Saya ga tahu apa hubungannya hasil ngidamnya seorang ibu akan berdampak seterusnya kepada anaknya kelak ketika ia lahir. Hal itu benar-benar terjadi ke beberapa teman. Termasuk saya merasakan hal tersebut. Konon, di masa-masa kehamilan ibu saya, dia suka sekali makan martabak. Ngidamnya pun ngidam martabak. Beberapa tahun setelah kelahiran anaknya, ya itu maksudnya saya, kebiasaan menyukai martabak itu benar terjadi pada saya. Entah mengapa sejak kenal makanan yang namanya martabak dari kecil, sekitar umur lima tahunan (seingatku) saya suka sekali dengan makanan ini. Martabak memang makanan yang tidak murah, beberapa orang, bahkan termasuk saya dulu mungkin sebulan sekali makan martabak saking mahalnya. Seiring makin bertambahnya rejeki maka keinginan untuk makan martabak jika ada uang di saku, terjadilah. Sampai umur dua puluh lima tahun ini saya juga masih suka martabak. Di Jogja tempat saya kuliah, merantau bahkan saya pernah tak makan atau ngirit makan hanya untuk membeli martabak. Pernah uang saya habis diakhir bulan karena beli martabak. Beberapa martabak juga di Jogja saya coba satu-satu yang dijual di pinggiran jalan. Ada yang enak, ada yang tidak enak, ada yang murah enak, ada yang mahal ga enak. Macam-macam.
Ya percaya atau tidak ternyata ngidamnya seorang ibu itu berdampak pada anaknya. Saya juga tidak tahu apakah memang sudah ada penelitian tentang hal itu, namun setidaknya dari cerita-cerita yang ada termasuk yang saya alami sendiri, saya percaya. Untungnya ibu saya gak ngidam naek mobil ferarri ya, kalo iya kan enak tuh saya jadi suka naek ferarri, halah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar