Minggu, 26 Mei 2013

Pintu Harmonika

Pintu Harmonika. Beberapa hari yang lalu, hari Jumat tepatnya, saya pergi ke bioskop. Awalnya saya ingin menonton Film terbaru dari sekuel Fast & Furios. Siang menjelang sore, saya pergi bersama Rina. Kami memesan tiket di tempat penjualan tiket, dan wow, tiket film tersebut habis terjual. kalaupun ada, duduk di barisan paling depan. Paling depan? kalau shalat berjamaah si oke-oke saja saya mau untuk memilih tempat paling depan, kecuali Rina, dia mungkin akan memilih paling belakang. Masalahnya barisan paling depan menonton film itu, sudah tidak ada kebaikannya, keuntunganya, dan kenikmatannya, yang ada hanya membuat leher jadi sakit, mata molotot, tidak dapat menikmati Film sama sekali. Kemudian saya mulai beralih ke studio lain, melihat judul-judul film lain yang menarik untuk di tonton. Terpilihlah sebuah Film Indonesia diantara beberapa FIlm Indonesia yang sedang tayang, seperti, Cinta Brontosaurus, Optatissimus, jangan menangis Sinar. Saya memilih pintu harmonika. Sebelum film ini tayang, saya sudah pernah membaca bukunya. Di buku tersebut, kisah antara Rizal, Juni dan David, begitu seru. Di buat seru oleh penulisnya. Kisahnya sederhana, tentang Tiga orang anak dari penghuni Ruko, yang sama-sama menemukan sebuah lokasi yang mereka sebut sebagai surga. Mengapa mereka sebut surga, karena di sebuah tanah lapang, yang disana, tumbuh beberapa rerumputan dan terdapat bangunan yang agak tua, mereka meluangkan waktunya dengan Positif. Rizal misalnya, lebih suka menghabiskan waktunya untuk menulis dalam blog, bercengkrama dengan temannya di facebook, twitter dan BBMan. Juni, dan david, meluangkan waktunya dengan membaca buku dan komik. Komik yang sering mereka baca bersama, buku-buku detektif, khusunya komik Conan, sang detektif cilik yang terkenal itu. 

Rizal, anak SMA, yang punya hobi ngeblog. Dalam blognya Rizal memperkenalkan diri sebagai anak orang kaya yang kerjaannya setiap minggu travel ke beberapa negara. Hobbinya keluar negeri, begitu ia tulis. Karena aktif menulis dalam blog, Rizal terkenal di sekolahnya, digandrungi cewek-cewek, punya banyak fans dan selalu diberi kado oleh para fansnya di sekolah. Selain itu Rizal juga menjadi selebtwit, karena hobinya menulis blog. Dia pun menyebut dirinya seorang blogger. Rizal juga merupakan seorang cowok yang punya pandangan bahwa cowok berotot, itu juga harus punya otak yang cerdas. Suatu waktu Rizal, dipanggil oleh gurunya, terkait nilai Rizal yang jelek. Rizal diberi keringanan, jika saja ia mau dan berhasil membantu Cyntia, ketua grup dance yang ingin mengikuti sebuah kompetisi dance dalam mengumpulkan dana. 

Rizal pun berkenalan dengan Cyntia, gadis, yang dalam pandangan Rizal, bak bidadari, jutek, tetapi selalu saja mengetuk hatinya. Mereka memulai upaya mengumpulkan dana, salah satunya dengan ide Rizal yang menjual kue malaikat. Kue Malaikat itu dibuat oleh tetangganya, Imelda, yang juga merupakan Ibu dari David. Rizal yakin, kue itu akan laku karena kue itu memiliki rasa yang unik. Dalam beberapa minggu mereka hampir memenuhi target dalam pengumpulan dana. Rizal yang tak kehabisan akal, juga menggunakan kepopulerannya, dengan mengadakan lelang dinner bersama Rizal. Cyntia, mulai bertanya-tanya, dengan ide itu. Ia menganggap, Rizal terlalu percaya diri, menganggap dirinya terkenal. Rizal, sebagai cowok yang tidak ingin begitu saja di cibir oleh Cyntia lantas menantang Cyntia untuk melakukan pencarian, siapa itu Rizal. Rizal berkata" Google me!" kepada Cyntia. Selain untuk mengumpulkan dana, Rizal juga sebenarnya punya niat lain, agar ia dapat dinner bersama Rizal. Rizal tinggal di sebuah ruko bersama ayahnya. Mereka berasal dari medan, mereka pindah ke ruko tersebut, bertiga bersama ibunya. Sayangnya, Ibu Rizal, telah meninggal karena sakit. Jadinya Rizal hanya tinggal berdua dengan bapaknya. Suatu saat, ayah Rizal jatuh sakit. Rizal yang tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya, memilih untuk tidak masuk sekolah dan membantu ayahnya dirumah. Pada saat ayahnya menyuruh Rizal untuk membawa gas pesanan tante Imelda, tak disangka, Cyntia lewat di depan rumahnya dan memergoki Rizal, sedang membopong tabung gas 12 Kg. Sejak kejadian itu, Cyntia tau, bahwa Rizal bukanlah anak orang kaya, seperti yang selama ini sering ia kemukakan di blognya, twitter, bahkan facebooknya. Begitu juga dengan kebiasaannya pergi ke luar negeri bersama bapaknya setiap minggu. Rizal merasa bersalah, dengan Cyntia. Belum lagi rasa bersalah itu usai, di dunia maya, blog, twitter, facebook ia di bully oleh para pengikut setianya, yang tidak menyangka Rizal telah melakukan kebohongan besar hanya untuk sebuah pencitraan diri yang semu. Hal ini berdampak pada program dia dan Cyntia dalam menggalang dana, Rizal akhirnya meminta maaf atas hal tersebut. Selain pada Cyntia, ia menyampaikan maafnya, juga pengakuan atas dirinya selama ini, lewat blognya. Dengan besar hati ia menerima segala cacian, ia juga tahu bahwa apa yang dilakukan sudah membuat rasa kepercayaan orang kepada dirinya menghilang. Namun, Rizal tetap percaya diri, dan akhirnya ia di maafkan oleh Cyntia dan juga para pengikutnya di Blog. Penggalangan dana mereka pun berhasil. 

Rumah Rizal bersebelahan dengan Juni dan David. Juni, anak SMP, yang belakangan ini sedang menjalani masa Skors dari sekolah selama lima hari. Hal ini ia dapatkan akibat dari perbuatannya yang memukuli sekelompok anak baru (adik angkatannya) yang pecicilan di sekolahnya. Geram dan mencoba mengingatkan perilaku mereka, Juni, malah di tantang oleh adik kelasnya itu. Juni yang terbakar amarah lantas memukul gadis tersebut, Manda namanya. Setelah kejadian itu, ternyata berdampak pada kehidupan keluarganya. Ayah Juni, gagal mendapatkan orderan dari kliennya. Klien yang baru saja memesan sepuluh lusin orderan baju untuk di sablon ternyata adalah ayah Manda. Karena ulah Juni, yang menyebabkan Manda harus dirawat dirumah sakit, membuat ayah Manda membatalkan pesanan yang sedang dikerjakan oleh ayah Juni. Hari-hari skors Juni, ia sebut sebagai Penjara. Ia tak boleh pergi kemana-mana, tanpa sepengetahuan dari orang tuanya. Juni mempunyai adik, namanya Diba. Adik Juni tak serajin Juni, apalagi dalam hal belajar, Diba lebih suka bermain daripada belajar. Itu sebabnya Diba, selalu mendapatkan nilai jelek ulangan matematika. Juni mengenal Rizal, di Surga. Mereka seringkali bertemu disana. Belakangan, setelah di skors, mereka jarang bertemu. Hanya kalau ada waktu dan kesempatan untuk kabur, barulah Juni pergi ke Surga. Menjalankan aktivitasnya. Di Surga jugalah, Juni diajarkan bela diri oleh Rizal. Rizal yang sangat menyukai Bruce Lee, mengajarkan bela diri, JUN FANG GANG FU, begitu bela diri itu dinamakan oleh Rizal. Bela diri itu diajarkan, karena sebelumnya, Juni di bully oleh teman sekolahnya. Tak tega melihat teman yang sudah dianggap adik olehnya selalu di bully, Rizal melatih Juni bela diri. Sayangnya, Juni baru menyadari bahwa bela diri yang ia pelajari itu ternyata dikemudian hari ia jadikan sebagai alat untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang dulu pernah ia rasakan. Bullying.

 Hari-hari Juni, dirumah ia habiskan dengan membantu orang tua, mulai dari membersihkan rumah, membantu Diba belajar, hingga membantu mengerjakan orderan sablon ayahnya. Suatu ketika, karena DIba sakit, Juni salah menyablon pesanan yang akan diambil dalam waktu 2 jam mendatang. Ayahnya marah kepada Juni. Juni yang merasa bahwa dirinya tidak bersalah karena, sebelumnya ibu Juni memberitahukan bahwa letak desain sablon ada di dekat meja, sudah benar ia lakukan. Ternyata ada amplop lain yang merupakan desain yang seharusnya di sablon oleh Juni. Mereka pun terlibat dalam pertengkaran antara ayah dan anak. Melihat situasi tersebut, ibu Juni, melerai pertengkaran mulut tersebut, karena seharusnya mereka berada disisi Diba yang sedang sakit, bukan malah bertengkar. Juni, yang selama ini tidak tahu bagaimana kondisi ayahnya kemudian menyesali perbuatannya. Ia baru tahu belakanga, bahwa ternyata ayahnya sedang dalam kesulitan ekonomi. Satu-satunya harapan untuk bangkit dari ekonomi yang buruk, telah di gagalkan oleh Juni, yang memukul klien tersebesar mereka. Ayah Juni akhirnya kehabisan akal dan dengan terpaksa menjual Ruko yang mereka tinggali dan juga beberapa mesin dan alat sablon. Miris akan hal tersebut, Juni meminta maaf atas segala kesalahannya, hingga akhirnya hubungan ia dan ayahnya menjadi baik. Setelah menjalani hari-hari yang tidak menyenangkan di rumah, yang ia sebut sebagai penjara, Juni, kembali ke sekolahnya. ia langsung mendatangi Manda dan meminta maaf atas kejadian yang telah berlalu. Mereka pun saling memaafkan.

Selain kisah Rizal dan Juni, dikisahkan juga kisah David. David adalah anak dari Imelda. Seorang pembuat kue yang tinggal di sebelah rumah Juni. David tinggal bersama ibunya, imelda. ia ditinggalkan oleh ayahnya, sejak di dalam kandungan, karena ayahnya adalah seorang penjudi dan suka main perempuan. David masih duduk di bangku SD. Selain sekolah dan meluangkan waktu dengan membaca buku-buku detektif Conan di surga, david juga ikut les piano. David, sangat menyukai hal-hal yang berbau detektif. Ia bahkan yakin bahwa ia sebenarnya mirip kisah detektif Conan, dimana ia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak kecil. Di surga, David selalu dilibatkan dalam kejadian-kejadian yang misterius. Salah satunya ketika ada sebuah plang di Surga, Dijual, Rizal dan Juni memberikan tugas kepada David untuk mencari informasi dan mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya atas kejadian tersebut. David sangat menyukai tugas tersebut. Belakangan, David tidak diikut sertakan dalam PIA operation, operasi yang ingin menggagalkan upaya penjualan Surga mereka. Hanya Rizal dan Juni yang melakukan operasi tersebut. Surga itu, akhirnya di beli oleh tante Imelda. Alasanya, setelah membaca tulisan mengenai laporan singkat asal-usul Surga. David, meninggal karena sebuah kecelakaan. Ia ditabrak oleh sebuah motor. Kejadian tersebut membuat Imelda terpukul, dan belum bisa melupakan David. Setelah berhari-hari, karena David juga lah Imelda akhirnya mampu menerima kepergian David. 


Menonton Film Pintu Harmonika ini, memang beda sekali dengan membaca buku Pintu Harmonika. karena bagi saya, benang merah yang menghubungkan cerita antara Rizal, Juni, dan David adalah cerita seru tentang Surga mereka. Dalam film, cerita berkembang hanya pada sisi Rizal sebagai satu orang yang diceritakan, begitu juga Juni, dan david. Sehingga Film ini memberikan kesan, cerita tersebut, terpisah-pisah. Tidak menjadi satu kesatuan. Padahal, kalau kita baca dalam novelnya, hubungan dari ketiga tokoh tersebut sangat erat, dan mereka dipertemukan di Surga. Konflik yang muncul, karena ada pihak yang menjual surga pun, tidak disajikan di dalam Film. Jadi selama, nonton film Pintu Harmonika, saya hanya terkesan pada cerita yang disajikan di awal, yakni cerita Rizal. Saya menunggu-nunggu setelah kisah Rizal, mana nih, Surganya. Karena, jujur saya merasa penasaran sekali dengan kegiatan mereka. Ternyata hingga akhir, Surga itu tak muncul sama sekali. Sehingga saya merasa bosan yang teramat sangat di dua bagian film terakhir. Apalagi pada FIlm David dan Juni, yang tidak secara terang dijelaskan bagaimana sebenarnya kisah mereka. Sebenarnya di cerita Rizal juga sih, bagaimana ia terkenal jadi blogger, bagaimana ia menjalani hari tanpa ibunya yang meninggal. Ada banyak hal yang hilang menurut saya. Jadi, saya sempat berfikir, apa mungkin, itu memang sudah darisananya dibuat begitu, sehingga para penonton yang menonton bertanya-tanya, atas cerita film dan membeli buku biar mendapatkan cerita yang utuh? mungkin saja. Tapi bagi saya, mungkin, yang tidak minat sama sekali membaca, hanya menonton, film tersebut, pasti akan, membingungkan dalam mencerna cerita yang disajikan dalam film tersebut. Untungnya, saya sudah membaca buku tersebut, jadi saya tidak perlu bingung. Hanya saja saya mengantuk nonton film tersebut. Sama halnya Rina, yang saya lihat raut wajahnya ketika menonton, selalu berkerut tanda ia bingung sama jalan cerita Film tersebut. 

Oh iya saya nonton film tersebut, dengan kondisi penonton cuma enam orang saja. hahahaha, sepi ya? Andai saja film tersebut sebagus bukunya, mungkin sih bisa lebih rame, mungkin, Semoga saja sih penontonnya bertambah, semoga. hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar