Minggu, 21 April 2013

Uang siapa?

"Ini uang siapa? Darimana? Siapa yang harus bertanggung jawab atas uang ini?" Tanya pimpinan dinas pendapatan daerah. Pak Subargya. Ia telah memimpin dinas ini selama lebih dari lima tahun. Bukan instan untuk menjadi pimpinan dinas ini. Karirnya ia rintis sejak awal masuk pada dinas ini. Mulai dari menjadi pegawai harian, bulanan, hingga ia ditetapkan menjadi pegawai tetap. Ia meniti karirnya dengan pendidikannya dan kerja keras. Terpilihnya ia sebagai pimpinan tak lepas dari performa kerja yang ia jalankan selama bertahun-tahun. Prestasinya dalam mendongkrak pendapatan daerah dari pungutan retribusi dan pajak selalu berhasil. Para pengusaha nakal yang ingin usahanya lancar dengan cara suap, sudah lelah menghadapi bargya, bagi mereka ia bak malaikat penjaga pintu neraka. Kejam, tegas dan tak kenal kompromi. Kalau salah, harus dihukum, menghindari pajak, tak membayar retribusi maka tahu sendiri akibatnya. Ia, pak Bargya, tahu betul bagaimana mencari uang yang "halal". Ia bahkan tak berani menerima suap sekecil apapun itu. Baginya integritas, jauh lebih penting dari pada popularitas. Ditempat tinggalnya jayapura, hampir semua orang mengejar popularitas, popularitas ada karena mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mewah, segala hal yang berhubungan dengan kemewahan. Negeri yang rata-rata masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan ini begitu silau dengan harta. Maka siapapun yang berjalan dengan penuh kemewahan di tubuhnya, ia akan segera menjadi orang populer baru, masuk dalam tangga popularitas daerah. Hal itu, jelas dibenci oleh pak bargya. Ia terkenal, masuk dalam tangga popularitas, bukan karena kemewahan hartanya  melainkan karena kemewahan prestasinya, kecerdasannya dan mewahnya ia dalam membantu sesama.
Seisi kantor akan heboh karena adanya berita ini. Laporan keuangan bulanan mendadak menjadi ganjal, ganjil. Tak seperti biasanya, ada pemasukan, tapi uang  begitu besar masuk memenuhi ke dalam rekening. Rekening pun mendadak menjadi gendut. Sebagai pimpinan, tentu saja pak Bargya tahu ada ketidakberesan. Capaian realisasi target yang dibuat tak mungkin secepat ini tercapai. Dalam perhitungannya, paling lambat dua tahun daerah mencapai target sebesar itu. Sedangkan target lain, akan di capai paling lambat enam bulan. Baru sebulan mereka bekerja, capaian target itu sudah terpenuhi, bahkan melebihi target. Tak logis, tak bisa dipercaya. Pasti ada dana siluman yang nyasar masuk didalam rekening dinas mereka. Hartoyo, bendahara dinas meyakinkan kepada pak Bargya bahwa benar dana tersebut ada. Tapi tak jelas ia masuk darimana. "Kemarin saya sedang mempersiapkan laporan triwulan pak, untuk dijadikan alat analisa perkembangan target dan untuk keperluan evaluasi, namun saya menemukan hal ini" sambil menunjukkan laporan keuangan triwulan kepada pak Bargya. "Saya juga kurang tahu pak kenapa pada sektor pajak, kita mendapat pemasukan yang sedikit, namun pada pos retribusi dana kita membludak. Tidak seperti biasa ini pak, program pengetatan retribusi di area pariwisata, pasar, dan juga area mall, tak mungkin bisa mencapai angka segini." Hartoyo masih berusaha keras menjelaskan kondisi kepada pak Bargya meski ia sendiri masih bingung dengan kondisi ini. "Kalau begitu, coba ditelusuri dengan baik, darimana ini bisa muncul angka sebesar ini. Besok kumpulkan kepala-kepala bidang, tolong sampaikan pada Roberth. Buat jadwal, besok pagi kita rapat. Seluruh kepala bidang dan seksi harus hadir. Kecuali mereka mau masuk penjara beramai-ramai." Pak Bargya kembali menyeruput teh manis yang sudah mulai mendingin di meja ruang tamunya. Hartoyo pun menutup lembaran buku keuangan, dan ikut menikmai hidangan teh serta pisang goreng bersama pak Bargya. Sore yang seharusnya tenang dikediaman pak Bargya, menjadi terganggu dengan berita yang baru saja dibawakan oleh Hartoyo ke kediamannya.
****
"Memangnya kamu siapa? Enak saja, kamu pikir uang akan datang sendiri ke kamu? Kerja saja tidak. Bikin malu diri sendiri. Nanti kalau sudah begitu baru mengoceh bilang, kalau pendatang datang ke sini bikin kacau daerah lah, bikin kabur air lah, bikin persaingan tidak sehat lah, padahal kalian sendiri yang tidak mau menunjukkan diri. Bahwa saya itu rajin, saya itu tidak kalah dengan pendatang. Bikin malu diri. Sudah dikasih kesempatan, dikasih pekerjaan, tapi datang kerja saja, tidak. Dasar pemalas." Soni, mengeluh pada Marni rekan kerja disampingnya. Ia sebagai anak putra daerah kesal dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sedaerahnya. Putera daerah. Menurutnya orang-orang putera daerah itu memalukan. Hanya bisa berbicara, tapi tak mau bekerja. Sebagai putera daerah, ia menganggap kalau pendapat pendatang dan putera daerah selalu mengalami ketimpangan dalam dunia kerja, dimana selama ini para pendatang lebih baik saat melakukan pekerjaan, karena mereka pendatang, itu salah besar. Menurut ia, Soni, putra daerah lah yang kurang tahu diri. Sudah diberi kesempatan, tapi malas-malasan, tak mau bekerja, maunya,uang datang mengetuk pintu-pintu rumah mereka. Sungguh perbuatan yang mencederai pandangan mengenai putera daerah. Keberhasilan daerah itu ada ditangan putera daerah dan juga pendatang. Seharusnya putera daerah juga punya andil yang lebih besar daripada pendatang. Kesadaran yang besar, kepedulian yang besar terhadap daerahnya. Menjadi tuan dinegeri sendiri adalah menjadi contoh bagi para pendatang yang ada. Menunjukkan bahwa, putera daerah dapat berkarya lebih, prestasi lebih bukan sebaliknya, hanya duduk manis, uang datang. Bak raja yang menunggu upeti-upeti rakyat datang, mengeyangkan perutnya hingga gendut. Marni, sambil mengetik, menatap layar komputernya dengan teliti hanya bisa berdengung menanggapi keluhan Soni. "Hhmmm...". Sesekali ia mengiyakan ocehan Sony dengan kalimat " itu sudah." Namun tetap fokus pada pekerjaannya sebagai sekretaris dinas. Masih pagi, mereka berbincang sambil melakukan tugas masing-masing. Multitasking. Bagi mereka berbicang sambil bekerja mampu mengurangi tekanan dalam bekerja, stress dengan pekerjaan yang mereka hadapi. Konsentrasi mereka pun juga tentu menurun. Hasilnya, kerjaan lama selesai. Kerjaan cepat juga tak banyak berarti. Lambat asal selamat, itu prinsip mereka. Marni sangat memahami perasaan Soni, segala kerja kerasnya dalam membangun citra baik, tekun, disiplinnya putera daerah, dikacaukan oleh perilaku segelintir oknum yang memang putera daerah.
*****
Tulisan lama, tak selesai, jadi harus diselesaikan saja disini, daripada di simpan jadi draft, hehe, dipublish sajalah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar