Jumat, 23 Maret 2018

Saya dan Drama Korea


Tayangan drama Korea merupakan tayangan televisi yang banyak menghipnotis penontonnya. Bahkan melahirkan banyak sekali penggemar-penggemar baru. Segala usia, maupun segala profesi. Saya pun akhirnya belakangan ini menyukai drama Korea. Agak aneh memang. Apalagi bagi seorang lelaki. 
Rekan kerja saya yang sama profesinya dengan saya pernah berkata begini " Haaaah? kamu itu dosen yang tepat waktu kalau ngajar. Tampang sangar, dan cool, pendiam,  disegani para mahasiswa, ternyata  tontonannya drama korea. haaaa?? ga salah?." Ya kira-kira begitu yang disampaikan rekan saya. Apalagi rekan saya itu wanita. Bayangkan saja bagaimana cara menuturkannya kepada saya dengan gaya wanita pada umumnya. Lalu iya melanjutkan keheranannya itu pertanyaan singkat sederhana dan dilanjutkan pernyataan. "Kok bisaaa??? sih mass??? Aku aja yang cewek, ya meskipun suka tapi ga terlalu lah. Kamu kok suka?." 
Jadi, mengenal drama Korea itu bukan hal yang baru bagi saya. Dulu, ketika saya kuliah teman-teman saya khususnya yang cewek, sangat suka nonton drama korea. Dulu, drama yang sedang booming, judulnya Full House. Tidak banyak yang saya tahu tentang tayangan itu. Saya hanya tahu pemeran laki-lakinya bernama Rain. Seiring berjalannya waktu saya baru tahu Rain itu nama asli pemerannya bukan nama di dalam tayangan tersebut. Tayangan Korea lalu berkembang dan semakin menjamur di Indonesia. Bahkan bukan cuma drama Korea saja tetapi juga berkembang boyband dan girl band Korea. Gonjang-ganjing itu sampe merembes ke dunia musik Indonesia yang mengarah ke Korea Style. Ditambah lagi kekasihku yang kini menjadi istriku sangat menggandrungi baik film, tayangan drama, hingga musik Korea. Bahkan ketika tahun 2010 saya, diajak untuk menemani dia kursus bahasa Korea. Hedeh. Itu adalah saat dimana saya merasa "hidupku kok begini-begini amat? kok sampe harus belajar bahasa Korea segala?" Ini semua karena cinta. Hahaha begitu konyolnya saya ketika itu. Saya bahkan harus ikut program bahasa Korea itu sampai 2 level. Level dasar dan level dasar (mengulang karena tidak lulus). Masa-masa menjalani kursus bahasa itu berlalu saya tidak juga bergeming, untuk menyukai Korea. Baik budaya, bahasa, lagu, musik, film maupun drama Korea. Bagi saya itu hanya trend kaum muda ketika itu saja. Pikir saya " ah paling juga nanti hilang seperti trend sebelumnya." Saya hanya fokus mencintai kekasih yang menjadi istriku, sedangkan ia masih saja menyukai tayangan drama Korea meski kami sudah mempunyai 3 buah hati. 
8 tahun berlalu, barulah saya tergerak dan muncul rasa penasaran saya tentang tayangan Korea. Darimana? dari teman-teman yang sayang kunjungi di Lombok. Lombok? iya Lombok. Jadi, diawal tahun 2018, saya pergi ke Lombok mengunjungi teman-teman saya. Teman-teman yang saya kenal dari bermain game online. Kami bermain game online bersama sejak tahun 2010. Tak pernah sekalipun bertemu, namun kami sangat akrab di dalam dunia game
Saat saya bertemu dengan mereka, sebagaimana kawan lama tak bertemu. Begitu hangat dan akrab. Saya diajak jalan berkeliling Lombok. Lalu bermain game bersama.
Malam sebelum saya  pulang meninggalkan lombok. Saya menginap di rumah teman saya. Kami bermain game dirumahnya hingga  malam. Kemudian  berhenti main game, kami capek.  Lalu salah seorang teman saya beranjak dari tempat kami bermain game. Ia mengambil rokoknya dan kopi hitam di cangkir yang telah disiapkan untuknya di ruang sebelah. Tak lama kemudian ia kembali. Layar game yang tadinya kami gunakan untuk bermain game, ia ubah ke layar website. Lalu ia mulai menayangkan drama Korea dilayar PCnya yang berukuran 21inch. Saya terkejut. Lalu saya mengoceh " asem nonton apaan nih? filem Korea? buset dah. sangar-sangar nontonnya Korea." 
"Bagus nih po (panggilan nama gameku). Lu aja po nih, yang belum tau. Yakin deh, lu nonton, ketagihan lu." 
Saya tertawa mendengarnya. Sambil tertawa saya mengamati dia dan keluarganya, yang asik bercerita. 
"sudah sampe mana ini bang? kok dia udah kesini aja?" 
"Gak tau abang juga nih, abang juga kelewat episode ini, kemarin kan abang pergi.
"oh, ini, dia ke masa depan lagi ni bang. Aku dah lewat ini, aku dah lewat episode 5"
Saya menyimak percakapan itu kayaknya kok seru. Kayaknya ini keluarga pada doyan sama tayangan Korea. Saya tanya ke mereka "emang film apa sih ini? tentang apa maksudnya?" 
"oh ini tentang dokter-dokter po, dia dari masa lalu, terus dia terjebak ke masa depan. Lucu ini. Hmm.. gimana ya, kalo diceritain panjang, lu ikut nonton aja dah"
Akhirnya saya pun ikut menonton. Meskipun tidak dengan serius. Sambil nonton saya sambil main game di HP saya. Tidak terlalu fokus dengan film. Sedangkan teman saya itu nonton hingga subuh menjelang. Lalu ia mengantarkan saya ke bandara. Kamipun berpisah dan kembali menjalani aktivitas kami masing-masing. 
Sesampainya dirumah saya, saya bercerita tentang bagaimana saya bertemu dengan teman-teman saya kepada istri saya. Termasuk kemana saya diajak berkeliling, bagaimana tempat-tempat wisata disana. Banyak hal, termasuk saya cerita kok teman-teman saya juga suka drama Korea. Istri saya sambil tertawa kecil bertanya
"nonton film apa emang?" saya jawab "gak tau, cuman tentang dokter masa lalu ke masa depan" 
"oh Dr.Heo kali. Film baru tuh tahun 2017 kemarin." 
"mungkin, coba tar deh ku tanya"
Ketika pas ada kesempatan saya chat dengan teman, saya tanyakan judul drama Korea yang tempo hari dia tonton. Kata dia " Live up your name" 
Saya search di google, oh iya benar nama lain judul drama ini emang Dr. Heo. Saya sampaikan ke istri. Lalu ia bilang "tuh kan bener, bagus sih. Lucu juga. Aku dah nonton. Ini lagi nonton judul lain." Hmm.. seperti biasa gumamku. 
"Cari aja di viu, ada kok." Dan itulah kata pamungkas yang mengubah jalan hidupku. Dengan penuh rasa penasaran, saya download Filmnya dari episode 1-16. Saya tonton selama 1 hari. Selesai. Dari tayangan inilah kemudian saya penasaran dengan drama Korea lainnya. Drama yang dulunya saya terheran-heran kenapa banyak orang yang menyukainya. Ternyata. Drama Korea itu memang tidak bisa dipandang remeh. Beberapa judul drama bahkan kualitas gambarnya sudah seperti Film layar lebar. Emosi dalam tayangan yang dihadirkan oleh aktor dan aktris, harus diakui hebat. Itu sebabnya ketika saya nonton drama ini, saya tertawa, kesal, marah, tegang bahkan sedih (tidak sampai menangis). Hingga saat ini saya menjadi barisan penggemar drama Korea, pun dengan beberapa judul film Korea. 
Itulah cerita saya. Kalau kamu?

Kamis, 22 Maret 2018

Saya dan sekolah

Belakangan ini, saya masih terpikirkan tentang dorongan untuk sekolah lagi. Kadang saya berfikir, takdir apa yang saya dapatkan dari Allah ini. Saya adalah salah seorang diantara orang-orang yang kurang atau mungkin bahkan tidak berprestasi dalam sekolah. Namun mengapa saya masih berada pada lingkungan sekolah.

Saya masuk ke dunia sekolah, usia 5 tahun. Sekolah dasar. Pada usia 16 Tahun, saya menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga Sekolah menengah Atas. Saya masuk ke sekolah yang punya jenjang tertinggi, itulah disebut dengan perguruan tinggi, ketika usia saya tepat 17 tahun. Saya ingat betul hari kedua saya menyelesaikan pesona ta'aruf saya merayakan hari uang tahun ke 17 di tanah perantauan, Jogja, bersama seorang teman yang bahkan baru saya kenal, dan dia adalah orang yang pertama kali saya traktir makan dengan ongkos hidup sebagai mahasiswa. Ongkos hidup saya sebagai mahasiswa ketika itu Rp. 300.000 selama sebulan. Saya mentraktirnya makan sate. Saya masih ingat betul. Hari itulah saya "resmi" menjadi mahasiswa di Universitas Islam Indonesia. Saya selesai dari UII, 5 tahun kemudian. Usia saya 22 Tahun. Saya merasa lelah belajar di sekolah. Saya memilih untuk mencoba jalan lain yang tidak ditempuh sebagian besar teman-teman saya. Jalan mencari pekerjaan. 

Saya dan beberapa teman saya memilih merintis usaha. Hampir setahun usaha itu berjalan namun kandas, karena ternyata kerasnya dunia usaha membuat beberapa teman, termasuk saya roboh. Saya kembali mendapatkan dorongan sekolah lagi. Saya bosan, namun saya merasa penasaran. Khususnya tentang ilmu bisnis dan dunianya. Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka trial dan error ketika itu. Jadi saya memilih untuk pergi belajar mendalami apa yang salah sembari belajar pada praktik yang selama ini ada diberbagai belahan dunia. Saya pun mau tidak mau harus kembali sekolah. Saya sekolah profesi, 1 tahun lalu saya lanjutkan ke jenjang master. Usia saya 23 tahun ketika berada di jenjang master. Saya lulus dari jenjang master ini 4 tahun. Waktu yang  tidak biasa. Ternyata persoalnnya bukan hanya bisa dan belajar saja tetapi persoalan lain dalam kehidupan ini yang tidak bisa saya kelola. Pada usia 27 Tahun. Dengan usaha yang keras saya akhirnya bisa lulus. Saya merasa ini adalah final dari proses belajar saya. Cukup. Saya akan kembali ke jalur yang saya tempuh dahulu bersama teman-teman. Yakni jalur yang saya hindari. Yakni jalur tidak mencari pekerjaan, namun menciptakan pekerjaan. Selagi saya ingin berjalan diatas jalur ini, ternyata takdir berkata lain. Kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat, batal. Saya dipanggil pulang ke kampung halaman. 

Orang tua memanggil saya pulang. Sesampainya di kampung halaman, Jayapura, saya disambut oleh tak hanya keluarga tetapi pihak yang saya tidak duga-duga. Sekolah. Tepatnya perguruan tinggi. Saya langsung berfikir, Oooh, inikah yang dikatakan takdir. Saya merasa sudah cukup untuk belajar, namun kita saya harus untuk kembali belajar, bahkan kali ini saya harus belajar ekstra karena saya diminta untuk menjadi pengajar. Tak pernah terbayangkan diusia saya ketika itu 28 menjelang 29 tahun saya harus menjadi pengajar. Bahkan saat ini saya sudah 2 tahun menjadi pengajar, dengan menghadapi situasi yang tak pernah saya bayangkan. Saya bukan hanya mempelajari bahasan yang saya ajarkan, saya harus mempelajari manusia. Hal yang sebelumnya tidak pernah saya pelajari lebih dalam. Belum usai saya belajar, saya sudah mendapatkan dorongan untuk kembali belajar di sekolah. Saya didorong untuk kembali masuk ke dunia sekolah pada jenjang yang paling tinggi. Yakni jenjang doktor. Bagi saya ini takdir yang tidak bisa saya pahami. Andaikan saja saya benar-benar masuk pada sekolah tertinggi itu, saya pun akan kembali bertanya. Mengapa harus saya? Saya, orang yang tidak berprestasi, bahkan tak pernah memuaskan dalam berprestasi dalam sekolah sejak saya lahir hingga sekolah terakhir saya. Padahal, di luar sana banyak orang yang jauh berprestasi dari saya. Inilah takdir yang punya rahasia besar dan tidak bisa terungkap dalam kehidupan saya.




Selasa, 25 Juli 2017

Cara mengaktifkan hotspot pribadi di Iphone untuk ios 10

Sebelumnya saya pernah mengalami kesulitan dalam mensetting hotspot pribadi dari smartphone Iphone saya. Khususnya ketika sudah menggunakan ios 10 ke atas. Saya sudah mencoba mengutak-atik dengan cara melihat di google, ternyata saya menemui masalah. Jaringan Hotspot pribadi saya hanya bisa diakses ketika jaringan 4G atau LTE saja ketika saya mengubah data ke jaringan 3G ternyata hotspot saya eror. Jadi, bagi teman-teman yang mengalami kesulitan yang sama dengan saya dalam mengaktifkan hotspot pribadi untuk ios 10 bisa mencoba melakukan hal berikut:

1. Pergi ke pengaturan kemudian pilih Seluler


2. Kemudian pilih, pilihan data seluler



3. Pilih Jaringan data seluler


4. Scroll ke bawah pilih Hotspot pribadi lalu ketik pada kolom APN; internet

untuk kolom yang paling atas yakni pilihan data seluler isikan APNnya juga dengan ; Internet. Selebihnya tidak perlu diisi. Anda bisa lihat seperti gambar berikut:



5. Kembali ke pengaturan lalu akan muncul Hotspot pribadi seperti ini: 

6. Sekarang tinggal anda nyalakan hotspot pribadinya, dibawah hotspot pribadi nanti akan ada password yang akan digunakan agar bisa mengakses internet dari hotspot pribadi yang telah anda buat. Saya pribadi menuliskan nama saya sendiri: 


7. Selesai. Sekarang anda dapat menikmati internet dari hp iphone anda. 

Catatan saya menggunakan jaringan operator telkomsel. 

Rabu, 28 September 2016

Long life learner: cerita dari Jogja

Long life learner

Saya pertama kali mendengar kalimat ini dari dosen akuntansi saya. Secara makna berarti, pembelajar seumur hidup. Sebagian orang menghabiskan uangnya untuk investasi di bidang pendidikan. Puluhan. Bahkan mungkin ratusan juta, untuk belajar. Belajar apa saja. Bisa yang berkaitan tentang agamanya atau dunianya. Atau dua-duanya. Pertanyaanya, seberapa pentingnya belajar? Maka jawabannya sangat penting. Kecuali anda ingin dikatakan bodoh. Orang yang menjadi pembelajar bukan berarti ia pintar. Melainkan ia sedang beranjak meninggalkan satu kebodohannya tentang beragam hal di dunia ini. Misalnya ketika anda belajar tentang akuntansi, maka sebebnarnya anda sedang berusaha untuk beranjak dari kebodohan anda tentang akuntansi. Setidaknya, ketika anda bertemu dengan orang (yang seringkali merasa dirinya) pintar, anda tidak mudah dibodoh-bodohi. 

Beberapa hari ini saya bertemu dengan bukan cuma satu orang, tapi puluhan orang pembelajar. Meskipun hampir semua dari mereka adalah pengajar yang berpengalaman di bidang Akuntansi. Namun, mereka masih ingin terus belajar tentang akuntansi. Mereka adalah para Dosen di perguruan tinggi dan juga para guru di SMK yang khusus untuk mengajarkan mata kuliah akuntansi. Pengalaman mereka bukan cuma 1-2 tahun mengajarkan akuntansi melainkan 5 hingga bahkan ada yang sudah 26 tahun mengajarkan akuntansi. Kompetensi mereka sudah teruji. Kecuali saya yang jauh dari mereka yang berpengalaman. Saya sendiri belum ada satu tahun mengajarkan akuntansi. Namun, mereka, para pengajar itu dengan rendah hatinya masih ingin mengikuti program pembelajaran. Menjadi pelajar. Pembelajar. Program yang diadakan oleh salah satu universitas negeri ternama di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Seharusnya dengan jumlah kuantitatif pengalaman mereka dalam mengajar, mereka sudah tidak butuh belajar lagi. Tapi begitulah mereka. Mereka masih merasa kurang dalam ilmu, dan rela mengeluarkan uangnya yang tidak sedikit demi meningkatkan pengetahuan mereka. Para peserta pelatihan dan pengajaran akuntansi berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari sumatera, seperti Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan beberapa tempat lainnya. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa tenggara (timur dan barat) bahkan saya sendiri dari Papua. Saya benar-benar sendirian dari Papua.

Saya punya pengalama unik ketika mengikuti program tersebut. Saya bertemu dosen-dosen senior dan hebat. Seperti salah satu orang diantara mereka yang menjadi teman saya berbincang dan bertukar pikiran selama kegiatan, pak Abdurrahman namanya. Beliau dari Makassar. Mengajar di Unhas, sudah dari sejak tahun 90an. Masa ketika saya bahkan belum masuk dalam tingkatan sekolah dasar. Luar biasa. Beliau juga menjadi auditor di beberapa perusahaan dan telah mengembangkan beberapa pemograman akuntansi. Namun sedikitpun saya tidak melihat bagaimana beliau menunjukkan kepada orang lain bahwa beliau itu hebat dan sangat berpengalaman dalam mengajar. Hal yang ditunjukkan malah sebaliknya. Beliau menunjukkan pada orang lain bahwa beliau sangat butuh belajar. Bahkan ketika berbicara dengan saya, beliau mengatakan "saya ini, masih nol tentang akuntansi. Mungkin diantara pada dosen disini saya masih kurang sekali tentang akuntansi." Mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut beliau, saya langsung membatin. "Beliau yang sudah lama begini saja masih bilang beliau butuh belajar, apalagi kamu wahai Ridhwan, masih cupu, tentu masih sangat perlu sekali belajar." Cerita demi cerita dari beliau, saya dengarkan tentang suka dan duka mengajar. Kadang saya bertanya tentang tips-tips mengajarkan akuntansi kepada mahasiswa, bahkan saya coba menjelaskan bagaimana cara saya mengajar agar beliau tanggapi dan berikan masukan. Sungguh pengalaman berharga yang tidak akan bisa saya dapatkan di tempat lain.

Sejak pertemuan itulah saya menjadi yakin bahwa menjadi seorang pembelajar itu tak mengenal waktu. Sampai mati kita akan belajar. Baik itu belajar tentang perkara dunia maupun yang menyangkut akhirat. Atau belajar kedua-duanya sebagaimana yang sedang digeluti oleh pak Abdurrahman dan seringkali ia ceritakan kepada saya.

Ayo (terus) belajar.

Senin, 15 Agustus 2016

Studi doktoral?

Beberapa waktu ini saya didorong untuk kembali "nyemplung" ke bangku kelas. Kali ini bangku kelas yang menurut saya sangat mewah. Meski sudah banyak orang-orang yang mendudukinya dan berhasil, bahkan dengan waktu yang relatif sangat cepat. Itulah bangku studi doktoral. Sebagai contoh, pimpinan di Instansi saya bekerja, ia menghabiskan waktu menyelesaikan pendidikan doktoralnya hanya dalam waktu 2 tahun, dan itu bukan cuma 1 orang. Saya sampaikan pada beliau rasa takjub saya. Beliau berkata "sebenarnya sekolah itu nasib-nasiban. Ada yang cepat ada yang lama. Tergantung dari kitanya saja bagaimana. Alhamdulillah, saya bisa cepat." Akhirnya saya terlibat perbincangan yang seru dan berakhir pada kalimat. "Mumpung masih muda. Pergi sekolah saja. Kalau soal dana bisa dicari dari beasiswa. Kalau sudah tua, gak enak. Saya saja "menyesal" kenapa sejak muda dulu saya tidak sekolah lagi (studi doktoral). Apalagi kamu masih muda, anak-anak juga belum terlalu besar. Cepat-cepatlah sekolah." 

Dalam benak saya tentang studi doktoral, itu sebuah studi yang tak hanya prestisus tapi juga akan penuh dengan perjuangan akademik yang sangat panjang, biaya yang besar dan tanggung jawab yang juga besar jika bisa berhasil melewati jenjang tersebut. Saat ini saja dengan gelar Master yang saya peroleh dari kelas pasca sarjana saya masih merasa belum bisa "berkarya" dengan baik. Ditambah lagi dengan dorongan untuk melanjutkan studi. Belum lagi saya masih terbayang betapa menderitajya saya menyelesaikan tesis. Tulisan ilmiah yang menurut sebagian orang mudah dan gampang. Tapi tidak bhi saya. Meskipun bisa menulis dalam hal-hal yang mudah. Namun untuk menulis secara ilmiah saya asudah lempar handuk duluan. Mungkin ini yang disebut kalah sebeleum bertanding? Ya. Bisa jadi. Atau mungkin lebih tepatnya. Sadar diri sebelum keblinger. 

Studi doktoral? Ah entahlah. Kemana takdir mengalir disitu saya oke-oke saja. Saya hanyalah hamba, yang mengikuti jalan takdir yang telah ditetapkan. 

Minggu, 31 Juli 2016

Pengangguran yang menjadi pengangguran

Sebagian orang beranggapan setelah ia menempuh jenjang pendidikan tinggi ia akan memperoleh pekerjaan yang membuat taraf kehidupan ia menjadi lebih baik. Ia dapat bekerja di perusahaan ternama ataupun mendapatkan status sosial yang baru. Menjadi manajer misalnya, menjadi staff akuntansi, atau sebut saja ia menjadi staff kantoran. Tentu saja hal ini masih sangat diimpikan bagi sebagian besar orang yang ada di Indonesia. Sehingga ia menghabiskan waktunya, uangnya, sebagian besar kebahagiaannya untuk berhadapan dengan tugas-tugas belajarnya dan dengan berbagai materi perkuliahan yang sama sekali mungkin tidak dibutuhkan ketika ia masuk dunia kerja. Hingga sampailah ia mendapatkan gelar dari tingkat pendidikan tinggi. Sarjana. Namun, tak ia sangka ketika ia menjalani waktu dalam belajar, ia kembali harus menerima kenyataan bahwa dunia pekerjaan yang ia impikan membuthkan beberapa kriteria yang lain. Misalnya ia harus punya spesialisasi tertentu. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menekuni jenjang pendidikan setelah pendidikan tinggi dengan mendaftarkan dirinya ke pendidikan spesialis. Ia pun mendapatkannya. Ia kembali masuk ke dunia bursa kerja. Pahit. Ia masih belum mendapatkan pekerjaan yang ia impikan. Ia kembali harus melanjutkan perjuangannya menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jenjang Master. Dua, tiga, empat tahun berlalu. Ia menjadi Master. Sekarang ia berada diatas angin. Ironi. Pekerjaan yang ia impikan ternyata sudah tak lagi menginginkannya. Umurnya telah melewati batas. Akhirnya ia masuk ke pekerjaan yang apa adanya.

Hari-hari masuk dalam dunia pekerjaan telah ia rasakan. Menjadi pengangguran yang berstempelkan mahasiswa telah ia lewati. Perlahan demi perlahan status sosialnya mulai berubah. Menjadi seseorang yang bekerja. Setidaknya ketika ia bertemu dengan orang-orang yang baru. Ia bisa menjawab pertanyaan, "kerja dimana sekarang?" Namun hakikat menjadi pengangguran tetap sama saja ia dapatkan. Ketika ia masuk ke dunia pekerjaan yang tidak ia impikan, ia akan menemui dunia pekerjaan yang dalam aktivitas kesehariannya, lebih banyak menganggurnya daripada bekerja. Dunia pekerjaan dimana para karyawan tidak dibina dengan pendidikan yang cukup atau pelatihan yang cukup sehingga visi dan misi dari perusahaan tidak sinergis dengan para karyawan. Dunia pekerjaan yang mana hari-harinya hanya menunggu masa saat gajian. Itupun dengan gaji yang tidak seberapa.Para karyawan yang masuk kadang masih saja bertanya-tanya, apa yang harus saya kerjakan? Apa yang sebaiknya saya kerjakan? Apa yang bisa saya bantu kerjakan? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya karena tidak adanya poin visi atau misi dalam benak para karyawan. Sehingga motivasi karyawan terbatas hanya ketika ada pekerjaan yang datang menghampiri mereka. Katakanlah para karyawan telah dibekali dengan pendidikan, entah pendidikan pra jabatan atau yang lainnya. Beberapa diantara mereka masih lebih sering memangku dagu menatap layar komputer, dengan tatapan kosong, atau tatapan penuh status di media sosial atau menontov film dengan menggunakan media dan fasilitas yang disediakan kantor. 

Dengan kenyataan ini,saya cuma bisa bilang, yah begitulah.

Solusinya, cobalah pahami visi dan misi organisasi dimana tempat anda bekerja. Konsultasikan kepada atasa anda tentang capaian strategi yang sudah ia jalankan, sudah sejauh mana, sehingga ada gambaran bagi anda untuk mengerjakan sesuatu. Timbang nganggur.

Jumat, 29 Juli 2016

Seumur Hidup Menjadi Pendatang

Jangan salahkan ibu mengandung. Jangan pula salahkan dimana ibu melahirkan. Begitulah kira-kira, apa yang saya dan mungkin beberapa orang yang sama nasibnya dengan saya. Kami lahir di tempat yang bukan kota atau tempat kelahiran atau asal dimana orang tua kami dilahirkan dan dibesarkan. Saya dilahirkan di tempat orang tua saya bekerja. Dimana status mereka sebagai pendatang. 

Ketika saya duduk di bangku SD hingga SMA saya sering mendapatkan pertanyaan oleh beberapa teman saya. Pertanyaan yang sederhana namun belum tentu bisa memberikan jawaban yang sesungguhnya. Pertanyaan itu ialah, "kamu asli mana?." Pertanyaan ini begitu sederhana, dan selalu saya jawab juga dengan jawaban sederhana. "Maksudnya gimana?" iya, jawaban dalam bentuk pertanyaan. Lalu ia tanya lagi suku mana. Lalu ini menjadi sulit untuk di jelaskan. Karena yang beredar di sebagian besar masyarakat kita, jika seseorang lahir dan dibesarkan di suatu wilayah, jadilah orang tersebut menjadi bagian dari penduduk tempat tersebut. Katakanlah, ia lahir di Jogja, ia dibesarkan dan beranak pinak disitu, maka ia menjadi bagian dari orang Jogja. Nah, dalam silsilah keluarga saya, ketika ayah saya di tanya dia orang mana, ia akan menjawab ia orang Dobo. Karena ia lahir dan dibesarkan di Dobo. Keluarga besarnya tinggal di Dobo. Dobo merupakan salah satu pulau yang berada di Maluku Tenggara. Namun Kakek saya, adalah orang Bone. Beliau lahir dan di besarkan di Bone. Salah satu Pulau yang berada di Sulawesi. Hingga kemudian ia bersama ayahnya merantau ke pulau Maluku dan singgah di Kota Dobo. Adapun Kakek Buyut saya, saya tidak tahu beliau asli mana, lahir dimana dan dibesarkan di pulau atau kota mana, karena saya cuma tahu silsilah sampai kakek saya saja. Itu sekilas dari bapak dan kakek saya yang asal-usulnya dari pulau atau kota dimana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Saya? Saya lahir dan dibesarkan di Kota Jayapura. Dari yang semula provinsinya bernama Irian Jaya hingga menjadi Provinsi Papua. Bahkan hingga provinsi Papua di pecah menjadi Papua dan Papua Barat. Selama kurang lebih 17 Tahun saya hidup dari lahir hingga remaja. Namun, hingga matipun saya di tanah kelahiran dan dibesarkan bahkan hingga mengkeriput kulit tubuh ini, saya tidak akan pernah disebut sebagai putra daerah. Karena saya akan tetap disebut seumur hidup sebagai pendatang. 

Rambut saya lurus, agak bergelombang. Tidak ikal, tidak juga keriting. Kulit tubuh saya tidak hitam arang, juga tidak seputih salju. Aslinya kulit saya putih meskipun tak seputih salju, namun karena lama berinteraksi dan tinggal di kawasan tropis lama kelamaan kulit saya menjadi kecoklatan. Ibu saya bukan orang asli Papua, begitu juga bapak saya. Jadilah saya tidak termasuk dalam kriteria orang Papua. Sebagaimana potongan lirik lagu yang selalu dibangga-banggakan oleh orang Papua. "Hitam kulit, keriting rambut, aku Papua." Bahkan ada sebagian orang pendatang yang bernasib seperti saya suka menyanyikannnya padahal hal itu sama sekali takkan mengubah status ia menjadi orang Papua. Lucu. Bahkan saya sempat membaca dalam sebuah koran lokal yang paling terkenal di Papua tentang kriteria orang Papua. Salah satu atau keduanya dari orang tua anak orang asli Papua (Baca, hitam kulit, keriting rambut), sudah 20 tahun tinggal di papua dll. 

Sekarang saya punya keluarga kecil. Ketika saya remaja saya pergi merantau ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya hidup selama 12 tahun lamanya. Melepas masa remaja, lajang dan mempunyai dua orang anak yang dilahirkan di Sleman Yogyakarta. Sekarang pertanyaannya, ketika ditanyakan kepada anak saya kelak ketika (Insya Allah) mereka seumuran saya, kira-kira apa jawaban mereka? Saya hanya bisa tersenyum saja. 

Setelah 12 tahun tinggal di Yogyakarta, kini saya kembali ke kota kelahiran, Jayapura. Entah sampai kapan disini. Hanya saja sekarang saya datang dengan perasaan yang baru, yakni tak lagi mengkhawatirkan atau bertanya-tanya siapa saya sebenarnya, suku mana, asli mana. Karena seumur hidup saya, saya akan tetap dan terus menjadi pendatang. Cukuplah sebuah hadits Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam yang menjadi penghibur hati ini,  " عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhariy no.6416).

Begitulah kira-kira sebagaimana seorang musafir atau orang yang melakukan perjalanan, sepanjang hidupnya akan menjadi pendatang. Seumur hidup menjadi seorang pendatang. 

Minggu, 24 Mei 2015

The Teacher's Diary

Tuang Pong. Salah seorang guru muda yang ditugaskan untuk mengajarkan mata pelajaran olahraga dihukum oleh tempat ia mengajar. Ia dihukum karena dianggap melakukan hal yang tidak pantas kepada muridnya. Hukuman dari sekolah ada dua pilihan, ia dikeluarkan dari sekolah dan ia tetap bisa mengajar di sekolah namun ia harus di skors selama 1 semester dan mengajar di rumah kapal. Tuan pong memilih pilihan kedua. 

Rumah kapal merupakan program yang dibuat oleh pihak sekolah untuk membantu memberikan pendidikan kepada anak-anak para nelayan yang memang susah untuk pergi ke daratan, karena rumah mereka yang tinggal di area sungai di salah satu tempat di Thailand. Program rumah kapal sebenarnya sudah ingin dihentikan oleh pihak sekolah, namun beberapa anggota dalam sekolah memutuskan mempertahankan keberadaan rumah kapal selagi bisa memberikan bantuan juga tempat yang bagus untuk mendidik para guru yang tidak sesuai kriteria sekolah atau yang telah melakukan pelanggaran. 

Tuan Pong, bukan satu-satunya guru yang mengajar di rumah kapal, sebelumnya pernah ada guru yang juga di skors oleh pihak sekolah namanya nyonya Ann. Ia dihukum karena tidak ingin menghapus Tato bintang kecil di tangannya. Sebagai guru tentu saja hal itu tidak pantas, apalagi hal tersebut akan menjadi perhatian anak muridnya kelak. 
Tugas tuan Pong dan nyonya Ann, kurang lebih sama, mereka membantu anak-anak para nelayan untuk belajar dan ketika ada ujian semester mereka bisa naik tingkat atau lulus dalam program sekolah. 

Rumah kapal, letaknya jauh dari pemukiman kota. Sebagaimana namanya ia berada di tengah sungai, dan hanya bisa di tempuh dengan sebuah perahu. Tidak ada listrik, tidak ada pasar, juga tidak ada fasilitas sebagaimana yang ada di kota. Ketika pertama kali tuang Ponh berada di rumah kapal ia bingung apa yang harus ia kerjakan. Ia pun memutuskan untuk membersihkan ruangan kelas. Namun ketika lama menunggu ia tidak juga menemui satu pun murid yang datang ke rumah kapal. Ketika menunggu murid ia pun menemukan sebuah buku catatan Diary, milik nyonya Ann. Dari buku Diary tersebut ia banyak belajar. Mulai dari bagaimana, ia harus pergi meminta pertolongan orang-orang nelayan untuk diantarkan ke rumah-rumah dan mengajak anaknya sekolah hingga bagaimana cara bertahan hidup disana. 
Sekolah orang galau. Begitulah sebuah nama pada buku catatan diarinya yang di tulis oleh nyonya Ann. 
Ketika galau dan bosan ia melakukan hal-hal yang unik lalu ia tuliskan ke dalam catatan diarinya, termasuk kerja ia punya masalah dengan pacarnya hingga banyak peristiwa aneh. 
Tuan pong menikmati bacaan lembar demi lembar dari catatan yang di tulis oleh nyonya Ann. Hingga sampai ia terbesit untuk bertemu dan mencari nyonya Ann. Kira-kira ketemu gak ya? Enting ya gimana? Dan apa reaksi nyonya Ann? Silahkan di tonton sendiri. 

Dari film ini ada sebuah pelajaran menarik, yakni menulis. Ya menulis, siapa tahu Tulisanmu bermanfaat bagi orang lain. 


Selasa, 28 April 2015

Merantau; kisah kecil perantauan

Keluargaku adalah keluarga perantau. Bapakku perantau di Jayapura. Mencari kehidupan yang lebih baik dengan bekerja hingga berkeluarga disana. Disanalah aku lahir. Di tempat perantauan bapakku. Begitu juga dengan almarhum kakekku, ia dahulu adalah seorang pedagang besar. Merantau dari sulawesi bersama ayahnya untuk berdagang. Ayah kakekku keturunan bangsawan di bone. Namun ia taat dalam agamanya sehingga ia lebih memilih untuk menjadi orang biasa. Tanpa gelar bangsawan. Tanpa embel-embel anak raja, atau penerus kerajaan. Ia hanya tahu bahwa hidup didunia ini yang terpenting ialah berbuat baik. Tak peduli siapa engkau, keturunan darimana hingga seberapa besarnya hartamu. Kalau tak bermanfaat bagi kebaikan orang lain, kamu tak pantas dikenang dan hidup diantara sekumpulan manusia bahkan alam sekalipun. Itu sebabnya ia menghilangkan dua huruf ng dibelakang nama marga keluarga, pasolo. Konon meski dua huruf, jika dibunyikan, orang akan tahu bahwa itu gelar bangsawan. Entahlah. Itu cerita turun temurun. Jelas sudah bahwa haru ini siapapun tak ada yang memakai dua huruf n dan g dibelakang nama marga. Lagipula tak ada yang ingin jadi bangsawan (bangsawan dalm arti sebenarnya). Buat apa?

Oyang, begitu panggilan bapak kakekku menyebarkan agama islam di pulau maluku. Ia datang bersama anaknya (kakekku). Tentu saja melalui jalur perdagangan. Beberapa orang di daerah maluku utara maupun tenggara pernah mendengar "kesaktian" oyang. Mereka mengira oyang salah satu pendekar sakti. Oyangku terlihat "sakti" karena ia banyak mengamalkan dzikir kepada Allah, begitu cerita turun temurun dari keluargaku. Banyak hal aneh yang mereka lihat dari mendiang oyang. Satu diantaranya berpindah ke beberapa tempat bahkan buah mulut disana oyang pernah berceramah pada hari Jum'at di tiga tempat yang berbeda sekaligus. Akal masyarakat setempat tak sanggup menalarnya. Konon beberapa orang dari dataran arab pun dibuat takjub, karena oyang pernah ke tanah suci mekkah disaat belum banyak transportasi udara maupun laut kesana. Itu sebabnya pergaulannya luas bahkan konon orang arab belajar agama padanya. Oyang, kakek dan juga bapakku perantau dengan kisah masing-masing. Sebagai penyebar agama, pedagang dan menjadi abdi masyarakat, bekerja sebagai pegawai negeri itu yang dilakukan bapakku.

Lain kisah bapakku, lain juga kisah mamaku. Mama, seorang perantau sejati. Bagaimana tidak? Ia merantau sejak umur lima tahun. Selepas meninggalnya eyang laki-laki (bapaknya mama), mama tinggal bersama tantenya. Ia dibawa ke tempat yang tidak dekat dari rumahnya. Jayapura. Madiun, Jawa timur secara geografis letaknya jauh dari Jayapura. Menggunakan kapal laut butuh enam hari terombang ambing dilautan. Kapal terbang,12jam dilangit secara kumulatif. Menembus awan, diguncang angin, memandangi petir jika hujan tiba. Langsung dan nyata. Sejak kecil hingga bekerja, kemudian menikah dan memiliki keturunan, mama tinggal di Jayapura. Pulang untuk melihat kedua orang tuanya, terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Entah kapan, tak tentu. Selain jarak, ongkos juga berat. 

Kisah perantauan mereka berlanjut hingga ke keturunannya. Aku salah satunya. Aku merantau menuntut ilmu. Di kota pelajar, begitu orang-orang menjulukinya. Jogjakarta. Slogan aman, nyaman tentram akan kau dapati ketika pertama datang ke Jogja dan itu benar. Tak sekedar slogan seperti ditempat lainnya atau slogan kosong para politisi yang tampil dimedia televisi.

Entah sampai kapan aku disini aku tak tahu. Sudah 10 tahun memasuki tahun ke 11 aku disini. Tak tahu kenapa juga aku masih betah disini. Disini aku masih tetap sama, menjadi pelajar. Meskipun statusku kini telah menikah dan akan memiliki dua anak, insya Allah, tetap saja aku masih belum tahu kenapa aku bisa disini. Aku hanya tahu ini bagian dari takdir. Kadang aku berfikir, ketika ada orang yang berkata ilmu itu dituntut dari dicari hingga mati, masa iya, aku harus menuntut ilmu di jogja saja? Lalu kapan aku bisa bermanfaat nabi orang lain. Kapan aku bisa mengembangkan ilmuku? Kapan juga aku bisa mendapatkan tambahan ilmu yang bisa jadi dari pengalaman, dari pergaulan, juga dari tempat yang aku sendiri tak tahu. Apa mungkin aku sudah terlalu nyaman seperti ikan di laut yang berenang dilakukan lepas. Tak ada nelayan, tak ada gangguan, hanya ada gelombang, sesekali petir, dan aku menjalani proses hidup yang teduh dengan tetap menuntut ilmu. Menuntut ilmu dunia juga ilmu syar'i. Ilmu syar'i, kadang aku jenuh dan bosan, karena merasa, apa yang aku dapatkan hari ini dan hari kemarin hanya sedikit. Namun benarlah kata orang bijak, sabar adalah kunci untuk masuk ke samudra ilmu yang lebih luas lagi. Lihatlah betapa lama kita tahu bahwa Colombus yang menemukan daratan Amerika, apakah kita sudah tahu ternyata ada orang sebelum Colombus yang menemukannya? Atau, berapa lama kita tahu kita hidup menjadi budak dunia, sementara kita semua dilahirkan dengan merdeka dari rahim-rahim ibu kita?

Ini adalah kisah perantauan yang belum berakhir. Aku masih hidup, keturunanku mulai muncul satu per satu. Entah sampai mana anak cucuku akan pergi merantau, sebagai perantau aku bersyukur pernah hidup ditengah orang yang punya riwayat perantauan cukup lama. Meski sesungguhnya, kita semua adalah perantau, kita sedang menemukan jalan pulang. Kembali ke surga, atau tersesat ke neraka.

Salam rantau.

Senin, 27 April 2015

Ketika cinta menuntutmu

Pernahkah terdengar olehmu kisah seseorang "terpaksa" melakukan hal ini dan itu untuk seseorang yang ia cintai? Rasanya, hampir semua orang yang dianda rasa cinta melakukan hal serupa. 

Setiap kita yang mencintai seseorang dituntut untuk melakukan beberapa hal kepada yang ia cintai. 

Orang yang mencintai dunia Kuliner, dituntut untuk bisa membedakan mana yang asin, mana yang manis, mana yang pahit, mana yang asam, mana yang pedas. Jika tidak ada hal-hal ini pada dirinya, bagaimana bisa ia dikatakan sebagai seorang pecinta Kuliner. Belum lagi ia dituntut untuk menyediakan beberapa kocek yang tidak sedikit, untuk melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya. Menelusuri jalan entah jauh atau dekat demi mencari Kuliner terbaik bagi lidahnya juga lambungnya. 

Orang yang mencintai dunia design dan dunia fashion. Ia dituntut untuk bisa mengetahui segala hal tentang fashion. Terutama ia dituntut, harus punya daya imajinasi tinggi, selera yang tinggi. Tidak mungkin ia mau seleranya disamakan dengan selera orang yang sama sekali tidak mencintai design dan fashion. 

Orang mencintai dunia sepakbola, tentu saja ia juga punya tuntutan. Ia sedia mengorbankan uangnya, waktunya, atau mungkin beberapa acara yang menurut orang lain penting tapi tidak untuk dia, hanya untuk menyaksikan tim sepakbola kesayangannya. 

Orang yang mencintai dunia otomotif pada sebuah kendaraan tertentu. Ia dituntut untuk bisa menyediakan uang yang tidak sedikit bagi kesukaannya, kecintaannya, bahkan ia dibilang gila karena menjalani perjalanan jauh sekalipun tetap ia jalani demi kecintaannya pada dunia otomotif. 

Orang yang cinta dunia travel ini, ia dituntut punya uang, punya pengetahuan tentang lokasi kemana ia akan pergi, dituntut punya persiapan perbekalan yang cukup, juga ia dituntut harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar tidak terganggu ketika ia travelling. 

Dan diantara banyak kecintaan, semua itu pasti ada tuntutan. 

Mencintai seseorang, mencintai istri, mencintai suami, anak, orang tua, sahabat, keluarga, kerabat, lingkungan, semua ada tuntutan. Segala tuntutan ada jenjangnya, tingkatannya, namun segalanya kalah dengan rasa cinta yang sudah terlanjur menetap di hati. Akan dilakukan segala hal agar bisa dekat, bisa Selakau mendapatkan yang ia cintai, bisa bersama dan bisa langgeng bersamanya. 

Lantas. Bagaimanakah menurutmu, jika orang yang sudah cinta kepada yang lebih besar dari seua itu, lebih mulia dari semua itu, lebih menakjubkan dari segalanya? Mencintai Allah Subhanahu wa ta'ala. Tuhan yang menciptakannya, yang menghidupkan ya, yang mematikannya, yang akan membangkitkanNya kembali, yang akan membahagiakannya di surga jika ia taat,dan menyiksanya di neraka jika ia bermaksiat. Yang memberikan segala bentuk kecintaan yang ada di jati-hati para manusia, bagaimana? Adalah semua itu dibiarkan mencinta tanpa tuntutan?

Maka cinta itu selalu ada tuntutan. Siapapun anda yang telah jatuh cinta takkan berat untuk melaksanakan segala tuntutan, dan memenuhi tuntutan. 

Bersabar atas tuntutan yang ada akan membuat kita jauh lebih bahagia ketika kita sampai kepada apa yang kita cintai. 

Kejujuran kunci kebebasan, pelajaran penting dari Film Big Eyes

Mungkin tak hanya saya yang merasa kurang percaya diri dengan kemampuan diri masing-masing. Selalu saja ada semacam bayang-bayang kekhawatiran yang muncul ketika hendak memulai sesuatu atau memperkenalkan ide yang kita punya. Saya tidak tahu, apakah anda juga demikian? Tapi mari saya ajak anda sedikit mengambil pelajaran dari sebuah film yang berjudul Big Eyes yang baru saja beberapa hari saya tonton. 

Big Eyes. Begitu judul filmnya. Film ini menceritakan sebuah kisah nyata dari seorang Margareth, seorang wanita yang melarikan diri dari rumahnya bersama seorang anak perempuannya Jane. Dalam kehidupan rumah tangganya ia senantiasa diperlakukan oleh suaminya Ulbrich. Karena tidak tahan dengan perlakuan itu ia memilih lari dari kenyataan hidupnya itu untuk pindah ke sebuah tempat, tepatnya di kota San Fransisco. 

Kesedihan-kesedihan yang ia alami bersama anaknya Jane, selalu ia ekspresikan ke dalam lukisannya, hingga suatu saat karena tuntutan hidup dan harus menafkahi dirinya dan anaknya Margareth memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang disana ada banyak pelukis independen memamerkan hasilnya. Bukan di sebuah galeri, bukan juga di sebuah pertokoan akan terapi di pinggiran jalan, mungkin kalau di tempat kita bisa dibilang seperti pedagang kaki lima lah. 

Disaat sedang menjualkan lukisannya  ia terpikat dengan seseorang pria yang menurutnya cukup mempesona, punya karya lukisan yang juga bagus dan memiliki komunikasi yang sangat baik dalam menarik perhatian para pengunjung yang sedang melewati jalanan. 

Lukisan Margareth memang berbeda dengan lukisan para pelukis pada saat itu, diantara para pelukis ada yang melukis dengan tema pemandangan, ada juga portrait, dan beberapa teman lainnya. Margareth meskipun dengan tema portrait memiliki keunikan tersendiri, yakni pada bola mata lukisan yang ia buat. Hampir semua karakter yang digambarkan olehnya mempunyai bola mata yang besar, inilah kenapa kemudian disebut dengan Big Eyes. 

Pria yang ditemui oleh Margareth bernama Walter Keane. Setelah beberapa waktu mereka berkenalan mereka mulai dekat jingga akhirnya mereka menikah. Ketika itu Margareth berdzikir bahwa ia membutuhkan Keane karena ketika Keane memperkenalkan dirinya ia berprofesi sebagi penjual apartemen, mungkin di tempat kita disebut sales apartemen. Sebagai sales atau lebih tepatnya Marketing apartemen Keane cukup sukses, namun perusahaan tempat ia bergabung mengalami kemunduran. Keanemencoba menawarkan kepada Margareth untuk menjual lukisannya. Di sinilah masalah itu muncul. Margareth mempunyai kebiasaan setiap lukisan yang ia buat ia bubuhkan tanda nama belakang suaminya, seolah ia ingin menutup diri dan tidak ingin identitas dirinya itu diketahui oleh orang lain. Selain itu juga ia punya keyakinan bahwa karya lukisan dari seorang perempuan memang ketika itu belum bisa diterima oleh orang pada umumnya. Jadilah ia senantiasa membubuhkan nama Keane pada setiap lukisannya. Lagipula jika secara logika hal itu dibenarkan karena dalam pandangan orang barat ketika itu, saat seorang wanita sudah menikah dengan seorang pria maka ia menambahkan nama belakang suaminya pada namanya sendiri jadilah ia bernama Margareth Keane. Sehingga dengan adanya naman ini lukisan itu menjadi milik bersama. 

Walter Keanehlai memasarkan hasil karya lukisan istrinya tersebut. Berawal di sebuah bar ia terlibat perkelahian dengan seorang pemilik bar dan diliput oleh wartawan gosip ketika itu,maka mulailah tersebar isu bahwa perkelahian mereka disebabkan oleh lukisan Big Eyes. Keesokan harinya bar tersebut dikunjungi banyak orang hanya untuk melihat lukisan Big Eyes yang membuat Walter berkelahi dengan pemilik bar. Orang yang melihatnya mulai tertarik dengan lukisan dan membeli satu persatu lukisan Big Eyes. Hingga suatu saat ada seorang pengusaha dari Italia yang berkunjung di bar dan menyukai lukisan tersebut, lalu ia menanyakan siapa yan membuat lukisan tersebut. Ketika itu ada Margareth, juga ada Walter, karena melihat potensi lukisan yang akan terjual maka Walter pun mengakui bahwa itu lukisannya. 

Singkat cerita, Walter Keane menjadi sangat terkenal dengan lukisan tersebut. Ia dan Margareth mendapatkan banyak sekali uang dari hasil penjualan lukisan, dan setiap waktu Margareth terus berkarya dan mereka berdua menghasilkan uangnya. Namun, dibalik kesuksesan mereka berdua dalam hati kecil Margareth ia merasa sedih karena selama ini yang melukis lukisan tersebut adalah dirinya dan yang dianggap atau dikenal orang adalah Walter Keane. Sebuah kemewahan dan popularitas yang ada tidak menjadikan ia bahagia, karena semua itu datang dari kebohongan ya sendiri. Ketika Jane, anaknya pernah bertanya bukankah itu lukisan ibu? Ia membohonginya dan mengatakan bahwa itu lukisan Walter. Disitulah merasa bersalah dan sedih. Namun karena cintanya kepada Walter yang begitu besar dan tak ingin menyakiti hatinya ia rela memendam hal ini. Sampai pada akhirnya ia merasa di bohongi oleh Walter. Walter yang mengaku bisa melukis terbuat adalah pembohong, yang sama sekali tidak bisa. Setiap lukisan yang bertema kota adalah hasil karya orang lain yang kemudian ia ganti namanya dengan cara menimpa nama tersebut dengan namanya sendiri. Selama kurang lebih 10 tahun Margareth mengurung dirinya sendiri dalam kebohongan. Akhirnya ia pun meninggalkan Walter, meminta bercerai dan mengadukan kepada pengadilan, dan ia memenangkan perkara tersebut., orang-orang pun akhirnya tahu siapa yang membuat karya lukisan Big Eyes. 

Dari kisah ini ada dua pelajaran penting yang bisa kita ambil. 
1. Kejujuran. Siapa saja orangnya, jika ia tidak jujur dalam melakukan sesuatu maka ia selamanya akan menjadi orang yang tidak bahagia dalam hidupnya. Perbuatan bohong juga menyakiti diri sendiri dan juga orang lain. Kejujuran merupakan kunci kebahagiaan seseorang tak peduli apapun yang terjadi maka jujur itu adalah perkara baik yang harus kita jaga. Jujur itu juga termasuk percaya kepada diri kita sendiri, yakin pada diri kita dan tidak minder pada diri kita. Kejujuran juga akan menjadikan kita menjadi orang yang pemberani memperjuangkan kejujuran yang kita miliki, memperjuangkan kemampuan yang kita miliki.

2. Kebebasan. Tidak semua perkara yang menyenangkan itu membebaskan diri kita. Lihat bagaimana yang di alami Margareth dalam kisah diatas, ia mendapatkan segala kesenangannya, ia memiliki suami, ia memiliki rumah mewah bahkan kehidupannya jauh lebih menyenangkan namun ia tidak memiliki kebebasan. Ia harus enam tiada berbuat sesuatu yang bukan merupakan dirinya, ia selalu terkurung dalam rasa bersalah sehingga ia tidak menjadi orang yang bebas. Kebebasan inilah yang dicari semua orang. Tentu saja bukan kebebasan yang di maknai sewenang-wenang dalam melakukan sesuatu, akan terapi bebas dalam meja peradilan apa yang ada di dalam diri kita namun tidak menyakiti diri kita, juga orang lain, tidak mengganggu diri kita dan orang lain. Kebebasan dalam kebaikan bukan kebebasan diatas keburukan. 

Sungguh beruntung orang yang memelihara kedua hal ini dalam dirinya, ia akan beruntung.

Kamis, 23 April 2015

PK: sebuah film perjalanan pulang

Siapa itu PK?
"Ambillah uang ini untukmu, agar kamu bisa memesan taxi untuk pulang. Ketika mendengar kamu tidak bisa pulang, saya ikut sedih." Inilah perkataan seorang PK kepada Jaggu. Ya, ia memang tak punya nama namun ia sering dipanggil dengan PK. Tingkah lakunya yang seperti orang mabuk juga lantas menjadikan nama itu pantas kepadanya, PK, yang dalam sebutan bahasa orang India, berarti mabuk, orang mabuk. 

PK dikisahkan sebagai seseorang yang berasal dari planet diluar bumi. Diantara sekitar 20.000 galaksi yang ada di alam semesta, ada beberapa galaksi yang punya kehidupan sebagaimana kehidupan di bumi. Disanalah planet PK tinggal. PK sendiri mendatangi bumi karena ingin melakukan penelitian, karena terlihat dari planet ia berada ada kehidupan yang sama dengan tempat ia berada. Hanya saja di planet tempat tinggalnya, PK tidak memiliki bahasa, mereka berkomunikasi dengan pikiran mereka, mereka juga tidak memakai pakaian alias telanjang. 

PK pergi ke bumi tujuannya hanya sementara untuk melakukan penelitian, namun ketika pertama kali ia sampai ke bumi di daerah Mandawa, salah satu daerah di daerah India, ia bertemu dengan seseorang. Orang itu melihat aneh PK yang berada di Padang gurun tanpa berbusana sama sekali. Lalu ia tertarik dengan sebuah kalung yang berada di leher PK. Kalung tersebut memancarkan cahaya dan berwarna hijau, sang orang yang terlihat sudah tua tersebut lalu mengambil kalung yang ada pada leher PK dan melarikan diri mengikuti sebuah kereta barang yang menuju ke kota Delhi. 

Perjalanan pulang pun dimulai
Jaggu jannani adalah seorang wanita muda yang bekerja sebagai wartawan. Sebelumnya ia pernah tinggal di kota Belgia beberapa saat, ketika itu ia ingin menghadiri sebuah pertunjukan puisi dari tokoh yang ia kagumi, yang bermarga bachan, yang sekaligus menjadi ayah dari amitabachan. Ketika tinggal di Belgia ia mempunyai kisah unik bertemu dengan seorang pemuda bernama Syaafaraz Yusuf. Syaafaraz adalah seorang pemuda yang sedang menjalankan studi di universitas beliung, sebelumnya ia adalah seorang pekerja di kedutaan Pakistan, dan menunjukkan bahwa ia seorang pakistani, seorang muslim dari negara Pakistan. Ketika itu Syaafaraz juga sedang memburu tiket untuk menghadiri konser yang sama dengan apa yang dubur oleh Jaggu. Dari situlah mereka berkenalan. Ketika mengetahui Syaafaraz dari Pakistan ada semacam keraguan dalam hati Jaggu, karena sebagaimana kita ketahui Pakistan dan India adalah dua negara yang punya perbedaan mencolok, India adalah negara Hindu, Pakistan adalah negara muslim. Meskipun dahulu mereka adalah satu kesatuan. Adanya perbedaan agama, negara membuat cinta mereka terhalang, orang tua Jaggu yang merupakan penganut salah sebuah agama di India menentang hubungan Jaggu dengan syaafaraz, bahkan meminta kepada guru spiritual Keluarga mereka, tuan Tapaswi untuk memberikan saran. Ketika itu tuan Tapaswi yang meyakini muslim sebagai munafik, mengatakan bahwa syaafaraz tidak akan menikahi Jaggu, dan akan meninggalkan Jaggu. Pada hari pernikahan tiba, Jaggu menunggu syaafaraz di gereja untuk melangsungkan pernikahan namun ia malah mendapati sebuah surat kaleng dari seorang anak kecil, yang isinya karena perbedaan agama dan juga negara menjadikan mereka tidak bisa hidup bersama. 

Setelah kejadian itu Jaggu pulang ke rumahnya di Delhi dengan menekuni kembali kehidupannya sebagai seorang wartawan, ia mencari berita bersama temannya dan kadang ia mengarang berita karena di Delhi, mereka tidak begitu perhatian dengan suatu berita. Pada suatu ketika ia bertemu dengan PK. PK ketika itu mengenakan sebuah helm kuning dan berdandan dengan pakaian yang sangat aneh dan unik di mata Jaggu, selain itu ia juga membagi-bagikan sebuah selebaran yang isi selebaran itu adalah "dicari Tuhan, Tuhan telah menghilang, bagi siapa yang menemukannya hubungi PK."
Karena kisahnya yang begitu unik dan membuat Jaggu penasaran akhirnya ia mengikuti PK, berkenalan dan mencari tahu kisahnya.  

Mengapa PK membuat selebaran tersebut? Ya, tidak lain karena ia ingin pulang ke rumahnya dan ia mencari remote kontrol yang dikalungkan di lehernya telah direbut oleh orang yang ia jumpai di saat pertama kali ia turun ke bumi. Remote kontrol yang ia kalungkan direbut hingga ia harus mencarinya di Delhi. Remote kontrol itu berguna untuk memberikan sinyal kepada orang di planetnya agar ia bisa dijemput pulang kembali ke planetnya. 

Ketika berada di Delhi, PK menemui polisi melaporkan apa yang ia alami, dengan melihat segala keanehan yang dimiliki oleh PK, sang polisi mengatakan kepada PK agar meminta pertolongan kepada Bahwan (Tuhan) dalam bahasa India. Begitu juga hal yang ia alami ketika bertanya kepada orang-orang disana, hampir semua orang yang ia jumpai memberi rekomendasi pada PK untuk mengadukan masalahnya ini dan meminta pertolongan kepada Tuhan. PK pun akhirnya mulai menelusuri satu persatu rumah ibadah, atau rumah Tuhan yang ditunjukkan. Ia memulainya di sebuah kuil. Di depan kuil dijual patung-patung Tuhan dari berbagai macam ukuran ada yang kecil sedang hingga besar. Harganya pun bervariasi ada yang 20 rupe, 50, hingga 100. Karena tak tahu harus memilih Tuhan yang mana si penjual pun memberikan kepadanya patung Tuhan berharga 15 rupe. Ketika telah mendapatkan patung itu ia mulai mencobanya, ia menepi bersama deretan para pengemis sambil mengatakan "Tuhan saya sangat lapar" tiba-tiba ada ornag yang lewat membagi-bagi makanan kepada PK dan deretan orang miskin peminta-peminta. PK yakin bahwa Tuhan mengabulkan dianya ketika ia lapar lalu ia sangat gembira dan mencoba meminta permohonan lain, ia meminta remote controlnya namun tidak berhasil. Berkaki-kali coba tetap tidak berhasil, PK lalu mendatangi penjual patung Tuhan dan melakukan komplain atas patung yang ia beli. Disana muncul banyak pertanyaan tentang Tuhan. Seperti kenapa Tuhan tidak mengabulkanku, lalu kenapa Tuhan diciptakan oleh si penjual? kenapa meminta harus melewati Patung jika Tuhan bisa mengabulkannya secara langsung dan banyak pertanyaan yang menggelitik. Dari sinilah perjalanan mencari Tuhan PK berlanjut. 

Semua itu berakhir karena cinta

Singkat cerita kisah PK di angkat ke media tempat Jaggu bekerja, pertanyaan tentang Tuhan dan perilaku beberapa pemuka agama dan oknum agama yang melakukan komersialisasi agama menjadikannya sumber berita yang unik, hingga pada pertemuan PK dan tuan Tapaswi yang ternyata memiliki remote kontrol milik PK. 

Bagaimana kelanjutan ceritanya ya? Hmmm, alangkah lebih baik jika anda menonton sendiri, karena ada banyak hal yang lucu dan cukup kritis yang disajikan oleh para produser dan sutradara film ini. 

Semua berakhir pada sebuah kisah cinta yang sebenarnya mengantarkan seseorang kembali pulang ke rumahnya. Tertarik, nonton saja. Sebenarnya ini film sudah lama, tepatnya tahun 2014 yang lalu, hanya saja saya baru menontonnya dan membuat resensi saya. Selamat menonton, jadikan tontonan sebatas tontonan, karena tontonan itu bukan tuntunan dan selamanya tidak bisa jadi tuntunan. 



Sabtu, 18 April 2015

Hujan dan hal yang menjengkelkan

Belum lama ini pada beberapa daerah di Indonesia khususnya di Jogjakarta, mengalami musim yang tidak menentu. Pagi hingga siang hari cuacanya panas terik, namun pada sore harinya atau malam hari, turun hujan yang begitu deras. 

Ada sifat beberapa orang yang menurut saya menjengkelkan; 
1. Orang yang memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dampaknya ialah jalanan yang dipenuhi genangan air akhirnya  mengenai pengendara kendaraan lain, baik motor atau mobil atau bahkan pejalan kaki. Ini kan bukan hanya membuat orang yang terciprat air menjadi kesal dan jengkel, tetapi juga bisa membahayakan si pengendara mobil atau motor. 

2. Orang yang mengendarai mobil namun tidak memberikan tumpangan kepada pejalan kaki. Orang ini sungguh mempunyai rasa kepedulian yang semangat kurang. Ketika ada orang yang berjalan kaki, lalu berteduh di bawah pohon, atau di halte atau dipinggiran toko, bukannya ia tawari tumpangan malah ia biarkan begitu saja padahal mobilnya kosong. 

3. Orang yang mengendarakan mobil atau motornya disaat hujan deras, namun tidak menyalakan lampu kendaraannya. Ini sangat berbahaya, beberapa kejadian pernah terjadi karena minimnya jarak pandang membuat orang itu susah melihat kendaraan lainnya. Bisa jadi karena hal ini terjadi kecelakaan lalu lintas. 

4. Orang yang mengendarai mobil yang suka membunyikan klaksonnya kepada para pengendara motor. Baik pada pemberhentian lampu merah atau pada jalanan agar ia bisa melaju lebih cepat. Seandainya pengendara mobil yang seperti itu punya pikiran yang sedikit waras, kenapa ia tidak bersabar diatas kendaraannya itu lantas tangannya tidak mudah ia pencat-pencetkan pada klakson mobilnya. Hal ini tentu saja sangat menganggu pengendara motor atau pejalan kaki. Toh, ia juga tidak sedang kehujanan, juga tidak terganggu dengan derasnya hujan dan kilat yang menyala-nyala di langit. Seharusnya ia bisa lebih tenang. 

Solusi:
1. Jika hujan sedang turun deras, jangan pacu kendaraan anda terlalu kencang. Ini bukan berarti ketika tidak hujan boleh memacu kendaraan dengan kencang ya, tetapi alangkah lebih baik jika anda memacu kendaraan dengan normal atau bahkan menurunkan kebiasaan normal anda mengendarakan kendaraan. Misalnya pada umumnya itu mengendara 60km/jam maka diturunkan jadi 40/30km/jam. Karena bisa jadi karena kencangnya anda mengendarai mobil atau motor membahayakan diri anda sendiri dan juga ornag lain. Ada banyak jalan yang airnya tergenang dan bisa menyebabkan orang lain yang mungkin tadinya ia telah bersabar di guyur hujan lalu terciprat genangan air dari ulah anda, lalu ia menjadi marah dan bersungut-sungut di tengah hujan. Apalagi ketika turunnya hujan itu ia sedang banyak masalah, kan bisa menambah intensitas emosinya, dampaknya bisa panjang. Bisa ia limpahkan ke pekerjaannya, ke keluarganya, pasangannya atau ke tempat yang lainnya. 

2. Jika anda sedang mengendarai mobil sendiri, hendaklah memberikan tumpangan kepada orang yang jalan kaki atau berteduh. Bisa jadi ia seorang mahasiswa yang sedang buru-buru mengikuti ujian semester. Bisa jadi ia mahasiswa yang mau pulang ke kos segera karena banyak tugas. Bisa jadi ia pekerja kantoran yang harus segera pulang karena anaknya telah menunggu dirumah dan bisa jadi yang lainnya. Mempunyai mobil itu sebuah kenikmatan dan karunia yang patut di syukuri, dengan cara memberikan tumpangan kepada orang yang tidak punya. 

3. Mungkin kebanyakan ornag menganggap menyalakan lampu ketika hujan deras itu sepele, namun yakinlah yang sepele itu justru sangat penting bagi  diri kira dan orang lain. Bayangkan dengan jarak pandang yang terbatas, belum lagi jika ada pengendara lain memacu kendaraan dengan kencang yang terjadi bisa saja kecelakaan lalu lintas. Maka nyalakanlah lampu motor atau mobil anda. 

4. Bisakah anda menahan diri dari menekan klakson mobil anda? Untuk kasus nomor empat ini tidak ada solusi, cukup sebuah pertanyaan, jika jawabannya iya berarti ia pengemudi yang cerdas dan bijak. Jika ia menjawab tidak ia pengemudia yang bodoh dan tak bijak. 

Itu beberapa hal yang menjengkelkan ketika hujan turun, kamu punya pengalaman lain? Silahkan di share. 



Kamis, 16 April 2015

Cara menghentikan SMS iklan dari operator Telkomsel dan yang lainnya

Salah satu yang paling menjengkelkan dalam kehidupan ini, ketika kita sedang berinteraksi dengan seseorang atau menunggu-nunggu kabar penting mengenai sesuatu di handphone kita, harus terusik dengan masuknya SMS atau pesan singkat dari operator tertentu. Saya mengalami hal itu, sudah sangat sering. Bahkan saya pernah di tahun 2013, mengajukan pemberhentian agar tidak lagi dikirimkan SMS promo dari operator Telkomsel, juga berbagai macam layanan iklan ketika kita sedang melakukan browsing. Sungguh sangat mengganggu. 

Bagi beberapa orang ada yang bisa meratapi nasib, seperti para jomblo, yang tidak pernah dikirimi SMS oleh seseorang maka mungkin SMS operator sedikit menghilangkan kesepian sehari-hari. Akan tetapi para jomblo yang berada di ambang berakhirnya status kejombloannya, karena menanti-nanti jawaban dari gebetan atau calon istri harus buyar karena SMS yang tidak penting dari operator itu sungguh menjengkelkan. 

Cara untuk berhenti dari layanan SMS promosi dan layanan iklan saat browsing sebenarnya gampang langkah yang perlu dilakukan adalah:
1. Sabar jangan marah-marah, tetap santai aja sambil mengunyah-ngunyah kabel charger handphone. 
2. Buka handphone anda, dan jangan tatap layar handphone terlalu lama karena akan membuat anda menghabiskan kabel handphone anda. 
3. Buka email anda (yang ini beneran). 
4. Masukkan id dan password anda. Jika butuh bantuan silahkan call Friend, atau bisa pilih voting penonton atau pilih 50:50. 
5. Ketik pada alamat email anda kepada cs@telkomsel.co.id apabila operator anda Telkomsel. Jika operator lainnya silahkan buka website operator agar bisa melihat alamat email customer servicenya.
6. Pada kolom cc/bcc dikosongkan saja
7. Pada kolom subjek, isi atau tuliskan hentikan Layanan SMS IKLAN DAN ADPOP pada browser internet!
8. Pada badan surat anda bisa menuliskan Uneg-Uneg anda, misalnya saya belum dapat jodoh, saya belum dapat lulus dari tempat saya kuliah, saya belum selesai skripsi, saya belum bayar SPP, saya belum mendapatkan pekerjaan atau apa saja yang bisa anda tulis, lalu diakhir kalimat, tulislah dengan kalimat yang penuh kesan dan makna. " Tolong, hentikan segala bentuk SMS iklan dan ADPOP pada browsing saya"
9. Dalam waktu beberapa menit pihak customer servicenya akan segera menghentikan dan membalas email anda. 
10. Jika sudah berhasil jangan lupa bersyukur dan berdoa, dengan cara menyebarkan langkah ini pada teman anda yang juga sedang mengalami hal yang sama, siapa tahu dari menyebarkan pesan ini anda akan ketemu jodoh anda dan masalah anda bisa selesai. 

Selamat dicoba. 

Bahaya Lidah tak bertulang sama dengan jari bertulang

Sudah sering kita dengar ungkapan, hati-hati dengan lidah karena lidah itu tak bertulang, artinya ia dapat mengeluarkan kata-kata yang baik ataupun buruk dari mulut pelakunya. Ungkapan ini juga sekaligus ingin memberikan maksud bahwa ungkapan yang keluar dari mulut seseorang punya potensi untuk membuat orang lain bahagia juga bisa membuat orang lain sakit hati. 

Belakangan ini Indonesia dihebohkan dengan kematian salah seorang pekerja seks komersial yang dibunuh oleh kliennya, gara-gara "lidah tak bertulang", karena mengatakan kliennya itu punya bau badan yang tak sedap ketika bercinta, si pekerja seks itu dibunuh dengan cara dicekik. Sungguh dampaknya sangat besar sekali, lidah tak bertulang. 

Dalam dunia media sosial ungkapan lidah tak bertulang tidak ada gunanya. Karena dalam media sosial jari yang digunakan, dan jari itu bertulang. Berarti dari sini kita bisa mengambil kesimpulan baik lidah maupun dari tangan, semua itu berasal dari satu sumber yakni pikiran seseorang. 

Saya beberapa hari lalu punya pengalaman unik. Saya bergabung dalam sebuah grup pembelajaran online, dengan media sosial WhatsApp. Dalam sebuah kesempatan ada seseorang peserta yang menanyakan nomor surat dan ayat dari kajian yang disampaikan seorang ustadz. Saya yang ketika itu mencoba menyarankan kepada peserta tersebut agar berusaha sendiri mencari di dalam AL quran, langsung serta merta di tuduh sombong olehnya. Kata saya seperti ini" cari aja sendiri di quran Akh, sekalian baca quran. Masa semuanya harus diberitahu hehe." 
Ternyata perkataan itu menyulut emosinya lantas muncul dari kata-kata selanjutnya di majelis ilmu tersebut menuduh saya sombong dengan mengatakan hal tersebut, padahal saya merasa tidak ada yang salah dan disitu saya tidak sedang mengejeknya. Namun ia merasa saya sedang mengejeknya. 

Dari sini sayapun punya kesimpulan: 
1. Bahasa tulisan itu sangat berbeda maknanya dengan bahasa lisan. Meskipun jika ditulis bahasa lisan dalam tulisan, sama persis. 
2. Nada suara atau intonasi dalam bahasa lisan itu punya pengaruh yang sangat besar, daripada apa yang ada dalam tulisan. Didalam tulisan setiap pembaca, membuat nada-nada atau intonasi suara yang berbeda di kepalanya, sehingga ia pun akan memaknai berbeda setiap tulisan yang ia baca. 
3. Cara baca seseorang atas sebuah tulisan sangat berpengaruh dari mood seseorang. Terkadang jika ia punya mood sedang jelek maka semua yang ia baca sangat jelek dan ini punya dampak uang sangat berbahaya. Contoh kasus yang saya hadapi, dampaknya langsung saya rasakan, ketika ornag tersebut menuduh saya sombong. Padahal saya tidak bermaksud demikian hanya sekedar saran. Dalam kasus lain, apa yang terjadi pada pekerja selesai komersial telah memberikan pelajaran bahwa salah dalam memahami tulisan bisa berakibat fatal, yakni kematian. Saya dulu juga pernah punya cerita ketika masih aktif dalam dunia game online disana segala bentuk mood dari pemain game bisa memicu emosi dengan tulisan yang mungkin tidak mempunyai maksud yang jelek. 
4. Baik lidah maupun jari semua itu dikendalikan oleh pikiran kita, jika pikiran kita jernih maka apa uang kita terima jernih. Jika pikiran kita kotor maka yang kira terima juga kotor. 


Rabu, 26 Juni 2013

Ucapkan sampai disini saja

Selesai, tapi bukan titik. Melainkan koma. Ya kan? Koma itu salah satu tanda baca yang juga merupakan perhentian. Berhenti sejenak. Selesai pada satu kalimat yang di tuliskan namun berlanjut pada kalimat berikut setelah koma. Hingga kemudian titik menyudahi semuanya. Rasanya, blog ini saya sudahi sampai disini saja. Blog yang saya buat ketika saya menjalani masa-masa yang suram, bimbang dan tak menentu. Isi blog, dimana saya lebih sering bercerita kepada entah siapa, dengan bahasan yang sama sekali mungkin tidak menarik. Oleh karena itu, saya memutuskan melanjutkan cerita saya di domain blog lain. Wordpress barangkali. Jadi, saya kalau mau mengingat masa dimana saya menghabiskan waktu saya sendirian dan merasa sendiri, ya di blog ini. Karena sekarang saya sudah menjalani hidup baru bersama istri dan juga anak saya, maka saya sudah seharusnya menuliskan dan bercerita tentang hal-hal baru. Karena kehidupan terus berlanjut bukan? Dan saya, tidak berada di titik. Melainkan di koma. Kalimatnya juga berbeda meskipun satu sama lain berada dalam satu paragraf, yakni blog.

Selasa, 11 Juni 2013

Zafran

8 Juni 2013, orang Indonesia, sedang memperingati kelahiran mantan Presiden Indonesia, Almarhum Soeharto. Presiden yang mejabat selama 32 tahun dan digulingkan oleh mahasiswa di tahun 1998, yang dikenal dengan masa Reformasi. Masih dalam memperingati hari kelahiran pak Harto, begitu beliau sering di panggil, Indonesia di kejutkan oleh kepergian Ketua MPR RI, bapak Taufiq Kiemas yang juga istri mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarno Putri.  Berita duka tersebut terkabar di seluruh media massa Indonesia. Beliau meninggal di Singapura, dan diterbangkan kembali ke Indonesia setelahnya. Nan jauh dari berita nasional tersebut, dari Jogja, rumah sakit Sadewa, muncul kabar baik. Muhammad Hafidz Zafran Pasolo, lahir. Seorang bayi laki-laki dengan berat 3050 gram alias 3,05 gram lahir. Dengan rambut hitam lebat dikepalanya, dan suara cemprengnya, ia mampu membuat orang disekitarnya, bahagia. Hampir seluruh keluarga yang mendengar kabar baik tersebut, tak menyangka ia akan lahir di malam hari tepat jam 11.10 malam. Karena ia tidak diprediksikan lahir pada hari tersebut. Ia maju 2 hari sebelum prediksi dokter. Apapun dan bagaimana pun prediksi dokter, dokter hanyalah manusia. Manusia, tak bisa bahkan takkan bisa mengalahkan rencana Allah SWT. Dzat yang Maha Agung, yang Maha Kuasa, yang atas izinnya, juga kasih sayangnya, mengumpulkan keluarga yang tercerai berai menjadi satu dalam sebuah pertemuan. Sebuah kebahagiaan yang sempat hilang diantara mereka, melalui kelahiran seorang anak laki-laki  cucu bagi para kakek dan neneknya. Zafran panggilannya. Sebuah nama yang diambil dalam bahasa arab, yang mempunyai makna kejayaan, kesuksesan, kemenangan. Ia datang, seakan kembali ingin membawa kesuksesan dalam hubungan, pekerjaan, sosialisasi, juga spiritualitas keluarganya yang telah lama terabaikan.

Selamat datang Zafran, berjayalah engkau membawa kebahagiaan kepada sekitarmu dan menjadi orang yang akan bermanfaat bagi semesta alam.

Kamis, 06 Juni 2013

Sah!

Cukup singkat waktunya. Namun belum selesai ketegangan belum terlaksana yang namanya akad nikah.
Hari yang dinanti itu tiba. Segala doa-doa dari beberapa rangkaian ibadah terkirimkan dengan cepat ke penjuru langit. Lancar. Semoga lancar segala sesuatunya diberikan oleh Allah saat tiba waktunya. 6 juni 2013, Alhamdulillah saya tak lagi sendiri, paling tidak tak lagi merasa sendirian. Saya telah menjadi pasangan buat istri saya. Ehm. Heuheuheu.
Deg-degannya itu datang, ketika para penghulu sudah mulai menapaki ruangan dengan langkah-langkah mereka. Tergurat senyum panjang sesekali dibawah kumis-kumis mereka. Dengan pakaian rapih serba abu-abu dan peci hitam, mereka melangkah mantap sambil menenteng sebuah tas hitam berukuran sedang. Tas itu berisi dokumen-dokumen penting. Termasuk didalamnya buku nikah. Setelah pantat mereka jatuh di atas kursi, tak lama munculkalimat-kalimat yang makin membuatku tegang. "Sudah hapal belum mas, akad nikahnya? Ini baru yang pertama kali kan? Sambil tersenyum memastikan kepada saya. Tentu saja, saya menjawab iya. Lantas ia tertawa kecil.
Ia kemudian mengeluarkan berkas-berkas, dibantu seorang temannya yang duduk di sebelah kanan. Dia memberikan secarik kertas kepada wali nikah, dan secarik kertas lainnya kepada saya. " dibaca saja, gak usah di hafal. Kalo hafal ya lebih bagus, kalau bisa dilafalkan dalam satu nafas" begitu ujarnya kepada saya, terus ia memberi aba-aba kepada mc dengan kode anggukan kepalanya. Tanda acara dapat dimulai. Mc pun membuka acara. Membaca susunan acara secara keseluruhan, dan mengawali acara dengan pembacaan ayat-ayat suci. Ketegangan di dalam dada saya itu sedikit mereda, setelah teman saya membacakan lantunan ayat-ayat suci sebelum memasuki acara inti yakni Akad nikah. Selesai pembacaan ayat suci. Acara di ambil alih oleh penghulu, lebih tepatnya diserahkan langsung oleh MC kepada penghulu.  Sesaat kemudian, penghulu membacakan khutbah nikah yang memang, sudah menjadi semacam rukun sebelum akad nikah dilaksanakan. Setelah ia memberi perintah kepada saya dan wali nikah. "micnya pegang ditangan kiri pak, tangan kanannya sambil jabat tangan masnya, masnya juga gitu. Sini mas, agak maju." Saya menjulurkan tangan menjabat tangan orang tua pasangan saya yang juga menjadi wali nikah, menikahkan langsung anaknya, tanpa memberikannya kepada wali hakim. " Hai engkau, Muhammad Ridhwansyah Pasolo" saya menjawab " Ya, saya." "Engkau aku nikahkan dengan anakku Rati Aprina dengan mas kawin emas sebesar 6 gram" tegang, dalam hati saya minta agar lidah tak kelu. Dihadapan para keluarga sambil berjabat tangan wali, dengan ibu jari saling berhadapan, " saya terima nikahnya Rati Aprina binti Abdul Rasyid untuk saya sendiri dengan mas kawin emas sebesar 6 gram dibayar tunai" plong, setelah kalimat itu terucap " gimana para saksi?" Tanya dari penghulu, kepada para saksi. Om saya dan mbah istri saya. Mereka mengangguk sambil mengatakan sah. "Alhamdulilllah" seru seisi ruangan. Lantas saya melepas jabat tangan saya kepada wali. Penghulu menengadahkan tangannya ke atas lalu berdoa kepada kami. Selesai berdoa saya menandatangani buku nikah, berkas-berkas nikah. Penghulu memberikan buku nikah kepada saya secara simbolis. Lalu saya memberikan kepada istri kotak mas kawin. Selesai sudah proses akad nikah. Alhamdulillah saya dan Rina telah menjadi suami dan istri. Selamat datang dunia, aku akan mengarungi kehidupanku tak lagi sendiri atau merasa sendirian. Aku telah bersama. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini. Aamiin.

Selasa, 04 Juni 2013

Menikah!

Hari ini hari "terakhir" saya sendiri atau merasa sendirian. Besok, Insya Allah saya akan menikah. Menikahi wanita yang sebenarnya sudah lama ingin saya nikahi, namun, baru kesampaian besok. Insya Allah lancar. Dari dulu, saya memang agak ngotot dalam hal nikah, karena bagi saya menikah itu, salah satu jalan untuk lebih dekat pada kekasih (manusia) dan juga kekasih sebenarnya ( Allah SWT). Ya ada banyak jalan menuju kesana, saya memilih menikah. Entah keyakinan apa yang ada di benak saya, yang jelas keyakinan itu begitu bulat dikepala dan hati saya. Niat baik sudah diberikan kepada orang tua, tentu saja orang tua mengizinkan, meski awalnya ada banyak persyaratan ideal dari sisi kemanusiaan yang masih dipertimbangkan. Apalagi kalau bukan kerjaan, uang, harta, rumah, dan lain-lain yang sebaiknya tersedia. Saya sebenarnya ingin mengikuti jalan "lain" yang saya anggap akan seru. Dengan cara menikah dulu, dan mencari rejeki. Karena konon menikah itu membuka pintu rejeki. Maka dengan keyakinan yang dianggap orang lain tolol dan tidak ideal itu, jadilah saya menikah.

Saya mengurus adminstrasi pernikahan, termasuk biaya pernikahan, Rp. 30.000. Dari pengurusan administrasi plus persiapan nikah, saya jadi tahu, ternyata nikah itu memang tidak mudah seperti yang dibayangkan dan diinginkan. Kebanyakan orang tahu nikah itu mudah dan kebanyakan orang juga tahu nikah itu tidak mudah. Orang yang tahu nikah itu mudah, karena beberapa pihak memudahkan pernikahan. Sedangkan yang lain, memang tidak memudahkan. Paling terlihat jelas di mata itu, yang namanya lamaran dan resepsi pernikahan.
Saya jadi tahu, mengapa orang lebih memilih menikah sirih, secara agama atau tidak menikah sekalipun. Mengapa? Kalau kelak kamu akan menikah, kamu akan mengangguk-ngangguk seperti saya. Kata orang, jalani saja, ga usah banyak dipikir. Pikiran kita itu lebih berbahaya daripada pecahan bom atom. Kalo yang barusa itu kata saya. Heuheuheu.

Baiklah, besok, saya sudah tinggal berdua. Entah bagaimana rasanya itu. Tapi yang jelas rasanya saya masih belum percaya dengan segala rentetan kejadian yang menimpa keluarga saya hingga pernikahan saya. TUHAN, sedang benar-benar mempermainkan hambaNya. Saya yakin, permainan Tuhan itu, pasti baik. Karena Tuhan, Maha baik.

Senin, 03 Juni 2013

Twitter menurut saya, sih!

Menurut kamu twitter itu gimana?
Saya agak tergelitik, sekaligus heran ketika menggunakan twitter for android. Jadi, ketika membuka halaman utama, ada tulisan diatas timeline, find your friends on twitter. Entahlah. Namun bagi saya, menemukan teman-teman di twitter? Itu sama saja menemukan jarum di tumpukan gandum. Susssaaaahnya minta ampun. Dan menurut saya, tidak tepat. Mengapa? Pertama, twitter, bukan media pertemanan sosial layaknya facebook. Kalau di facebook banyak orang terhubung dengan teman barunya. Gebetannya, teman yang sedang akrab dengannya. Bahkan teman yang sudah lamaaaa sekali tidak tahu dimana dan bentuknya seperti apa. Melalui facebook ketemu. Entah sudah jadi tua bangka, gendut, kurus, bahkan yang sudah RIP pun ketemu. Selingkuhan? Ya termasuk juga. Seperti lagunya gigi ya, "berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba" dan seterusnya. Kedua, mengapa orang kesannya mudah menemukan teman lamanya? Sederhana, karena di facebook, kecenderungan orang membubuhkan informasi yang selengkap-lengkapnya besar kemungkinannya terjadi. Bahkan kalo dilihat seksama, mirip cv. Curriculum Vitae. Mulai dari fotonya masa kini, yang sudah jelek. Atau fotonya yang kini sudah ganteng atau cantik. Hingga foto dari jaman bayi, sd, smp, sma, kuliah, ga kuliah, ga sekolah, semuaaanya di pajang disana. Plus komentar dan jempol-jempol yang memberi kesan semuanya itu baik dengan mengacung ke atas. Jarang saya ketemu jempol yang kebawah. Alias dislike. Ketiga, di twitter, tak pernah ada sesorang menemukan seorang teman lainnya hanya dengan menuliskan informasi atau nama meskipun sudah lengkap. Karena apa? Kecenderungan orang menuliskan namanya dengan cara disamarkan. Sebuah nama akun, belum tentu mengkondisikan pada yang melihat bahwa itu dirinya, contoh saja disana akan ditemui nama aku, huruf kecil, huruf besar, huruf kapital, huruf balok, padahal nama seorang itu mungkin Anto, Joko, atau siapalah. Jadi akan sulit bagi seseorang menemukan temannya yang "hilang" di twitter. Twitter, bukan kantor polisi.
Di twitter juga banyak fenomenan aneh, salah satunya yang paling terkenal fenomena folbek. Ya, desain twitter memang berbeda dengan media sosial lain, itu sebabnya bukan media pertemanan murni sih, seperti facebook. Kalau di facebook kita bisa mengirimkan pertemanan lantas  kalao di terima ya syukur, kita jadi teman. Kalau tidak, ya sudah, berarti orang itu tidak mau berteman sama kita. Mungkin facebooknya full, atau dia tidak kenal sama kita, atau dia memang tidak pernah lagi ol facebook, dan pindah ke twitter. Twitter, gak ada pertemanan. Adanya follow-followan. Ikut-ikutan. Jadi kita yang suka maenan twitter, termasuk saya, adalah orang yang suka ikut-ikutan, sebenarnya. Nah semakin banyak following yang kita punya, semakin banyak juga ikut-ikutannya kita. Bukan berarti semakin banyak teman, atau mungkin sebagian besar orang menganggap begitu. Jadi, seringkali orang atau artis bahkan yang sok ngartis tuh, enggan memfollow orang yang menurutnya tidak berharga. Mengapa saya bilang tidak berharga? Ya memang karena orang tersebut bagi dia tak ada nilai sama sekali. Saya pernah tuh lihat di salah satu akun seorang artis atau mungkin ngartis, bilang dia tidak akan memfollow back orang yang minta folbek. Kalau minta folbek dia anggap anak alay. Dan dia tidak memfollow anak alay. Ga kebayang kalo presiden SBY yang baru punya akun twitter tu minta folbek sama dia, berarti presiden kita alay. Hahaha. Tapi ga mungkin ya. Bahkan bisa jadi loh, si doi juga minta folbek ama SBY tapi malu. Atau kalo di folbek juga dia girang kayak anak alay.
Di twitter juga kebanyakan orang lebih menganggap dirinya tinggi dibanding orang lain. Biasanya emang dari kalangan artis. Namun ada juga kok orang penting yang bukan artis, memfollow balik followersnya, seperti yang dilakukan orang-orang yang menggunakan tagar (#) srudukfollow. Isinya orang-orang pebisnis, penulis buku, motivator, ustad yang gak segan-segan memfollow back followersnya.
Jadi, jelaslah sudah, twitter itu bukan ajang cari teman, mungkin sih, android perku riset lagi sebelum menuliskan find your friends on twitter. Oke, gitu aja sih, twitter menurut saya.