Selasa, 02 April 2013

Persipura Mania yang tidak mania

"Persipura Jayapura, kaptennya, Boas Sallosa, ku yakin, hari ini, pasti menang. Ayo-ayo. Persipura".

Yel-yel, sorak sorai teruntuk Persipura itu selalu terdengar jika pertandingan laga kandang Persipura di stadion Mandala, Jayapura. Bagi penggemar sepakbola tanah air, Persipura Jayapura, bukan tim sepakbola yang asing. Sudah banyak yang mengenalnya. Bahkan, tim berjuluk mutiara hitam ini menjadi salah satu klub sepakbola yang diwaspadai oleh klub-klub sepakbola lain yang ada di Indonesia. Prestasi Persipura pun begitu baik. Tiga gelar liga Indonesia telah disandangnya. Dari keseluruhan kerja keras tim kebanggaan masyarakat Papua ini, tak lepas dari dukungan penggemar atau supporter setianya Persipura Mania.

Namun, berbeda dengan supporter yang ada di Indonesia, supporter Persipura tidak semania supporter lainnya. Entah kenapa. Coba kalau kita lihat Persija, Arema, Persela, Persebaya, Sriwijaya, Persib atau tim-tim yang ada di luar Papua, fanatismenya terhadap sepakbola begitu besar. Saya sempat berdiskusi sama Pa bos, kenapa ya Persipura mania itu tak seperti supporter lainnya. Kalau di stadion mandala Jayapura, tak pernah ada ceritanya stadion di penuhi warna merah hitam lantas sekumpulan manusia itu bergoyang, berdiri dan melakukan gerakan yang sama sambil menyanyikan lagu, meneriakkan yel-yel dukungan untuk Persipura. Kebanyakan yang saya lihat, hanya seperti kumpulan penonton yang sedang menyaksikan pertandingan layaknya menonton di televisi. Makan kacang, minum minuman, lalu sambil bercerita tentang jalannya pertandingan bersama penonton disebelah, depan atau dibelakangnya. Sesekali melontarkan makian dan teriakan histeris jika terjadi gol.

Sore ini, saya menonton langsung pertandingan Persipura vs Persija. Di stadion, penonton tak ramai. Biasa saja, namun tak juga sepi. Tak tahu apa penyebabnya. Hal yang paling mengecewakan saya bukanlah permainan Persipura yang jelek atau Persija yang bagus atau sebaliknya. Melainkan sikap supporter yang sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya dalam mendukung total Persipura. Satu kejadian tadi misalnya, seorang Patrich Wanggai, beberapa kali mendapatkan kesempatan, peluang untuk mencetak gol namun gagal memberikan hasil buat Persipura. Apa yang dilakukan oleh Persipura mania sungguh membuat saya ingin marah. Mereka meneriakkan kata "Ganti, ganti, ganti, ganti." Tentu saja hal ini sungguh aneh dan mengecewakan. Seorang pemain yang seharusnya mendapat dukungan dari supporternya malah mendapatkan caci maki hingga meneriakkan kata ganti yang ditujukan pada pemain tersebut. Jelas mental dari pemain akan jatuh, apalagi teriakan itu dilontarkan di kandang, dan dari Persipura Mania. Seharusnya para supporter memberikan motivasi agar si pemain tersebut bisa mencetak gol. Menaikkan moril sang pemain. Mendukung hingga si pemain diganti pelatih. Selalu memberikan kesempatan bukannya tekanan yang berlebihan. Heran, sungguh mengherankan. Kalau si pemain mencetak gol ia dipuja-puji dengan kata-kata yang berlebihan. Namun ketika pemain tidak dalam performa terbaik, atau sedang mencari bentuk permainannya kembali, supporter yang seharusnya turut membantu, malah memberikan kata-kata yang sangat menyakitkan seperti itu. Ya, oke, katakanlah itu sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan melontarkan kata tersebut agar sang pemain bisa berubah di kemudian hari. Namun sebagai supporter kita harus mendukung sepenuhnya apa yang terjadi pada tim kesebelasan Persipura termasuk sang pemain. Bukan menjatuhkan mental pemain kita sendiri. Kejadian ini hanya akan memberikan keuntungan bagi lawan. Karena ternyata mendapatkan dukungan dari supporter yang bukan supporternya, secara tidak langsung. Mental pemain yang jatuh teraebut dapat dimanfaatkan untuk semakin mengacaukan permainan tim Persipura. Alhasil, hasil yang didapatkan sore ini tidak maksimal. Supporter yang seharusnya paling pantas mendapatkan kepuasan gol yang bisa lebih dari satu akhirnya harus puas dengan kemenangan satu gol dari titik penalty yang dicetak oleh kapten tim Boas.

Ketidakkompakan dari supporter, dan kecenderungan menjadi penonton saja tidak menjadi supporter sekaligus penonton membuat saya berfikir, apakah pantas Persipura Mania disebut Persipura Mania. Beri saja gelar Penonton Persipura. Daripada menamai Persipura Mania tapi tak ada manianya sama sekali dengan tim. Ya kalaupun ada hanya sedikit dan segelintir saja. Payah. Maaf, ini sekedar opini saya saja. Kadang saya membayangkan andai saja tak ada alat semacam drum yang ditabuh saat pertandingan berlangsung di stadion mandala, pasti sepi. Tak ada yel-yel dan juga lagu-lagu yang menyemangati tim Persipura. Sehingga Persipura benar-benar main sebelas pemain. Tak ada pemain kedua belas, yakni supporter setianya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar