Minggu malam, saya pergi ke acara resepsi pernikahan salah satu teman SMA. Saya tak pergi sendirian, saya pergi bersama salah satu teman saya. Dia adalah salah satu teman terbaik saya sewaktu SMA. Irfan namanya. Sebelum berangkat ke tempat pernikahan, saya menjemput dia di rumahnya. Sesampainya dirumah, saya melihat beberapa foto landscape terpampang begitu rapih dalam figura yang elok dipandang mata. Maklum, ia menggeluti fotografi sejak tahun 2004-2005. Sudah lumayan lama, selepas SMA, memasuki kuliah dia sudab mulai dengan aktivitas yang menyenangkan itu. Melihat banyak karya yang bagus akhirnya sepanjang jalan menuju ke acara pernikahan kami berbincang mengenai kamera dan fotografi. Memang bukan abal-abal, hobbynya itu telah membuat ia menjadi ahli. Kenapa saya bilang ahli karena ia mampu menjelaskan secara detil bagaimana cara mengatur kamera dengan baik agar dapat menghasilkan kualitas gambak yang baik pula. Meskipun kening saya mengernyit karena penjelasan bahasa fotografinya saya semakin kagum dengan teman saya ini. Siapa sangka waktu telah mengubahnya dengan begitu apik. Kalau mengingat kekonyolan saat SMA, dan karakternya dulu, nampaknya ia sudah berubah jauh lebih baik.
Sesampainya di acara pernikahan, kami bertemu beberapa teman. Sudah pasti teman lama. Ada yang belum menikah, ada juga yang sudah menikah, membawa putrinya, bahkan ada yang masih hangat-hangatnya (baru) menikah. Iri? Sudah pasti. Bahagia? Apalagi. Perbincangan mengenai kehidupan mereka setelah menikah, pekerjaan dan aktivitas baru mereka sungguh banyak memberi inspirasi bagi saya. Saya jarang sekali ketemu mereka. Setahun sekali, itupun kalau ada momen. Tahun ini, momennya saya pulang mengambil data penelitian guna menyelesaikan tesis saya. Cerita banyak sekali yang terurai malam itu. Hujan deras di luar gedung, membuat perbincangan kami makin hangat. Bahkan lelucona dari beberapa teman begitu menghangatkan malam. Hingga akhirnya sang pengantin tiba dan kami semua memberi selamat dengan menyalami pengantin di depan mimbar.
Usai sudah acara pernikahan, lalu saya pulang ke rumah, masih bersama Irfan. Kali ini sepanjang perjalanan kami tak lagi membicarakan fotografi. Membicarakan orang lain? Sungguh bukan selera kami. Dia menceritakan rencana akan ke Jakarta bulan depan, April. Ada pameran otonomi khusus dari kantornya. Dia bercerita panjang lebar, sekaligus mengutarakan juga pendapatnya yang kurang setuju, mengapa pameran tersebut harus diadakan di Jakarta? Bukankah lebih baik diadakan di Papua agar masyarakat lebih mengetahui dampak dan kemajuan dari pelaksanaan otonomi khusus. Memang di Jakarta, pameran otonomi khusus akan memberi gambaran mengenai kondisi Papuas setelah pelaksanaan otonomi khusus, hal ini baik bagi calon investor, namun kurang banyak membawa manfaat bagi masyarakat. Masyarakat bahkan tak begitu paham dengan otonomi khusus. Kami berbicang panjang mengenai praktik korupsi yang dilakukan beberapa oknum pejabat yang ada di pemerintahan. Dengan nada mengeluh, teman saya, memberi tahu bahwa susahanya kondisi masyarakat yang ada disini. Dimana masyarakat hanya peduli akan uang. Uang dan uang. Kepedulian untuk membangun Papua secara bersama-sama masih minim. Kalaupun ada gerakannya hanya terbatas. Kami saling bertukar pikiran dan bertukar pendapat. Salah satunya saya kemukakan itulah mengapa sebenarnya kita perlu membangun komunitas diantara kita. Sesama alumni SMA. Kitalah pemimpin masa depan. Tersebarnya kita diberbagai bidang, ada yang di lingkungan pemerintahan, swasta seperti bank, pengusaha, ada yang jadi dosen, guru, nelayan, petani dan lain-lain. Beragam profesi ini bisa membantu kita dalam membawa perubahan lebih baik. Hanya saja kami berdua punya kesamaan persepsi bahwa perkumpulan kami, alumni SMA, masih asik berbicara mengenai nostalgia jaman SMA. Sembilan tahun lalu. Sebenarnya membicarakan hal yang nostalgia memang tak ada habisnya, selalu menyenangkan. Akan tetapi juga akan membosankan jika pertemuan alumni hanya berbicara itu-itu saja. Ibarat orang dalam sebuah hubungan, galau terus, tak kunjung move-on. Itulah yang menjadi salah satu sebab dari teman saya untuk tidak lagi ikut kumpul bareng teman-teman. Saya mengerti perasaannya itu, kegelisahannya, keresahannya. Apalagi hal ini menyangkut orang banyak, juga menyangkut nasib kita sendiri. Nasib kita, hari ini dan masa yang akan datang, diperjuangkan dan diwujudkan oleh tangan kita sendiri, bukan tangan orang lain. Mungkin itu yang ada dibenaknya. Hingga ia berfikir suatu saat kita harus berbicara lebih jauh tentang hal ini. Benar rasanya, hanya saja dari beberapa teman memang harus bisa memunculkan kepedulian ini. Ini bukan persoalan diri sendiri dan keluarga, ini masalah bersama. Maka banggalah saya ternyata ada juga teman saya yang mampu memikirkan orang lain tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia butuh teman, dia butuh dukungan. Andai saja teman-teman yang lain mampu bergerak dibidangnya masing-masing, membawa semangat perubahan, saya yakin Jayapura ini bisa jadi lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar