Jumat, 26 April 2013

Aku (sudah biasa) sendiri

9 tahun merantau, jauh dari rumah orang tua, jauh dari keluarga, juga sahabat lama, telah membuatku terbiasa dengan kesendirian. Biasa melakukan segala hal sendirian. Berdiam diri seorang diri, merasa sendiri, sepi, sunyi, bahkan seperti tak berarti. Meski nyatanya, aku tak pernah dibiarkan sendiri. Selalu saja ada yang menemani, walau hanya seekor nyamuk, yang itu pun jika ia tak malang di makan oleh cicak di dinding. Tapi bagaimana dengan kedua adikku? Yang terbiasa hidup bersama, dengan kedua orang tua, dengan keluarga lainnya, dengan sahabat-sahabatnya? Akankah mereka kuat dalam menghadapi kesendirian? Merasa sepi, sunyi, bahkan berteriak pun dianggap gila, ditinggal, tak dihiraukan. Sejatinya memang kita tak sendiri, ada Tuhan, ada dua malaikat yang selalu mencatat perbuatan, disisi kanan dan kiri. Ada jutaan setan, ada iblis, yang selalu menggoda kita, juga ada malaikat kematian yang selalu membuntuti, menunggu menepati waktu, menjalankan tugasnya atas kita. Kita? Ya, kita. Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita.

Tak ada manusia didunia ini yang mampu hidup sendiri. Atau paling tidak betah sendirian. Sampai sekarang aku terus berfikir dan berfikir. Lalu aku menulis, agar waktu sendiriku berlalu cepat tanpa sadar hingga ada yang menemaniku. Adik-adikku, bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian siap? Aku yakin kalian siap. Meski aku berharap kalian akan lebih siap dan tak sepedih aku dulu, menjalani hari-hari kesendirian yang berat dan kadang menyiksa. Inilah jalan hidup kita, jalan yang telah menjadi bagian rencana sang Maha Kuasa. Adik-adikku, jangan merasa sendiri, ada aku, abangmu, yang sudah terbiasa sendiri. Datanglah padaku, kurangkul kalian, lalu kita tertawa seperti biasa.

Teruslah bermain hingga berhenti

Berdiri aku diantara langit dan bumi. Tegak, dengan kepala menantang menghadap ke atas. Merasa dipermainkan oleh Tuhan, aku menatap langit, jauh, mencoba melawan sinar matahari. Mataku tak kuasa menahan. Telah ku siapkan liur terbusuk dari mulut ini, ingin ku ludahkan pada Dia yang konon bersemayam di atas langit sana. Sia-sia. Liur busuk itu, jatuh, tepat dimuka ku. Bau. Semakin marah aku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku berfikir, mengapa aku berani melakukan ini? Bukankah aku seringkali mempermainkan perintah Tuhanku? Meremehkan bahkan menyia-nyiakanNya? Lantas kenapa aku marah kepadaNya? Permainan, dibalas dengan permainan. Aku mempermainkanNya dengan caraku.Dia mempermainkan kehidupanku dengan caraNya. Apa yang salah? Mengapa aku tak bisa bersikap adil atas semua permainan ini? Apakah karena Dia sebegitu Maha besarnya dibandingkan aku yang kecil bak aku melihat debu ditanah? Lantas kenapa juga aku yang sadar atas kekerdilan tubuh ini masih juga berani melawanNya. Karena, aku, manusia. Bukan malaikat. Bukan juga iblis. Tapi, sebentar, bukankah Iblislah satu-satunya makhluk yang berani menentang TuhanNya? Benarkan? Iblis kan? Hanya iblis?
Akhirnya aku tersadar, aku bukan lagi manusia, aku telah berada dalam golongan iblis, budak iblis, hamba iblis, yang lemah dan hina. Aku kemudian bertekuk lutut, takluk, dan menjatuhkan kepalaku ke tanah. Meski tak ada tanda air mataku yang jatuh walau sebulir. Mungkin aku masih marah, mungkin juga, aku masih belum menjadi manusia kembali. Manusia, yang punya rasa sedih, lalu menangis. Manusia, yang punya rasa takut, lalu berlindung. Manusia yang punya rasa lemah, yang selalu meminta kekuatan. Manusia, aku bukan manusia. Meskipun aku saat ini menulis, aku tak yakin, aku bukan manusia, atau masih manusia.

Aku pergi, berlalu, setelah banyak debu di jidatku. Tak ku seka, ku biarkan menempel. Bukankah kotornya debu yang menempel masih lebih suci daripada jiwaku, perbuatanku? Aku pergi, aku berlalu. Entah kemana aku pergi, dunia ini bukan milikku. Terpaksalah aku, mengikuti permainanNya. Hingga aku berhenti sampai disini.

Senin, 22 April 2013

Negeri Para Bedebah

Thomas, seorang konsultan keuangan terkenal baru saja pulang ke Indonesia dari seminar keuangan yang diikutinya bersama dengan para konsultan keuangan dunia, tiba-tiba mendapat kabar penting dari keluarganya. Tante Liem, istri om Liem, yang sejak kecil membantu merawat Thomas, selepas meninggalnya kedua orang tuanya, jatuh sakit. Thomas yang sudah sangat lama tidak bertemu dengan Tante Liem, dengan berat hati, pergi untuk menemui beliau yang sedang terbaring di rumah. Rasa berat hati Thomas disebabkan karena ia harus beretemu dengan Om Liem, orang yang paling tidak ingin ia temui selama ini setelah kejadian besar yang di hadapi oleh kedua orang tuanya. Setelah thomas menjenguk Tante Liem, ia pun menjadi tahu apa penyebab jatuh sakitnya Tante Liem. Tante Liem jatuh sakit, karena mendengar kabar, akan bangkrutnya Bank yang di miliki dan dikelola oleh Om Liem, dan dampak dari kondisi tersebut, Om Liem akan di bawa polisi, ditangkap. Thomas yang dalam kondisi ini tidak ingin membantu Om Liem mau tidak mau terpaksa harus membantu, bukan karena Om Liem tetapi karena tante Liem. Bank Semesta, nama Bank yang sedang dalam kondisi krisis, dimiliki oleh Om Liem. Karena persoalan ini pula, Om Liem akan ditahan oleh pihak kepolisian. Sebagai konsultan keuangan profesional, Thomas tak mau tinggal diam melihat kondisi ini, ia mencoba sekuat tenaganya untuk membantu, meski itu adalah keterpaksaan, hanya karena balas budi tante Liem ia mau berbuat demikian. Thomas merancang strategi dan skema penyelamatan Bank Semesta dan juga Om Liem. Thomas membawa kabur Om Liem, sehingga mereka berdua menjadi buronan kepolisian. Thomas, yang bergabung dalam sebuah klub tinju, yang beranggotakan para profesional dari berbagai bidang, beruntung, karena ternyata pelariannya di lindungi oleh beberapa temannya di klub tinju. Bukan karena Thomas anggota klub tersebut, melainkan karena Thomas menjadi jawara di klub tersebut dan disegani beberapa lawannya yang teman-temannya di klub tersebut. Thomas mempunyai waktu yang sangat singkat, ia butuh waktu dua hari untuk menunda terjadinya penutupan Bank Semesta. Dalam pelariannya ia juga dibantu oleh Julia, seorang jurnalis dari majalah terkenal yang dijanjikan sebuah tawaran berita  paling menarik, karena Thomas memegang informasi mengenai Bank semesta dan juga seluk-beluk perbankan yang hampir bangkrut tersebut. Selain Julia, thomas juga melibatkan beberapa anggota setianya di kantor, salah satunya adalah Maggie, sekretaris kepercayaan Thomas, yang membantu memberikan informasi dan mengurus segala keperluan Thomas dalam pelarian. Tujuan Thomas dalam penyelamatan ini adalah bertemu Menteri keuangan, anak sang pemimpin partai besar yang punya kuasa dalam menentukan penyelamatan Bank Semesta dan juga mengubah opini media massa yang memberikan informasi kepada publik. Ditengah upaya pelariannya Thomas bertemu segala bentuk rintangan dan halangan, termasuk bertemu dengan dua orang penting yang telah menghancurkan keluarga Thomas, membunuh kedua orang tuanya. Berhasilkah Thomas?

Buku Negeri para bedebah ini, menyajikan cerita yang sangat menarik. Sejak awal membaca buku ini saya diajak untuk mengikuti Thomas, mengikuti cari ia menyelesaikan dan menjelaskan segala persolan yang dia hadapi. Buku ini juga menceritakan mengenai kondisi yang pernah terjadi di Indonesia. Kalau kita sering mengikuti berita tentang kasus Bank Century, maka buku ini adalah novel yang menceritakan bagaimana Bank century, Bank yang tutup karena bangkrut dan di duga menggunakan dana negara yang cukup besar hingga mencapai trilyunan, yang hingga kini belum bisa terungkap siapa aktor intelektual di belakangnya. Dalam buku ini sang penulis menceritakan bagaimana sebuah bank itu beroperasi, bagaimana, krisis ekonomi yang dihadapi oleh bank-bank di dunia, serta mekanisme Bail out yang selama ini mungkin kita hanya bisa mendengar atau membaca di berita elekstronik maupun cetak, tanpa kita mengerti artinya. Buku ini juga menceritakan bagaimana, para aparat, bahkan hingga sebuah partai besar pemenang pemilu dapat mengubah keputusan yang akan berpengaruh kepada sebuah bank kecil. Buku yang di tulis oleh Tere Liye ini memberikan sebuah pandangan tentang mencerna kondisi sosial pilitik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Tema yang sebenarnya jarang diangkat atau mungkin jarang saya baca dan temui di antara buku-buku yang ada di Indonesia.

Bagi kamu, yang tertarik membaca buku ini, silahkan membaca dan merasakan bagaimana buku ini mengajak kita, berlari-lari mengejar waktu.

Minggu, 21 April 2013

Uang siapa?

"Ini uang siapa? Darimana? Siapa yang harus bertanggung jawab atas uang ini?" Tanya pimpinan dinas pendapatan daerah. Pak Subargya. Ia telah memimpin dinas ini selama lebih dari lima tahun. Bukan instan untuk menjadi pimpinan dinas ini. Karirnya ia rintis sejak awal masuk pada dinas ini. Mulai dari menjadi pegawai harian, bulanan, hingga ia ditetapkan menjadi pegawai tetap. Ia meniti karirnya dengan pendidikannya dan kerja keras. Terpilihnya ia sebagai pimpinan tak lepas dari performa kerja yang ia jalankan selama bertahun-tahun. Prestasinya dalam mendongkrak pendapatan daerah dari pungutan retribusi dan pajak selalu berhasil. Para pengusaha nakal yang ingin usahanya lancar dengan cara suap, sudah lelah menghadapi bargya, bagi mereka ia bak malaikat penjaga pintu neraka. Kejam, tegas dan tak kenal kompromi. Kalau salah, harus dihukum, menghindari pajak, tak membayar retribusi maka tahu sendiri akibatnya. Ia, pak Bargya, tahu betul bagaimana mencari uang yang "halal". Ia bahkan tak berani menerima suap sekecil apapun itu. Baginya integritas, jauh lebih penting dari pada popularitas. Ditempat tinggalnya jayapura, hampir semua orang mengejar popularitas, popularitas ada karena mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mewah, segala hal yang berhubungan dengan kemewahan. Negeri yang rata-rata masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan ini begitu silau dengan harta. Maka siapapun yang berjalan dengan penuh kemewahan di tubuhnya, ia akan segera menjadi orang populer baru, masuk dalam tangga popularitas daerah. Hal itu, jelas dibenci oleh pak bargya. Ia terkenal, masuk dalam tangga popularitas, bukan karena kemewahan hartanya  melainkan karena kemewahan prestasinya, kecerdasannya dan mewahnya ia dalam membantu sesama.
Seisi kantor akan heboh karena adanya berita ini. Laporan keuangan bulanan mendadak menjadi ganjal, ganjil. Tak seperti biasanya, ada pemasukan, tapi uang  begitu besar masuk memenuhi ke dalam rekening. Rekening pun mendadak menjadi gendut. Sebagai pimpinan, tentu saja pak Bargya tahu ada ketidakberesan. Capaian realisasi target yang dibuat tak mungkin secepat ini tercapai. Dalam perhitungannya, paling lambat dua tahun daerah mencapai target sebesar itu. Sedangkan target lain, akan di capai paling lambat enam bulan. Baru sebulan mereka bekerja, capaian target itu sudah terpenuhi, bahkan melebihi target. Tak logis, tak bisa dipercaya. Pasti ada dana siluman yang nyasar masuk didalam rekening dinas mereka. Hartoyo, bendahara dinas meyakinkan kepada pak Bargya bahwa benar dana tersebut ada. Tapi tak jelas ia masuk darimana. "Kemarin saya sedang mempersiapkan laporan triwulan pak, untuk dijadikan alat analisa perkembangan target dan untuk keperluan evaluasi, namun saya menemukan hal ini" sambil menunjukkan laporan keuangan triwulan kepada pak Bargya. "Saya juga kurang tahu pak kenapa pada sektor pajak, kita mendapat pemasukan yang sedikit, namun pada pos retribusi dana kita membludak. Tidak seperti biasa ini pak, program pengetatan retribusi di area pariwisata, pasar, dan juga area mall, tak mungkin bisa mencapai angka segini." Hartoyo masih berusaha keras menjelaskan kondisi kepada pak Bargya meski ia sendiri masih bingung dengan kondisi ini. "Kalau begitu, coba ditelusuri dengan baik, darimana ini bisa muncul angka sebesar ini. Besok kumpulkan kepala-kepala bidang, tolong sampaikan pada Roberth. Buat jadwal, besok pagi kita rapat. Seluruh kepala bidang dan seksi harus hadir. Kecuali mereka mau masuk penjara beramai-ramai." Pak Bargya kembali menyeruput teh manis yang sudah mulai mendingin di meja ruang tamunya. Hartoyo pun menutup lembaran buku keuangan, dan ikut menikmai hidangan teh serta pisang goreng bersama pak Bargya. Sore yang seharusnya tenang dikediaman pak Bargya, menjadi terganggu dengan berita yang baru saja dibawakan oleh Hartoyo ke kediamannya.
****
"Memangnya kamu siapa? Enak saja, kamu pikir uang akan datang sendiri ke kamu? Kerja saja tidak. Bikin malu diri sendiri. Nanti kalau sudah begitu baru mengoceh bilang, kalau pendatang datang ke sini bikin kacau daerah lah, bikin kabur air lah, bikin persaingan tidak sehat lah, padahal kalian sendiri yang tidak mau menunjukkan diri. Bahwa saya itu rajin, saya itu tidak kalah dengan pendatang. Bikin malu diri. Sudah dikasih kesempatan, dikasih pekerjaan, tapi datang kerja saja, tidak. Dasar pemalas." Soni, mengeluh pada Marni rekan kerja disampingnya. Ia sebagai anak putra daerah kesal dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sedaerahnya. Putera daerah. Menurutnya orang-orang putera daerah itu memalukan. Hanya bisa berbicara, tapi tak mau bekerja. Sebagai putera daerah, ia menganggap kalau pendapat pendatang dan putera daerah selalu mengalami ketimpangan dalam dunia kerja, dimana selama ini para pendatang lebih baik saat melakukan pekerjaan, karena mereka pendatang, itu salah besar. Menurut ia, Soni, putra daerah lah yang kurang tahu diri. Sudah diberi kesempatan, tapi malas-malasan, tak mau bekerja, maunya,uang datang mengetuk pintu-pintu rumah mereka. Sungguh perbuatan yang mencederai pandangan mengenai putera daerah. Keberhasilan daerah itu ada ditangan putera daerah dan juga pendatang. Seharusnya putera daerah juga punya andil yang lebih besar daripada pendatang. Kesadaran yang besar, kepedulian yang besar terhadap daerahnya. Menjadi tuan dinegeri sendiri adalah menjadi contoh bagi para pendatang yang ada. Menunjukkan bahwa, putera daerah dapat berkarya lebih, prestasi lebih bukan sebaliknya, hanya duduk manis, uang datang. Bak raja yang menunggu upeti-upeti rakyat datang, mengeyangkan perutnya hingga gendut. Marni, sambil mengetik, menatap layar komputernya dengan teliti hanya bisa berdengung menanggapi keluhan Soni. "Hhmmm...". Sesekali ia mengiyakan ocehan Sony dengan kalimat " itu sudah." Namun tetap fokus pada pekerjaannya sebagai sekretaris dinas. Masih pagi, mereka berbincang sambil melakukan tugas masing-masing. Multitasking. Bagi mereka berbicang sambil bekerja mampu mengurangi tekanan dalam bekerja, stress dengan pekerjaan yang mereka hadapi. Konsentrasi mereka pun juga tentu menurun. Hasilnya, kerjaan lama selesai. Kerjaan cepat juga tak banyak berarti. Lambat asal selamat, itu prinsip mereka. Marni sangat memahami perasaan Soni, segala kerja kerasnya dalam membangun citra baik, tekun, disiplinnya putera daerah, dikacaukan oleh perilaku segelintir oknum yang memang putera daerah.
*****
Tulisan lama, tak selesai, jadi harus diselesaikan saja disini, daripada di simpan jadi draft, hehe, dipublish sajalah. 

Pantai Depapre

Kemarin, saya bersama mama, Ian dan Tasya pergi ke sebuah pantai. Pantai Depapre, begitu awalnya Ian memberi tahu kepada saya, tentang rencananya. Pergi ke pantai Depapre adalah tujuan ia dan teman-temannya, teman-teman KKN lebih tepatnya. Ian, baru saja menyelesaikan salah satu kegiatan perkuliahannya di fakultas pertambangan Uncen, yakni KKN, Kuliah kerja nyata. Pergi ke pantai Depapre, ialah dalam rangka merayakan telah selesainya KKN. Saya juga bingung, kenapa harus dirayakan di pantai?

Libur, hari minggu, daripada tidak melakukan kegiatan apa-apa dirumah, akhirnya saya mau ikut dalam bagian rencana Ian, tentu saja ebrsama mama dan Tasya. Kami pun pergi ke pantai. Pantai Depapre, begitu namanya, pantai ini, terletak di kabupaten Depapre, Jayapura. Kalau dari Jayapura, kita harus menempuh perjalanan darat, melewati kabupaten Sentani, Doyo, Dosai, lalu Depapre. Salah satu pantai yang terkenal di Depapre, namanya pantai TablaNusu. Tujuan kita kali ini bukan pergi ke Tablanusu, kata salah satu teman Ian, ini pantai baru. Belum banyak orang yang tahu, belum banyak juga yang mengunjungi. Wuih, dalam benak saya langsung muncul, ekspektasi, wah mungkin bakal keren ini pantai. Apakah pantai ini sebagus pantai Harlen? ya pantai harlen juga salah satu pantai terbaik di Jayapura yang pernah saya kunjungi, sampai sekarang, rasanya belum ada pantai sebagus itu yang saya temui, selain Harlen. Dimulai pukul 9.00 WIT, kami berangkat dari rumah, singgah sebentar di rumah teman Ian, untuk mengambil beberapa makanan yang telah disiapkan sebagai bekal di pantai. Dalam kelompoknya ini, Ian, beserta teman-teman KKNnya ternyata mempunyai tugas kecil-kecilan, ya bisa dibilang panitia, pembubaran kelompok pasca KKN, dimana mereka masing-masing membuat makanan, memesan mobil yang akan mengangkut mereka, dan mencari tempat atau lokasi mereka "menghabiskan" waktu bahagia mereka ini. Di salah satu rumah teman IAn, di Hamadi, kami mengambil makanan, nasi, lauk, dan juga sayuran, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh mereka. Setelah dari tempat makan itu, kami melanjutkan perjalanan, bersama tambahan penumpang di mobil, dua orang teman Ian. Perjalanan kami berhenti, di Uncen tepatnya di fakultas kedokteran. Ternyata disana, makanan di turunkan, dan dimasukkan ke bus, yang angkat mengangkut mereka hingga ke pantai. Di sana juga banyak teman-teman Ian lain yang berkumpul. Jam 10 WIT, belum juga berangkat, padahal sesuai pesan, SMS, jika peserta terlambat kumpul, jam 8 WIT, bus jalan, meninggalkan yang terlambat. Kenyataannya berbeda. Bus, menunggu para peserta. Ada dua Bus yang menanti dengan entah setia entah bersungut, peserta yang terlambat. Akhirnya, jam 11, baru bus, berangkat, saya, Ian, mama dan Tasya, berangkat mendahului bus, karena kami harus mengisi bensin mobil yang kami gunakan, terlebih dahulu. 

Perjalanan menuju Pantai Depapre kurang lebih membutuhkan waktu selama dua jam. Kondisi jalan setelah melewati Sentani, tidak begitu baik, banyak jalanan yang belubang-lubang, sehingga kita perlu lebih berhati-hati dalam mengendarai mobil.Setelah melewati tulisan selamat datang di kabupaten Depapre, lantas iringan mobil kami, bersama dua bus, mengambil jalan ke kanan. Kalau perjalanan kami lurus tanpa mengambil jalur ke kanan, kami pergi ke arah pantai Harlen dan juga Tablanusu. Jalan menuju ke pantai Depapre, menanjak. Kondisi jalannya tetap sama, berlubang, disana-sini. Setelah sabar melewati jalan tersebut, kami sampai di pantai Depapare. Mobil dan Bus, kami parkir diatas, karena untuk sampai ke pantai Depapre, kami harus jalan ke bawah, menuruni, bukit kecil. Sesampainya di pantai, ternyata saya mendapati kenyataan, bahwa ekspektasi saya tentang pantai baru buyar. Ternyata pantai ini, hampir sama seperti pantai Tablanusu, pasirnya hitam, bukan putih seperti pantai Harlen. Namun okelah, tinggal di Jayapura, dan menemukan pantai dengan pasir hitam, itu adalah suatu hal yang berbeda, karena pada umumnya pantai disni punyai pasir putih. 

Hal yang menggelikan lalu muncul ketika kami sampai di pantai, untuk menyebrang ke tempat kami berteduh nanti, kami harus melewati sebuah kali kecil. Pantai Depapre ini, adalah pantai yang mana terdapat aliran air dari kali yang langsung menyambung ke pantai. jadi ada pertemuan air tawar dan air asin. Dari sini lantas saya mulai paham mengapa ada ungkapan air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, dari kali hingga ke laut. heuheuheu. Kami menyebrang menggunakan dua cara, pertama menggunakan perahu kecil, yang kedua kami harus melewati jembatan kecil yang tersusun dan terikat dari bambu. Beberapa teman-teman ian sudah menyebrangi kali kecil, karena mereka sudah tidak tahan untuk menyentuh air laut yang bercampur dengan air kali. Sedangkan beberapa lainnya memilih untuk menyebrang menggunakan perahu kecil, agar tidak basah. Sesampianya di tempat berteduh, barulah mereka mulai mengganti pakaian dan juga ikut mand-mandi. Peraturan kecil dibuat oleh mereka, yang menaiki perahu, hanya perempuan, ibu-ibu dan makanan, laki-laki, apapun kondisinya harus melewati jembatan. Bisa berenang atau tidak, semua laki-laki lewat jembatan. Tak jarang juga ada beberapa laki-laki yang jatuh, termasuk saya. Awalnya sih, saya sudah berhasil berjalan hingga ke tengah jembatan, dengan hati-hati dan memegang kedua sandal saya, sambil menjaga keseimbangan tubuh. Naas, di akhir jembatan, ketika sudah sangat dekat dengan daratan, salah satu bambu yang saya pijak, ikut turun kebawah air, mungkin karena berat badan saya yang terlalu berat, akhirnya saya hilang keseimbangan dan jatuh dengan badan bagian kanan terlebih dahulu di air. Basah deh. Mungkin karena saya tidak mengindahkan usulan Ian, yang sebelumnya sudah mengusulkan kalau mendingan saya naik saja itu perahu daripada basah. 

Hampir empat jam kami di pantai Depapre ini. Kono, pantai ini adalah pantai "pribadi" bukan pantai yang diperuntkkan untuk umum. pantas saja tidak banyak orang yang datang ke pantai ini. Selama di pantai, banyak aktivitas yang dilakukan oleh kami, ada yang bermain sepak bola, mandi di air kali, makan-makan, bakar ikan, bermain gitar dan bernyanyi, juga foto-foto. Kata salah seorang teman Ian di pantai ini, sangat bagus pemandangan di sore hari. Karena kita bisa melihat Sunset di antara dua gunung. Sayang sore kemarin, ada gumpalan awan yang cukup tebal, sehingga keindahan sunset itu tidak terlihat. Saya, tidak ikut maen sepak bola, tidak ikut mandi-mandi, tidak ikut bakar ikan, bergamain gitar dan bernyanyi. Saya, hanya ikut makan-makan, dan foto-foto. heuheuheu. Sebenarnya saya ingin menjaka beberapa teman saya juga ikut ke pantai ini, untuk mengajarkan saya cara memotret dengan baik dan benar. Namun saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengajak mereka. Saya bersyukur sekali pemandangan yang indah itu tidak muncul, sore kemaren. Kalau muncul, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya saya karena tidak bisa memotret dengan baik dan benar keindahan sunset itu. Banyak sekali obyek foto yang saya ambil secara "asal-asalan". Mungkin itu sudah jadi resiko orang, yang bisa memotret tapi tidak bisa memotret dengan baik dan benar. Hasilnya pun tak bagus. Mungkin juga hal itu yang membuat saya ditakdirkan datang ke pantai yang tak sebagus Harlen. Coba kalau saya ke Harlen, pasti mubazir sekali itu pemandangan, tidak mampu dilukiskan dengan cahaya kamera yang saya pegang. heuheuheu. 

Setelah lama kami beraktivitas di pantai, akhirnya kami pulang. Dengan membawa kenangan masing-masing, di benak setiap orang. Ada yang bisa di bawa pulang dalam bentuk foto ada juga yang cuma bisa di bawa pulang, bersama dengan isi otak dan disimpan di alam bawah sadar. 



Kamis, 04 April 2013

Teman sejati di kala sendiri

Sudah sebulan saya di jayapura. Seharusnya sudah berbulan-bulan disini namun baru kesampaian pulang bulan lalu. Ngapain? Apalagi kalau bukan mengumpulkan data buat thesis. Iya, tahun lalu saya kesini mengambil data untuk thesis, sayang data tersebut tak berbuah hasil. Thesis saya mengambang, tak selesai. Hingga akhirnya mengharuskan saya mengambil data lain untuk menyelesaikannya. Sayangnya waktu yang butuhkan terlampau lama, satu tahun.

Tak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan disini selain mengambil data di tempat penelitian. Kerja tak ada, mau bersosialisasi, teman-teman akrab saya sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang kerja, ngurus istri, anak, dan ngurus diri sendiri yang tak kunjung benar. Akhirnya waktu untuk bersua hanya sebentar. Tak seperti dahulu, ketika saya disini, di kota kelahiran dan dibesarkannya saya, sosialisasi masih menjadi hal yang menyenangkan. Sekarang semua jauh berubah, berbeda. Waktu telah mengubahnya. Jadi, kerjaan saya disini ya bengong, kalaupun ada, saya jadi supir, dari pagi hingga malam. Mengantarkan adik saya sekolah, mama saya kantor, jemput adik sekolah, jemput mama kantor, antar bapak kuliah, ngajar, tugas, atau beraktivitas. Beruntunglah, saya masih punya minat baca (baca:suka membaca). Dari Jogja saya membawa tiga buah buku bacaan, satu majalah, dan tiga buku teori untuk penelitian. Jadi, disini saya membaca buku-buku tersebut. Habis baca buku-buku tersebut, saya yang masih diberikan uang sama orang tua (meski tak pernah meminta, kecuali untuk isi bensin mobil pa bos) suka pergi ke toko buku. Cari buku bacaan. Beberapa buku sudah pernah kan saya tulis resensi kecil-kecilannya di blog ini? Udah baca? (Berasa ada yang baca ini blog)

Sebulan sudah dan ternyata ditengah kesibukan saya (sok sibuk padahal cuma jadi supir) saya bisa membaca buku dan menyelesaikan buku-buku tersebut. Meskipun ada beberapa yang tak ku selesaikan (sengaja tak diselesaikan karena susah dicerna). Ibarat makanan, ada makanan yang mudah dicerna  ada yang butuh usaha sedikit, dan ada yang butuh usaha besar untuk mencernanya, itulah buku-buku yang saya baca dan beli. Diantaranya yang butuh usaha besar untuk dicerna, buku Casual vacancy, Amba, lauh mahfudz dan bedil, kuman, baja. Kalau judul yang terakhir disebut memang bacaan non fiksi, jadi bacanya sambil berfikir, karena berhubungan dengan sejarah masyarakat dunia. Selain itu fiksi, namun karena penulisnya adalah para penulis handal dibidangnya jadi bahasanya agak "membingungkan" saking handalnya saya tidak mengerti beberapa cerita didalamnya. Namun buku-buku itu akan saya baca lagi ketika frekuensi baca saya sudah kembali pada kondisi normal. Maklum saat ini kondisi baca saya memang rendah. Tak seperti beberapa tahun lalu. Karena saya lebih suka menghabiskan waktu maen game online dan memikirkan thesis (seandainya saya menulis tak hanya memikirkan).

Sore tadi, hadir buku yang baru saya beli, berjudul Pulang, setelah saya menyelesaikan buku Kala kali, buku duetnya penulis gagas dan Negeri para bedebah (yang masih menggantung) serta mitos dan fakta kesehatan. Nanti kedua buku (kala kali dan negeri para bedebah) tersebut saya resensi ya. Tunggu saja (masih berbaik sangka ada pembaca blog). Masih sore tadi, ada kutipan bagus dari akun nulisbuku yang saya follow di twitter, bunyinya seperti ini: " Membaca membuat kita sadar bahwa kita tak sendirian" saya memilih kutipan ini sebagai kutipan terbaik hari ini. Ya benar, selama membaca saya merasa asik dengan penulis buku tersebut. Rasanya, ia sedang berbicara dengan saya, bercerita dan uniknya saya sabar dalam menyimaknya. Kadang saya tersenyum, marah, bahagia, bingung, dan tertawa karenanya. Benarlah adanya, buku itu teman sejati. Membuat kita merasa tak pernah sendirian. Setia menemani kesendirian, penantian, maupun kebimbangan ditengah kesepian juga keramaian. Entah apa jadinya kalau saya tidak punya buku dan tidak punya minat membaca buku, mungkin saya selalu merasa sendirian. Tak ada teman, karena berbeda kepentingan.

Selasa, 02 April 2013

Persipura Mania yang tidak mania

"Persipura Jayapura, kaptennya, Boas Sallosa, ku yakin, hari ini, pasti menang. Ayo-ayo. Persipura".

Yel-yel, sorak sorai teruntuk Persipura itu selalu terdengar jika pertandingan laga kandang Persipura di stadion Mandala, Jayapura. Bagi penggemar sepakbola tanah air, Persipura Jayapura, bukan tim sepakbola yang asing. Sudah banyak yang mengenalnya. Bahkan, tim berjuluk mutiara hitam ini menjadi salah satu klub sepakbola yang diwaspadai oleh klub-klub sepakbola lain yang ada di Indonesia. Prestasi Persipura pun begitu baik. Tiga gelar liga Indonesia telah disandangnya. Dari keseluruhan kerja keras tim kebanggaan masyarakat Papua ini, tak lepas dari dukungan penggemar atau supporter setianya Persipura Mania.

Namun, berbeda dengan supporter yang ada di Indonesia, supporter Persipura tidak semania supporter lainnya. Entah kenapa. Coba kalau kita lihat Persija, Arema, Persela, Persebaya, Sriwijaya, Persib atau tim-tim yang ada di luar Papua, fanatismenya terhadap sepakbola begitu besar. Saya sempat berdiskusi sama Pa bos, kenapa ya Persipura mania itu tak seperti supporter lainnya. Kalau di stadion mandala Jayapura, tak pernah ada ceritanya stadion di penuhi warna merah hitam lantas sekumpulan manusia itu bergoyang, berdiri dan melakukan gerakan yang sama sambil menyanyikan lagu, meneriakkan yel-yel dukungan untuk Persipura. Kebanyakan yang saya lihat, hanya seperti kumpulan penonton yang sedang menyaksikan pertandingan layaknya menonton di televisi. Makan kacang, minum minuman, lalu sambil bercerita tentang jalannya pertandingan bersama penonton disebelah, depan atau dibelakangnya. Sesekali melontarkan makian dan teriakan histeris jika terjadi gol.

Sore ini, saya menonton langsung pertandingan Persipura vs Persija. Di stadion, penonton tak ramai. Biasa saja, namun tak juga sepi. Tak tahu apa penyebabnya. Hal yang paling mengecewakan saya bukanlah permainan Persipura yang jelek atau Persija yang bagus atau sebaliknya. Melainkan sikap supporter yang sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya dalam mendukung total Persipura. Satu kejadian tadi misalnya, seorang Patrich Wanggai, beberapa kali mendapatkan kesempatan, peluang untuk mencetak gol namun gagal memberikan hasil buat Persipura. Apa yang dilakukan oleh Persipura mania sungguh membuat saya ingin marah. Mereka meneriakkan kata "Ganti, ganti, ganti, ganti." Tentu saja hal ini sungguh aneh dan mengecewakan. Seorang pemain yang seharusnya mendapat dukungan dari supporternya malah mendapatkan caci maki hingga meneriakkan kata ganti yang ditujukan pada pemain tersebut. Jelas mental dari pemain akan jatuh, apalagi teriakan itu dilontarkan di kandang, dan dari Persipura Mania. Seharusnya para supporter memberikan motivasi agar si pemain tersebut bisa mencetak gol. Menaikkan moril sang pemain. Mendukung hingga si pemain diganti pelatih. Selalu memberikan kesempatan bukannya tekanan yang berlebihan. Heran, sungguh mengherankan. Kalau si pemain mencetak gol ia dipuja-puji dengan kata-kata yang berlebihan. Namun ketika pemain tidak dalam performa terbaik, atau sedang mencari bentuk permainannya kembali, supporter yang seharusnya turut membantu, malah memberikan kata-kata yang sangat menyakitkan seperti itu. Ya, oke, katakanlah itu sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan melontarkan kata tersebut agar sang pemain bisa berubah di kemudian hari. Namun sebagai supporter kita harus mendukung sepenuhnya apa yang terjadi pada tim kesebelasan Persipura termasuk sang pemain. Bukan menjatuhkan mental pemain kita sendiri. Kejadian ini hanya akan memberikan keuntungan bagi lawan. Karena ternyata mendapatkan dukungan dari supporter yang bukan supporternya, secara tidak langsung. Mental pemain yang jatuh teraebut dapat dimanfaatkan untuk semakin mengacaukan permainan tim Persipura. Alhasil, hasil yang didapatkan sore ini tidak maksimal. Supporter yang seharusnya paling pantas mendapatkan kepuasan gol yang bisa lebih dari satu akhirnya harus puas dengan kemenangan satu gol dari titik penalty yang dicetak oleh kapten tim Boas.

Ketidakkompakan dari supporter, dan kecenderungan menjadi penonton saja tidak menjadi supporter sekaligus penonton membuat saya berfikir, apakah pantas Persipura Mania disebut Persipura Mania. Beri saja gelar Penonton Persipura. Daripada menamai Persipura Mania tapi tak ada manianya sama sekali dengan tim. Ya kalaupun ada hanya sedikit dan segelintir saja. Payah. Maaf, ini sekedar opini saya saja. Kadang saya membayangkan andai saja tak ada alat semacam drum yang ditabuh saat pertandingan berlangsung di stadion mandala, pasti sepi. Tak ada yel-yel dan juga lagu-lagu yang menyemangati tim Persipura. Sehingga Persipura benar-benar main sebelas pemain. Tak ada pemain kedua belas, yakni supporter setianya.