Berdiri aku diantara langit dan bumi. Tegak, dengan kepala menantang menghadap ke atas. Merasa dipermainkan oleh Tuhan, aku menatap langit, jauh, mencoba melawan sinar matahari. Mataku tak kuasa menahan. Telah ku siapkan liur terbusuk dari mulut ini, ingin ku ludahkan pada Dia yang konon bersemayam di atas langit sana. Sia-sia. Liur busuk itu, jatuh, tepat dimuka ku. Bau. Semakin marah aku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku berfikir, mengapa aku berani melakukan ini? Bukankah aku seringkali mempermainkan perintah Tuhanku? Meremehkan bahkan menyia-nyiakanNya? Lantas kenapa aku marah kepadaNya? Permainan, dibalas dengan permainan. Aku mempermainkanNya dengan caraku.Dia mempermainkan kehidupanku dengan caraNya. Apa yang salah? Mengapa aku tak bisa bersikap adil atas semua permainan ini? Apakah karena Dia sebegitu Maha besarnya dibandingkan aku yang kecil bak aku melihat debu ditanah? Lantas kenapa juga aku yang sadar atas kekerdilan tubuh ini masih juga berani melawanNya. Karena, aku, manusia. Bukan malaikat. Bukan juga iblis. Tapi, sebentar, bukankah Iblislah satu-satunya makhluk yang berani menentang TuhanNya? Benarkan? Iblis kan? Hanya iblis?
Akhirnya aku tersadar, aku bukan lagi manusia, aku telah berada dalam golongan iblis, budak iblis, hamba iblis, yang lemah dan hina. Aku kemudian bertekuk lutut, takluk, dan menjatuhkan kepalaku ke tanah. Meski tak ada tanda air mataku yang jatuh walau sebulir. Mungkin aku masih marah, mungkin juga, aku masih belum menjadi manusia kembali. Manusia, yang punya rasa sedih, lalu menangis. Manusia, yang punya rasa takut, lalu berlindung. Manusia yang punya rasa lemah, yang selalu meminta kekuatan. Manusia, aku bukan manusia. Meskipun aku saat ini menulis, aku tak yakin, aku bukan manusia, atau masih manusia.
Aku pergi, berlalu, setelah banyak debu di jidatku. Tak ku seka, ku biarkan menempel. Bukankah kotornya debu yang menempel masih lebih suci daripada jiwaku, perbuatanku? Aku pergi, aku berlalu. Entah kemana aku pergi, dunia ini bukan milikku. Terpaksalah aku, mengikuti permainanNya. Hingga aku berhenti sampai disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar