi dan suka main perempuan. David masih duduk di bangku SD. Selain sekolah dan meluangkan waktu dengan membaca buku-buku detektif Conan di surga, david juga ikut les piano. David, sangat menyukai hal-hal yang berbau detektif. Ia bahkan yakin bahwa ia sebenarnya mirip kisah detektif Conan, dimana ia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak kecil. Di surga, David selalu dilibatkan dalam kejadian-kejadian yang misterius. Salah satunya ketika ada sebuah plang di Surga, Dijual, Rizal dan Juni memberikan tugas kepada David untuk mencari informasi dan mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya atas kejadian tersebut. David sangat menyukai tugas tersebut. Belakangan, David tidak diikut sertakan dalam PIA operation, operasi yang ingin menggagalkan upaya penjualan Surga mereka. Hanya Rizal dan Juni yang melakukan operasi tersebut. Surga itu, akhirnya di beli oleh tante Imelda. Alasanya, setelah membaca tulisan mengenai laporan singkat asal-usul Surga. David, meninggal karena sebuah kecelakaan. Ia ditabrak oleh sebuah motor. Kejadian tersebut membuat Imelda terpukul, dan belum bisa melupakan David. Setelah berhari-hari, karena David juga lah Imelda akhirnya mampu menerima kepergian David. 


Menonton Film Pintu Harmonika ini, memang beda sekali dengan membaca buku Pintu Harmonika. karena bagi saya, benang merah yang menghubungkan cerita antara Rizal, Juni, dan David adalah cerita seru tentang Surga mereka. Dalam film, cerita berkembang hanya pada sisi Rizal sebagai satu orang yang diceritakan, begitu juga Juni, dan david. Sehingga Film ini memberikan kesan, cerita tersebut, terpisah-pisah. Tidak menjadi satu kesatuan. Padahal, kalau kita baca dalam novelnya, hubungan dari ketiga tokoh tersebut sangat erat, dan mereka dipertemukan di Surga. Konflik yang muncul, karena ada pihak yang menjual surga pun, tidak disajikan di dalam Film. Jadi selama, nonton film Pintu Harmonika, saya hanya terkesan pada cerita yang disajikan di awal, yakni cerita Rizal. Saya menunggu-nunggu setelah kisah Rizal, mana nih, Surganya. Karena, jujur saya merasa penasaran sekali dengan kegiatan mereka. Ternyata hingga akhir, Surga itu tak muncul sama sekali. Sehingga saya merasa bosan yang teramat sangat di dua bagian film terakhir. Apalagi pada FIlm David dan Juni, yang tidak secara terang dijelaskan bagaimana sebenarnya kisah mereka. Sebenarnya di cerita Rizal juga sih, bagaimana ia terkenal jadi blogger, bagaimana ia menjalani hari tanpa ibunya yang meninggal. Ada banyak hal yang hilang menurut saya. Jadi, saya sempat berfikir, apa mungkin, itu memang sudah darisananya dibuat begitu, sehingga para penonton yang menonton bertanya-tanya, atas cerita film dan membeli buku biar mendapatkan cerita yang utuh? mungkin saja. Tapi bagi saya, mungkin, yang tidak minat sama sekali membaca, hanya menonton, film tersebut, pasti akan, membingungkan dalam mencerna cerita yang disajikan dalam film tersebut. Untungnya, saya sudah membaca buku tersebut, jadi saya tidak perlu bingung. Hanya saja saya mengantuk nonton film tersebut. Sama halnya Rina, yang saya lihat raut wajahnya ketika menonton, selalu berkerut tanda ia bingung sama jalan cerita Film tersebut. 

Oh iya saya nonton film tersebut, dengan kondisi penonton cuma enam orang saja. hahahaha, sepi ya? Andai saja film tersebut sebagus bukunya, mungkin sih bisa lebih rame, mungkin, Semoga saja sih penontonnya bertambah, semoga. hehehe

Jumat, 24 Mei 2013

The English Teacher; Sebuah Film

Kemarin, saya nonton sebuah film yang menurut saya, bagus. Judulnya The English teacher. Nah begini ceritanya: 
Linda Sinclair, seorang guru bahasa Inggris di senior high school (SMA) . Bukan guru sembarangan, guru terbaik, teladan dan berprestasi. Meski begitu, ia tak pernah berhasil dalam urusan percintaannya. Linda, yang sudah menjadi kutu buku sejak kecil, memang sangat memilih dalam urusan hubungan percintaan dengan laki-laki. Bahkan ia tahu seorang lelaki masuk dalam kategori apa, dari pola komunikasi yang ia jalani saat melakukan kencan pertama. Sudah beberapa lelaki ia tolak. Tidak sesuai sama kriteria yang ia idamkan. Keseharian Linda dijalani sendiri, di rumahnya. Sampai suatu saat Linda bertemu dengan mantan muridnya di SMA. Jason sherwood. Pertemuan mereka berdua terjadi di sebuah ATM, saat itu Jason menghampiri Linda yang sedang mengambil uang di mesin ATM. Karena terkejut oleh kehadiran Jason, Linda sempat menyemprotkan cairan merica kepada Jason, yang dia kira akan berbuat jahat kepadanya. Jason kemudian meringis kesakitan karena cairan tersebut terasa panas mengenai matanya. Sambil meringis Jason menjelaskan bahwa ia adalah mantan murid Linda di SMA dulu. Linda meminta maaf kepadanya dan mengajak Jason untuk ikut menumpang mobil LInda, dan mengantarkannya pulang. Sebelumnya mereka berbincang di sebuah kedai. 

Lama tak berjumpa dengan Jason, Linda menanyakan kabar Jason. Seingat Linda Jason, ketika di SMA punya bakat menulis yang baik. Bahkan Linda, sangat bangga ketika Jason, yang waktu itu berangkat meninggalkan Kingston Pensylvania, menuju New York karena tulisannya di sukai oleh penerbit di New York. Namun hal tersebut, berbeda dalam kenyataannya. Jason tidak jadi berangkat ke New york untuk tulisannya. Ayahnya Mr. Sherwood, yang sering dijumpai oleh Linda di tempat ia Gym, karena mereka berdua adalah member Gym tersebut, melarang Jason untuk meneruskan keinginannya. Ayah Jason, Mr Sherwood, mengingkan Jason untuk menjadi pengacara dan melanjutkan studinya di bidang hukum. Sebagai guru yang baik dan mengetahui bakat yang di miliki oleh Jason, lantas Linda merasa, perlu menyemangai Jason yang sudah putus asa akan aktivitas yang tidak ia sukai. Linda pun menawarkan diri untuk membaca naskah ataupun skrip yang telah dituliskan dengan rapi oleh Jason. Pada hari lain mereka bertemu kembali, Linda pun mendapatkan keinginannya, yakni diberikan waktu untuk membaca naskah dari Jason, muridnya sewaktu di SMA. Hanya dalam semalam, Linda seakan mengesampingkan aktivitasnya, ia fokus dalam membaca tulisan yang di buat oleh Jason. Hingga di akhir tulisan, Linda terkesan dan tersentuh oleh tulisan Jason. Tulisan Jason, di anggap merepresentasikan masalah yang dialami oleh para remaja masa kini. Tulisan tersebut sangat menyentuh. Ketika mereka bertemu kembali, Linda menyampaikan kekagumannya dan kesannya terhadap tulisan Jason. Ia bahkan berniat untuk memproduksi cerita dalam tulisan tersebut untuk menjadi sebuah drama. Awalnya, Jason ragu, bahkan Jason sempat berfikir apakah ini hanya semacam motivasi saja dari seorang gurnya sewaktu SMA yang tidak mau melihat mantan muridnya putus asa? Ternyata, Linda yang mengetahui bagusnya tulisan Jason, juga memberikan tulisan ini kepada Carl. Pimpinan produksi drama SMA yang seringkali memproduksi dan menyutradarai drama SMA, dan tindakan tersebut adalah tindakan nyata yang dilakukan Linda. Bukan hanya menyukai dengan basa basi namun juga diperjuangkan. Selama bertahun-tahun tak memproduksi drama SMA, Carl merasa, tulisan Jason membawa suasana baru, suasana yang tidak dimiliki oleh cerita lain yang monoton dan membosankan. Mereka berdua (Linda dan Carl) membawa ide kepada pengelola sekolah. Sial, ide mereka di tolak. Para pengelola sekolah, menolak untuk mementaskan cerita yang ada di dalam tulisan Jason. Menurut mereka, cerita Jason tidak pantas di pentaskan di SMA. Karena di akhir cerita, ada adegan bunuh diri dari pemeran utama. Hal tersebut tidak pantas di pertontonkan yang dapat mengakibatkan pengaruh kepada anak SMA. Carl menganggap hal tersebut sah-sah saja, hal tersebut dapat disiasati dalam pementasan. Namun para pengelola bersikeras agar semua itu tidak di lakukan. Setelah perdebatan panjang, pengelola tetap pada pendiriannya. Jika cerita ini ingin ditampilkan dalam cara pementasan drama sekolah, pengelola setuju dengan syarat, menghapuskan akhir cerita atau membuat akhir yang baru. Carl, yang sudah lama tidak memproduksi drama mengiyakan. Hal itu kemudian ditentang Linda.

Seusai dari ruang pengelola, Linda melakukan protes, karena dengan menghilangkan akhir cerita, itu berarti menghilangkan keaslian dari karya tersebut. Apalagi, Linda paham betul, Jason tidak akan menyetujui hal tersebut. Carl pun berkilah, apa yang ia lakukan, semata hanya untuk meyakinkan kepada pengelola, meski pada kenyataanya, tak ada potongan cerita sama sekali di akhir. Semua akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada potongan. Hal itu ia lakukan agar tak lagi ada perdebatan dengan pengelola. Drama pun, bisa berjalan. Ia sudah sangat merindukan, bagaimana sebuah Drama sekolah berlangsung setelah sekian lama tak ada pementasan drama sekalipun di sekolah. Linda akhirnya memahaminya. Linda menemui Jason. Membicarakan hasil perbincangannya dengan Carl dan juga pengelola. Linda menyodorkan sebuah tawaran kontrak kesepakatan kepada Jason. Dalam hal ini Linda tidak memberitahukan kepada Jason segala perbicangan yang terjadi. Linda hanya memberitahu Jason, bahwa tuisannya akn dipentaskan dalam pentas drama. Jason, menandatangani surat tersebut. Pertemuan berikutnya, Jason diajak oleh Linda, untuk bertemu Carl. Carl sudah mempersiapkan para pemain yang akan memerankan beberapa tokoh dalam tulisan. Pemain-pemain tersebut ia peroleh dari hasil audisi di sekolah sebelum pertemuan mereka dilaksanakan. Pada sesi pertemuan pemain dan penulis ini, beberapa pertanyaan diajukan oleh para pemain. Ditengah  perbincangan salah satu pemain, mengatakan bahwa ide yang ditulis terlalu sederhana dan usang. Mendengar hal tersebut Jason tersinggung. Linda kembali menyemangati Jason, dan mengatakan bahwa apa yang sebenarnya dikatakan oleh pemain tersebut, hanya sabatas pertanyaan. Tidak perlu ditanggapi dengan sikap yang terlalu serius. jason melunak, dan mereka memulai latihan sebelum pementasan. Pada saat berlatih, ayah jason datang, meminta waktu kepada para pemain, Carl dan juga Linda untuk berbicara kepada Jason. Jason kepergok oleh ayahnya, yang tidak setuju Jason meninggalkan studi hukumnya dan lebih memilih proyek seni yang dibuat berdasarakan tulisannya. Diluar ruangan, ayah Jason membully jason dengan perkataan kasar, dan bernada mengancam. Linda yang melihat hal tersebut lantas melerai pertikaian itu. Mr Sherwood, ayah Jason, pergi meninggalkan Jason. Jason sedih. Linda mengajak Jason berbicara di ruangan guru Linda. Linda memberikan simpati kepada Jason yang sedang menangisi, perbuatan ayahnya terhadap dia. Begitu juga perbuatan ia terhadap ayahnya. Linda terus menyemangati Jason. 

Linda sedang memberikan bentuk ekpresi simpatinya kepada Jason dengan memeluk Jason. Namun, setelah memeluk Jason, Jason menengadahkan kepalanya menghadap Linda. Mereka lalu berciuman. Ciuman itu spontan dilakukan oleh Jason. Linda yang terkejut dengan ciuman tersebut, menjauhkan wajahnya dari Jason. Tak lama setelah itu, Linda membalas ciuman Jason, dan mereka bercinta (melakukan hubungan sex cepat) di ruangan Linda. Sadar akan perbuatannya yang salah, Linda yang setelah bercinta, tak pernah berhenti berfikir tentang apa yang baru saja ia lakukan. Ia nampak seperti pelacur yang tak tahu diri, yang bercinta dengan mantan muridnya di SMA. Sejak saat itu, Linda, memanggil Jason, dan berbicara padanya agar, hubungan yang sempat mereka lakukan, tidak berpengaruh kepada profesionalitas mereka dalam mempersiapkan pementasan. Untuk menjaga jarak tersebut, Linda meminta Jason, lebih fokus dan mereka berdua tidak saling berdekatan lagi. Ternyata, setelah berhubungan intim tersebut linda, mempunyai rasa yang lebih terhadap Jason. mantan muridnya. Halle, salah satu pemeran wanita yang ada dalam pementasan tersebut, menjadi korban dari Linda. Linda mengajaknya berbicara diruangannya. Linda menyampaikan bahwa Halle, tidak terlalu dekat dengan Jason agar tidak ada rasa yang nantinya berpengaruh kepada pementasan yang mereka akan lakoni. Padahal, Linda sebenarnya cemburu dengan Halle karena, lebih muda, lebih cantik dan sedang mendekati Jason. Tak sengaja ketika Linda pergi ke sebuah ruangan, Linda mempergoki jason dan Halle berciuman. Linda marah, dan memberitahukan kepada Halle, rekomendasi beasiswa yang akan ia dapatkan dicabut. Linda benar-benar terbkar cemburu. Meski ia tidak mau jujur untuk mengatakannya. Linda lantas mengatakan kata-kata yang kasar kepada Halle, ia membully Halle dengan mengatakan Halle Trashy, yang berarti sampah. Linda pergi meninggalkan ruangan tersebut. Jason berlari mengejar Linda dan memberikan penjelasan kepada Linda. Ia sudah terburu marah dan cemburu, hingga tak mau mendengarkan alasan. 

Bagaimana kelanjutannya? bagaimana juga dengan nasib pementasan yang akan dilakukan? Nonton sendiri ya! hahahahaha.

Jumat, 17 Mei 2013

Tentang nama I (baca; ai)

Perkenalkan nama I Ridhwan. Sebelumnya disini I gunakan kata I. Biar kamu bisa bebas, ya, mau mengartikan I itu saya, gue, aku, akyyyuuu, AQoeH, eke atau apa saja terserah. Apalah arti sebuah nama, begitu kata pepatah. Bagi I, nama itu berarti. Kadang I berfikir kenapa I di beri nama Ridhwan. Katanya, nama itu adalah doa atau harapan orang tua buat anaknya. Ada teman I ,namanya nurjannah, artinya cahaya surga, wuih. Firdaus, artinya surga paling baik. Rahman, Rohim, pengasih, penyayang. Lah I, Ridhwan. Penjaga pintu surga.

Apa mungkin waktu mau kasih nama gitu, orang tua I berfikir gini, pas I baru lahir, bapak I lihat I yang lagi nete, terus bapak I bilang ke mama I "mah, kita sudah beri nama anak kita ridhwan. Syukur mah, pintu surga sudah ada yang jagain buat kita. Anak kita. Si Ridhwan." Terus mama jawab, Alhamdulillah ya pak. Sesuatu." Tar-ntar itu kata syahrini. Bukan emak I dia. Kalo dia emak I, I netek ama Syahrini dong?

Kebayang gitu ya suatu saat di akhirat kelak. Ada orang yang melambaikan tangan. Manggil nama I. Ridhwan. Ridhwan. Siapa ya itu? Ini bapakmu nak. Oh bapak, sini pak masuk surga. Terus ada lagi. Ridhwan. Ridhwan. Ini mama nak. Oh mama, masuk surga. Ridhwan. Ridhwan. Ternyata dua orang. Oh itu adik-adik saya, masuk. Terakhir ada lagi. Ridhwan. Ridhwan. Eh siapa itu? Sambil memincingkan mata karena mata I dulu pernah minus, ini aku, Mantan kamu. Tiba-tiba I langsung galau. Langsung berdoa pada Tuhan. Ya Tuhan, apa yang harus I lakukan ya Tuhan. Bantu hamba ya Tuhan.  Kata Tuhan. Ridhwan, ini di akhirat, move on dong move on. Akhirnya dengan penuh kekuatan I mengatakan. Kita harusnya tidak bertemu lagi disini. Silahkan pergi dari depan muka I. Tiba-tiba ada orang yang narik tangan tu cewek. Dia bilang, sayang, udah ku bilang jangan lagi pergi ke dia. Mending kamu sama aku aja. Cewe itu pun di bawa sama dia. Nama cowok itu Malik. I pun akhirnya bahagia.

Namanya hidup ya, kita harus tetap bersyukur ya. Meski kadang sedih juga kenapa ya I diberi nama Ridhwan. Apakah orang tua I hanya ingin I jadi penjaga pintu surga saja, gak masuk surga? Tapi ya itu kita emang harus bersyukur. I bersyukur karena bukan cuma I yang diberi nama Ridhwan ternyata, banyak juga orang Indonesia yang diberi nama Ridhwan. Men, I gak sendirian men. Kadang juga I mikir, gila kalau orang-orang yang namanya Ridhwan se Indonesia di kumpulin rame-rame, kita udah bisa buat Laskar Ridhwan. Alias, laskar penjaga pintu surga. Itu keren banget men. Lebih keren daripada the avengers men.

Heran juga, kenapa ya banyak yang namanya Ridhwan. Saking banyaknya nama Ridhwan itu pasaran banget. Apa waktu itu pas mama I lagi hamil tua, terus bapak I pergi ke pasar beli belanjaan gantiin mamak gitu, terus ada yang jualan nama murah. Mari pak mari, dibeli, mumpung lagi murah. Buat calon anak, Ridhwan pak Ridhwan. Obral nama Ridhwan. Akhirnya bapak I beli satu nama, itu pun juga antri sambil desak-desakkan dan dapat. Terus pulang sambil bawa belanjaan bilang ke mama, ma tadi bapak beli belanjaan terus ada yang jual nama Ridhwan jadi bapak beli aja sekalian.

Nama itu memang penting ya. I anak pertama dari saudari-saudari I. Makanya sebagai anak pertama nama itu tidak terlalu penting. Yang penting dikasih nama. Untuk pembelajaran kalau mau jadikan anak lagi, lagi dan lagi.

Jadi anak pertama itu ada enaknya ada juga tidak enaknya ya. Enaknya kalau ada apa-apa selalu di dahulukan. Makan, duluan. Ada oleh-oleh dibagi duluan. Cobain nasi basi, duluan. Eh itu kan yang tidak enak ya. Tidak enaknya itu, anak pertama konon harus jadi contoh buat adik-adiknya ya. Kalau dia berhasil maka adik-adiknya juga ikut. Terinspirasi. Kalau dia gagal, atau nakal, dia disalahin kenapa jadi nakal dan gak boleh di contoh sama adik-adiknya. Tahu gitu dulu I ga usah minta adik aja ya, sama bapak sama mama. Lagian kalaupun I gak minta pasti mama atau bapak yang minta adik. Nasib.

Sebagai anak laki-laki paling ganteng di rumah I senang banget. Soalnya kalau kumpul bersama saudara atau teman ganteng I selalu tenggelam. Ya gak apa, hidup itu harus disyukuri. Karena setidaknya di keluarga I paling ganteng, saingan berat I juga paling poll ya bapak. Sayangnya bapak I ganteng. Makanya I bangga dengan status I sebagai anak laki-laki paling ganteng  bukan laki-laki paling ganteng di keluarga.

Sekian dari I. Sampai ketemu di surga. 

Rabu, 01 Mei 2013

Menanti hujan

Aku menyukai hujan. Aku suka diguyur hujan. Karena dalam hujan, tak ada orang yang tahu air mataku menetes karena sedih. Di dalam hujan, tak ada orang yang tahu, seberapa besar keringat yang mengucur atas kerja kerasku. Di dalam hujan, aku bisa memaki siapa pun tanpa ada yang tahu seberapa banyak air liurku membuncah dari mulutku. Hujan, tempat aku mengeluarkan segala rasa. Sekarang, sudah bukan musim hujan, haruskah menunggu hujan untuk mengeluarkan segala rasa?

Tuhan memang baik

Orang-orang seringkali berkata, Tuhan itu baik. Tuhan Maha baik. Bahkan tak jarang diantara mereka memberikan ekspresinya dengan berbagai bentuk. Tuhan memang baik?

Mungkin orang-orang yang menganggap Tuhan itu baik, karena setiap keinginan yang mereka minta pada Tuhan, selalu terkabul. Ya, terlepas dari, apakah dia berusaha lebih keras atas keinginannya atau berusaha biasa-biasa saja. Bagi mereka, Tuhan memang baik. Saya kadang berfikir, tanpa dikabulkan segala keinginan atau permintaan pun, Tuhan itu baik dan selalu baik. Buruk itu hanya datang dari prasangka kita yang menganggap Tuhan itu buruk, jahat, tidak adil, dan sebagainya. Coba ya, kita lihat, baik ke dalam diri kita sendiri, atau lihat disekeliling kita. Orang-orang disekitar kita, keluarga, sahabat, kenalan, orang lain, alam, binatang, segala hal di sekitar kita. Bukan sekedar dilihat. Setelah melihat, coba kita renungi, ya, memikirkan sejenak. Kita kan manusia yang jarang berfikir, jadi cobalah sedikit berfikir tentang hal ini. Ada orang yang taat sekali beribadah, bisa kita lihat dari sudut pandang agama kita masing-masing. Seperti saya, Islam misalnya. Ada seseorang yang seringkali ke masjid. Shalat atau entah apalah yang dia kerjakan. Kalau senin kamis, ia seringkali terlihat atau memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia sedang berpuasa. Orang ini, karena ibadah yang ia lakukan, mendapatkan kesuksesan yang berlimpah ruah. Rejekinya bagus, jodohnya cantik atau rupawan, meski dia tidak demikian. Hartanya melimpah dan suka melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan dalam bentuk harta, minimal dia tersenyum. Iya, minimal. Dengan kehidupannya yang seperti itu, belum lagi ia di posisikan mulia di antara orang lain di sekitarnya, menunjukkan bahwa Tuhan itu memang baik kan? Ia lantas selalu mengucapkan syukur. Ya, ucapan syukurnya kadang di dalam hati, kadang di media sosial atau kadang ia tuliskan sampai masuk ke media massa dan elektronik. Seisi dunia tahu ia bersyukur kepada Tuhan yang memang baik itu. Karena keinginannya di penuhi oleh Tuhan. Lantas, Tuhan memang baik bukan? Apa yang ia kerjakan, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tuhan menjadi baik, sekali, menurut dia.

Di sisi lain, ada orang-orang yang seringkali lalai. Ya, secara kasat mata, orang lain ke masjid, shalat berjamaah, dia asik sendiri di rumah. Main game, baca buku, menulis, bercinta (dalam arti yang sebenarnya) atau tertawa tawa dengan temannya. Diberikan kehidupan, ya minimal,  meski kecil tapi berharga, yakni nafas. Selain itu juga di berikan akal yang sehat, meski tak pernah di gunakan atau sedikit sekali digunakan. Paras cantik, ganteng, yang seringkali jadi alat pamer, juga kaya dan miskin. Dari segala kenikmatan ( katakan saja itu kenikmatan meski benar-benar nikmat) ia jarang beribadah. Tuhan memang baik bukan? Tuhan (tetap) baik.

Tak peduli, ia yang kafir, yang sholeh, yang jahat, yang baik. Diberikannya kebaikan. Tentu dalam kadar Dia. Lalu, bagaimana yang mendapatkan kesusahan setiap harinya. Sudah jelek, miskin, mau melakukan segala sesuatu, selalu saja tak pernah mulus. Bahkan ia sering berdoa, berkali-kali. Tapi tak kunjung dapat apa yang dia mau. Apakah Tuhan tetap baik? Jawabannya ya tetap baik. Karena, baik dan buruk ada dalam prasangka kita terhadap Tuhan. Orang yang ingkar dan lalai, dapat kebaikan dari Tuhan, orang yang taat pun dapat kebaikan dari Tuhan. Tuhan memang baik.

Nah, mulai sekarang, marilah kita berprasangka kalau Tuhan itu mrmang baik. Meski kita merasa seakan dan seolah-olah mendapatkan kehidupan yang tidak adil, dipermainkan, hina dan sebagainya. Tetaplah berprasangka Tuhan itu baik. Kalau memang tak mau berprasangka demikian, silahkan menganggap Tuhan itu tidak ada. Meski anggapanmu itu hanya ada di pikirannu. Tuhan itu tetap ada, dan baik.