Rabu, 06 Maret 2013

Menertawai masa lalu

Rumah kami memang bukan kompleks perumahan elite. Sebutan anak kompleks sudah lazim ditelinga kami. Hari ini beberapa diantara kami berkumpul. Bercerita masa kecil, dan remaja. Masa-masa labil bersama. Masing-masing orang punya beragam versi. Tentu saja semuanya lucu. Membahas masa lalu emang paling enak kalau dibahas sambil tertawa. Kepolosan, kekonyolan, keluguan, semua hanya terjadi di masa lalu. Waktu telah mengubah segalanya. Situasi dan kondisi berubah. Hampir keseluruhan teman bermain di kompleks sudah menikah dan mempunyai anak. Saya tidak termasuk dalam golongan itu. Mungkin segera, atau mungkin lebih lama lagi.

Ada yang pergi, belum kembali bahkan takkan pernah kembali. Ada juga yang setia di kompleks, entah keterpaksaan atau keinginan, yang jelas mereka masing-masing pemilik cerita masa kecil dan remajaku, selain teman-teman di sekolah. Mereka lebih dekat. Dari mulai maen kelereng, benteng, sumpit nibon, mercon, meriam, bola, break dance, band semua dijalani. Kompak.

Sudah lama sekali saya tak pernah ngobrol seperti ini. Sembilan tahun merantau dan hanya pulang sekali setahun ketika lebaran itupun hanya beberapa hari, paling lama tiga minggu, membuat momentum kumpul seperti ini masuk dalam kategori hampir punah, langka dan perlu dilestarikan. Hari ini kami bertemu. Bercerita banyak hal. Tentu saja dengan tertawa. Mau sedih mau lucu mau prihatin tetap saja terselip tawa. Bukan karena hati telah mati, tapi karena masa lalu akan lebih nikmat jika di tertawai.

"Kemana nih?" Tanya seorang teman membuka percakapan. "Kemana begitu ka? Kemana e, jalan saja dulu sudah", "ke dok dua aja sudah, duduk-duduk disana, mau kemana lagi malam begini". Sambut temanku menimpali ide teman yang berkata jalan  saja dulu. Ya memang disini, Jayapura berbeda dengan tempat lainnya, Jogja misalnya, punya sangat banyak tempat nongkrong, mengisi waktu bersama kawan. Di tepi jalan, di kafe, di mall dimana saja bisa. Disini, Kota Jayapura, tempat nongkrong terbatas. Paling dekat dan sederhana ya di depan rumah, atau di kompleks. Agak jauh, pantai dok 2, yang terkenal dengan kursi panjang. Dimana orang-orang suka mengisi waktu sambil duduk melihat pantai, menikmati desir angin bersama kawan, pacar, suami, istri, atau botol (berbotol-botol) . Lebih jauh lagi PTC, Papua trade center, tempat nongkrong disana paling di tempat makan. Selain itu, mall atau serupa mall. Tak ada tempat publik yang bisa dijadikan berkumpul bersama teman-teman. Kami memilih pantai dok dua. Tak begitu jauh, juga bisa santai. "Baru bagemana? Beli botol kah, angker ka, minum-minum sedikit". "Kalau empat lima tahun lalu, saya mau kalau sekarang sudah bukan jamannya lagi lah" "hehehe" temanku yang mengendarai mobil tertawa melihat kedua teman saling tawar menawar pilihan nongkrong. "Ah minum teh aja kita, asik" usulku. Memang teh lebih asik daripada alkohol. Selain teh, lebih asik kopi, mengingat aktivitas temanku esok hari lebih padat maka teh adalah tawaran terbaik. Kami berhenti di sebuah toko, temanku mengambil uang lalu membeli empat kotak teh. Masih dingin, diambil langsung dari mesin pendingin. Mobil dijalankan kembali, langsung di tujukan ke tempat nongkrong.

Di tempat nongkrong kami banyak bercerita. Sana, sini, tentang si a, si b. Masih dengan tawa. Bercerita hingga lapar. Akhirnya kami mencari makan. Malam seperti ini nasi kuning jadi pilihan paling tepat. Kalau di Jogja, nasi kuning jadi suguhan sarapan, kalau di Jayapura, nasi kuning jadi suguhan makan malam. Beda yah.

Nongkrong sudah, cerita sudah, makan sudah, akhirnya kami pulang. Membawa kesan, meninggalkan cerita dan tawa pada malam.

2 komentar:

  1. Hahaha! Mantap bro. Memang tidak akan ada habisnya kalo membicarakan semua tentang masa lalu. Apalagi kita semua menjadi bagian didalamnya.. Hidup anak2 BMG! hahaha!

    Wan, main2 juga e ke sa pu blog.. hehehe!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Opik, ko jadi orang pertama yang meninggalkan jejak di sa punya blog heuheuheu. Selamat. Woke nanti sa maen ke blogmu.

      Hapus