Sudah sebulan saya di jayapura. Seharusnya sudah berbulan-bulan disini namun baru kesampaian pulang bulan lalu. Ngapain? Apalagi kalau bukan mengumpulkan data buat thesis. Iya, tahun lalu saya kesini mengambil data untuk thesis, sayang data tersebut tak berbuah hasil. Thesis saya mengambang, tak selesai. Hingga akhirnya mengharuskan saya mengambil data lain untuk menyelesaikannya. Sayangnya waktu yang butuhkan terlampau lama, satu tahun.
Tak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan disini selain mengambil data di tempat penelitian. Kerja tak ada, mau bersosialisasi, teman-teman akrab saya sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang kerja, ngurus istri, anak, dan ngurus diri sendiri yang tak kunjung benar. Akhirnya waktu untuk bersua hanya sebentar. Tak seperti dahulu, ketika saya disini, di kota kelahiran dan dibesarkannya saya, sosialisasi masih menjadi hal yang menyenangkan. Sekarang semua jauh berubah, berbeda. Waktu telah mengubahnya. Jadi, kerjaan saya disini ya bengong, kalaupun ada, saya jadi supir, dari pagi hingga malam. Mengantarkan adik saya sekolah, mama saya kantor, jemput adik sekolah, jemput mama kantor, antar bapak kuliah, ngajar, tugas, atau beraktivitas. Beruntunglah, saya masih punya minat baca (baca:suka membaca). Dari Jogja saya membawa tiga buah buku bacaan, satu majalah, dan tiga buku teori untuk penelitian. Jadi, disini saya membaca buku-buku tersebut. Habis baca buku-buku tersebut, saya yang masih diberikan uang sama orang tua (meski tak pernah meminta, kecuali untuk isi bensin mobil pa bos) suka pergi ke toko buku. Cari buku bacaan. Beberapa buku sudah pernah kan saya tulis resensi kecil-kecilannya di blog ini? Udah baca? (Berasa ada yang baca ini blog)
Sebulan sudah dan ternyata ditengah kesibukan saya (sok sibuk padahal cuma jadi supir) saya bisa membaca buku dan menyelesaikan buku-buku tersebut. Meskipun ada beberapa yang tak ku selesaikan (sengaja tak diselesaikan karena susah dicerna). Ibarat makanan, ada makanan yang mudah dicerna ada yang butuh usaha sedikit, dan ada yang butuh usaha besar untuk mencernanya, itulah buku-buku yang saya baca dan beli. Diantaranya yang butuh usaha besar untuk dicerna, buku Casual vacancy, Amba, lauh mahfudz dan bedil, kuman, baja. Kalau judul yang terakhir disebut memang bacaan non fiksi, jadi bacanya sambil berfikir, karena berhubungan dengan sejarah masyarakat dunia. Selain itu fiksi, namun karena penulisnya adalah para penulis handal dibidangnya jadi bahasanya agak "membingungkan" saking handalnya saya tidak mengerti beberapa cerita didalamnya. Namun buku-buku itu akan saya baca lagi ketika frekuensi baca saya sudah kembali pada kondisi normal. Maklum saat ini kondisi baca saya memang rendah. Tak seperti beberapa tahun lalu. Karena saya lebih suka menghabiskan waktu maen game online dan memikirkan thesis (seandainya saya menulis tak hanya memikirkan).
Sore tadi, hadir buku yang baru saya beli, berjudul Pulang, setelah saya menyelesaikan buku Kala kali, buku duetnya penulis gagas dan Negeri para bedebah (yang masih menggantung) serta mitos dan fakta kesehatan. Nanti kedua buku (kala kali dan negeri para bedebah) tersebut saya resensi ya. Tunggu saja (masih berbaik sangka ada pembaca blog). Masih sore tadi, ada kutipan bagus dari akun nulisbuku yang saya follow di twitter, bunyinya seperti ini: " Membaca membuat kita sadar bahwa kita tak sendirian" saya memilih kutipan ini sebagai kutipan terbaik hari ini. Ya benar, selama membaca saya merasa asik dengan penulis buku tersebut. Rasanya, ia sedang berbicara dengan saya, bercerita dan uniknya saya sabar dalam menyimaknya. Kadang saya tersenyum, marah, bahagia, bingung, dan tertawa karenanya. Benarlah adanya, buku itu teman sejati. Membuat kita merasa tak pernah sendirian. Setia menemani kesendirian, penantian, maupun kebimbangan ditengah kesepian juga keramaian. Entah apa jadinya kalau saya tidak punya buku dan tidak punya minat membaca buku, mungkin saya selalu merasa sendirian. Tak ada teman, karena berbeda kepentingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar