Rabu, 27 Maret 2013

Dikibulin tukang kibul

"Emang enak dikibulin?" Familiar kan pasti ditelinga kita atau pandangan kita ungkapan tersebut? Responnya pasti beragam. Ada yang merasa sakit hati, kesel, jengkel namun juga ada yang merasa senang, bahagia. Tak jarang juga ada yang masing bingung dikibulin. Sore ini saya dikibulin oleh seseorang. Erikarlebang namanya. Dia bilang bahwa dia itu emang tukang kibul. Nah, saya merasa tidak dirugikan olehnya, malah merasa tercerahkan, sedikit. Awalnya saya mengikuti (baca: follow) akun twitter @erikarlebang. Saya mengikuti akun tersebut karena direkomendasi oleh penulis. Memang akun twitter saya (yang baru) hanya mengikuti para penulis. Singkat cerita saya mengikuti tema-tema oleh para penulis. Erikarlebang ini sering menceritakan tentang kesehatan. Pola hidup sehat dan yang paling membuat shock saya adalah kibulan tentang susu. Kata dia, anak sapi aja udah ga menyusui ibunya lagi ketika besar, masa manusia ngotot menyusu pada ibunya (sapi). Kira-kira begitulah. Lantas saya mulai terheran-heran, ada apa dengan susu sapi. Selain keanehan susu sapi yang dijelaskan lewat twit-twitnya, saya juga mulai familiar dengan kalimat food combining. Apa itu? Entahlah, yang jelas saya penasaran bukan main. Saya ikutilah lebih lanjut penjelasannya. Tapi tetap juga tidak mengerti. Hingga beberapa followernya, memberi testimoni tentang buku yang dia tulis, tentang food combining. Agak jenuh membaca bacaan fiksi, akhirnya ketika menemani adik saya ke toko buku untuk membeli bukunya, saya mulai mencari buku food combining tersebut. Sial, buku tersebut di Gramedia Jayapura habis. Lalu saya mulai berkeliling cari-cari bukunya di rak buku kesehatan. Dan akhirnya, tetep tidak juga ketemu. Malah ketemu buku lainnya, dengan penulis yang sama Erikarlebang, judulnya Mitos dan Fakta Kesehatan. Tanpa mikir-mikir panjang, saya buka dompet, cek uang didalamnya, nah ada duit. Cukup nih buat beli buku tersebut. Belilah.

Sesuai judulnya, buku ini menceritakan mitos dan fakta kesehatan yang berbeda dari sepengetahuan orang secara umum. Pengetahuan yang tidak maen stream. Uniknya lagi diceritakan oleh seorang sarjana lulusan design visual. Itu sebabnya dikatakan setiap pembahasannya dengan kibulan. Meski ia bukan lulusan kedokteran atau ahli gizi, Erikar, hidup dalam lingkungan dokter. Ayah dan kakeknya dokter . Lingkungan dokter itu mempengaruhi dirinya yang kemudian akrab dengan persoalan kesehatan. Kibulan-kibulan yang disampaikan memang detail. Sia juga tidak hanya "nyerocos" begitu saja tapi punya rujukan. Dibuka dengan memperhatikan kehidupan yang sehat, dimulai dari rongga mulut. Kita diajak untuk mengenali sistem pencernaan, dimulai dari mulut, lambung, hingga sistem pencernaan tubuh. Begitu juga dengan apa yang kita masukkan kedalam perut. Tidak boleh sembarangan, tidak boleh ngaco, jika kita ingin mendapatkan kesehatan. Persoalan sebenarnya kesehatan itu tidak melulu dari makanan, melainkan bagaimana kita memperlakukan makanan, menyeleksi dan mengatur pola makan. Hal inilah yang di ceritakan oleh Erikar dalam bukunya tersebut.

Buku ini adalah rangkuman twit-twit yang selama ini di kicaukan oleh Erikar. Meskipun twit, tulisan dalam buku ini teratur, sistematis dan rapih. Memang tak sedetail membaca buku kesehatan, gizi atau kedokteran lainnya. Membaca buku ini membuka wawasan kita bahwa ada hal-hal yang terlupakan dalam kehidupan kita, terutama terkait makanan. Rasanya akan lebih baik jika dibaca sendiri ya heuheuheu. Buku ini saya baca tidak sampai sehari. Memang buku ini ringan, karena hanya seperti obrolan. Kalau mau membuktikan kebenaran dalam buku ini, mungkin sudah saatnya mencoba beberapa tips perubahan yang ada di dalamnya. Salah satunya dengan mulai mencoba mengkonsumsi sayuran dan buah, serta protein dari hewani yang berimbang. Seperti dikatakan didalam buku tersebut, kombinasi yang baik dalam makanan diantaranya adalah pati (nasi) dengan sayuran. Protein hewani dengan sayuran. Kombinasi yang salah atau tidak baik dan tidak berguna buat tubuh adalah pati dengan protein hewani. Contoh sederhananya adalah makan nasi dengan ayam. Nah lo, bingung kan. Mungkin karena saya tidak (ingin) menjelaskannya secara detail, atau emang lebih baik baca bukunya sendiri. Heuheuheu. Kalau saya ceritain ntar ga seru. Mending baca sendiri, kalau ga bisa beli, pinjem aja, saya bersedia kok meminjamkan, asal dibalikin selesai baca. Beberapa fakta dan mitos mengenai makanan dan hidup sehat dibahas. Hanya saja penulisnya memang sudah membatasi diri dengan tidak berdebat panjang lebar dalam urusan hidup sehat ini. Kalau percaya, silahkan dicoba dan dijalani sendiri. Kalau tidak ya silahkan. Bagi yang suka membaca namun tidak begitu mempercayai isi buku ini, silahkan membaca beberapa referensi lainnya. Baik yang tertera di buku atau sumber lainnya. Jelasnya, buku ini memberikan perspektif lain bagi kita, untuk dapat hidup sehat dengan pola makan sehat dan bagaimana memakan makanan yang (seharusnya) sehat dan berguna bagi tubuh kita.

Selamag membaca, silahkan menikmati kibulan dari tukang kibul. Heuheuheu.

Jumat, 22 Maret 2013

Malam berkisah

Kekasihku, malam telah tiba
Begitu juga rinduku padamu
Kekasihku, malam ini penuh cahaya
Adakah kau juga merasa rindu padaku?

Kekasih, langit berhiaskan bintang, indah sekali
Ku tatapi kemilaunya, ku nikmati, rasanya senang sekali
Pandanganku teralih, ku lihat hamparan laut disana
Juga penuh dengan bermacam-macam cahaya

Kekasih, aku ingin bersamamu, mengajakmu, duduk disini
Kekasih, aku ingin kau juga nikmati, pesona alam yang bisa menenangkan hati

Kekasih, kamu jauh, tak lagi disampingku
Andai saja ada mungkin jemari kita bersatu
Pandangan kita satu, kedepan, keatas, juga kadang kebawah
Kekasih, ini aku, sedang diangkasa
Berangan kau ada disini, tak hanya bayang wajahmu
Atau suaramu yang terselip pada angin malam

Kekasih, malam berkisah
Tentang kamu yang setia
Menunggu janji kita
Menawarkan rasa gelisah

Rabu, 20 Maret 2013

Kelakar tanpa batas

Kesabaran itu memang tak ada batasannya. Wajar ketika ada ungkapan Tuhan bersama orang yang sabar. Hal itu karena Tuhan itu tak ada batasnya. Hmm, bentar bukan ini sebenarnya yang ingin saya tulis. Oke, fokus. Ngomong-ngomong tentang tanpa batas, kemarin setelah menamatkan buku Rahasia sunyi, saya pergi ke toko buku, mencari bacaan untuk mengisi waktu luang saya, sekaligus untuk meredam hasrat membaca saya yang tinggi. Jadilah saya membeli dua buah buku, yang satu Lauh Mahfudz, sebuah novel dan yang satu lagi Kelakar Tanpa Batas.
Kalau sering menonton acara stand up comedy di televisi, atau mengikuti perkembangan stand up comedy di Indonesia, pasti nama Sam D Putra sudah tidak asing bagi kita. Ya, nama panggungnya Sammy @notaslimboy. Tahu? Kalau ga tahu, monggo di cari di google, wikipedia atau tongkrongin aja acara televisi di Metro tv yang namanya Battle of comic, biasanya doi sering tampil. Gendut, rambut pendek, berkacamata, nah itu perawakan Sammy. Materi stand up yang ia bawakan, cenderung kritis dan cerdas menurut saya. Saya suka gaya komika seperti dia ini. Itulah kenapa ketika berkeliling-keliling di toko buku, saya melihat buku Kelakar tanpa batas, karangan Sammy, langsung saya beli. Ekspektasi saya, pasti lucu ini buku, dan cerdas. Eeeh, ternyata, bener.
Dalam buku ini, Sammy menceritakan banyak hal, mulai dari diri dia sendiri, stand up comedy dan pandangan-pandangnya tentang fenomena sosial, politik, sejarah, hingga era kekinian. Bahasan-bahasan yang berat tersebut tersaji dengan bahasa yang ringan, ala stand up comedy ( kok jadi kayak slogannya Ryan ya? Heuheuheu lanjut).
Selain buku, saya sebagai pembaca juga dapat bonus hadiah stiker, dan vcd show tanpa batas sammy. Meskipun vcd yang ada dibuku itu bukan merupakan tayangan secara penuh show tanpa batas Sammy, hanya cuplikannya saja. Barangkali ada edisi spesial vcd atau dvd tanpa batas yang dijual secara khusus, entahlah. Yang jelas nontom cuplikannya saja saya sudah terbahak-bahak menontonya.
Buku ini saya tamatkan kurang dari sehari. Ringan namun penuh isi. Keren. Jujur, meski sama-sama lucu, saya lebih suka sama tulisan dibanding ketika tulisan itu di visualisasikan. Intinya saya lebih suka bahkan lebih ngakak baca bukunya daripada nonton videonya. Apa karena videonya belum full? Mungkin juga. Ah apapun itu, tetap ada pandangan baru dalam memandang persoalan hidup, salah satunya dengan komedi.

Selasa, 19 Maret 2013

Rahasia Sunyi

Tak butuh waktu lama sebenarnya untuk menamatkan buku Rahasia Sunyi, karya Brahmanto Anindito, terbitan Gagas media, 2012. Kalau punya waktu luang, 1-2 hari saja sudah tamat. Apalagi jika kamu termasuk ke dalam orang-orang "gila" baca. Kecuali saya, pengangguran yang tidak punya banyak waktu (rajin) membaca. Butuh empat hari bagi saya untuk membaca, memahami dan menikmati bagusnya buku ini. Buku ini, masuk dalam kategori novel.

Berkisah tentang Lachlan Fowler (Mr. Fowler)  yang masih penasaran atas kematian anaknya Kirey Fowler. Dia tidak puas dengan penjelasan dari pihak Polda Kerinci yang menyatakan bahwa anaknya meninggal karena kecelakaan. Ia yakin ada hal lain yang menyebabkan kematian anaknya. Suatu waktu Mr. Fowler, bertemu dengan Lautan Angkasawan dalam sebuah kejadian kecelakaan. Lautan, menabrak mobil Mr. Fowler, saat ingin memperkarakan masalah tersebut, Mr. Fowler, malah merasa mendapatkan anugerah karena bisa bertemu orang yang ia harapkan membantu menuntaskan rasa penasaran kematian anak perempuannya. Kirey Fowler adalah anak perempuan Mr. Fowler, yang sempat berpacaran dengan Lautan. Pada saat itu, hubungan mereka mendapat pengawasan ketat dari Mr. Fowler, hingga akhirnya hubungan tersebut berjalan hanya dua tahun. Bukan karena Mr.Fowler tapi karena prinsip yang dipegang oleh lautan. Sebagai lelaki ia tak bisa menjalani hubungan seperti yang ia jalani bersama Kirey. Kematian Kirey, yang masih menimbulkan misteri meninggalkan beberapa petunjuk, antara lain scrapbook, laptop, dan voice recorder. Barang peninggalan tersebut yang kelak digunakan Lautan untuk mencari tahu tentang kematian Kirey, di Kerinci. Seluruh biaya pencarian ditanggung oleh Mr.Fowler.
Dalam pencariannya Lautan melibatkan Tiara Kristantina, pacar Lautan yang mrngidap penyakit hemofibilia.

Ternyata pencarian informasi tentang kematian Kirey, bukan hanya berhenti pada persoalan kematian, ada persoalan lainnya. "Harta Karun" Kirey. Bagaimana kelanjutannya? Bagaimana perjalanan pencarian informasi Lautan di Kerinci, dan mengapa ia mengajak pacaranya Tiara yang mengidap penyakit hemofibilia untuk ikut dalam pencarian ini? Bagaimana akhir dari perjalanan ini? Baca sendiri ya. Heuheuheu.

Buku ini bagus, menurut saya. Sang penulis menceritakannya dengan baik. Latar Kerinci juga dijelaskan secara rinci. Konon buku ini masuk dalam genre thriller, suspense, gak ngerti juga apaan itu. Googling aja kalau mau tahu hehehe.

Keren markotop deh. Gara-gara buku ini saya jadi kecanduan baca buku dengan tema yang sama.

Jumat, 15 Maret 2013

Dampak ngidam?

Saya ga tahu apa hubungannya hasil ngidamnya seorang ibu akan berdampak seterusnya kepada anaknya kelak ketika ia lahir. Hal itu benar-benar terjadi ke beberapa teman. Termasuk saya merasakan hal tersebut. Konon, di masa-masa kehamilan ibu saya, dia suka sekali makan martabak. Ngidamnya pun ngidam martabak. Beberapa tahun setelah kelahiran anaknya, ya itu maksudnya saya, kebiasaan menyukai martabak itu benar terjadi pada saya. Entah mengapa sejak kenal makanan yang namanya martabak dari kecil, sekitar umur lima tahunan (seingatku) saya suka sekali dengan makanan ini. Martabak memang makanan yang tidak murah, beberapa orang, bahkan termasuk saya dulu mungkin sebulan sekali makan martabak saking mahalnya. Seiring makin bertambahnya rejeki maka keinginan untuk makan martabak jika ada uang di saku, terjadilah. Sampai umur dua puluh lima tahun ini saya juga masih suka martabak. Di Jogja tempat saya kuliah, merantau bahkan saya pernah tak makan atau ngirit makan hanya untuk membeli martabak. Pernah uang saya habis diakhir bulan karena beli martabak. Beberapa martabak juga di Jogja saya coba satu-satu yang dijual di pinggiran jalan. Ada yang enak, ada yang tidak enak, ada yang murah enak, ada yang mahal ga enak. Macam-macam.

Ya percaya atau tidak ternyata ngidamnya seorang ibu itu berdampak pada anaknya. Saya juga tidak tahu apakah memang sudah ada penelitian tentang hal itu, namun setidaknya dari cerita-cerita yang ada termasuk yang saya alami sendiri, saya percaya. Untungnya ibu saya gak ngidam naek mobil ferarri ya, kalo iya kan enak tuh saya jadi suka naek ferarri, halah.

Selasa, 12 Maret 2013

Temanku adalah temanku

Minggu malam, saya pergi ke acara resepsi pernikahan salah satu teman SMA. Saya tak pergi sendirian, saya pergi bersama salah satu teman saya. Dia adalah salah satu teman terbaik saya sewaktu SMA. Irfan namanya. Sebelum berangkat ke tempat pernikahan, saya menjemput dia di rumahnya. Sesampainya dirumah, saya melihat beberapa foto landscape terpampang begitu rapih dalam figura yang elok dipandang mata. Maklum, ia menggeluti fotografi sejak tahun 2004-2005. Sudah lumayan lama, selepas SMA, memasuki kuliah dia sudab mulai dengan aktivitas yang menyenangkan itu. Melihat banyak karya yang bagus akhirnya sepanjang jalan menuju ke acara pernikahan kami berbincang mengenai kamera dan fotografi. Memang bukan abal-abal, hobbynya itu telah membuat ia menjadi ahli. Kenapa saya bilang ahli karena ia mampu menjelaskan secara detil bagaimana cara mengatur kamera dengan baik agar dapat menghasilkan kualitas gambak yang baik pula. Meskipun kening saya mengernyit karena penjelasan bahasa fotografinya saya semakin kagum dengan teman saya ini. Siapa sangka waktu telah mengubahnya dengan begitu apik. Kalau mengingat kekonyolan saat SMA, dan karakternya dulu, nampaknya ia sudah berubah jauh lebih baik.

Sesampainya di acara pernikahan, kami bertemu beberapa teman. Sudah pasti teman lama. Ada yang belum menikah, ada juga yang sudah menikah, membawa putrinya, bahkan ada yang masih hangat-hangatnya (baru) menikah. Iri? Sudah pasti. Bahagia? Apalagi. Perbincangan mengenai kehidupan mereka setelah menikah, pekerjaan dan aktivitas baru mereka sungguh banyak memberi inspirasi bagi saya. Saya jarang sekali ketemu mereka. Setahun sekali, itupun kalau ada momen. Tahun ini, momennya saya pulang mengambil data penelitian guna menyelesaikan tesis saya. Cerita banyak sekali yang terurai malam itu. Hujan deras di luar gedung, membuat perbincangan kami makin hangat. Bahkan lelucona dari beberapa teman begitu menghangatkan malam. Hingga akhirnya sang pengantin tiba dan kami semua memberi selamat dengan menyalami pengantin di depan mimbar.
Usai sudah acara pernikahan, lalu saya pulang ke rumah, masih bersama Irfan. Kali ini sepanjang perjalanan kami tak lagi membicarakan fotografi. Membicarakan orang lain? Sungguh bukan selera kami. Dia menceritakan rencana akan ke Jakarta bulan depan, April. Ada pameran otonomi khusus dari kantornya. Dia bercerita panjang lebar, sekaligus mengutarakan juga pendapatnya yang kurang setuju, mengapa pameran tersebut harus diadakan di Jakarta? Bukankah lebih baik diadakan di Papua agar masyarakat lebih mengetahui dampak dan kemajuan dari pelaksanaan otonomi khusus. Memang di Jakarta, pameran otonomi khusus akan memberi gambaran mengenai kondisi Papuas setelah pelaksanaan otonomi khusus, hal ini baik bagi calon investor, namun kurang banyak membawa manfaat bagi masyarakat. Masyarakat bahkan tak begitu paham dengan otonomi khusus. Kami berbicang panjang mengenai praktik korupsi yang dilakukan beberapa oknum pejabat yang ada di pemerintahan. Dengan nada mengeluh, teman saya, memberi tahu bahwa susahanya kondisi masyarakat yang ada disini. Dimana masyarakat hanya peduli akan uang. Uang dan uang. Kepedulian untuk membangun Papua secara bersama-sama masih minim. Kalaupun ada gerakannya hanya terbatas. Kami saling bertukar pikiran dan bertukar pendapat. Salah satunya saya kemukakan itulah mengapa sebenarnya kita perlu membangun komunitas diantara kita. Sesama alumni SMA. Kitalah pemimpin masa depan. Tersebarnya kita diberbagai bidang, ada yang di lingkungan pemerintahan, swasta seperti bank, pengusaha, ada yang jadi dosen, guru, nelayan, petani dan lain-lain. Beragam profesi ini bisa membantu kita dalam membawa perubahan lebih baik. Hanya saja kami berdua punya kesamaan persepsi bahwa perkumpulan kami, alumni SMA, masih asik berbicara mengenai nostalgia jaman SMA. Sembilan tahun lalu. Sebenarnya membicarakan hal yang nostalgia memang tak ada habisnya, selalu menyenangkan. Akan tetapi juga akan membosankan jika pertemuan alumni hanya berbicara itu-itu saja. Ibarat orang dalam sebuah hubungan, galau terus, tak kunjung move-on. Itulah yang menjadi salah satu sebab dari teman saya untuk tidak lagi ikut kumpul bareng teman-teman. Saya mengerti perasaannya itu, kegelisahannya, keresahannya. Apalagi hal ini menyangkut orang banyak, juga menyangkut nasib kita sendiri. Nasib kita, hari ini dan masa yang akan datang, diperjuangkan dan diwujudkan oleh tangan kita sendiri, bukan tangan orang lain. Mungkin itu yang ada dibenaknya. Hingga ia berfikir suatu saat kita harus berbicara lebih jauh tentang hal ini. Benar rasanya, hanya saja dari beberapa teman memang harus bisa memunculkan kepedulian ini. Ini bukan persoalan diri sendiri dan keluarga, ini masalah bersama. Maka banggalah saya ternyata ada juga teman saya yang mampu memikirkan orang lain tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia butuh teman, dia butuh dukungan. Andai saja teman-teman yang lain mampu bergerak dibidangnya masing-masing, membawa semangat perubahan, saya yakin Jayapura ini bisa jadi lebih baik.

Senin, 11 Maret 2013

Kuasa

"Stop sudah. Macam sudah bisa menghasilkan uang sendiri saja. Lima puluh ribu saja cukup." Kata mama, menyarankan agar memberikan sumbangan kepada teman saya yang melangsungkan pernikahan. Saya ngotot, bukan berarti melawan perintah orang tua. Seratus ribu saya sumbangkan. Sisa uang saya lima puluh ribu. Uang itu diberikan oleh bapak saya, sepenuhnya diberi kuasa untuk mengelolanya.

Rejeki itu datang dari mana saja. Tak peduli dia dari orang baik atau dari orang tak baik sekalipun. Rejeki juga bukan melulu uang. Namun yang nampak jelas adalah uang. Pernah dengar kan pepatah banyak anak banyak rejeki. Ya, itu ada benarnya. Karena anak adalah manusia. Dan setiap manusia telah di atur rejekinya oleh Allah, masing-masing. Itulah hal yang patut kita yakini. Rejeki diatur dan ditentukan oleh Allah dan diusahakan oleh manusia. Rejeki anak bisa saja lewat orang tua. Belum tentu rejeki dalam bentuk uang itu murni hasil kerja keras orang tua. Ada bantuan Allah didalamnya. Dan ada titipan rejeki sang anak dari Allah melalui orang tua. Sewaktu kuliah pernah seorang kakak lulusan pondok tebu ireng berpesan pada saya. "Kalau berdoa, saat dhuha, atau shalat lainnya itu bagus. Minta rejeki yang luas. Rejeki anak, rejeki orang tua juga." Hal itu saya ingat betul. Ketika uang dari orang tua saya sedekahkan, nyatanya rejeki orang tuapun ikut bertambah. Apalagi rejeki orang tua juga turut disedekahkan. Saya agak kecewa kalau dikatakan belum mampu mencari uang sendiri tapi sudah "sok" menyumbang. Mungkin beliau khilaf. Masih meletakkan konsep bahwa uang datang karena kerja keras semata. Antroposentris. Manusia sebagai poros. Tidak, Tuhan, Allah lah sebagai poros kehidupan. Pernah kan kita lihat disekeliling kita, ada orang yang belum dapat kerja tapi diberikan uang, makanan sama orang lain? Ya itulah yang dinamakan rejeki. Tak melulu dari hasil kerja keras kita. Sebagai manusia, kerja keras itu ikhtiar, namun jika kita mendapatkan lebih mengapa kita tidak berbagi? Kalau berbagi jangan nanggung, toh segala yang kita bagikan itu dampaknya akan kembali kepada kita. Saat ini, besok atau akan berdampak pada lingkaran kehidupan kita. Tak ada kerugian dari berbagi. Keyakinan yang menjadi landasan gerak, itu adalah senjata paling ampuh.

Seluruh dunia ini, termasuk kehidupan milik Allah. Manusia hanya diberikan kekuasaan untuk mengelola. Mengendalikan. Kecuali hati. Allahlah pemilik hati. Hingga ia berkuasa penuh dan berhak atas hati manusia. Manusia jika dikatakan memiliki, hanya memiliki akal, dan menguasai akal secara penuh. Bagaimana bagian tubuh lainnya? Milik Tuhan. Itu menurut saya. Jadi berkuasa atas pikiran atau akal diri sendiri sudah seharusnya kita lakukan. Hati yang menjadi pemantik kebaikan, itu murni digerakkan oleh Allah. Sekian. Semoga kita selalu terpelihara dalam kebaikan. Cerita ini hanyalah cerita, bukan untuk dipamerkan, melainkan menjadi pelajaran kita. Hidup di dunia serba singkat ini.

Sabtu, 09 Maret 2013

Pesta dan awal sebuah status

"Sudah siap semua? Itu tidak dimasukkan sekalian?" Sambil menunjukkan buku tulis, dan pena, ujar bang Rama.

"Oh iya ya bang, lupa" masih bercermin
sembari memperbaiki dasi hitam yang menjulur di baju putih lengan panjangnya, merapikan ikatan sabuk yang jadi pemisah celana panjang kain hitamnya dengan baju, Randi melihat ke belakang melalui pantulan cermin tepat disudut kamar, terletak buku-buku dan pena. Rambutnya ia licinkan dengan minyak rambut yang dioles-oleskan pada tangannya. Wajahnya ia dekatkan ke cermin memastikan tak
ada minyak. Kumis sudah terpotong bersih, tak ada sisa kotoran di mata yang mungkin masih menempel, meski telah mandi.

"Ayo di, sudah tinggal lima belas menit lagi, mau mulai, kamu masih disitu aja, harusnya semua ini sudah siap dari semalam."

"iya, iya bang, hanya sisa buku doang yang terlupa kok, sama pena, semalam
aku pakai buat tulis catatan kecil. Aku tertidur, makanya masih disitu."
Randi berjalan menjauhi cermin mendekati tumpukan buku dan mengambil pena yang
tercecer lalu memasukkannya pada tas kresek berwarna hitam, bertali merah.
Sejenak berdiri, mengingat-ingat barang apa yang masih kurang untuk di bawa. Buku, pena, makanan, kacamata, penggaris, permen, qur'an, beras, dan lontong. Oke, semua sudah lengkap.

"Dah yuk bang, dah siap." Randi mengambil helm yang berada diatas rak sepatu depan pintu kamarnya dan menghampiri Bang Rama yang sudah menunggu di atas motor honda astrea. Pintu rumah dikunci. Kunci rumah ia selipkan ke kantung celana Rama.

Dingin. Kabut, bekas hujan masih tersisa di jalan. Basah, becek, air terciprat oleh motor dan mobil yang melalui jalan. Motor Honda Astrea yang di pacu dengan kecepatan 60km per jam menembus kesunyian.

Masih pagi. Belum banyak pengguna jalan. Meski begitu, datang tepat waktu harus menjadi prioritas. Tak boleh terlambat. Terlambat, terima resikonya sendiri.

"Hwwerrr, dingin banget ya bang" ucap
Randi setengah berteriak, "iyalah, masih pagi ini, tempatmu itu disana,
digunung, lebih dingin lagi. Kamu merapat aja di belakang badanku, bentar lagi juga kita sampai" teriak Rama masih tetap memacu motor 60 km/jam.

Hembusan angin begitu keras menimpa mereka berdua. Kecepatan 60 km/ jam untuk ukuran sepeda motor masih sangat lambat. Apalagi jalan menanjak yang harus mereka hadapi. Tujuan mereka, tempat Pesta. Tempat hari ini Randi bertemu dengan orang banyak. Kenalan baru, teman baru, mungkin juga pacar baru. Randi berlindung di balik besarnya badan Rama. Sembilan puluh lima kilogram berat badannya, lebar badannya bisa menghalau terpaan angin dingin tubuh Randi. Lagipula Rama memakai jaket kulit tebal berkualitas tinggi yang dibeli seharga tiga juta rupiah, second, dari kawannya penggemar jaket kulit. Jaket tersebut sudah terbukti hangat, sudah dipakai keliling dunia, di tempat terdingin, tak dipakai hanya di Afrika dan Arab saudi. Pemilik lamanya menjual jaket kulit karena ingin buang
sial, selama pakai jaket kulit itu ia selalu kalah judi.

"Masih lama ya bang, lima menit lagi sudah harus sampai" "Sudah dekat, tuh depan, banyak orang berpakaian seperti kamu". "Oh oke bang, tancap bang". "Iya." Teriak Rama. Mereka saling berteriak agar terdengar percakapan sesama.
Motor honda astrea itu terparkir sebelum masuk pintu gerbang. "Sampai disini aja ya, batasnya disini, pengantar tidak boleh masuk, kamu masuk sana biar tidak terlambat " sambil menahan motornya agar tak meluncur Rama memberi pesan kepada sepupunya Randi yang baru pertama kali ikut Pesta. "Oke bang, makasih ya bang" ucap Randi sambil
menyerahkan helm kepada Rama dan pergi berjalan mendekati arena Pesta.
"Randi" panggil Rama, menoleh ke belakang sambil berjalan Randi.
"Kalau sudah selesai Pestanya, telepon, itu ada wartel disana, jangan lupa ya" sambil menunjuk sebuah warung telepon yang ada tepat di sebelah kanan sebelum masuk pintu gerbang. Disamping sebuah mini market. Randi mengangkat
jempolnya isyarat mengiyakan perintah kakak sepupunya itu. Rama pergi
meninggalkan Randi di pestanya.

"Tolong semuanya berbaris. Rapih. Jangan ada
yang keluar dari barisan." Seorang lelaki muda berjas biru, celana jeans
dengan rambut cepak berkacamata berdiri dihadapan barisan peserta pesta memberi perintah, teriak setengah membentak. Layaknya security di bar-bar atau club malam. Semua peserta yang ingin masuk ke dalam harus diperiksa kelengkapannya. Tak lengkap, pulang. Tak ada toleransi kecuali sanggup menahan malu karena
hukuman security. Ramai, pagi sunyi telah berubah setibanya di area pesta.

Pesta macam apa ini, seperti latihan militer, penuh intimidasi, beruntung, tak
ada tangan yang melayang ke tubuh peserta. Meski begitu, kata-kata kasar dipagi hari itu lebih kasar dari melekatnya telapak tangan di pipi menurut Randi. Bahkan lidah menjadi tajam, tak hanya setajam silet, setajam samurai. Bisa membelah batu.
Masih tetap dalam barisan, Randi berjalan mendekati orang-orang
berjas biru. Tak cuma satu ada dua puluh orang, lebih. Mereka berada di berbagai tempat. Menyisir setiap barisan, tetap dengan teriakan dan bentakan.

Disiplin, mungkin itu yang ingin mereka sampaikan, meski caranya sama sekali
tak berguna. Randi berdiri pada barisan kedua, laki-laki dan perempuan pada
pesta ini terpisah. Randi hanya bisa melirik sambil menunduk, sekali saja wajah bertengadah, tusukan kata dari suara nyaring lelaki dan perempuan berjas biru menghujam
telinga Randi.

"Keluarkan buku, pena dan alat tulis
lainnya." Langkah pertama pemeriksaan pos pertama. "Silahkan lanjut ke pos kedua." "Qur'an dan beras dikeluarkan, serta yang merasa tidak enak badan silahkan menyingkir. Pesta ini hanya untuk yang sehat, yang sakit silahkan menonton. Buat kelompok, pergi ke sudut jalan itu."
Sekelompok lelaki dan wanita bermasker bersarung tangan putih sedang menanti pasien peserta pesta yang kurang sehat, atau mendadak sakit, dibawah pohon rindang disudut jalan. Terdapat sebuah mobil ambulans kecil, lengkap dengan perlengkapan darurat menunggu bersama tenaga medis, amatir juga profesional. Tiga orang dari barisan Randi, mengeluarkan diri dari barisan menuju pohon rindang. "Okee, maju."

Tahap terakhir. "Angkat lontongnya. Angkat lontongnya. Angkat lontongnya ." Keras, tegas suara itu terdengar, semua peserta pesta mengangkat lontong. Ada yang kecil, sedang panjang, juga besar. Lontong-lontong inilah kekuatan mereka. Lontong ini bagi lelaki sebagai simbol mereka bertahan dalam pesta. "Angkat lontongnya. Naikkan setinggi-tingginya."

Selesai sudah semua tahap pemeriksaan. Randi beserta peserta Pesta berjalan masuk kedalam arena Pesta sesungguhnya. Disambut oleh lelaki dan perempuan yang baik rupanya. Tersenyum sambil menyapa, menghangatkan pagi yang dingin.
Meredakan ketegangan pemeriksaan sebelum pesta. Memandu kepada arena utama. Randi mulai berkenalan dengan lelaki sebarisan dan perempuan dibarisan lainnya. Lelaki dan perempuan kini menjadi satu. Melebur. Saling berkenalan, tersenyum dan tertawa. Dua orang naik ke atas panggung, lelaki dan perempuan.
Menyapa peserta, yang jumlahnya ribuan. Selamat datang di PESTA Pesona Taaruf, tahun dua ribu empat. Selamat datang kepada Mahasiswa, Mahasiswa baru di kampus ini, kampus perjuangan. Langsung saja kita mulai acara PESTA ini, dengan diawali dengan membuka basmallah, Bismillahi Rahmanni Rahim. Bibir Randi bergetar mengucapkan lafal tersebut, hatinya terenyuh, segala sesuatu telah dimulai. Saat ini, ia telah resmi, menjadi Mahasiswa.

Jumat, 08 Maret 2013

Amatiran dan kekhawatiran

Pagi jelang siang. Sekelompok anak muda mengendarai motor. Menggunakan baju batik sekolah, berwarna coklat, putih dan beberapa kombinasi warna hitam oranye dan merah, celana panjang coklat, sepatu hitam, ada juga yang warna warni. Anak sekolah. SMA tepatnya. Tanpa helm, berboncengan, mereka melakukan beberapa aksi jalanan. Tentu bukan aksi seperti yang dilakukan oleh freestyler profesional. Mereka benar-benar amatir. Pada jalan raya yang menanjak sebuah motor dengan pengendara bertubuh kecil  lebih kecil dari penumpangnya, ia menaikkan kecepatan. Hasilnya, ban depan motor terangkat. Ditahannya laju motor bersama dengan bukaan gas ditangan. Ban motor terangkat, tertahan sambil tetap berjalan di jalanan menanjak. Penumpang memeluk erat pengendara. Sedang pengendara sangat berkonsentrasi menahan motor. Menjaga kestabilan motor. Sesekali ia tersenyum kepada temannya yang melintas disampingnya. Temannya, juga mencoba melakukan hal yang sama. Naas, tak berhasil. Namun bukan anak muda bila tak terus mencoba.

Dibelakang aksi mereka tepat berada sebuah minibus hitam. Ya, ada saya dibelakang mereka. Terhalang jalannya karena secara terpaksa melihat aksi amatiran yang mereka lakukan di tengah jalan. Melihat aksi mereka bak melihat cerminan masa lalu. Hal yang mereka lakukan secara bergerombol dengan motor tak beda jauh dengan apa yang ku lakukan di masa lalu. Bedanya, beda jaman, yang dilakukan sama. Sama-sama menganggu pengguna jalananan lainnya, juga membahayakan diri mereka sendiri. Bagi mereka pengendara itu dapat melakukan atraksi motor mendapat kepuasan tersendiri. Semacam kebanggaan yang bisa ditunjukkan kepada temannya. Aku bisa, aku bisa. Lantas temannya tersenyum dan ikut bangga. Ia menjadi inspirasi bagi temannya yang lain. Bagi mereka kebanggan, tapi tak tahukah mereka keluarga mereka bisa menjadi resah, gelisah, khawatir, cemas apalagi hal yang mereka lakukan itu melibatkan kekhawatiran orang yang melihatnya. Bagaimana jika terjadi kecelakaan? Bukankah itu sama halnya dengan mempertaruhkan keselamatan hidup? Ya hidup dan mati sudah di rencanakan sebelum kita lahir. Lantas bukan berarti kita tak menjaga kehidupan diri kita masing-masing. Alangkah lebih baik jika para anak muda itu bisa menyalurkan hobinya tapi di tempat yang secara khusus untuk melatih minat dan bakat. Bukan dijalanan, apalagi jalan umum. Jalan umum, banyak melibatkan orang lain, juga resiko yang lebih besar.

Rabu, 06 Maret 2013

Pwarworld; sebuah perkenalan

Pemain game online sudah pasti tidak asing dengar nama game satu ini perfect world. Game mmorpg yang di kelola lyto game. Permainan rpg online yang sampe saat ini masih bagus di mata saya. Sehingga bagi saya sulit untuk beranjak ke game lain. Namun satu hal yang selalu menjadi kekesalan adalah ketagihan dalam membeli barang-barang game yang harganya tak pernah ramah. Pihak game lyto menurut saya pelit  tak seperti pihak pengelola perfect world Indonesia. Munculnya perfect world dalam versi private server akhirnya menjadi pilihan alternatif. Berbeda dengan PW official, pada private server player mendapat beberapa kemudahan. Diantaranya leveling, tempaan equipment dan accesoris serta bahan untuk membuat equipment. Kali ini saya memilih pwarworld sebagai tempat bermain pw untuk private server.

Sebelum pwarworld saya pernah mencoba maen di beberapa pw private. Jumlah pw private yang sangat banyak membuat kita harus memilih. Lovepw, pw revolution adalah pw private yang pernah saya maenkan. Kedua server tersebut sudah tutup hingga akhirnya seorang teman mengajak saya maen di pwarworld. Pertama maen langsung jatuh cinta. Pw ini adalah pw private yang maen langsung level 200. Tanpa levelung sama sekali. Berbeda dengan pw lainnya yang pernah saya mainkan. Hal lainnya yang mudah adalah mencari equipment, accesoris yang tidak susah. Untuk mencari equipment kita harus memasuki beberapa dungeon. Frostcover untuk equip nirvana. Disaster untuk equip level 15, endless universe untuk senjata. Sedangkan reputasi bisa di dapatkan mengambil quest di dekat tele kota naga barat atau selatan yang bernama justice angel. Quest itu mengalahkan tiga bos yang ada pada dungeon rat lurk. Dapat dimasukin di tele batu atau lewat pintu morai. Untuk beberapa item batu yang digunakan sebagai colokan didapatkan dari drop world bos. Koordinatnya ada di webaite pwarworld.

Hal utama yang saya sukai lainnya setelah tidak perlu leveling, dan tak terlalu susah mencari equipment, adalah perang player vs player. Server ini sepertinya di ciptakan untuk pvp. Setiap hari perang. Oh iya selain equip level 15 juga ada equip VIP. Uniknya jika di server lain player yang ingin mendapatkan equip SVIP/VIP harus donasi beberapa jumlah koin tertentu. Dalam pwarworld ini player bisa "mencicil" VIP karena equipment VIP disni tidak langsung sepaket seperti server lain. Makanya tidak heran di dalam game ada yang menggunakan senjata saja VIP equip r 9 atau ada yang equip VIP senjata WS dan lain-lain. Hanya saja kelemahan dari server pwarworld ini, selain sepinya para pemain dan pengelolaan GM yang diawal bulan agak kacau, peperangan yang terjadi di dalamnya dikuasai oleh guild Shinigami, Vs guild mafia dan redname. Sehingga ketika kedua guild besar ini tidak berperang, maka tak ada tontonan atau keseruan dalam game. Wilayah dalam game ini dikuasai beemacam-macam guild. Hanya saja guilld-guild tersebut kebanyakn bukan guild aktif. Kecuali tiga guild bahkan belakangan redname dan mafia sudah bergabung jadi satu untik mengalahkan guild shinigami. Guild shinigami salah satu guild kuat. Awalnya guild tersebut sudah bubar, karena kalah oleh guild mafia. Anggotanya menghilang. Lantas ketua shinigami bergabung bersama sisa-sisa pasukannya ke guild hero. Guild hero punya dua VIP, hinamori dan @mrpo. Banyak yang mengatakan kalau kedua char itu adalah char GM padahal itu char player. Karena guild Hero menjadi guild rpk (membunuh player awal yang tidak bersalah/asal membunuh player) @mrpo dan hinamori memutuskan pindah karena menganggap apa yang dilakukan hero tak ada bedanya seperti yang dilakukan oleh guild mafia. Karena kedekatan dengan petinggi mantan shinigami akhirnya dibuatlah lagi guild shinigami. Sejak itu VIP mulai ramai baik di pihak
Mafia dan shinigami. Shinigami terkenal dengan semangat para anggotanya ketika perang. Walaupun minim anggota pasti perang diladeni. Berbeda dengan guild mafia dan redname yang selalu menang jumlah. Belakangan jumlah guild yang seringkali berperang imbang. Sehingga enak ditonton hehehe.

Sudah hampir tiga bulan pwarworld berjalan. Belakangan terjadi update pada game. Update tersebut membuat game ini semakin bagus. Mungkin karena sudah banyak yang melakukan donasi, hal ini dilihat dari banyaknya karakter yang menggunakan equip VIP. Dungeon juga sudah lancar tak tersendat seperti awal dibuka. Update terbaru pada game ini ada tambahan opsi status pada semua equipment, accesoris dan juga sejata. Ada tambahan world bos yang dropnya bahan untuk menambah opsi. Sehingga sekarang sudah ramai lagi. Kalau saja ada beberapa guild (tak hanya shinigami dan redmafia) yang berperang. Mungkin pwarworld ini semakin ramai. Keren. Jarang ada server private yang menawarkan fitur pvp. Kebanyakan sama seperti pw official, harus leveling, ujung-ujungnya diutamakan donasi. Tak jauh beda dengan pw lyto. Akhir kata sampai berjumpa di game. Kalau maen. Hehehe.

Menertawai masa lalu

Rumah kami memang bukan kompleks perumahan elite. Sebutan anak kompleks sudah lazim ditelinga kami. Hari ini beberapa diantara kami berkumpul. Bercerita masa kecil, dan remaja. Masa-masa labil bersama. Masing-masing orang punya beragam versi. Tentu saja semuanya lucu. Membahas masa lalu emang paling enak kalau dibahas sambil tertawa. Kepolosan, kekonyolan, keluguan, semua hanya terjadi di masa lalu. Waktu telah mengubah segalanya. Situasi dan kondisi berubah. Hampir keseluruhan teman bermain di kompleks sudah menikah dan mempunyai anak. Saya tidak termasuk dalam golongan itu. Mungkin segera, atau mungkin lebih lama lagi.

Ada yang pergi, belum kembali bahkan takkan pernah kembali. Ada juga yang setia di kompleks, entah keterpaksaan atau keinginan, yang jelas mereka masing-masing pemilik cerita masa kecil dan remajaku, selain teman-teman di sekolah. Mereka lebih dekat. Dari mulai maen kelereng, benteng, sumpit nibon, mercon, meriam, bola, break dance, band semua dijalani. Kompak.

Sudah lama sekali saya tak pernah ngobrol seperti ini. Sembilan tahun merantau dan hanya pulang sekali setahun ketika lebaran itupun hanya beberapa hari, paling lama tiga minggu, membuat momentum kumpul seperti ini masuk dalam kategori hampir punah, langka dan perlu dilestarikan. Hari ini kami bertemu. Bercerita banyak hal. Tentu saja dengan tertawa. Mau sedih mau lucu mau prihatin tetap saja terselip tawa. Bukan karena hati telah mati, tapi karena masa lalu akan lebih nikmat jika di tertawai.

"Kemana nih?" Tanya seorang teman membuka percakapan. "Kemana begitu ka? Kemana e, jalan saja dulu sudah", "ke dok dua aja sudah, duduk-duduk disana, mau kemana lagi malam begini". Sambut temanku menimpali ide teman yang berkata jalan  saja dulu. Ya memang disini, Jayapura berbeda dengan tempat lainnya, Jogja misalnya, punya sangat banyak tempat nongkrong, mengisi waktu bersama kawan. Di tepi jalan, di kafe, di mall dimana saja bisa. Disini, Kota Jayapura, tempat nongkrong terbatas. Paling dekat dan sederhana ya di depan rumah, atau di kompleks. Agak jauh, pantai dok 2, yang terkenal dengan kursi panjang. Dimana orang-orang suka mengisi waktu sambil duduk melihat pantai, menikmati desir angin bersama kawan, pacar, suami, istri, atau botol (berbotol-botol) . Lebih jauh lagi PTC, Papua trade center, tempat nongkrong disana paling di tempat makan. Selain itu, mall atau serupa mall. Tak ada tempat publik yang bisa dijadikan berkumpul bersama teman-teman. Kami memilih pantai dok dua. Tak begitu jauh, juga bisa santai. "Baru bagemana? Beli botol kah, angker ka, minum-minum sedikit". "Kalau empat lima tahun lalu, saya mau kalau sekarang sudah bukan jamannya lagi lah" "hehehe" temanku yang mengendarai mobil tertawa melihat kedua teman saling tawar menawar pilihan nongkrong. "Ah minum teh aja kita, asik" usulku. Memang teh lebih asik daripada alkohol. Selain teh, lebih asik kopi, mengingat aktivitas temanku esok hari lebih padat maka teh adalah tawaran terbaik. Kami berhenti di sebuah toko, temanku mengambil uang lalu membeli empat kotak teh. Masih dingin, diambil langsung dari mesin pendingin. Mobil dijalankan kembali, langsung di tujukan ke tempat nongkrong.

Di tempat nongkrong kami banyak bercerita. Sana, sini, tentang si a, si b. Masih dengan tawa. Bercerita hingga lapar. Akhirnya kami mencari makan. Malam seperti ini nasi kuning jadi pilihan paling tepat. Kalau di Jogja, nasi kuning jadi suguhan sarapan, kalau di Jayapura, nasi kuning jadi suguhan makan malam. Beda yah.

Nongkrong sudah, cerita sudah, makan sudah, akhirnya kami pulang. Membawa kesan, meninggalkan cerita dan tawa pada malam.

Selasa, 05 Maret 2013

Pagi di pasar

Pagi. Mendung. Jalan-jalan basah. Air tergenang menjadi lumuran tanah yang kotor, becek, berlumpur di beberapa sudut jalan. Sinar matahari tak begitu terang seperti biasa. Sepuluh kilo meter berlalu, kondisi jalan lainnya berbeda. Kering, tak ada sisa hujan. Hanya ada sedikit genangan air, bukan karena hujan, karena sudah hampir seminggu lebih, saluran air tersumbat. Sampah begitu banyak. Meski tak sebanyak sampah masyarakat.

Melalui beberapa ventilasi, cahaya itu masuk. Menerangi, sudut ruang yang gelap. Tumpukan kertas kecil berukuran 5x2 cm sedang sibuk ia gunting. Satu demi satu, namun guntingannya tak terpotong. Setiap tumpukan yang sudah selesai, ia sisihkan ke sudut meja disamping sebuah kotak berlubang tempat orang menaruh uang sebelum dan sesudah memasuki toilet. Dengan posisi duduk hanya menggunakan kaos singlet dan topi hitam kecil di kepala, ia melanjutkan pekerjaan rutinnya. Udara pagi ini memang tak sepanas biasanya. Hari-hari biasa, ia tak pernah menggunakan seragamnya. Seragam coklat bertuliskan linmas disebelah kiri dadanya dan namanya di sebelah kanan, selalu ia letakkan tepat disamping tumpukkan kertas. "Seragam ini hanya cocok dipakai kalau tugasnya jalan-jalan, kalau dipakai tugas, duduk-duduk saja seperti ini, panas" ujarnya sambil merapikan kancing baju seragamnya yang sudah tergeletak. Tak terbayang ketika siang tiba, panas matahari, dan udara gerah akan membuat tubuh gendutnya semakin berkeringat. Perutnya yang buncit membuat ia tidak betah duduk berlama-lama.

"Oke pak, saya mau keliling dulu. Mau tagih-tagih orang dipasar. Enak kalo pagi, tagih-tagih. Lebih enak lagi kalau saya jalan-jalan, daripada duduk". Sambil memasukkan tumpukan kertas ke dalam tas kecilnya. Ia pergi menuruni tangga, membawa tagihan retribusi pasar. Dengan kembali memakai seragam coklatnya.

Senin, 04 Maret 2013

Memperingati hut Kota Jayapura ke 103? Ciyus?

Saya tidak tahu apa saja yang sedang terjadi disini. Bertahun-tahun kota tempat saya tinggal menghabiskan masa kecil hingga beranjak remaja, tak mengalami banyak perubahan. Perubahan fisik. Kalaupun ada, hanya sedikit. Sangat sedikit. Saya hanya tahu banyak orang disini mempunyai ketidaktahuan yang sama dengan saya tentang kota ini. Perubahan sosial? Ya ada karena kota ini telah menerima beragam orang-orang dari luar daerah. Termasuk saya yang lahir dari rahim orang luar daerah (bukan penduduk asli) di kota ini. Kota ini kota besar. Ibukota provinsi. Jayapura. Tanggal 7 maret diperingati sebagai hari ulang tahun Kota Jayapura, yang ke 103.

Ternyata sudah lama kota ini ada, jauh sebelum Indonesia merdeka. Pertanyaannya apakah dalam bentuk, benar sebuah kota? Kota dimana masyarakatnya sudah masuk pada tahapan kota yang sebenarnya? Ataukah hari ini hanya peringatan pendirian sebuah daerah, penamaan sebuah daerah? Jayapura, apakah nama ini juga yang dahulu digunakan sebagai nama untuk menandai daerah yang berada di teluk cendrawasih ini?

Karena penasaran lantas saya googling aja, mencari tahu apa sebenarnya definisi kota. Saya menemukan definisi berikut dari blog mata kristal. Kota merupakan suatu wilayah yang digunakan oleh penduduk sebagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial maupun pengembangan budaya yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan mata pencaharian yang heterogen. Ciri-ciri masyarakat kota
1. hubungan sosial bersifat gesselschaft (patembayan), hubungan jangka pendek untuk kepentingan tertentu.
2. bersifat individualistis.
3. masyarakat beraneka ragam (heterogen).
4. cara berpikir rasional.
5. norma masyarakat tidak begitu ketat.
6. adanya segregasi keruangan.Hmm. lebih lanjut di uraikan ternyata, Penggolongan kota Berdasarkan jumlah penduduk, kota digolongkan menjadi sebagai berikut:
a. Kota kecil, jumlah penduduk 20.000 – 50.000 jiwa.
b. Kota sedang, jumlah penduduk 50.000 – 100.000 jiwa.
c. Kota besar, jumlah penduduk 100.000 – 1.000.000 jiwa.
d. Kota metropolitan, jumlah penduduk 1.000.000 – 5.000.000 jiwa.
e. Kota megapolitan, jumlah penduduk di atas 5.000.000 jiwa.

Sekarang coba kita lihat referensi lain mengenai kota ya, dua saja sebagai pembanding dan pelengkap. Untuk beberapa pengertian kota silahkan dilihat disini hasil googling hehehe http://www.scribd.com/mobile/doc/65928093?width=360

Ada lebih banyak lagi definisi kota. Lantas dengan definisi tersebut dan melihat kenyataan yang ada. Apa benar kota Jayapura itu sudah menjadi kota selama 103 tahun yang lalu? Dengan karakter, ciri dan kriteria lainnya. Atau itu hanya berlebihan saja??
Hmm coba baca berita ini yang terbit tahun 2011, disana dijelaskan penduduk terbesar papua tersebar di Jayapura sebesar kurang lebih 200ribu penduduk.

http://m.kompas.com/news/read/2011/03/02/1921508/BPS.Penduduk.Papua.2

Tak salah kan saya mengatakan kota Jayapura sebagai kota besar. Karena jumlah penduduknya masuk pada kategori 200.000. Ini kan baru beberapa tahun belakangan, lantas bagaimana waktu tahun 90 ketika saya masih kecil? Wah kalau untuk data ini saya perlu penelusuran yang lebih mendetail. Lantas bagaimana tahun sebelumnya lagi 80, 70, 60, 50, 40 dst? Apakah benar masyarakat Jayapura saat itu sudah masuk dalam level kota? Kriteria kota? Ciri-ciri fisik kota? Saya tidak yakin. Kalau benar, seratus tiga tahun kota ini berdiri untuk ukuran sebuah kota sangat jauh dari harapan. Meski jauh dari harapan, harapan harus tetap ada kan? Setidaknya sekarang sudah mendekati harapan. Harapan untuk tidak jauh dari harapan. Kalau saya sih di tahun diperingatinya kota Jayapura ini hanya berharap (punya harapan) kota ini masih bisa memperingati ulang tahunnya di tahun 150 bersama Indonesia. Mengingat situasi politik seperti ini, berat rasanya mempertahankan kota Jayapura tetap ada dalam NKRI hingga hut ke 150 tahun. Berat bukan berarti tidak bisa. Di coba dulu saja. Heuheueheu.