Selasa, 05 Maret 2013

Pagi di pasar

Pagi. Mendung. Jalan-jalan basah. Air tergenang menjadi lumuran tanah yang kotor, becek, berlumpur di beberapa sudut jalan. Sinar matahari tak begitu terang seperti biasa. Sepuluh kilo meter berlalu, kondisi jalan lainnya berbeda. Kering, tak ada sisa hujan. Hanya ada sedikit genangan air, bukan karena hujan, karena sudah hampir seminggu lebih, saluran air tersumbat. Sampah begitu banyak. Meski tak sebanyak sampah masyarakat.

Melalui beberapa ventilasi, cahaya itu masuk. Menerangi, sudut ruang yang gelap. Tumpukan kertas kecil berukuran 5x2 cm sedang sibuk ia gunting. Satu demi satu, namun guntingannya tak terpotong. Setiap tumpukan yang sudah selesai, ia sisihkan ke sudut meja disamping sebuah kotak berlubang tempat orang menaruh uang sebelum dan sesudah memasuki toilet. Dengan posisi duduk hanya menggunakan kaos singlet dan topi hitam kecil di kepala, ia melanjutkan pekerjaan rutinnya. Udara pagi ini memang tak sepanas biasanya. Hari-hari biasa, ia tak pernah menggunakan seragamnya. Seragam coklat bertuliskan linmas disebelah kiri dadanya dan namanya di sebelah kanan, selalu ia letakkan tepat disamping tumpukkan kertas. "Seragam ini hanya cocok dipakai kalau tugasnya jalan-jalan, kalau dipakai tugas, duduk-duduk saja seperti ini, panas" ujarnya sambil merapikan kancing baju seragamnya yang sudah tergeletak. Tak terbayang ketika siang tiba, panas matahari, dan udara gerah akan membuat tubuh gendutnya semakin berkeringat. Perutnya yang buncit membuat ia tidak betah duduk berlama-lama.

"Oke pak, saya mau keliling dulu. Mau tagih-tagih orang dipasar. Enak kalo pagi, tagih-tagih. Lebih enak lagi kalau saya jalan-jalan, daripada duduk". Sambil memasukkan tumpukan kertas ke dalam tas kecilnya. Ia pergi menuruni tangga, membawa tagihan retribusi pasar. Dengan kembali memakai seragam coklatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar