Senin, 11 Maret 2013

Kuasa

"Stop sudah. Macam sudah bisa menghasilkan uang sendiri saja. Lima puluh ribu saja cukup." Kata mama, menyarankan agar memberikan sumbangan kepada teman saya yang melangsungkan pernikahan. Saya ngotot, bukan berarti melawan perintah orang tua. Seratus ribu saya sumbangkan. Sisa uang saya lima puluh ribu. Uang itu diberikan oleh bapak saya, sepenuhnya diberi kuasa untuk mengelolanya.

Rejeki itu datang dari mana saja. Tak peduli dia dari orang baik atau dari orang tak baik sekalipun. Rejeki juga bukan melulu uang. Namun yang nampak jelas adalah uang. Pernah dengar kan pepatah banyak anak banyak rejeki. Ya, itu ada benarnya. Karena anak adalah manusia. Dan setiap manusia telah di atur rejekinya oleh Allah, masing-masing. Itulah hal yang patut kita yakini. Rejeki diatur dan ditentukan oleh Allah dan diusahakan oleh manusia. Rejeki anak bisa saja lewat orang tua. Belum tentu rejeki dalam bentuk uang itu murni hasil kerja keras orang tua. Ada bantuan Allah didalamnya. Dan ada titipan rejeki sang anak dari Allah melalui orang tua. Sewaktu kuliah pernah seorang kakak lulusan pondok tebu ireng berpesan pada saya. "Kalau berdoa, saat dhuha, atau shalat lainnya itu bagus. Minta rejeki yang luas. Rejeki anak, rejeki orang tua juga." Hal itu saya ingat betul. Ketika uang dari orang tua saya sedekahkan, nyatanya rejeki orang tuapun ikut bertambah. Apalagi rejeki orang tua juga turut disedekahkan. Saya agak kecewa kalau dikatakan belum mampu mencari uang sendiri tapi sudah "sok" menyumbang. Mungkin beliau khilaf. Masih meletakkan konsep bahwa uang datang karena kerja keras semata. Antroposentris. Manusia sebagai poros. Tidak, Tuhan, Allah lah sebagai poros kehidupan. Pernah kan kita lihat disekeliling kita, ada orang yang belum dapat kerja tapi diberikan uang, makanan sama orang lain? Ya itulah yang dinamakan rejeki. Tak melulu dari hasil kerja keras kita. Sebagai manusia, kerja keras itu ikhtiar, namun jika kita mendapatkan lebih mengapa kita tidak berbagi? Kalau berbagi jangan nanggung, toh segala yang kita bagikan itu dampaknya akan kembali kepada kita. Saat ini, besok atau akan berdampak pada lingkaran kehidupan kita. Tak ada kerugian dari berbagi. Keyakinan yang menjadi landasan gerak, itu adalah senjata paling ampuh.

Seluruh dunia ini, termasuk kehidupan milik Allah. Manusia hanya diberikan kekuasaan untuk mengelola. Mengendalikan. Kecuali hati. Allahlah pemilik hati. Hingga ia berkuasa penuh dan berhak atas hati manusia. Manusia jika dikatakan memiliki, hanya memiliki akal, dan menguasai akal secara penuh. Bagaimana bagian tubuh lainnya? Milik Tuhan. Itu menurut saya. Jadi berkuasa atas pikiran atau akal diri sendiri sudah seharusnya kita lakukan. Hati yang menjadi pemantik kebaikan, itu murni digerakkan oleh Allah. Sekian. Semoga kita selalu terpelihara dalam kebaikan. Cerita ini hanyalah cerita, bukan untuk dipamerkan, melainkan menjadi pelajaran kita. Hidup di dunia serba singkat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar