Jumat, 08 Maret 2013

Amatiran dan kekhawatiran

Pagi jelang siang. Sekelompok anak muda mengendarai motor. Menggunakan baju batik sekolah, berwarna coklat, putih dan beberapa kombinasi warna hitam oranye dan merah, celana panjang coklat, sepatu hitam, ada juga yang warna warni. Anak sekolah. SMA tepatnya. Tanpa helm, berboncengan, mereka melakukan beberapa aksi jalanan. Tentu bukan aksi seperti yang dilakukan oleh freestyler profesional. Mereka benar-benar amatir. Pada jalan raya yang menanjak sebuah motor dengan pengendara bertubuh kecil  lebih kecil dari penumpangnya, ia menaikkan kecepatan. Hasilnya, ban depan motor terangkat. Ditahannya laju motor bersama dengan bukaan gas ditangan. Ban motor terangkat, tertahan sambil tetap berjalan di jalanan menanjak. Penumpang memeluk erat pengendara. Sedang pengendara sangat berkonsentrasi menahan motor. Menjaga kestabilan motor. Sesekali ia tersenyum kepada temannya yang melintas disampingnya. Temannya, juga mencoba melakukan hal yang sama. Naas, tak berhasil. Namun bukan anak muda bila tak terus mencoba.

Dibelakang aksi mereka tepat berada sebuah minibus hitam. Ya, ada saya dibelakang mereka. Terhalang jalannya karena secara terpaksa melihat aksi amatiran yang mereka lakukan di tengah jalan. Melihat aksi mereka bak melihat cerminan masa lalu. Hal yang mereka lakukan secara bergerombol dengan motor tak beda jauh dengan apa yang ku lakukan di masa lalu. Bedanya, beda jaman, yang dilakukan sama. Sama-sama menganggu pengguna jalananan lainnya, juga membahayakan diri mereka sendiri. Bagi mereka pengendara itu dapat melakukan atraksi motor mendapat kepuasan tersendiri. Semacam kebanggaan yang bisa ditunjukkan kepada temannya. Aku bisa, aku bisa. Lantas temannya tersenyum dan ikut bangga. Ia menjadi inspirasi bagi temannya yang lain. Bagi mereka kebanggan, tapi tak tahukah mereka keluarga mereka bisa menjadi resah, gelisah, khawatir, cemas apalagi hal yang mereka lakukan itu melibatkan kekhawatiran orang yang melihatnya. Bagaimana jika terjadi kecelakaan? Bukankah itu sama halnya dengan mempertaruhkan keselamatan hidup? Ya hidup dan mati sudah di rencanakan sebelum kita lahir. Lantas bukan berarti kita tak menjaga kehidupan diri kita masing-masing. Alangkah lebih baik jika para anak muda itu bisa menyalurkan hobinya tapi di tempat yang secara khusus untuk melatih minat dan bakat. Bukan dijalanan, apalagi jalan umum. Jalan umum, banyak melibatkan orang lain, juga resiko yang lebih besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar