9 tahun merantau, jauh dari rumah orang tua, jauh dari keluarga, juga sahabat lama, telah membuatku terbiasa dengan kesendirian. Biasa melakukan segala hal sendirian. Berdiam diri seorang diri, merasa sendiri, sepi, sunyi, bahkan seperti tak berarti. Meski nyatanya, aku tak pernah dibiarkan sendiri. Selalu saja ada yang menemani, walau hanya seekor nyamuk, yang itu pun jika ia tak malang di makan oleh cicak di dinding. Tapi bagaimana dengan kedua adikku? Yang terbiasa hidup bersama, dengan kedua orang tua, dengan keluarga lainnya, dengan sahabat-sahabatnya? Akankah mereka kuat dalam menghadapi kesendirian? Merasa sepi, sunyi, bahkan berteriak pun dianggap gila, ditinggal, tak dihiraukan. Sejatinya memang kita tak sendiri, ada Tuhan, ada dua malaikat yang selalu mencatat perbuatan, disisi kanan dan kiri. Ada jutaan setan, ada iblis, yang selalu menggoda kita, juga ada malaikat kematian yang selalu membuntuti, menunggu menepati waktu, menjalankan tugasnya atas kita. Kita? Ya, kita. Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita.
Tak ada manusia didunia ini yang mampu hidup sendiri. Atau paling tidak betah sendirian. Sampai sekarang aku terus berfikir dan berfikir. Lalu aku menulis, agar waktu sendiriku berlalu cepat tanpa sadar hingga ada yang menemaniku. Adik-adikku, bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian siap? Aku yakin kalian siap. Meski aku berharap kalian akan lebih siap dan tak sepedih aku dulu, menjalani hari-hari kesendirian yang berat dan kadang menyiksa. Inilah jalan hidup kita, jalan yang telah menjadi bagian rencana sang Maha Kuasa. Adik-adikku, jangan merasa sendiri, ada aku, abangmu, yang sudah terbiasa sendiri. Datanglah padaku, kurangkul kalian, lalu kita tertawa seperti biasa.
sama gan 14 th jauh dari rumah membuatku nyaman dalam kesendirian
BalasHapusIya. Nikmati dan jalani hingga tak lagi sendiri.
Hapus