Jumat, 23 Maret 2018
Saya dan Drama Korea
Kamis, 22 Maret 2018
Saya dan sekolah
Selasa, 25 Juli 2017
Cara mengaktifkan hotspot pribadi di Iphone untuk ios 10
1. Pergi ke pengaturan kemudian pilih Seluler
2. Kemudian pilih, pilihan data seluler
Rabu, 28 September 2016
Long life learner: cerita dari Jogja
Seharusnya dengan jumlah kuantitatif pengalaman mereka dalam mengajar, mereka sudah tidak butuh belajar lagi. Tapi begitulah mereka. Mereka masih merasa kurang dalam ilmu, dan rela mengeluarkan uangnya yang tidak sedikit demi meningkatkan pengetahuan mereka. Para peserta pelatihan dan pengajaran akuntansi berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari sumatera, seperti Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan beberapa tempat lainnya. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara (timur dan barat) bahkan saya sendiri dari Papua. Saya benar-benar sendirian dari Papua.
Saya punya pengalama unik ketika mengikuti program tersebut. Saya bertemu dosen-dosen senior dan hebat. Seperti salah satu orang diantara mereka yang menjadi teman saya berbincang dan bertukar pikiran selama kegiatan, pak Abdurrahman namanya. Beliau dari Makassar. Mengajar di Unhas, sudah dari sejak tahun 90an. Masa ketika saya bahkan belum masuk dalam tingkatan sekolah dasar. Luar biasa. Beliau juga menjadi auditor di beberapa perusahaan dan telah mengembangkan beberapa pemograman akuntansi. Namun sedikitpun saya tidak melihat bagaimana beliau menunjukkan kepada orang lain bahwa beliau itu hebat dan sangat berpengalaman dalam mengajar. Hal yang ditunjukkan malah sebaliknya. Beliau menunjukkan pada orang lain bahwa beliau sangat butuh belajar. Bahkan ketika berbicara dengan saya, beliau mengatakan "saya ini, masih nol tentang akuntansi. Mungkin diantara pada dosen disini saya masih kurang sekali tentang akuntansi." Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya langsung membatin. "Beliau yang sudah lama begini saja masih bilang beliau butuh belajar, apalagi kamu wahai Ridhwan, masih cupu, tentu masih sangat perlu sekali belajar." Cerita demi cerita dari beliau, saya dengarkan tentang suka dan duka mengajar. Kadang saya bertanya tentang tips-tips mengajarkan akuntansi kepada mahasiswa, bahkan saya coba menjelaskan bagaimana cara saya mengajar agar beliau tanggapi dan berikan masukan. Sungguh pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya dapatkan di tempat lain.
Sejak pertemuan itulah saya menjadi yakin bahwa menjadi seorang pembelajar itu tak mengenal waktu. Sampai mati kita akan belajar. Baik itu belajar tentang perkara dunia maupun yang menyangkut akhirat. Atau belajar kedua-duanya sebagaimana yang sedang digeluti oleh pak Abdurrahman dan seringkali ia ceritakan kepada saya.
Ayo (terus) belajar.
Senin, 15 Agustus 2016
Studi doktoral?
Minggu, 31 Juli 2016
Pengangguran yang menjadi pengangguran
Solusinya, cobalah pahami visi dan misi organisasi dimana tempat anda bekerja. Konsultasikan kepada atasa anda tentang capaian strategi yang sudah ia jalankan, sudah sejauh mana, sehingga ada gambaran bagi anda untuk mengerjakan sesuatu. Timbang nganggur.
Jumat, 29 Juli 2016
Seumur Hidup Menjadi Pendatang
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416).
Minggu, 24 Mei 2015
The Teacher's Diary
Selasa, 28 April 2015
Merantau; kisah kecil perantauan
Oyang, begitu panggilan bapak kakekku menyebarkan agama islam di pulau maluku. Ia datang bersama anaknya (kakekku). Tentu saja melalui jalur perdagangan. Beberapa orang di daerah maluku utara maupun tenggara pernah mendengar "kesaktian" oyang. Mereka mengira oyang salah satu pendekar sakti. Oyangku terlihat "sakti" karena ia banyak mengamalkan dzikir kepada Allah, begitu cerita turun temurun dari keluargaku. Banyak hal aneh yang mereka lihat dari mendiang oyang. Satu diantaranya berpindah ke beberapa tempat bahkan buah mulut disana oyang pernah berceramah pada hari Jum'at di tiga tempat yang berbeda sekaligus. Akal masyarakat setempat tak sanggup menalarnya. Konon beberapa orang dari dataran arab pun dibuat takjub, karena oyang pernah ke tanah suci mekkah disaat belum banyak transportasi udara maupun laut kesana. Itu sebabnya pergaulannya luas bahkan konon orang arab belajar agama padanya. Oyang, kakek dan juga bapakku perantau dengan kisah masing-masing. Sebagai penyebar agama, pedagang dan menjadi abdi masyarakat, bekerja sebagai pegawai negeri itu yang dilakukan bapakku.
Lain kisah bapakku, lain juga kisah mamaku. Mama, seorang perantau sejati. Bagaimana tidak? Ia merantau sejak umur lima tahun. Selepas meninggalnya eyang laki-laki (bapaknya mama), mama tinggal bersama tantenya. Ia dibawa ke tempat yang tidak dekat dari rumahnya. Jayapura. Madiun, Jawa timur secara geografis letaknya jauh dari Jayapura. Menggunakan kapal laut butuh enam hari terombang ambing dilautan. Kapal terbang,12jam dilangit secara kumulatif. Menembus awan, diguncang angin, memandangi petir jika hujan tiba. Langsung dan nyata. Sejak kecil hingga bekerja, kemudian menikah dan memiliki keturunan, mama tinggal di Jayapura. Pulang untuk melihat kedua orang tuanya, terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Entah kapan, tak tentu. Selain jarak, ongkos juga berat.
Kisah perantauan mereka berlanjut hingga ke keturunannya. Aku salah satunya. Aku merantau menuntut ilmu. Di kota pelajar, begitu orang-orang menjulukinya. Jogjakarta. Slogan aman, nyaman tentram akan kau dapati ketika pertama datang ke Jogja dan itu benar. Tak sekedar slogan seperti ditempat lainnya atau slogan kosong para politisi yang tampil dimedia televisi.
Entah sampai kapan aku disini aku tak tahu. Sudah 10 tahun memasuki tahun ke 11 aku disini. Tak tahu kenapa juga aku masih betah disini. Disini aku masih tetap sama, menjadi pelajar. Meskipun statusku kini telah menikah dan akan memiliki dua anak, insya Allah, tetap saja aku masih belum tahu kenapa aku bisa disini. Aku hanya tahu ini bagian dari takdir. Kadang aku berfikir, ketika ada orang yang berkata ilmu itu dituntut dari dicari hingga mati, masa iya, aku harus menuntut ilmu di jogja saja? Lalu kapan aku bisa bermanfaat nabi orang lain. Kapan aku bisa mengembangkan ilmuku? Kapan juga aku bisa mendapatkan tambahan ilmu yang bisa jadi dari pengalaman, dari pergaulan, juga dari tempat yang aku sendiri tak tahu. Apa mungkin aku sudah terlalu nyaman seperti ikan di laut yang berenang dilakukan lepas. Tak ada nelayan, tak ada gangguan, hanya ada gelombang, sesekali petir, dan aku menjalani proses hidup yang teduh dengan tetap menuntut ilmu. Menuntut ilmu dunia juga ilmu syar'i. Ilmu syar'i, kadang aku jenuh dan bosan, karena merasa, apa yang aku dapatkan hari ini dan hari kemarin hanya sedikit. Namun benarlah kata orang bijak, sabar adalah kunci untuk masuk ke samudra ilmu yang lebih luas lagi. Lihatlah betapa lama kita tahu bahwa Colombus yang menemukan daratan Amerika, apakah kita sudah tahu ternyata ada orang sebelum Colombus yang menemukannya? Atau, berapa lama kita tahu kita hidup menjadi budak dunia, sementara kita semua dilahirkan dengan merdeka dari rahim-rahim ibu kita?
Ini adalah kisah perantauan yang belum berakhir. Aku masih hidup, keturunanku mulai muncul satu per satu. Entah sampai mana anak cucuku akan pergi merantau, sebagai perantau aku bersyukur pernah hidup ditengah orang yang punya riwayat perantauan cukup lama. Meski sesungguhnya, kita semua adalah perantau, kita sedang menemukan jalan pulang. Kembali ke surga, atau tersesat ke neraka.
Salam rantau.
Senin, 27 April 2015
Ketika cinta menuntutmu
Kejujuran kunci kebebasan, pelajaran penting dari Film Big Eyes
Kamis, 23 April 2015
PK: sebuah film perjalanan pulang
Sabtu, 18 April 2015
Hujan dan hal yang menjengkelkan
Kamis, 16 April 2015
Cara menghentikan SMS iklan dari operator Telkomsel dan yang lainnya
Bahaya Lidah tak bertulang sama dengan jari bertulang
Rabu, 26 Juni 2013
Ucapkan sampai disini saja
Selesai, tapi bukan titik. Melainkan koma. Ya kan? Koma itu salah satu tanda baca yang juga merupakan perhentian. Berhenti sejenak. Selesai pada satu kalimat yang di tuliskan namun berlanjut pada kalimat berikut setelah koma. Hingga kemudian titik menyudahi semuanya. Rasanya, blog ini saya sudahi sampai disini saja. Blog yang saya buat ketika saya menjalani masa-masa yang suram, bimbang dan tak menentu. Isi blog, dimana saya lebih sering bercerita kepada entah siapa, dengan bahasan yang sama sekali mungkin tidak menarik. Oleh karena itu, saya memutuskan melanjutkan cerita saya di domain blog lain. Wordpress barangkali. Jadi, saya kalau mau mengingat masa dimana saya menghabiskan waktu saya sendirian dan merasa sendiri, ya di blog ini. Karena sekarang saya sudah menjalani hidup baru bersama istri dan juga anak saya, maka saya sudah seharusnya menuliskan dan bercerita tentang hal-hal baru. Karena kehidupan terus berlanjut bukan? Dan saya, tidak berada di titik. Melainkan di koma. Kalimatnya juga berbeda meskipun satu sama lain berada dalam satu paragraf, yakni blog.
Selasa, 11 Juni 2013
Zafran
8 Juni 2013, orang Indonesia, sedang memperingati kelahiran mantan Presiden Indonesia, Almarhum Soeharto. Presiden yang mejabat selama 32 tahun dan digulingkan oleh mahasiswa di tahun 1998, yang dikenal dengan masa Reformasi. Masih dalam memperingati hari kelahiran pak Harto, begitu beliau sering di panggil, Indonesia di kejutkan oleh kepergian Ketua MPR RI, bapak Taufiq Kiemas yang juga istri mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarno Putri. Berita duka tersebut terkabar di seluruh media massa Indonesia. Beliau meninggal di Singapura, dan diterbangkan kembali ke Indonesia setelahnya. Nan jauh dari berita nasional tersebut, dari Jogja, rumah sakit Sadewa, muncul kabar baik. Muhammad Hafidz Zafran Pasolo, lahir. Seorang bayi laki-laki dengan berat 3050 gram alias 3,05 gram lahir. Dengan rambut hitam lebat dikepalanya, dan suara cemprengnya, ia mampu membuat orang disekitarnya, bahagia. Hampir seluruh keluarga yang mendengar kabar baik tersebut, tak menyangka ia akan lahir di malam hari tepat jam 11.10 malam. Karena ia tidak diprediksikan lahir pada hari tersebut. Ia maju 2 hari sebelum prediksi dokter. Apapun dan bagaimana pun prediksi dokter, dokter hanyalah manusia. Manusia, tak bisa bahkan takkan bisa mengalahkan rencana Allah SWT. Dzat yang Maha Agung, yang Maha Kuasa, yang atas izinnya, juga kasih sayangnya, mengumpulkan keluarga yang tercerai berai menjadi satu dalam sebuah pertemuan. Sebuah kebahagiaan yang sempat hilang diantara mereka, melalui kelahiran seorang anak laki-laki cucu bagi para kakek dan neneknya. Zafran panggilannya. Sebuah nama yang diambil dalam bahasa arab, yang mempunyai makna kejayaan, kesuksesan, kemenangan. Ia datang, seakan kembali ingin membawa kesuksesan dalam hubungan, pekerjaan, sosialisasi, juga spiritualitas keluarganya yang telah lama terabaikan.
Selamat datang Zafran, berjayalah engkau membawa kebahagiaan kepada sekitarmu dan menjadi orang yang akan bermanfaat bagi semesta alam.
Kamis, 06 Juni 2013
Sah!
Cukup singkat waktunya. Namun belum selesai ketegangan belum terlaksana yang namanya akad nikah.
Hari yang dinanti itu tiba. Segala doa-doa dari beberapa rangkaian ibadah terkirimkan dengan cepat ke penjuru langit. Lancar. Semoga lancar segala sesuatunya diberikan oleh Allah saat tiba waktunya. 6 juni 2013, Alhamdulillah saya tak lagi sendiri, paling tidak tak lagi merasa sendirian. Saya telah menjadi pasangan buat istri saya. Ehm. Heuheuheu.
Deg-degannya itu datang, ketika para penghulu sudah mulai menapaki ruangan dengan langkah-langkah mereka. Tergurat senyum panjang sesekali dibawah kumis-kumis mereka. Dengan pakaian rapih serba abu-abu dan peci hitam, mereka melangkah mantap sambil menenteng sebuah tas hitam berukuran sedang. Tas itu berisi dokumen-dokumen penting. Termasuk didalamnya buku nikah. Setelah pantat mereka jatuh di atas kursi, tak lama munculkalimat-kalimat yang makin membuatku tegang. "Sudah hapal belum mas, akad nikahnya? Ini baru yang pertama kali kan? Sambil tersenyum memastikan kepada saya. Tentu saja, saya menjawab iya. Lantas ia tertawa kecil.
Ia kemudian mengeluarkan berkas-berkas, dibantu seorang temannya yang duduk di sebelah kanan. Dia memberikan secarik kertas kepada wali nikah, dan secarik kertas lainnya kepada saya. " dibaca saja, gak usah di hafal. Kalo hafal ya lebih bagus, kalau bisa dilafalkan dalam satu nafas" begitu ujarnya kepada saya, terus ia memberi aba-aba kepada mc dengan kode anggukan kepalanya. Tanda acara dapat dimulai. Mc pun membuka acara. Membaca susunan acara secara keseluruhan, dan mengawali acara dengan pembacaan ayat-ayat suci. Ketegangan di dalam dada saya itu sedikit mereda, setelah teman saya membacakan lantunan ayat-ayat suci sebelum memasuki acara inti yakni Akad nikah. Selesai pembacaan ayat suci. Acara di ambil alih oleh penghulu, lebih tepatnya diserahkan langsung oleh MC kepada penghulu. Sesaat kemudian, penghulu membacakan khutbah nikah yang memang, sudah menjadi semacam rukun sebelum akad nikah dilaksanakan. Setelah ia memberi perintah kepada saya dan wali nikah. "micnya pegang ditangan kiri pak, tangan kanannya sambil jabat tangan masnya, masnya juga gitu. Sini mas, agak maju." Saya menjulurkan tangan menjabat tangan orang tua pasangan saya yang juga menjadi wali nikah, menikahkan langsung anaknya, tanpa memberikannya kepada wali hakim. " Hai engkau, Muhammad Ridhwansyah Pasolo" saya menjawab " Ya, saya." "Engkau aku nikahkan dengan anakku Rati Aprina dengan mas kawin emas sebesar 6 gram" tegang, dalam hati saya minta agar lidah tak kelu. Dihadapan para keluarga sambil berjabat tangan wali, dengan ibu jari saling berhadapan, " saya terima nikahnya Rati Aprina binti Abdul Rasyid untuk saya sendiri dengan mas kawin emas sebesar 6 gram dibayar tunai" plong, setelah kalimat itu terucap " gimana para saksi?" Tanya dari penghulu, kepada para saksi. Om saya dan mbah istri saya. Mereka mengangguk sambil mengatakan sah. "Alhamdulilllah" seru seisi ruangan. Lantas saya melepas jabat tangan saya kepada wali. Penghulu menengadahkan tangannya ke atas lalu berdoa kepada kami. Selesai berdoa saya menandatangani buku nikah, berkas-berkas nikah. Penghulu memberikan buku nikah kepada saya secara simbolis. Lalu saya memberikan kepada istri kotak mas kawin. Selesai sudah proses akad nikah. Alhamdulillah saya dan Rina telah menjadi suami dan istri. Selamat datang dunia, aku akan mengarungi kehidupanku tak lagi sendiri atau merasa sendirian. Aku telah bersama. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini. Aamiin.
Selasa, 04 Juni 2013
Menikah!
Hari ini hari "terakhir" saya sendiri atau merasa sendirian. Besok, Insya Allah saya akan menikah. Menikahi wanita yang sebenarnya sudah lama ingin saya nikahi, namun, baru kesampaian besok. Insya Allah lancar. Dari dulu, saya memang agak ngotot dalam hal nikah, karena bagi saya menikah itu, salah satu jalan untuk lebih dekat pada kekasih (manusia) dan juga kekasih sebenarnya ( Allah SWT). Ya ada banyak jalan menuju kesana, saya memilih menikah. Entah keyakinan apa yang ada di benak saya, yang jelas keyakinan itu begitu bulat dikepala dan hati saya. Niat baik sudah diberikan kepada orang tua, tentu saja orang tua mengizinkan, meski awalnya ada banyak persyaratan ideal dari sisi kemanusiaan yang masih dipertimbangkan. Apalagi kalau bukan kerjaan, uang, harta, rumah, dan lain-lain yang sebaiknya tersedia. Saya sebenarnya ingin mengikuti jalan "lain" yang saya anggap akan seru. Dengan cara menikah dulu, dan mencari rejeki. Karena konon menikah itu membuka pintu rejeki. Maka dengan keyakinan yang dianggap orang lain tolol dan tidak ideal itu, jadilah saya menikah.
Saya mengurus adminstrasi pernikahan, termasuk biaya pernikahan, Rp. 30.000. Dari pengurusan administrasi plus persiapan nikah, saya jadi tahu, ternyata nikah itu memang tidak mudah seperti yang dibayangkan dan diinginkan. Kebanyakan orang tahu nikah itu mudah dan kebanyakan orang juga tahu nikah itu tidak mudah. Orang yang tahu nikah itu mudah, karena beberapa pihak memudahkan pernikahan. Sedangkan yang lain, memang tidak memudahkan. Paling terlihat jelas di mata itu, yang namanya lamaran dan resepsi pernikahan.
Saya jadi tahu, mengapa orang lebih memilih menikah sirih, secara agama atau tidak menikah sekalipun. Mengapa? Kalau kelak kamu akan menikah, kamu akan mengangguk-ngangguk seperti saya. Kata orang, jalani saja, ga usah banyak dipikir. Pikiran kita itu lebih berbahaya daripada pecahan bom atom. Kalo yang barusa itu kata saya. Heuheuheu.
Baiklah, besok, saya sudah tinggal berdua. Entah bagaimana rasanya itu. Tapi yang jelas rasanya saya masih belum percaya dengan segala rentetan kejadian yang menimpa keluarga saya hingga pernikahan saya. TUHAN, sedang benar-benar mempermainkan hambaNya. Saya yakin, permainan Tuhan itu, pasti baik. Karena Tuhan, Maha baik.
Senin, 03 Juni 2013
Twitter menurut saya, sih!
Di twitter juga banyak fenomenan aneh, salah satunya yang paling terkenal fenomena folbek. Ya, desain twitter memang berbeda dengan media sosial lain, itu sebabnya bukan media pertemanan murni sih, seperti facebook. Kalau di facebook kita bisa mengirimkan pertemanan lantas kalao di terima ya syukur, kita jadi teman. Kalau tidak, ya sudah, berarti orang itu tidak mau berteman sama kita. Mungkin facebooknya full, atau dia tidak kenal sama kita, atau dia memang tidak pernah lagi ol facebook, dan pindah ke twitter. Twitter, gak ada pertemanan. Adanya follow-followan. Ikut-ikutan. Jadi kita yang suka maenan twitter, termasuk saya, adalah orang yang suka ikut-ikutan, sebenarnya. Nah semakin banyak following yang kita punya, semakin banyak juga ikut-ikutannya kita. Bukan berarti semakin banyak teman, atau mungkin sebagian besar orang menganggap begitu. Jadi, seringkali orang atau artis bahkan yang sok ngartis tuh, enggan memfollow orang yang menurutnya tidak berharga. Mengapa saya bilang tidak berharga? Ya memang karena orang tersebut bagi dia tak ada nilai sama sekali. Saya pernah tuh lihat di salah satu akun seorang artis atau mungkin ngartis, bilang dia tidak akan memfollow back orang yang minta folbek. Kalau minta folbek dia anggap anak alay. Dan dia tidak memfollow anak alay. Ga kebayang kalo presiden SBY yang baru punya akun twitter tu minta folbek sama dia, berarti presiden kita alay. Hahaha. Tapi ga mungkin ya. Bahkan bisa jadi loh, si doi juga minta folbek ama SBY tapi malu. Atau kalo di folbek juga dia girang kayak anak alay.
Di twitter juga kebanyakan orang lebih menganggap dirinya tinggi dibanding orang lain. Biasanya emang dari kalangan artis. Namun ada juga kok orang penting yang bukan artis, memfollow balik followersnya, seperti yang dilakukan orang-orang yang menggunakan tagar (#) srudukfollow. Isinya orang-orang pebisnis, penulis buku, motivator, ustad yang gak segan-segan memfollow back followersnya.
Jadi, jelaslah sudah, twitter itu bukan ajang cari teman, mungkin sih, android perku riset lagi sebelum menuliskan find your friends on twitter. Oke, gitu aja sih, twitter menurut saya.






