Sabtu, 09 Maret 2013

Pesta dan awal sebuah status

"Sudah siap semua? Itu tidak dimasukkan sekalian?" Sambil menunjukkan buku tulis, dan pena, ujar bang Rama.

"Oh iya ya bang, lupa" masih bercermin
sembari memperbaiki dasi hitam yang menjulur di baju putih lengan panjangnya, merapikan ikatan sabuk yang jadi pemisah celana panjang kain hitamnya dengan baju, Randi melihat ke belakang melalui pantulan cermin tepat disudut kamar, terletak buku-buku dan pena. Rambutnya ia licinkan dengan minyak rambut yang dioles-oleskan pada tangannya. Wajahnya ia dekatkan ke cermin memastikan tak
ada minyak. Kumis sudah terpotong bersih, tak ada sisa kotoran di mata yang mungkin masih menempel, meski telah mandi.

"Ayo di, sudah tinggal lima belas menit lagi, mau mulai, kamu masih disitu aja, harusnya semua ini sudah siap dari semalam."

"iya, iya bang, hanya sisa buku doang yang terlupa kok, sama pena, semalam
aku pakai buat tulis catatan kecil. Aku tertidur, makanya masih disitu."
Randi berjalan menjauhi cermin mendekati tumpukan buku dan mengambil pena yang
tercecer lalu memasukkannya pada tas kresek berwarna hitam, bertali merah.
Sejenak berdiri, mengingat-ingat barang apa yang masih kurang untuk di bawa. Buku, pena, makanan, kacamata, penggaris, permen, qur'an, beras, dan lontong. Oke, semua sudah lengkap.

"Dah yuk bang, dah siap." Randi mengambil helm yang berada diatas rak sepatu depan pintu kamarnya dan menghampiri Bang Rama yang sudah menunggu di atas motor honda astrea. Pintu rumah dikunci. Kunci rumah ia selipkan ke kantung celana Rama.

Dingin. Kabut, bekas hujan masih tersisa di jalan. Basah, becek, air terciprat oleh motor dan mobil yang melalui jalan. Motor Honda Astrea yang di pacu dengan kecepatan 60km per jam menembus kesunyian.

Masih pagi. Belum banyak pengguna jalan. Meski begitu, datang tepat waktu harus menjadi prioritas. Tak boleh terlambat. Terlambat, terima resikonya sendiri.

"Hwwerrr, dingin banget ya bang" ucap
Randi setengah berteriak, "iyalah, masih pagi ini, tempatmu itu disana,
digunung, lebih dingin lagi. Kamu merapat aja di belakang badanku, bentar lagi juga kita sampai" teriak Rama masih tetap memacu motor 60 km/jam.

Hembusan angin begitu keras menimpa mereka berdua. Kecepatan 60 km/ jam untuk ukuran sepeda motor masih sangat lambat. Apalagi jalan menanjak yang harus mereka hadapi. Tujuan mereka, tempat Pesta. Tempat hari ini Randi bertemu dengan orang banyak. Kenalan baru, teman baru, mungkin juga pacar baru. Randi berlindung di balik besarnya badan Rama. Sembilan puluh lima kilogram berat badannya, lebar badannya bisa menghalau terpaan angin dingin tubuh Randi. Lagipula Rama memakai jaket kulit tebal berkualitas tinggi yang dibeli seharga tiga juta rupiah, second, dari kawannya penggemar jaket kulit. Jaket tersebut sudah terbukti hangat, sudah dipakai keliling dunia, di tempat terdingin, tak dipakai hanya di Afrika dan Arab saudi. Pemilik lamanya menjual jaket kulit karena ingin buang
sial, selama pakai jaket kulit itu ia selalu kalah judi.

"Masih lama ya bang, lima menit lagi sudah harus sampai" "Sudah dekat, tuh depan, banyak orang berpakaian seperti kamu". "Oh oke bang, tancap bang". "Iya." Teriak Rama. Mereka saling berteriak agar terdengar percakapan sesama.
Motor honda astrea itu terparkir sebelum masuk pintu gerbang. "Sampai disini aja ya, batasnya disini, pengantar tidak boleh masuk, kamu masuk sana biar tidak terlambat " sambil menahan motornya agar tak meluncur Rama memberi pesan kepada sepupunya Randi yang baru pertama kali ikut Pesta. "Oke bang, makasih ya bang" ucap Randi sambil
menyerahkan helm kepada Rama dan pergi berjalan mendekati arena Pesta.
"Randi" panggil Rama, menoleh ke belakang sambil berjalan Randi.
"Kalau sudah selesai Pestanya, telepon, itu ada wartel disana, jangan lupa ya" sambil menunjuk sebuah warung telepon yang ada tepat di sebelah kanan sebelum masuk pintu gerbang. Disamping sebuah mini market. Randi mengangkat
jempolnya isyarat mengiyakan perintah kakak sepupunya itu. Rama pergi
meninggalkan Randi di pestanya.

"Tolong semuanya berbaris. Rapih. Jangan ada
yang keluar dari barisan." Seorang lelaki muda berjas biru, celana jeans
dengan rambut cepak berkacamata berdiri dihadapan barisan peserta pesta memberi perintah, teriak setengah membentak. Layaknya security di bar-bar atau club malam. Semua peserta yang ingin masuk ke dalam harus diperiksa kelengkapannya. Tak lengkap, pulang. Tak ada toleransi kecuali sanggup menahan malu karena
hukuman security. Ramai, pagi sunyi telah berubah setibanya di area pesta.

Pesta macam apa ini, seperti latihan militer, penuh intimidasi, beruntung, tak
ada tangan yang melayang ke tubuh peserta. Meski begitu, kata-kata kasar dipagi hari itu lebih kasar dari melekatnya telapak tangan di pipi menurut Randi. Bahkan lidah menjadi tajam, tak hanya setajam silet, setajam samurai. Bisa membelah batu.
Masih tetap dalam barisan, Randi berjalan mendekati orang-orang
berjas biru. Tak cuma satu ada dua puluh orang, lebih. Mereka berada di berbagai tempat. Menyisir setiap barisan, tetap dengan teriakan dan bentakan.

Disiplin, mungkin itu yang ingin mereka sampaikan, meski caranya sama sekali
tak berguna. Randi berdiri pada barisan kedua, laki-laki dan perempuan pada
pesta ini terpisah. Randi hanya bisa melirik sambil menunduk, sekali saja wajah bertengadah, tusukan kata dari suara nyaring lelaki dan perempuan berjas biru menghujam
telinga Randi.

"Keluarkan buku, pena dan alat tulis
lainnya." Langkah pertama pemeriksaan pos pertama. "Silahkan lanjut ke pos kedua." "Qur'an dan beras dikeluarkan, serta yang merasa tidak enak badan silahkan menyingkir. Pesta ini hanya untuk yang sehat, yang sakit silahkan menonton. Buat kelompok, pergi ke sudut jalan itu."
Sekelompok lelaki dan wanita bermasker bersarung tangan putih sedang menanti pasien peserta pesta yang kurang sehat, atau mendadak sakit, dibawah pohon rindang disudut jalan. Terdapat sebuah mobil ambulans kecil, lengkap dengan perlengkapan darurat menunggu bersama tenaga medis, amatir juga profesional. Tiga orang dari barisan Randi, mengeluarkan diri dari barisan menuju pohon rindang. "Okee, maju."

Tahap terakhir. "Angkat lontongnya. Angkat lontongnya. Angkat lontongnya ." Keras, tegas suara itu terdengar, semua peserta pesta mengangkat lontong. Ada yang kecil, sedang panjang, juga besar. Lontong-lontong inilah kekuatan mereka. Lontong ini bagi lelaki sebagai simbol mereka bertahan dalam pesta. "Angkat lontongnya. Naikkan setinggi-tingginya."

Selesai sudah semua tahap pemeriksaan. Randi beserta peserta Pesta berjalan masuk kedalam arena Pesta sesungguhnya. Disambut oleh lelaki dan perempuan yang baik rupanya. Tersenyum sambil menyapa, menghangatkan pagi yang dingin.
Meredakan ketegangan pemeriksaan sebelum pesta. Memandu kepada arena utama. Randi mulai berkenalan dengan lelaki sebarisan dan perempuan dibarisan lainnya. Lelaki dan perempuan kini menjadi satu. Melebur. Saling berkenalan, tersenyum dan tertawa. Dua orang naik ke atas panggung, lelaki dan perempuan.
Menyapa peserta, yang jumlahnya ribuan. Selamat datang di PESTA Pesona Taaruf, tahun dua ribu empat. Selamat datang kepada Mahasiswa, Mahasiswa baru di kampus ini, kampus perjuangan. Langsung saja kita mulai acara PESTA ini, dengan diawali dengan membuka basmallah, Bismillahi Rahmanni Rahim. Bibir Randi bergetar mengucapkan lafal tersebut, hatinya terenyuh, segala sesuatu telah dimulai. Saat ini, ia telah resmi, menjadi Mahasiswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar