Kemarin, saya bersama mama, Ian dan Tasya pergi ke sebuah pantai. Pantai Depapre, begitu awalnya Ian memberi tahu kepada saya, tentang rencananya. Pergi ke pantai Depapre adalah tujuan ia dan teman-temannya, teman-teman KKN lebih tepatnya. Ian, baru saja menyelesaikan salah satu kegiatan perkuliahannya di fakultas pertambangan Uncen, yakni KKN, Kuliah kerja nyata. Pergi ke pantai Depapre, ialah dalam rangka merayakan telah selesainya KKN. Saya juga bingung, kenapa harus dirayakan di pantai?
Libur, hari minggu, daripada tidak melakukan kegiatan apa-apa dirumah, akhirnya saya mau ikut dalam bagian rencana Ian, tentu saja ebrsama mama dan Tasya. Kami pun pergi ke pantai. Pantai Depapre, begitu namanya, pantai ini, terletak di kabupaten Depapre, Jayapura. Kalau dari Jayapura, kita harus menempuh perjalanan darat, melewati kabupaten Sentani, Doyo, Dosai, lalu Depapre. Salah satu pantai yang terkenal di Depapre, namanya pantai TablaNusu. Tujuan kita kali ini bukan pergi ke Tablanusu, kata salah satu teman Ian, ini pantai baru. Belum banyak orang yang tahu, belum banyak juga yang mengunjungi. Wuih, dalam benak saya langsung muncul, ekspektasi, wah mungkin bakal keren ini pantai. Apakah pantai ini sebagus pantai Harlen? ya pantai harlen juga salah satu pantai terbaik di Jayapura yang pernah saya kunjungi, sampai sekarang, rasanya belum ada pantai sebagus itu yang saya temui, selain Harlen. Dimulai pukul 9.00 WIT, kami berangkat dari rumah, singgah sebentar di rumah teman Ian, untuk mengambil beberapa makanan yang telah disiapkan sebagai bekal di pantai. Dalam kelompoknya ini, Ian, beserta teman-teman KKNnya ternyata mempunyai tugas kecil-kecilan, ya bisa dibilang panitia, pembubaran kelompok pasca KKN, dimana mereka masing-masing membuat makanan, memesan mobil yang akan mengangkut mereka, dan mencari tempat atau lokasi mereka "menghabiskan" waktu bahagia mereka ini. Di salah satu rumah teman IAn, di Hamadi, kami mengambil makanan, nasi, lauk, dan juga sayuran, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh mereka. Setelah dari tempat makan itu, kami melanjutkan perjalanan, bersama tambahan penumpang di mobil, dua orang teman Ian. Perjalanan kami berhenti, di Uncen tepatnya di fakultas kedokteran. Ternyata disana, makanan di turunkan, dan dimasukkan ke bus, yang angkat mengangkut mereka hingga ke pantai. Di sana juga banyak teman-teman Ian lain yang berkumpul. Jam 10 WIT, belum juga berangkat, padahal sesuai pesan, SMS, jika peserta terlambat kumpul, jam 8 WIT, bus jalan, meninggalkan yang terlambat. Kenyataannya berbeda. Bus, menunggu para peserta. Ada dua Bus yang menanti dengan entah setia entah bersungut, peserta yang terlambat. Akhirnya, jam 11, baru bus, berangkat, saya, Ian, mama dan Tasya, berangkat mendahului bus, karena kami harus mengisi bensin mobil yang kami gunakan, terlebih dahulu.
Perjalanan menuju Pantai Depapre kurang lebih membutuhkan waktu selama dua jam. Kondisi jalan setelah melewati Sentani, tidak begitu baik, banyak jalanan yang belubang-lubang, sehingga kita perlu lebih berhati-hati dalam mengendarai mobil.Setelah melewati tulisan selamat datang di kabupaten Depapre, lantas iringan mobil kami, bersama dua bus, mengambil jalan ke kanan. Kalau perjalanan kami lurus tanpa mengambil jalur ke kanan, kami pergi ke arah pantai Harlen dan juga Tablanusu. Jalan menuju ke pantai Depapre, menanjak. Kondisi jalannya tetap sama, berlubang, disana-sini. Setelah sabar melewati jalan tersebut, kami sampai di pantai Depapare. Mobil dan Bus, kami parkir diatas, karena untuk sampai ke pantai Depapre, kami harus jalan ke bawah, menuruni, bukit kecil. Sesampainya di pantai, ternyata saya mendapati kenyataan, bahwa ekspektasi saya tentang pantai baru buyar. Ternyata pantai ini, hampir sama seperti pantai Tablanusu, pasirnya hitam, bukan putih seperti pantai Harlen. Namun okelah, tinggal di Jayapura, dan menemukan pantai dengan pasir hitam, itu adalah suatu hal yang berbeda, karena pada umumnya pantai disni punyai pasir putih.
Hal yang menggelikan lalu muncul ketika kami sampai di pantai, untuk menyebrang ke tempat kami berteduh nanti, kami harus melewati sebuah kali kecil. Pantai Depapre ini, adalah pantai yang mana terdapat aliran air dari kali yang langsung menyambung ke pantai. jadi ada pertemuan air tawar dan air asin. Dari sini lantas saya mulai paham mengapa ada ungkapan air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, dari kali hingga ke laut. heuheuheu. Kami menyebrang menggunakan dua cara, pertama menggunakan perahu kecil, yang kedua kami harus melewati jembatan kecil yang tersusun dan terikat dari bambu. Beberapa teman-teman ian sudah menyebrangi kali kecil, karena mereka sudah tidak tahan untuk menyentuh air laut yang bercampur dengan air kali. Sedangkan beberapa lainnya memilih untuk menyebrang menggunakan perahu kecil, agar tidak basah. Sesampianya di tempat berteduh, barulah mereka mulai mengganti pakaian dan juga ikut mand-mandi. Peraturan kecil dibuat oleh mereka, yang menaiki perahu, hanya perempuan, ibu-ibu dan makanan, laki-laki, apapun kondisinya harus melewati jembatan. Bisa berenang atau tidak, semua laki-laki lewat jembatan. Tak jarang juga ada beberapa laki-laki yang jatuh, termasuk saya. Awalnya sih, saya sudah berhasil berjalan hingga ke tengah jembatan, dengan hati-hati dan memegang kedua sandal saya, sambil menjaga keseimbangan tubuh. Naas, di akhir jembatan, ketika sudah sangat dekat dengan daratan, salah satu bambu yang saya pijak, ikut turun kebawah air, mungkin karena berat badan saya yang terlalu berat, akhirnya saya hilang keseimbangan dan jatuh dengan badan bagian kanan terlebih dahulu di air. Basah deh. Mungkin karena saya tidak mengindahkan usulan Ian, yang sebelumnya sudah mengusulkan kalau mendingan saya naik saja itu perahu daripada basah.
Hampir empat jam kami di pantai Depapre ini. Kono, pantai ini adalah pantai "pribadi" bukan pantai yang diperuntkkan untuk umum. pantas saja tidak banyak orang yang datang ke pantai ini. Selama di pantai, banyak aktivitas yang dilakukan oleh kami, ada yang bermain sepak bola, mandi di air kali, makan-makan, bakar ikan, bermain gitar dan bernyanyi, juga foto-foto. Kata salah seorang teman Ian di pantai ini, sangat bagus pemandangan di sore hari. Karena kita bisa melihat Sunset di antara dua gunung. Sayang sore kemarin, ada gumpalan awan yang cukup tebal, sehingga keindahan sunset itu tidak terlihat. Saya, tidak ikut maen sepak bola, tidak ikut mandi-mandi, tidak ikut bakar ikan, bergamain gitar dan bernyanyi. Saya, hanya ikut makan-makan, dan foto-foto. heuheuheu. Sebenarnya saya ingin menjaka beberapa teman saya juga ikut ke pantai ini, untuk mengajarkan saya cara memotret dengan baik dan benar. Namun saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengajak mereka. Saya bersyukur sekali pemandangan yang indah itu tidak muncul, sore kemaren. Kalau muncul, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya saya karena tidak bisa memotret dengan baik dan benar keindahan sunset itu. Banyak sekali obyek foto yang saya ambil secara "asal-asalan". Mungkin itu sudah jadi resiko orang, yang bisa memotret tapi tidak bisa memotret dengan baik dan benar. Hasilnya pun tak bagus. Mungkin juga hal itu yang membuat saya ditakdirkan datang ke pantai yang tak sebagus Harlen. Coba kalau saya ke Harlen, pasti mubazir sekali itu pemandangan, tidak mampu dilukiskan dengan cahaya kamera yang saya pegang. heuheuheu.
Setelah lama kami beraktivitas di pantai, akhirnya kami pulang. Dengan membawa kenangan masing-masing, di benak setiap orang. Ada yang bisa di bawa pulang dalam bentuk foto ada juga yang cuma bisa di bawa pulang, bersama dengan isi otak dan disimpan di alam bawah sadar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar