Minggu, 26 Mei 2013

Gempa Jogja 7 tahun yang lalu

Masih pagi sekali waktu itu. Dingin, dan masih berkabut. Saya bersama teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan Senior Course HMI cabang Jogja, baru selesai menunaikan ibadah shalat subuh. Baru dua hari saya mengikuti pelatihan itu, yang sebenarnya berdurasi enam hari. Pelatihan yang merupakan syarat agar seseorang bisa memandu dan menjadi pemateri di latihan kader yang diselenggarakan oleh HMI. Selepas subuh, saya masih terjaga. Semalam suntuk kami berdiskusi, menerima materi dan mengerjakan beberapa tugas rutin selama pelatihan. Karena konon, pamali kalau langsung tidur selepas subuh, jadi dengan mata terkantuk-kantuk dan sedikit pusing di kepala, juga lapar di pagi hari, saya mengambil sebuah buku untuk saya baca. Saya tidak ingat judul buku apa waktu itu, yang jelas buku itu tentang kepemimpinan. Lembar demi lembar saya baca, tanpa terasa langit di luar rumah pada pagi itu mulai memerah. Mulai sedikit hangat karena sinar matahari, tapi masih terasa hawa dinginnya. Beberapa teman saya sudah tidur di lantai dengan pulasnya. Ya, waktu itu memang tidak ada kasur yang menjadi alas tidur kami. Itu sudah merupakan bagian ketentuan dari panitia pelaksana. Pengecualian hanya pada kader HMI, yang juga peserta cewek, juga panitia cewek. Ada juga teman yang masih asik mengobrol, entah sisi dunia mana lagi yang mereka perbincangkan. Negara Indonesia kah? Negara luar bahkan bicara tentang peradaban hingga filsafat. Seorang teman sempat menawarkan kopi panas saat itu. Namun saya berfikir, kalau di pagi hari, dengan kondisi belum tidur yang cukup, lantas saya memilih meminum kopi, akan semakin membuat mata terbelalak dan terjaga untuk waktu yang lebih lama lagi. Apalagi durasi pelatihan yang masih lama, tersisa empat hari lagi. Kondisi tubuh saya bisa drop, kemungkinan sakit akan lebih besar. Hasilnya saya gagal mengikuti pelatihan dengan baik. Saya putuskan untuk menolak ikut minum kopi, dia berlalu ke teras depan.

Kadisoka. Ya, itu nama daerah tempat kami menjalani pelatihan. Lokasinya di bagian utara sleman Yogyakarta, namun sedikit menjorok ke arah timur dari stadion maguwoharjo. Kami menyewa sebuah rumah yang mirip pendopo dari alumni HMI. Tempatnya luas untuk berdiskusi dan memang sering dijadikan tempat kegiatan HMI. Selain luas, nyaman, tempat tersebut juga jauh dari keramaian, lebih tenang. Saya mengambil buku tentang kepemimpinan yang saya pinjam di perpustakaan kampus saya, fakultas ekonomi UII. Lantas karena masih ngantuk, saya mengambil posisi di salah satu sudut ruangan dekat teras rumah. Selain hangat dan tidak terlalu dingin, saya juga jadi bisa bersandar di dinding rumah sambil membaca buku. Kalau posisi membaca buku saya waktu itu tidur, saya bisa jadi tertidur dan itu tidak baik. Maka saya pun bersandar dan menjulurkan kaki lalu memangku buku di bahu, tangan saya dilipat hingga hanya satu telapak tangan saya, tangan kanan, yang membiarkan buku tetap terbuka untuk di baca.

Hampir setengah jam, sambil melihat jam di handphone ericson saya, saya telah membaca beberapa lembar buku. Mata saya mulai terasa berat. Salah seorang teman saya yang terbangun dari tidurnya sementara, ia melihat saya sedang asik membaca buku di samping posisi ia tidur. Ia berkata " dah wan, jangan terlalu dipaksa. Tidur aja dulu bentar." Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu dia kembali melanjutkan tidurnya dan memperbaiki posisi tidurnya yang semula terlentang jadi miring ke kanan dengan tangan kanan sebagai bantal di pipinya. Badannya meringkuk. Tidur pulas dia. Saya pun mulai menimbang usulannya. Saya sudah mengantuk dan tak tahan untuk tetap terjaga, bahkan waktu membaca kadang saya tertidur sebenta,r terus kaget, terbangun dan lanjut membaca lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk meletakkan buku disamping tas kecil saya, mengambil handphone disamping dan mencoba mendekatkannya agar lebih dekat dengan saya. Sebelum tidur sudah saya buatkan dering alarm jam 7 pagi. Jam 8 kami sudah harus mandi dan bersiap menerima materi lagi. Waktu itu jam handphone masih menunjukkan pukul 05.00. Dari posisi duduk bersandar dan kaki yang berslonjor, posisi badan saya berubah jadi tidur. Saya masih belum bisa menutup mata meski sudah ngantuk. Banyak pikiran dan pertanyaan masih melintas. Tubuh saya sekarang terlentang dengan kedua tangan tersilang dibawah kepala. Lama kelamaan, pandangan saya gelap. Saya tertidur.

Baru saja rasanya saya merasakan tidur yang nikmat itu, saya lalu bertemu dengan seseorang. Wajahnya tidak jelas. Tapi dia berbusana putih, terang sekali tubuhnya. Dia memegang tangan saya. Dia bilang " yuk ikut saya!" Saya jawab " mau kemana? Saya lagi ikut pelatihan. Enggak, ah kamu aja yang pergi, saya mau disini saja." Orang itu ngotot dan ngeyel tetap mau mengajak saya pergi dengan cepat. Saya tak mau kalah, tetap ngotot juga, untuk menolak. Tiba-tiba saya dengar teriakan teman di sebelah saya. Ia berteriak kencang sekali. "Allllaaaahu akbar. Alllaaaahu akbar." Saya kaget, terus terbangun dari tidur. Lalu dia teman saya itu lari melangkahi tubuh saya yang tiba-tiba saja sudah dalam posisi sebelum tidur tadi. Setengah duduk. Dengan pandangan mata yang masih samar-samar, saya mendengar teman saya itu berteriak. Terus dia bilang " Gempa! Gempa!" Saya masih belum mengerti apa yang dia maksud, tapi karena melihat teman saya berhamburan lari ke depan teras rumah  saya pun ikut panik. Bahkan teman saya itu, menarik tangan saya hingga terseret dari posisi setengah duduk jadi berdiri. Entah kekuatan apa yang baru saya dapatkan, dari posisi duduk, saya langsung lompat. Dengan kondisi seperti itu, masih mengumpulkan nyawa dan tiba-tiba harus berdiiri bahkan lari, saya pun terjatuh.

Di depan teras, ada 4 anak tangga kecil yang harus dilewati sebelum sampai ke halaman rumah. Saya menginjak anak tangga teratas dan langsung melompat menuju halaman rumah. Teman saya itu sudah sampai di halaman rumah. Dan kamu tahu? Saya tidak dalam posisi berdiri. Saya terjatuh. Dua kali saya berusaha berdiri. Tapi tidak bisa. Guncangan itu begitu kuat. Saya berdiri lagi. Sama saja, saya jatuh. Lantas teman yang melihat saya membantu saya berdiri, menarik saya agar tidak terlalu dekat dekat atap. Jangan sampai kejatuhan atap rumah. Selamat. Saya sampai di halaman rumah. Ketika saya menengok ke belakang, plafon rumah yang terbuat dari kayu itu runtuh bersamaan dengan genteng rumah yang terbuat dari bata. Kejadian itu begitu cepat. Namun, guncangan itu belun juga usai. Teman-teman dan kakak pemandu, histeris. Mereka ada yang berteriak "Allahu akbar, Astagfirullah, La hawlawala quata illa billah" dan macam-macam ucapan lain. Saya melihat sekeliling, kebanyakan teman sudah keluar. Para warga yang tinggal di sekitar rumah tempat pelatihan juga pada keluar rumah. Bahkan maaf, ada seorang tetangga wanita, berusia kurang lebih 25-30an keluar dari kamar mandi dengan handuk dan kepala yang masih dihiasi busa shampo. Ia menjerit histeris, dan raut wajahnya begitu ketakutan.

Akhirnya guncangan itu berhenti. Kami saling menatap satu sama lain di halaman rumah. Sembari menunggu reda guncangan yang kadang masih ada walau lebih kecil frekuensi getarannya. Satu persatu kami masuk kembali ke dalam rumah untuk mengecek barang dan kondisi teman yang lain. Saya yang waktu itu juga ketakutan langsung masuk mengambil handphone saya. Karena cuma itu harta berharga saya ketika itu. Ternyata aman. Meski disampingnya terdapat reruntuhan kayu dan juga genteng. Ternyata, sang pemilik rumah, terluka akibat reruntuhan rumah. Kepalanya berdarah, mengucur deras sekali. Beberapa diantara kami membantu ibu tersebut, lainnya membersihkan puing-puing reruntuhan. Sekitar sepuluh menit berselang kami mulai berbincang. Saya kembali ke halaman rumah tempat teman saya sedang berkumpul. Sambil sesekali mengambil gambar reruntuhan dari kamera handphone saya. Tak lama kemudian saya lihat seekor ayam tiba-tiba lari ke atas pohon di depan rumah. Ia naik tinggi sekali, terus ia berkokok. Kami yang ada disitu, heran. Dan benar saja dugaan saya, ternyata itu adalah signal alam, binatang lebih tahu apa yang akan terjadi. Guncangan itu kembali datang. Gempa itu datang, sedikit lebih kencang dari yang pertama. Tapi durasinya lebih cepat. Seorang teman spontan memeluk pohon agar tidak terjatuh. Yang lain langsung mengambil posisi jongkok. Saya? Hanya berdiri komat-kamit baca mantra. Pikiran saya melayang, apakah ini kiamat? Nyatanya tidak. Kami semua bersama warga disana trauma. Selama sejam lebih tak ada lagi yang masuk rumah. Semua masih diluar. Sambil berbincang, agar melupakan kejadian barusan. Ada juga yang bahu membahu membantu warga laun membersihkan puing-puing bangunan. Setelah lama tak ada guncangan, saya langsung terbesit satu nama. Cewek, Titin namanya. Dia adalah cewek yang dekat dengan saya, saya menganggap dia sebagai kakak saya di Jogja. Ia sering berbagi cerita dengan saya, meski awalnya kami beemusuhan secara organisasi. Saya mencoba menelpon dia. Ternyata tidak bisa, tidak aktif. Saya sms, pending. Sinyal di hape tidak stabil. Mungkin efek dari gempa. Salah satu teman memutar radio dari hapenya. Kami berkumpul mendengarkan berita, hanya satu radio yang mengudara, entah radio apa saya lupa. Ia menyiarkan bahwa memang terjadi gempa di seluruh Jogja, yang paling parah di daerah selatan. Bantul.

Kondisi sudah normal, tiba-tiba ada beberapa orang lari. Berteriak-teriak. Air sudah dekat, sambil memacu sepeda motor. Ada juga yang bilang tsunami-tsunami. Seketika, warga sekitar dan kami para peserta panik. Saya melihat orang-orang berduyun-duyun lari. Ada yang di dorong kursi roda. Ada yang naik mobil sampai penuh isi mobilnya. Ada yang lari, ada yang berboncengan sampai empat orang. Semua panik. Isu tsunami sudah sampai di telinga kami semua. Beberapa peserta sudah pasrah. Saya pun ikutan lari, tapi sambil berfikir, apa beneran tsunami? Sambil membatin, saya bilang, ya sudah kalo ini memang tsunami, biarlah kalau sudah ajal ya sudah. Saya lalu mengetikkan sms di handphone saya, bilang kepada orang tua saya. Isinya kira-kira begini:
Assalamualaikum. Pa bos, mama, maafkan segala kesalahan dan dosa abang karena banyak buat dosa. Semoga kita berjumpa di lain kesempatan. Wassalamualaikum.
Sms itu saya kirimkan, pending, bahkan gagal.  Lama saya berdiri, dengan tas yang berisi buku dan baju saya, menunggu datangnya tsunami. Tapi lama, tak kunjung datang. Semua itu hanya isu. Saya hanya bisa menggerutu dalam hati, dan senyum-senyum melihay sms tak terkirim tadi. Setelah kejadian itu barulah signal handphone mulai normal. Sms yang saya kirim ke mbak Titin masuk dan ia balas ia baik-baik saja. Ia bahkan menanyakan balik keadaan saya. Setelah itu, pa bos menelpon karena melihat informasi di televisi atas parahnnya gempa Jogja. Saya dan teman-teman tidak tahu banyak, karena kerusakan disekitar kami, tidak begitu parah. Pelatihan kami dipeecepat, yang seharusnya enam hari menjadi empat hari. Kondisi dan situasi gempa membuat banyak diantara para pemateri pelatihan lebih mencemaskan rumah dan keluarganya daripada memilih mengisi materi di pelatihan yang kami adakan. Hingga selesainya pelatihan 2 hari kemudian, saya bersama teman pulang ke kos masing-masing dan melihat bahwa memang terjadi kerusakan dahsyat di daerah bantul. Rumah-rumah rata dengan tanah. Ribuan korban terenggut. Ratusan kepala keluarga bersedih, mereka juga terisolasi dan kelaparan. Sebagai mahasiswa ketika itu kami yang memilih tetap tinggal diantara teman kami yabg disuruh pulang kampung oleh orang tua masing-masing, memilih membantu para korban sebisa kami. Kami kumpulkan pakaian, makanan, hingga membuat posko gempa. Syukurnya karena kepedulian nasional, banyak bantuan datang. Kami akhirnya jadi relawan yang menyalurkan bantuan.

Kejadian gempa 7 tahun lalu itu benar-benar akan saya ingat sepanjang hidup saya. Begitu menegangkan dan menyeramkan. Saya yakin orang-orang yang selamat dan ikut merasakan gempa, punya cerita masing-masing dan pengalaman tentang gempa. Panik itu pasti. Karena waktu itu kami semua masih belum lepas dari ingatan kejadian aceh yang berawal dari gempa dan di lanjutkan dengan tsunami. Sehingga ketika ada isu tsunami semua orang disini panik. Apalagi isu yang beekembang juga ketika itu, akan keaktifab gunung merapi yang juga baru saja meletus di tahun 2005. Jadilah tahun 2006 itu tahun yang kelam bagi orang jogja dan mahasiswa yang ada di Jogja. Sebuah kenangan yang takkan mudah dilupakan. Sekarang, Jogja sudah semakin maju. Mereka bangkit dari bencana, memulihkan diri dan menjadi semakin terbuka dengan perubahan. Jogja memang istimewa, istimewa di hati. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar