Rabu, 26 Juni 2013

Ucapkan sampai disini saja

Selesai, tapi bukan titik. Melainkan koma. Ya kan? Koma itu salah satu tanda baca yang juga merupakan perhentian. Berhenti sejenak. Selesai pada satu kalimat yang di tuliskan namun berlanjut pada kalimat berikut setelah koma. Hingga kemudian titik menyudahi semuanya. Rasanya, blog ini saya sudahi sampai disini saja. Blog yang saya buat ketika saya menjalani masa-masa yang suram, bimbang dan tak menentu. Isi blog, dimana saya lebih sering bercerita kepada entah siapa, dengan bahasan yang sama sekali mungkin tidak menarik. Oleh karena itu, saya memutuskan melanjutkan cerita saya di domain blog lain. Wordpress barangkali. Jadi, saya kalau mau mengingat masa dimana saya menghabiskan waktu saya sendirian dan merasa sendiri, ya di blog ini. Karena sekarang saya sudah menjalani hidup baru bersama istri dan juga anak saya, maka saya sudah seharusnya menuliskan dan bercerita tentang hal-hal baru. Karena kehidupan terus berlanjut bukan? Dan saya, tidak berada di titik. Melainkan di koma. Kalimatnya juga berbeda meskipun satu sama lain berada dalam satu paragraf, yakni blog.

Selasa, 11 Juni 2013

Zafran

8 Juni 2013, orang Indonesia, sedang memperingati kelahiran mantan Presiden Indonesia, Almarhum Soeharto. Presiden yang mejabat selama 32 tahun dan digulingkan oleh mahasiswa di tahun 1998, yang dikenal dengan masa Reformasi. Masih dalam memperingati hari kelahiran pak Harto, begitu beliau sering di panggil, Indonesia di kejutkan oleh kepergian Ketua MPR RI, bapak Taufiq Kiemas yang juga istri mantan Presiden Indonesia, Megawati Soekarno Putri.  Berita duka tersebut terkabar di seluruh media massa Indonesia. Beliau meninggal di Singapura, dan diterbangkan kembali ke Indonesia setelahnya. Nan jauh dari berita nasional tersebut, dari Jogja, rumah sakit Sadewa, muncul kabar baik. Muhammad Hafidz Zafran Pasolo, lahir. Seorang bayi laki-laki dengan berat 3050 gram alias 3,05 gram lahir. Dengan rambut hitam lebat dikepalanya, dan suara cemprengnya, ia mampu membuat orang disekitarnya, bahagia. Hampir seluruh keluarga yang mendengar kabar baik tersebut, tak menyangka ia akan lahir di malam hari tepat jam 11.10 malam. Karena ia tidak diprediksikan lahir pada hari tersebut. Ia maju 2 hari sebelum prediksi dokter. Apapun dan bagaimana pun prediksi dokter, dokter hanyalah manusia. Manusia, tak bisa bahkan takkan bisa mengalahkan rencana Allah SWT. Dzat yang Maha Agung, yang Maha Kuasa, yang atas izinnya, juga kasih sayangnya, mengumpulkan keluarga yang tercerai berai menjadi satu dalam sebuah pertemuan. Sebuah kebahagiaan yang sempat hilang diantara mereka, melalui kelahiran seorang anak laki-laki  cucu bagi para kakek dan neneknya. Zafran panggilannya. Sebuah nama yang diambil dalam bahasa arab, yang mempunyai makna kejayaan, kesuksesan, kemenangan. Ia datang, seakan kembali ingin membawa kesuksesan dalam hubungan, pekerjaan, sosialisasi, juga spiritualitas keluarganya yang telah lama terabaikan.

Selamat datang Zafran, berjayalah engkau membawa kebahagiaan kepada sekitarmu dan menjadi orang yang akan bermanfaat bagi semesta alam.

Kamis, 06 Juni 2013

Sah!

Cukup singkat waktunya. Namun belum selesai ketegangan belum terlaksana yang namanya akad nikah.
Hari yang dinanti itu tiba. Segala doa-doa dari beberapa rangkaian ibadah terkirimkan dengan cepat ke penjuru langit. Lancar. Semoga lancar segala sesuatunya diberikan oleh Allah saat tiba waktunya. 6 juni 2013, Alhamdulillah saya tak lagi sendiri, paling tidak tak lagi merasa sendirian. Saya telah menjadi pasangan buat istri saya. Ehm. Heuheuheu.
Deg-degannya itu datang, ketika para penghulu sudah mulai menapaki ruangan dengan langkah-langkah mereka. Tergurat senyum panjang sesekali dibawah kumis-kumis mereka. Dengan pakaian rapih serba abu-abu dan peci hitam, mereka melangkah mantap sambil menenteng sebuah tas hitam berukuran sedang. Tas itu berisi dokumen-dokumen penting. Termasuk didalamnya buku nikah. Setelah pantat mereka jatuh di atas kursi, tak lama munculkalimat-kalimat yang makin membuatku tegang. "Sudah hapal belum mas, akad nikahnya? Ini baru yang pertama kali kan? Sambil tersenyum memastikan kepada saya. Tentu saja, saya menjawab iya. Lantas ia tertawa kecil.
Ia kemudian mengeluarkan berkas-berkas, dibantu seorang temannya yang duduk di sebelah kanan. Dia memberikan secarik kertas kepada wali nikah, dan secarik kertas lainnya kepada saya. " dibaca saja, gak usah di hafal. Kalo hafal ya lebih bagus, kalau bisa dilafalkan dalam satu nafas" begitu ujarnya kepada saya, terus ia memberi aba-aba kepada mc dengan kode anggukan kepalanya. Tanda acara dapat dimulai. Mc pun membuka acara. Membaca susunan acara secara keseluruhan, dan mengawali acara dengan pembacaan ayat-ayat suci. Ketegangan di dalam dada saya itu sedikit mereda, setelah teman saya membacakan lantunan ayat-ayat suci sebelum memasuki acara inti yakni Akad nikah. Selesai pembacaan ayat suci. Acara di ambil alih oleh penghulu, lebih tepatnya diserahkan langsung oleh MC kepada penghulu.  Sesaat kemudian, penghulu membacakan khutbah nikah yang memang, sudah menjadi semacam rukun sebelum akad nikah dilaksanakan. Setelah ia memberi perintah kepada saya dan wali nikah. "micnya pegang ditangan kiri pak, tangan kanannya sambil jabat tangan masnya, masnya juga gitu. Sini mas, agak maju." Saya menjulurkan tangan menjabat tangan orang tua pasangan saya yang juga menjadi wali nikah, menikahkan langsung anaknya, tanpa memberikannya kepada wali hakim. " Hai engkau, Muhammad Ridhwansyah Pasolo" saya menjawab " Ya, saya." "Engkau aku nikahkan dengan anakku Rati Aprina dengan mas kawin emas sebesar 6 gram" tegang, dalam hati saya minta agar lidah tak kelu. Dihadapan para keluarga sambil berjabat tangan wali, dengan ibu jari saling berhadapan, " saya terima nikahnya Rati Aprina binti Abdul Rasyid untuk saya sendiri dengan mas kawin emas sebesar 6 gram dibayar tunai" plong, setelah kalimat itu terucap " gimana para saksi?" Tanya dari penghulu, kepada para saksi. Om saya dan mbah istri saya. Mereka mengangguk sambil mengatakan sah. "Alhamdulilllah" seru seisi ruangan. Lantas saya melepas jabat tangan saya kepada wali. Penghulu menengadahkan tangannya ke atas lalu berdoa kepada kami. Selesai berdoa saya menandatangani buku nikah, berkas-berkas nikah. Penghulu memberikan buku nikah kepada saya secara simbolis. Lalu saya memberikan kepada istri kotak mas kawin. Selesai sudah proses akad nikah. Alhamdulillah saya dan Rina telah menjadi suami dan istri. Selamat datang dunia, aku akan mengarungi kehidupanku tak lagi sendiri atau merasa sendirian. Aku telah bersama. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini. Aamiin.

Selasa, 04 Juni 2013

Menikah!

Hari ini hari "terakhir" saya sendiri atau merasa sendirian. Besok, Insya Allah saya akan menikah. Menikahi wanita yang sebenarnya sudah lama ingin saya nikahi, namun, baru kesampaian besok. Insya Allah lancar. Dari dulu, saya memang agak ngotot dalam hal nikah, karena bagi saya menikah itu, salah satu jalan untuk lebih dekat pada kekasih (manusia) dan juga kekasih sebenarnya ( Allah SWT). Ya ada banyak jalan menuju kesana, saya memilih menikah. Entah keyakinan apa yang ada di benak saya, yang jelas keyakinan itu begitu bulat dikepala dan hati saya. Niat baik sudah diberikan kepada orang tua, tentu saja orang tua mengizinkan, meski awalnya ada banyak persyaratan ideal dari sisi kemanusiaan yang masih dipertimbangkan. Apalagi kalau bukan kerjaan, uang, harta, rumah, dan lain-lain yang sebaiknya tersedia. Saya sebenarnya ingin mengikuti jalan "lain" yang saya anggap akan seru. Dengan cara menikah dulu, dan mencari rejeki. Karena konon menikah itu membuka pintu rejeki. Maka dengan keyakinan yang dianggap orang lain tolol dan tidak ideal itu, jadilah saya menikah.

Saya mengurus adminstrasi pernikahan, termasuk biaya pernikahan, Rp. 30.000. Dari pengurusan administrasi plus persiapan nikah, saya jadi tahu, ternyata nikah itu memang tidak mudah seperti yang dibayangkan dan diinginkan. Kebanyakan orang tahu nikah itu mudah dan kebanyakan orang juga tahu nikah itu tidak mudah. Orang yang tahu nikah itu mudah, karena beberapa pihak memudahkan pernikahan. Sedangkan yang lain, memang tidak memudahkan. Paling terlihat jelas di mata itu, yang namanya lamaran dan resepsi pernikahan.
Saya jadi tahu, mengapa orang lebih memilih menikah sirih, secara agama atau tidak menikah sekalipun. Mengapa? Kalau kelak kamu akan menikah, kamu akan mengangguk-ngangguk seperti saya. Kata orang, jalani saja, ga usah banyak dipikir. Pikiran kita itu lebih berbahaya daripada pecahan bom atom. Kalo yang barusa itu kata saya. Heuheuheu.

Baiklah, besok, saya sudah tinggal berdua. Entah bagaimana rasanya itu. Tapi yang jelas rasanya saya masih belum percaya dengan segala rentetan kejadian yang menimpa keluarga saya hingga pernikahan saya. TUHAN, sedang benar-benar mempermainkan hambaNya. Saya yakin, permainan Tuhan itu, pasti baik. Karena Tuhan, Maha baik.

Senin, 03 Juni 2013

Twitter menurut saya, sih!

Menurut kamu twitter itu gimana?
Saya agak tergelitik, sekaligus heran ketika menggunakan twitter for android. Jadi, ketika membuka halaman utama, ada tulisan diatas timeline, find your friends on twitter. Entahlah. Namun bagi saya, menemukan teman-teman di twitter? Itu sama saja menemukan jarum di tumpukan gandum. Susssaaaahnya minta ampun. Dan menurut saya, tidak tepat. Mengapa? Pertama, twitter, bukan media pertemanan sosial layaknya facebook. Kalau di facebook banyak orang terhubung dengan teman barunya. Gebetannya, teman yang sedang akrab dengannya. Bahkan teman yang sudah lamaaaa sekali tidak tahu dimana dan bentuknya seperti apa. Melalui facebook ketemu. Entah sudah jadi tua bangka, gendut, kurus, bahkan yang sudah RIP pun ketemu. Selingkuhan? Ya termasuk juga. Seperti lagunya gigi ya, "berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba" dan seterusnya. Kedua, mengapa orang kesannya mudah menemukan teman lamanya? Sederhana, karena di facebook, kecenderungan orang membubuhkan informasi yang selengkap-lengkapnya besar kemungkinannya terjadi. Bahkan kalo dilihat seksama, mirip cv. Curriculum Vitae. Mulai dari fotonya masa kini, yang sudah jelek. Atau fotonya yang kini sudah ganteng atau cantik. Hingga foto dari jaman bayi, sd, smp, sma, kuliah, ga kuliah, ga sekolah, semuaaanya di pajang disana. Plus komentar dan jempol-jempol yang memberi kesan semuanya itu baik dengan mengacung ke atas. Jarang saya ketemu jempol yang kebawah. Alias dislike. Ketiga, di twitter, tak pernah ada sesorang menemukan seorang teman lainnya hanya dengan menuliskan informasi atau nama meskipun sudah lengkap. Karena apa? Kecenderungan orang menuliskan namanya dengan cara disamarkan. Sebuah nama akun, belum tentu mengkondisikan pada yang melihat bahwa itu dirinya, contoh saja disana akan ditemui nama aku, huruf kecil, huruf besar, huruf kapital, huruf balok, padahal nama seorang itu mungkin Anto, Joko, atau siapalah. Jadi akan sulit bagi seseorang menemukan temannya yang "hilang" di twitter. Twitter, bukan kantor polisi.
Di twitter juga banyak fenomenan aneh, salah satunya yang paling terkenal fenomena folbek. Ya, desain twitter memang berbeda dengan media sosial lain, itu sebabnya bukan media pertemanan murni sih, seperti facebook. Kalau di facebook kita bisa mengirimkan pertemanan lantas  kalao di terima ya syukur, kita jadi teman. Kalau tidak, ya sudah, berarti orang itu tidak mau berteman sama kita. Mungkin facebooknya full, atau dia tidak kenal sama kita, atau dia memang tidak pernah lagi ol facebook, dan pindah ke twitter. Twitter, gak ada pertemanan. Adanya follow-followan. Ikut-ikutan. Jadi kita yang suka maenan twitter, termasuk saya, adalah orang yang suka ikut-ikutan, sebenarnya. Nah semakin banyak following yang kita punya, semakin banyak juga ikut-ikutannya kita. Bukan berarti semakin banyak teman, atau mungkin sebagian besar orang menganggap begitu. Jadi, seringkali orang atau artis bahkan yang sok ngartis tuh, enggan memfollow orang yang menurutnya tidak berharga. Mengapa saya bilang tidak berharga? Ya memang karena orang tersebut bagi dia tak ada nilai sama sekali. Saya pernah tuh lihat di salah satu akun seorang artis atau mungkin ngartis, bilang dia tidak akan memfollow back orang yang minta folbek. Kalau minta folbek dia anggap anak alay. Dan dia tidak memfollow anak alay. Ga kebayang kalo presiden SBY yang baru punya akun twitter tu minta folbek sama dia, berarti presiden kita alay. Hahaha. Tapi ga mungkin ya. Bahkan bisa jadi loh, si doi juga minta folbek ama SBY tapi malu. Atau kalo di folbek juga dia girang kayak anak alay.
Di twitter juga kebanyakan orang lebih menganggap dirinya tinggi dibanding orang lain. Biasanya emang dari kalangan artis. Namun ada juga kok orang penting yang bukan artis, memfollow balik followersnya, seperti yang dilakukan orang-orang yang menggunakan tagar (#) srudukfollow. Isinya orang-orang pebisnis, penulis buku, motivator, ustad yang gak segan-segan memfollow back followersnya.
Jadi, jelaslah sudah, twitter itu bukan ajang cari teman, mungkin sih, android perku riset lagi sebelum menuliskan find your friends on twitter. Oke, gitu aja sih, twitter menurut saya.

Minggu, 02 Juni 2013

Numpang nikah

Belakangan ini saya mengurusi administrasi pernikahan di KUA. Karena kedua mempelai tidak ada satu pun yang berdomisili di Jogja, atau asli orang Jogja, maka pengurusan nikahnya di kantor KUA, namanya numpang nikah.

Syarat untuk bisa numpang nikah, antara lain:
1. Surat pengantar nikah dari kelurahan tempat mempelai berdomisi yang sudah mengetahui RT dan RW setempat. Misalnya saya dari Jayapura, maka, surat pengantar nikahnya diurus dari sana.
2. Setelah dapat surat pengantar nikah dari kelurahan, dibawa ke KUA setempat, di tempat domisili.
3. Di KUA setempat, nantinya diminta berkas, seperti foto copy ktp, kartu keluarga, atau akte kelahiran. Ini untuk memvalidasi nama dari pengantin.
4. Di KUA itu juga, nanti calon mempelai mengisi formulir, dan menuliskan nama lengkap dan bin ( nama orang tua) dari pasangannya.
5. Setelah surat pengantar dari KUA, masing-masing mempelai sudah terlengkapi, berkas itu dimasukkan ke KUA tempat akan di langsungkan numpang nikah.
6. Berkas yang sudah lengkap itu, diserahkan ke KUA tempat numpang nikah, dengan membawa fotocopy ktp calon mempelai dan fotocopy ktp wali kedua mempelai. Beserta foto 2x3 lima lembar, berwarna dengan latar belakang biru.
7. Mempelai meminta surat rekomendasi dari kecamatan daerah tempat berlangsungnya pernikahan dan juga surat kesehatan bagi pria, surat kesehatan dan bukti imunisasi untuk wanitanya.
8. Kalau berkas tersebut sudah lengkap maka akan diproses oleh pihak KUA setempat.
9. Selain itu juga nantinya, diberitahukan kepada KUA, tanggal dan tempat akad nikah berlangsung. Ada dua pilihan, mau di kantor KUA, atau di laksanakan diluar ( tempat yang dipilih oleh mempelai). Biasanya saran dari KUA, akad nikah sebaiknya di laksanakan di kantor KUA. Tapi tidak jarang orang-orang meminta untuk dinikahkan di luar KUA. Sebagai gambatan di kantor KUA itu, kuota dari hadirin sekitar 30 an orang.
10. Kalau semua urusan sudah selesai. Tinggal latihan baca akad nikah, terus nikah deh.

Heuheuheuheu.

Senin, 27 Mei 2013

Tentang sebuah keberanian

Apakah kamu orang yang berani? Ya, berani! Kalau iya seberapa berani kamu? Ya, dalam hal apa saja. Keberanian seseorang konon akan semakin berkurang ketika seseorang mulai masuk kepada zona kedewasaan secara umur maupun dalam arti sebenarnya. Orang-orang yang meninggalkan zona kemudaannya akan cenderung lebih takut. Takut dalam melangkah, bertindak, bahkan berfikir sekalipun. Kamu pernah berada dalam suatu kondisi dimana kamu tahu, apa yang harus kamu lakukan tapi kamu tidak berani untuk melakukannya? Kondisi itu belakangan saya alami. Entah dalam hal apa saja. Baik dalam melakukan sebuah kebaikan maupun dalam keburukan. Contoh? Ah tidak perlu. Saya hanya ingin menceritakan apa yang saya alami dan saya rasakan belakangan ini. Terkesan seperti curhay ya? Tak apa kan? Kalau sudah tak ingin membaca, silahkan tinggalkan.
Menurut saya semakin bertambah umur seseorang, maka keberanian yang ada dalam dirinya semakin berkurang. Ini karena pengalaman yang ia alami menjadikan ia lebih hati-hati dalam melangkah. Tak jarang saking hati-hatinya ia bahkan takut untuk melangkah. Takut untuk mengambil keputusan. Ada banyak hal yang kemudian menjadi pertimbangannya. Ia menjadi lebih banyak menimbang sana-sini sebelum berbuat. Berbeda ketika umurnya masih anak-anak atai remaja. Ketika masa anak-anak atau remaja, ia akan lebih berani. Karena ia tidak banyak tahu atas konsekuensi yang akan ia dapati setelah melakukan suatu hal. Ia lebih cenderung berani. Berani bertanya, berani berbicara, berani jujur, berani mengakui kesalahannya. Semakin bertambah umur ia takkan seperti itu. Tak lagi spontan. Mungkin karena ia tau dampak yang ia dapatkan setelahnya.
Okelah saya beri contoh. Seorang anak muda jika diberikan mobil sport ferari terbaru, ia akan menggunakan mobil tersebut untuk balapan, misalnya. Balap, balapan, itu dibutuhkan keberanian di dalamnya. Tanpa keberanian seseorang tidak akan mampu untuk memutuskan mengendalikan kendaraan dengan sangat cepat. Sederhananya ia tidak akan balapan. Berbeda dengan seseorang yang sudah tua atau dewasa barangkali begitu. Ia akan berfikir matang-matang untuk balap. Ia mungkin akan lebih memilih mengendarai mobil tersebut ke pusay kota. Pamer atau entah apalah tapi tidak untuk balapan. Karena ia takut. Ia tak lagi berani seperti waktu ia muda. Ia akan berfikir kalau saya mengendalikan mibil dengan cepat, balap, bagaimana jika saya tertabrak mobil lain? Bagaimana jika saya menabrak orang lain? Bagaimana jika mobil yang saya gunakan tiba-tiba hilang kendali karena bannya pecaj sewaktu saya balap? Bagaimana juga perasaan orang yang saya sayangi atau menyayangi saya ketika mereka mendapati saya menabrak atau tertabrak? Bagimana jika saya di tangkap polisi? Dan lain-lain. Ada banyak pertimbangan yang muncul. Ya itu hanya salah satu contoh. Banyak lagi hal disekeliling kita yang bisa kamu jadikan contoh. Hanya saja saya ingin tegaskan bahwa, keberanian itu kenapa harus berkurang seiring waktu berjalan? Bukankah seharusnya semakin bertambah umur kita, harusnya kita jadi lebih berani dalam bertindak?
Apalagi jika kita melakukan sebuah kesalahan dalam hidup kita, kesalahan yang berakibay bukan hanya pada diri sendiri, melainkan melibatkan orang lain. Saya yakin, banyak diantata kita yang tidak berani dalam mengakui kesalahannya. Atau, tidak berani dalam meminta maaf atas kesalahannya. Mereka lebih memilih menyembunyikannya dan mengutuk diri mereka sendiri sambil menyesali perbuatan salah yang mereka lakukan. Mereka membayangkan bagaimana nantinya ganjaran yang diberikan oleh orang lain atas kesalahan yang ia lakukan. Membayangkan juga atas permohonan maaf yang takkan pernah ia dapatkan atas kesalahannya. Membayangkan tentang masalah yang baru saja ia buat akibat dari keaalahan yang ia lakukan. Keberanian pun hilang. Berbeda dengan anak kecil atau remaja, yang jika melakukan kesalahan ia akan tetap berani dalam mengakui kesalahannya dan berani meminta maaf. Orang yang merasa dirugikan pun akan memaklumi tindakannya yang salah. Hingga ia tak perlu cemas ataa perbuatannya. Ia akan mencoba berbuat lebih baik lagi.

Minggu, 26 Mei 2013

Gempa Jogja 7 tahun yang lalu

Masih pagi sekali waktu itu. Dingin, dan masih berkabut. Saya bersama teman-teman yang sedang mengikuti pelatihan Senior Course HMI cabang Jogja, baru selesai menunaikan ibadah shalat subuh. Baru dua hari saya mengikuti pelatihan itu, yang sebenarnya berdurasi enam hari. Pelatihan yang merupakan syarat agar seseorang bisa memandu dan menjadi pemateri di latihan kader yang diselenggarakan oleh HMI. Selepas subuh, saya masih terjaga. Semalam suntuk kami berdiskusi, menerima materi dan mengerjakan beberapa tugas rutin selama pelatihan. Karena konon, pamali kalau langsung tidur selepas subuh, jadi dengan mata terkantuk-kantuk dan sedikit pusing di kepala, juga lapar di pagi hari, saya mengambil sebuah buku untuk saya baca. Saya tidak ingat judul buku apa waktu itu, yang jelas buku itu tentang kepemimpinan. Lembar demi lembar saya baca, tanpa terasa langit di luar rumah pada pagi itu mulai memerah. Mulai sedikit hangat karena sinar matahari, tapi masih terasa hawa dinginnya. Beberapa teman saya sudah tidur di lantai dengan pulasnya. Ya, waktu itu memang tidak ada kasur yang menjadi alas tidur kami. Itu sudah merupakan bagian ketentuan dari panitia pelaksana. Pengecualian hanya pada kader HMI, yang juga peserta cewek, juga panitia cewek. Ada juga teman yang masih asik mengobrol, entah sisi dunia mana lagi yang mereka perbincangkan. Negara Indonesia kah? Negara luar bahkan bicara tentang peradaban hingga filsafat. Seorang teman sempat menawarkan kopi panas saat itu. Namun saya berfikir, kalau di pagi hari, dengan kondisi belum tidur yang cukup, lantas saya memilih meminum kopi, akan semakin membuat mata terbelalak dan terjaga untuk waktu yang lebih lama lagi. Apalagi durasi pelatihan yang masih lama, tersisa empat hari lagi. Kondisi tubuh saya bisa drop, kemungkinan sakit akan lebih besar. Hasilnya saya gagal mengikuti pelatihan dengan baik. Saya putuskan untuk menolak ikut minum kopi, dia berlalu ke teras depan.

Kadisoka. Ya, itu nama daerah tempat kami menjalani pelatihan. Lokasinya di bagian utara sleman Yogyakarta, namun sedikit menjorok ke arah timur dari stadion maguwoharjo. Kami menyewa sebuah rumah yang mirip pendopo dari alumni HMI. Tempatnya luas untuk berdiskusi dan memang sering dijadikan tempat kegiatan HMI. Selain luas, nyaman, tempat tersebut juga jauh dari keramaian, lebih tenang. Saya mengambil buku tentang kepemimpinan yang saya pinjam di perpustakaan kampus saya, fakultas ekonomi UII. Lantas karena masih ngantuk, saya mengambil posisi di salah satu sudut ruangan dekat teras rumah. Selain hangat dan tidak terlalu dingin, saya juga jadi bisa bersandar di dinding rumah sambil membaca buku. Kalau posisi membaca buku saya waktu itu tidur, saya bisa jadi tertidur dan itu tidak baik. Maka saya pun bersandar dan menjulurkan kaki lalu memangku buku di bahu, tangan saya dilipat hingga hanya satu telapak tangan saya, tangan kanan, yang membiarkan buku tetap terbuka untuk di baca.

Hampir setengah jam, sambil melihat jam di handphone ericson saya, saya telah membaca beberapa lembar buku. Mata saya mulai terasa berat. Salah seorang teman saya yang terbangun dari tidurnya sementara, ia melihat saya sedang asik membaca buku di samping posisi ia tidur. Ia berkata " dah wan, jangan terlalu dipaksa. Tidur aja dulu bentar." Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu dia kembali melanjutkan tidurnya dan memperbaiki posisi tidurnya yang semula terlentang jadi miring ke kanan dengan tangan kanan sebagai bantal di pipinya. Badannya meringkuk. Tidur pulas dia. Saya pun mulai menimbang usulannya. Saya sudah mengantuk dan tak tahan untuk tetap terjaga, bahkan waktu membaca kadang saya tertidur sebenta,r terus kaget, terbangun dan lanjut membaca lagi. Akhirnya, saya putuskan untuk meletakkan buku disamping tas kecil saya, mengambil handphone disamping dan mencoba mendekatkannya agar lebih dekat dengan saya. Sebelum tidur sudah saya buatkan dering alarm jam 7 pagi. Jam 8 kami sudah harus mandi dan bersiap menerima materi lagi. Waktu itu jam handphone masih menunjukkan pukul 05.00. Dari posisi duduk bersandar dan kaki yang berslonjor, posisi badan saya berubah jadi tidur. Saya masih belum bisa menutup mata meski sudah ngantuk. Banyak pikiran dan pertanyaan masih melintas. Tubuh saya sekarang terlentang dengan kedua tangan tersilang dibawah kepala. Lama kelamaan, pandangan saya gelap. Saya tertidur.

Baru saja rasanya saya merasakan tidur yang nikmat itu, saya lalu bertemu dengan seseorang. Wajahnya tidak jelas. Tapi dia berbusana putih, terang sekali tubuhnya. Dia memegang tangan saya. Dia bilang " yuk ikut saya!" Saya jawab " mau kemana? Saya lagi ikut pelatihan. Enggak, ah kamu aja yang pergi, saya mau disini saja." Orang itu ngotot dan ngeyel tetap mau mengajak saya pergi dengan cepat. Saya tak mau kalah, tetap ngotot juga, untuk menolak. Tiba-tiba saya dengar teriakan teman di sebelah saya. Ia berteriak kencang sekali. "Allllaaaahu akbar. Alllaaaahu akbar." Saya kaget, terus terbangun dari tidur. Lalu dia teman saya itu lari melangkahi tubuh saya yang tiba-tiba saja sudah dalam posisi sebelum tidur tadi. Setengah duduk. Dengan pandangan mata yang masih samar-samar, saya mendengar teman saya itu berteriak. Terus dia bilang " Gempa! Gempa!" Saya masih belum mengerti apa yang dia maksud, tapi karena melihat teman saya berhamburan lari ke depan teras rumah  saya pun ikut panik. Bahkan teman saya itu, menarik tangan saya hingga terseret dari posisi setengah duduk jadi berdiri. Entah kekuatan apa yang baru saya dapatkan, dari posisi duduk, saya langsung lompat. Dengan kondisi seperti itu, masih mengumpulkan nyawa dan tiba-tiba harus berdiiri bahkan lari, saya pun terjatuh.

Di depan teras, ada 4 anak tangga kecil yang harus dilewati sebelum sampai ke halaman rumah. Saya menginjak anak tangga teratas dan langsung melompat menuju halaman rumah. Teman saya itu sudah sampai di halaman rumah. Dan kamu tahu? Saya tidak dalam posisi berdiri. Saya terjatuh. Dua kali saya berusaha berdiri. Tapi tidak bisa. Guncangan itu begitu kuat. Saya berdiri lagi. Sama saja, saya jatuh. Lantas teman yang melihat saya membantu saya berdiri, menarik saya agar tidak terlalu dekat dekat atap. Jangan sampai kejatuhan atap rumah. Selamat. Saya sampai di halaman rumah. Ketika saya menengok ke belakang, plafon rumah yang terbuat dari kayu itu runtuh bersamaan dengan genteng rumah yang terbuat dari bata. Kejadian itu begitu cepat. Namun, guncangan itu belun juga usai. Teman-teman dan kakak pemandu, histeris. Mereka ada yang berteriak "Allahu akbar, Astagfirullah, La hawlawala quata illa billah" dan macam-macam ucapan lain. Saya melihat sekeliling, kebanyakan teman sudah keluar. Para warga yang tinggal di sekitar rumah tempat pelatihan juga pada keluar rumah. Bahkan maaf, ada seorang tetangga wanita, berusia kurang lebih 25-30an keluar dari kamar mandi dengan handuk dan kepala yang masih dihiasi busa shampo. Ia menjerit histeris, dan raut wajahnya begitu ketakutan.

Akhirnya guncangan itu berhenti. Kami saling menatap satu sama lain di halaman rumah. Sembari menunggu reda guncangan yang kadang masih ada walau lebih kecil frekuensi getarannya. Satu persatu kami masuk kembali ke dalam rumah untuk mengecek barang dan kondisi teman yang lain. Saya yang waktu itu juga ketakutan langsung masuk mengambil handphone saya. Karena cuma itu harta berharga saya ketika itu. Ternyata aman. Meski disampingnya terdapat reruntuhan kayu dan juga genteng. Ternyata, sang pemilik rumah, terluka akibat reruntuhan rumah. Kepalanya berdarah, mengucur deras sekali. Beberapa diantara kami membantu ibu tersebut, lainnya membersihkan puing-puing reruntuhan. Sekitar sepuluh menit berselang kami mulai berbincang. Saya kembali ke halaman rumah tempat teman saya sedang berkumpul. Sambil sesekali mengambil gambar reruntuhan dari kamera handphone saya. Tak lama kemudian saya lihat seekor ayam tiba-tiba lari ke atas pohon di depan rumah. Ia naik tinggi sekali, terus ia berkokok. Kami yang ada disitu, heran. Dan benar saja dugaan saya, ternyata itu adalah signal alam, binatang lebih tahu apa yang akan terjadi. Guncangan itu kembali datang. Gempa itu datang, sedikit lebih kencang dari yang pertama. Tapi durasinya lebih cepat. Seorang teman spontan memeluk pohon agar tidak terjatuh. Yang lain langsung mengambil posisi jongkok. Saya? Hanya berdiri komat-kamit baca mantra. Pikiran saya melayang, apakah ini kiamat? Nyatanya tidak. Kami semua bersama warga disana trauma. Selama sejam lebih tak ada lagi yang masuk rumah. Semua masih diluar. Sambil berbincang, agar melupakan kejadian barusan. Ada juga yang bahu membahu membantu warga laun membersihkan puing-puing bangunan. Setelah lama tak ada guncangan, saya langsung terbesit satu nama. Cewek, Titin namanya. Dia adalah cewek yang dekat dengan saya, saya menganggap dia sebagai kakak saya di Jogja. Ia sering berbagi cerita dengan saya, meski awalnya kami beemusuhan secara organisasi. Saya mencoba menelpon dia. Ternyata tidak bisa, tidak aktif. Saya sms, pending. Sinyal di hape tidak stabil. Mungkin efek dari gempa. Salah satu teman memutar radio dari hapenya. Kami berkumpul mendengarkan berita, hanya satu radio yang mengudara, entah radio apa saya lupa. Ia menyiarkan bahwa memang terjadi gempa di seluruh Jogja, yang paling parah di daerah selatan. Bantul.

Kondisi sudah normal, tiba-tiba ada beberapa orang lari. Berteriak-teriak. Air sudah dekat, sambil memacu sepeda motor. Ada juga yang bilang tsunami-tsunami. Seketika, warga sekitar dan kami para peserta panik. Saya melihat orang-orang berduyun-duyun lari. Ada yang di dorong kursi roda. Ada yang naik mobil sampai penuh isi mobilnya. Ada yang lari, ada yang berboncengan sampai empat orang. Semua panik. Isu tsunami sudah sampai di telinga kami semua. Beberapa peserta sudah pasrah. Saya pun ikutan lari, tapi sambil berfikir, apa beneran tsunami? Sambil membatin, saya bilang, ya sudah kalo ini memang tsunami, biarlah kalau sudah ajal ya sudah. Saya lalu mengetikkan sms di handphone saya, bilang kepada orang tua saya. Isinya kira-kira begini:
Assalamualaikum. Pa bos, mama, maafkan segala kesalahan dan dosa abang karena banyak buat dosa. Semoga kita berjumpa di lain kesempatan. Wassalamualaikum.
Sms itu saya kirimkan, pending, bahkan gagal.  Lama saya berdiri, dengan tas yang berisi buku dan baju saya, menunggu datangnya tsunami. Tapi lama, tak kunjung datang. Semua itu hanya isu. Saya hanya bisa menggerutu dalam hati, dan senyum-senyum melihay sms tak terkirim tadi. Setelah kejadian itu barulah signal handphone mulai normal. Sms yang saya kirim ke mbak Titin masuk dan ia balas ia baik-baik saja. Ia bahkan menanyakan balik keadaan saya. Setelah itu, pa bos menelpon karena melihat informasi di televisi atas parahnnya gempa Jogja. Saya dan teman-teman tidak tahu banyak, karena kerusakan disekitar kami, tidak begitu parah. Pelatihan kami dipeecepat, yang seharusnya enam hari menjadi empat hari. Kondisi dan situasi gempa membuat banyak diantara para pemateri pelatihan lebih mencemaskan rumah dan keluarganya daripada memilih mengisi materi di pelatihan yang kami adakan. Hingga selesainya pelatihan 2 hari kemudian, saya bersama teman pulang ke kos masing-masing dan melihat bahwa memang terjadi kerusakan dahsyat di daerah bantul. Rumah-rumah rata dengan tanah. Ribuan korban terenggut. Ratusan kepala keluarga bersedih, mereka juga terisolasi dan kelaparan. Sebagai mahasiswa ketika itu kami yang memilih tetap tinggal diantara teman kami yabg disuruh pulang kampung oleh orang tua masing-masing, memilih membantu para korban sebisa kami. Kami kumpulkan pakaian, makanan, hingga membuat posko gempa. Syukurnya karena kepedulian nasional, banyak bantuan datang. Kami akhirnya jadi relawan yang menyalurkan bantuan.

Kejadian gempa 7 tahun lalu itu benar-benar akan saya ingat sepanjang hidup saya. Begitu menegangkan dan menyeramkan. Saya yakin orang-orang yang selamat dan ikut merasakan gempa, punya cerita masing-masing dan pengalaman tentang gempa. Panik itu pasti. Karena waktu itu kami semua masih belum lepas dari ingatan kejadian aceh yang berawal dari gempa dan di lanjutkan dengan tsunami. Sehingga ketika ada isu tsunami semua orang disini panik. Apalagi isu yang beekembang juga ketika itu, akan keaktifab gunung merapi yang juga baru saja meletus di tahun 2005. Jadilah tahun 2006 itu tahun yang kelam bagi orang jogja dan mahasiswa yang ada di Jogja. Sebuah kenangan yang takkan mudah dilupakan. Sekarang, Jogja sudah semakin maju. Mereka bangkit dari bencana, memulihkan diri dan menjadi semakin terbuka dengan perubahan. Jogja memang istimewa, istimewa di hati. :)

Pintu Harmonika

Pintu Harmonika. Beberapa hari yang lalu, hari Jumat tepatnya, saya pergi ke bioskop. Awalnya saya ingin menonton Film terbaru dari sekuel Fast & Furios. Siang menjelang sore, saya pergi bersama Rina. Kami memesan tiket di tempat penjualan tiket, dan wow, tiket film tersebut habis terjual. kalaupun ada, duduk di barisan paling depan. Paling depan? kalau shalat berjamaah si oke-oke saja saya mau untuk memilih tempat paling depan, kecuali Rina, dia mungkin akan memilih paling belakang. Masalahnya barisan paling depan menonton film itu, sudah tidak ada kebaikannya, keuntunganya, dan kenikmatannya, yang ada hanya membuat leher jadi sakit, mata molotot, tidak dapat menikmati Film sama sekali. Kemudian saya mulai beralih ke studio lain, melihat judul-judul film lain yang menarik untuk di tonton. Terpilihlah sebuah Film Indonesia diantara beberapa FIlm Indonesia yang sedang tayang, seperti, Cinta Brontosaurus, Optatissimus, jangan menangis Sinar. Saya memilih pintu harmonika. Sebelum film ini tayang, saya sudah pernah membaca bukunya. Di buku tersebut, kisah antara Rizal, Juni dan David, begitu seru. Di buat seru oleh penulisnya. Kisahnya sederhana, tentang Tiga orang anak dari penghuni Ruko, yang sama-sama menemukan sebuah lokasi yang mereka sebut sebagai surga. Mengapa mereka sebut surga, karena di sebuah tanah lapang, yang disana, tumbuh beberapa rerumputan dan terdapat bangunan yang agak tua, mereka meluangkan waktunya dengan Positif. Rizal misalnya, lebih suka menghabiskan waktunya untuk menulis dalam blog, bercengkrama dengan temannya di facebook, twitter dan BBMan. Juni, dan david, meluangkan waktunya dengan membaca buku dan komik. Komik yang sering mereka baca bersama, buku-buku detektif, khusunya komik Conan, sang detektif cilik yang terkenal itu. 

Rizal, anak SMA, yang punya hobi ngeblog. Dalam blognya Rizal memperkenalkan diri sebagai anak orang kaya yang kerjaannya setiap minggu travel ke beberapa negara. Hobbinya keluar negeri, begitu ia tulis. Karena aktif menulis dalam blog, Rizal terkenal di sekolahnya, digandrungi cewek-cewek, punya banyak fans dan selalu diberi kado oleh para fansnya di sekolah. Selain itu Rizal juga menjadi selebtwit, karena hobinya menulis blog. Dia pun menyebut dirinya seorang blogger. Rizal juga merupakan seorang cowok yang punya pandangan bahwa cowok berotot, itu juga harus punya otak yang cerdas. Suatu waktu Rizal, dipanggil oleh gurunya, terkait nilai Rizal yang jelek. Rizal diberi keringanan, jika saja ia mau dan berhasil membantu Cyntia, ketua grup dance yang ingin mengikuti sebuah kompetisi dance dalam mengumpulkan dana. 

Rizal pun berkenalan dengan Cyntia, gadis, yang dalam pandangan Rizal, bak bidadari, jutek, tetapi selalu saja mengetuk hatinya. Mereka memulai upaya mengumpulkan dana, salah satunya dengan ide Rizal yang menjual kue malaikat. Kue Malaikat itu dibuat oleh tetangganya, Imelda, yang juga merupakan Ibu dari David. Rizal yakin, kue itu akan laku karena kue itu memiliki rasa yang unik. Dalam beberapa minggu mereka hampir memenuhi target dalam pengumpulan dana. Rizal yang tak kehabisan akal, juga menggunakan kepopulerannya, dengan mengadakan lelang dinner bersama Rizal. Cyntia, mulai bertanya-tanya, dengan ide itu. Ia menganggap, Rizal terlalu percaya diri, menganggap dirinya terkenal. Rizal, sebagai cowok yang tidak ingin begitu saja di cibir oleh Cyntia lantas menantang Cyntia untuk melakukan pencarian, siapa itu Rizal. Rizal berkata" Google me!" kepada Cyntia. Selain untuk mengumpulkan dana, Rizal juga sebenarnya punya niat lain, agar ia dapat dinner bersama Rizal. Rizal tinggal di sebuah ruko bersama ayahnya. Mereka berasal dari medan, mereka pindah ke ruko tersebut, bertiga bersama ibunya. Sayangnya, Ibu Rizal, telah meninggal karena sakit. Jadinya Rizal hanya tinggal berdua dengan bapaknya. Suatu saat, ayah Rizal jatuh sakit. Rizal yang tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai untuk kedua kalinya, memilih untuk tidak masuk sekolah dan membantu ayahnya dirumah. Pada saat ayahnya menyuruh Rizal untuk membawa gas pesanan tante Imelda, tak disangka, Cyntia lewat di depan rumahnya dan memergoki Rizal, sedang membopong tabung gas 12 Kg. Sejak kejadian itu, Cyntia tau, bahwa Rizal bukanlah anak orang kaya, seperti yang selama ini sering ia kemukakan di blognya, twitter, bahkan facebooknya. Begitu juga dengan kebiasaannya pergi ke luar negeri bersama bapaknya setiap minggu. Rizal merasa bersalah, dengan Cyntia. Belum lagi rasa bersalah itu usai, di dunia maya, blog, twitter, facebook ia di bully oleh para pengikut setianya, yang tidak menyangka Rizal telah melakukan kebohongan besar hanya untuk sebuah pencitraan diri yang semu. Hal ini berdampak pada program dia dan Cyntia dalam menggalang dana, Rizal akhirnya meminta maaf atas hal tersebut. Selain pada Cyntia, ia menyampaikan maafnya, juga pengakuan atas dirinya selama ini, lewat blognya. Dengan besar hati ia menerima segala cacian, ia juga tahu bahwa apa yang dilakukan sudah membuat rasa kepercayaan orang kepada dirinya menghilang. Namun, Rizal tetap percaya diri, dan akhirnya ia di maafkan oleh Cyntia dan juga para pengikutnya di Blog. Penggalangan dana mereka pun berhasil. 

Rumah Rizal bersebelahan dengan Juni dan David. Juni, anak SMP, yang belakangan ini sedang menjalani masa Skors dari sekolah selama lima hari. Hal ini ia dapatkan akibat dari perbuatannya yang memukuli sekelompok anak baru (adik angkatannya) yang pecicilan di sekolahnya. Geram dan mencoba mengingatkan perilaku mereka, Juni, malah di tantang oleh adik kelasnya itu. Juni yang terbakar amarah lantas memukul gadis tersebut, Manda namanya. Setelah kejadian itu, ternyata berdampak pada kehidupan keluarganya. Ayah Juni, gagal mendapatkan orderan dari kliennya. Klien yang baru saja memesan sepuluh lusin orderan baju untuk di sablon ternyata adalah ayah Manda. Karena ulah Juni, yang menyebabkan Manda harus dirawat dirumah sakit, membuat ayah Manda membatalkan pesanan yang sedang dikerjakan oleh ayah Juni. Hari-hari skors Juni, ia sebut sebagai Penjara. Ia tak boleh pergi kemana-mana, tanpa sepengetahuan dari orang tuanya. Juni mempunyai adik, namanya Diba. Adik Juni tak serajin Juni, apalagi dalam hal belajar, Diba lebih suka bermain daripada belajar. Itu sebabnya Diba, selalu mendapatkan nilai jelek ulangan matematika. Juni mengenal Rizal, di Surga. Mereka seringkali bertemu disana. Belakangan, setelah di skors, mereka jarang bertemu. Hanya kalau ada waktu dan kesempatan untuk kabur, barulah Juni pergi ke Surga. Menjalankan aktivitasnya. Di Surga jugalah, Juni diajarkan bela diri oleh Rizal. Rizal yang sangat menyukai Bruce Lee, mengajarkan bela diri, JUN FANG GANG FU, begitu bela diri itu dinamakan oleh Rizal. Bela diri itu diajarkan, karena sebelumnya, Juni di bully oleh teman sekolahnya. Tak tega melihat teman yang sudah dianggap adik olehnya selalu di bully, Rizal melatih Juni bela diri. Sayangnya, Juni baru menyadari bahwa bela diri yang ia pelajari itu ternyata dikemudian hari ia jadikan sebagai alat untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang dulu pernah ia rasakan. Bullying.

 Hari-hari Juni, dirumah ia habiskan dengan membantu orang tua, mulai dari membersihkan rumah, membantu Diba belajar, hingga membantu mengerjakan orderan sablon ayahnya. Suatu ketika, karena DIba sakit, Juni salah menyablon pesanan yang akan diambil dalam waktu 2 jam mendatang. Ayahnya marah kepada Juni. Juni yang merasa bahwa dirinya tidak bersalah karena, sebelumnya ibu Juni memberitahukan bahwa letak desain sablon ada di dekat meja, sudah benar ia lakukan. Ternyata ada amplop lain yang merupakan desain yang seharusnya di sablon oleh Juni. Mereka pun terlibat dalam pertengkaran antara ayah dan anak. Melihat situasi tersebut, ibu Juni, melerai pertengkaran mulut tersebut, karena seharusnya mereka berada disisi Diba yang sedang sakit, bukan malah bertengkar. Juni, yang selama ini tidak tahu bagaimana kondisi ayahnya kemudian menyesali perbuatannya. Ia baru tahu belakanga, bahwa ternyata ayahnya sedang dalam kesulitan ekonomi. Satu-satunya harapan untuk bangkit dari ekonomi yang buruk, telah di gagalkan oleh Juni, yang memukul klien tersebesar mereka. Ayah Juni akhirnya kehabisan akal dan dengan terpaksa menjual Ruko yang mereka tinggali dan juga beberapa mesin dan alat sablon. Miris akan hal tersebut, Juni meminta maaf atas segala kesalahannya, hingga akhirnya hubungan ia dan ayahnya menjadi baik. Setelah menjalani hari-hari yang tidak menyenangkan di rumah, yang ia sebut sebagai penjara, Juni, kembali ke sekolahnya. ia langsung mendatangi Manda dan meminta maaf atas kejadian yang telah berlalu. Mereka pun saling memaafkan.

Selain kisah Rizal dan Juni, dikisahkan juga kisah David. David adalah anak dari Imelda. Seorang pembuat kue yang tinggal di sebelah rumah Juni. David tinggal bersama ibunya, imelda. ia ditinggalkan oleh ayahnya, sejak di dalam kandungan, karena ayahnya adalah seorang penjudi dan suka main perempuan. David masih duduk di bangku SD. Selain sekolah dan meluangkan waktu dengan membaca buku-buku detektif Conan di surga, david juga ikut les piano. David, sangat menyukai hal-hal yang berbau detektif. Ia bahkan yakin bahwa ia sebenarnya mirip kisah detektif Conan, dimana ia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak kecil. Di surga, David selalu dilibatkan dalam kejadian-kejadian yang misterius. Salah satunya ketika ada sebuah plang di Surga, Dijual, Rizal dan Juni memberikan tugas kepada David untuk mencari informasi dan mengumpulkan bukti sebanyak-banyaknya atas kejadian tersebut. David sangat menyukai tugas tersebut. Belakangan, David tidak diikut sertakan dalam PIA operation, operasi yang ingin menggagalkan upaya penjualan Surga mereka. Hanya Rizal dan Juni yang melakukan operasi tersebut. Surga itu, akhirnya di beli oleh tante Imelda. Alasanya, setelah membaca tulisan mengenai laporan singkat asal-usul Surga. David, meninggal karena sebuah kecelakaan. Ia ditabrak oleh sebuah motor. Kejadian tersebut membuat Imelda terpukul, dan belum bisa melupakan David. Setelah berhari-hari, karena David juga lah Imelda akhirnya mampu menerima kepergian David. 


Menonton Film Pintu Harmonika ini, memang beda sekali dengan membaca buku Pintu Harmonika. karena bagi saya, benang merah yang menghubungkan cerita antara Rizal, Juni, dan David adalah cerita seru tentang Surga mereka. Dalam film, cerita berkembang hanya pada sisi Rizal sebagai satu orang yang diceritakan, begitu juga Juni, dan david. Sehingga Film ini memberikan kesan, cerita tersebut, terpisah-pisah. Tidak menjadi satu kesatuan. Padahal, kalau kita baca dalam novelnya, hubungan dari ketiga tokoh tersebut sangat erat, dan mereka dipertemukan di Surga. Konflik yang muncul, karena ada pihak yang menjual surga pun, tidak disajikan di dalam Film. Jadi selama, nonton film Pintu Harmonika, saya hanya terkesan pada cerita yang disajikan di awal, yakni cerita Rizal. Saya menunggu-nunggu setelah kisah Rizal, mana nih, Surganya. Karena, jujur saya merasa penasaran sekali dengan kegiatan mereka. Ternyata hingga akhir, Surga itu tak muncul sama sekali. Sehingga saya merasa bosan yang teramat sangat di dua bagian film terakhir. Apalagi pada FIlm David dan Juni, yang tidak secara terang dijelaskan bagaimana sebenarnya kisah mereka. Sebenarnya di cerita Rizal juga sih, bagaimana ia terkenal jadi blogger, bagaimana ia menjalani hari tanpa ibunya yang meninggal. Ada banyak hal yang hilang menurut saya. Jadi, saya sempat berfikir, apa mungkin, itu memang sudah darisananya dibuat begitu, sehingga para penonton yang menonton bertanya-tanya, atas cerita film dan membeli buku biar mendapatkan cerita yang utuh? mungkin saja. Tapi bagi saya, mungkin, yang tidak minat sama sekali membaca, hanya menonton, film tersebut, pasti akan, membingungkan dalam mencerna cerita yang disajikan dalam film tersebut. Untungnya, saya sudah membaca buku tersebut, jadi saya tidak perlu bingung. Hanya saja saya mengantuk nonton film tersebut. Sama halnya Rina, yang saya lihat raut wajahnya ketika menonton, selalu berkerut tanda ia bingung sama jalan cerita Film tersebut. 

Oh iya saya nonton film tersebut, dengan kondisi penonton cuma enam orang saja. hahahaha, sepi ya? Andai saja film tersebut sebagus bukunya, mungkin sih bisa lebih rame, mungkin, Semoga saja sih penontonnya bertambah, semoga. hehehe

Jumat, 24 Mei 2013

The English Teacher; Sebuah Film

Kemarin, saya nonton sebuah film yang menurut saya, bagus. Judulnya The English teacher. Nah begini ceritanya: 
Linda Sinclair, seorang guru bahasa Inggris di senior high school (SMA) . Bukan guru sembarangan, guru terbaik, teladan dan berprestasi. Meski begitu, ia tak pernah berhasil dalam urusan percintaannya. Linda, yang sudah menjadi kutu buku sejak kecil, memang sangat memilih dalam urusan hubungan percintaan dengan laki-laki. Bahkan ia tahu seorang lelaki masuk dalam kategori apa, dari pola komunikasi yang ia jalani saat melakukan kencan pertama. Sudah beberapa lelaki ia tolak. Tidak sesuai sama kriteria yang ia idamkan. Keseharian Linda dijalani sendiri, di rumahnya. Sampai suatu saat Linda bertemu dengan mantan muridnya di SMA. Jason sherwood. Pertemuan mereka berdua terjadi di sebuah ATM, saat itu Jason menghampiri Linda yang sedang mengambil uang di mesin ATM. Karena terkejut oleh kehadiran Jason, Linda sempat menyemprotkan cairan merica kepada Jason, yang dia kira akan berbuat jahat kepadanya. Jason kemudian meringis kesakitan karena cairan tersebut terasa panas mengenai matanya. Sambil meringis Jason menjelaskan bahwa ia adalah mantan murid Linda di SMA dulu. Linda meminta maaf kepadanya dan mengajak Jason untuk ikut menumpang mobil LInda, dan mengantarkannya pulang. Sebelumnya mereka berbincang di sebuah kedai. 

Lama tak berjumpa dengan Jason, Linda menanyakan kabar Jason. Seingat Linda Jason, ketika di SMA punya bakat menulis yang baik. Bahkan Linda, sangat bangga ketika Jason, yang waktu itu berangkat meninggalkan Kingston Pensylvania, menuju New York karena tulisannya di sukai oleh penerbit di New York. Namun hal tersebut, berbeda dalam kenyataannya. Jason tidak jadi berangkat ke New york untuk tulisannya. Ayahnya Mr. Sherwood, yang sering dijumpai oleh Linda di tempat ia Gym, karena mereka berdua adalah member Gym tersebut, melarang Jason untuk meneruskan keinginannya. Ayah Jason, Mr Sherwood, mengingkan Jason untuk menjadi pengacara dan melanjutkan studinya di bidang hukum. Sebagai guru yang baik dan mengetahui bakat yang di miliki oleh Jason, lantas Linda merasa, perlu menyemangai Jason yang sudah putus asa akan aktivitas yang tidak ia sukai. Linda pun menawarkan diri untuk membaca naskah ataupun skrip yang telah dituliskan dengan rapi oleh Jason. Pada hari lain mereka bertemu kembali, Linda pun mendapatkan keinginannya, yakni diberikan waktu untuk membaca naskah dari Jason, muridnya sewaktu di SMA. Hanya dalam semalam, Linda seakan mengesampingkan aktivitasnya, ia fokus dalam membaca tulisan yang di buat oleh Jason. Hingga di akhir tulisan, Linda terkesan dan tersentuh oleh tulisan Jason. Tulisan Jason, di anggap merepresentasikan masalah yang dialami oleh para remaja masa kini. Tulisan tersebut sangat menyentuh. Ketika mereka bertemu kembali, Linda menyampaikan kekagumannya dan kesannya terhadap tulisan Jason. Ia bahkan berniat untuk memproduksi cerita dalam tulisan tersebut untuk menjadi sebuah drama. Awalnya, Jason ragu, bahkan Jason sempat berfikir apakah ini hanya semacam motivasi saja dari seorang gurnya sewaktu SMA yang tidak mau melihat mantan muridnya putus asa? Ternyata, Linda yang mengetahui bagusnya tulisan Jason, juga memberikan tulisan ini kepada Carl. Pimpinan produksi drama SMA yang seringkali memproduksi dan menyutradarai drama SMA, dan tindakan tersebut adalah tindakan nyata yang dilakukan Linda. Bukan hanya menyukai dengan basa basi namun juga diperjuangkan. Selama bertahun-tahun tak memproduksi drama SMA, Carl merasa, tulisan Jason membawa suasana baru, suasana yang tidak dimiliki oleh cerita lain yang monoton dan membosankan. Mereka berdua (Linda dan Carl) membawa ide kepada pengelola sekolah. Sial, ide mereka di tolak. Para pengelola sekolah, menolak untuk mementaskan cerita yang ada di dalam tulisan Jason. Menurut mereka, cerita Jason tidak pantas di pentaskan di SMA. Karena di akhir cerita, ada adegan bunuh diri dari pemeran utama. Hal tersebut tidak pantas di pertontonkan yang dapat mengakibatkan pengaruh kepada anak SMA. Carl menganggap hal tersebut sah-sah saja, hal tersebut dapat disiasati dalam pementasan. Namun para pengelola bersikeras agar semua itu tidak di lakukan. Setelah perdebatan panjang, pengelola tetap pada pendiriannya. Jika cerita ini ingin ditampilkan dalam cara pementasan drama sekolah, pengelola setuju dengan syarat, menghapuskan akhir cerita atau membuat akhir yang baru. Carl, yang sudah lama tidak memproduksi drama mengiyakan. Hal itu kemudian ditentang Linda.

Seusai dari ruang pengelola, Linda melakukan protes, karena dengan menghilangkan akhir cerita, itu berarti menghilangkan keaslian dari karya tersebut. Apalagi, Linda paham betul, Jason tidak akan menyetujui hal tersebut. Carl pun berkilah, apa yang ia lakukan, semata hanya untuk meyakinkan kepada pengelola, meski pada kenyataanya, tak ada potongan cerita sama sekali di akhir. Semua akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada potongan. Hal itu ia lakukan agar tak lagi ada perdebatan dengan pengelola. Drama pun, bisa berjalan. Ia sudah sangat merindukan, bagaimana sebuah Drama sekolah berlangsung setelah sekian lama tak ada pementasan drama sekalipun di sekolah. Linda akhirnya memahaminya. Linda menemui Jason. Membicarakan hasil perbincangannya dengan Carl dan juga pengelola. Linda menyodorkan sebuah tawaran kontrak kesepakatan kepada Jason. Dalam hal ini Linda tidak memberitahukan kepada Jason segala perbicangan yang terjadi. Linda hanya memberitahu Jason, bahwa tuisannya akn dipentaskan dalam pentas drama. Jason, menandatangani surat tersebut. Pertemuan berikutnya, Jason diajak oleh Linda, untuk bertemu Carl. Carl sudah mempersiapkan para pemain yang akan memerankan beberapa tokoh dalam tulisan. Pemain-pemain tersebut ia peroleh dari hasil audisi di sekolah sebelum pertemuan mereka dilaksanakan. Pada sesi pertemuan pemain dan penulis ini, beberapa pertanyaan diajukan oleh para pemain. Ditengah  perbincangan salah satu pemain, mengatakan bahwa ide yang ditulis terlalu sederhana dan usang. Mendengar hal tersebut Jason tersinggung. Linda kembali menyemangati Jason, dan mengatakan bahwa apa yang sebenarnya dikatakan oleh pemain tersebut, hanya sabatas pertanyaan. Tidak perlu ditanggapi dengan sikap yang terlalu serius. jason melunak, dan mereka memulai latihan sebelum pementasan. Pada saat berlatih, ayah jason datang, meminta waktu kepada para pemain, Carl dan juga Linda untuk berbicara kepada Jason. Jason kepergok oleh ayahnya, yang tidak setuju Jason meninggalkan studi hukumnya dan lebih memilih proyek seni yang dibuat berdasarakan tulisannya. Diluar ruangan, ayah Jason membully jason dengan perkataan kasar, dan bernada mengancam. Linda yang melihat hal tersebut lantas melerai pertikaian itu. Mr Sherwood, ayah Jason, pergi meninggalkan Jason. Jason sedih. Linda mengajak Jason berbicara di ruangan guru Linda. Linda memberikan simpati kepada Jason yang sedang menangisi, perbuatan ayahnya terhadap dia. Begitu juga perbuatan ia terhadap ayahnya. Linda terus menyemangati Jason. 

Linda sedang memberikan bentuk ekpresi simpatinya kepada Jason dengan memeluk Jason. Namun, setelah memeluk Jason, Jason menengadahkan kepalanya menghadap Linda. Mereka lalu berciuman. Ciuman itu spontan dilakukan oleh Jason. Linda yang terkejut dengan ciuman tersebut, menjauhkan wajahnya dari Jason. Tak lama setelah itu, Linda membalas ciuman Jason, dan mereka bercinta (melakukan hubungan sex cepat) di ruangan Linda. Sadar akan perbuatannya yang salah, Linda yang setelah bercinta, tak pernah berhenti berfikir tentang apa yang baru saja ia lakukan. Ia nampak seperti pelacur yang tak tahu diri, yang bercinta dengan mantan muridnya di SMA. Sejak saat itu, Linda, memanggil Jason, dan berbicara padanya agar, hubungan yang sempat mereka lakukan, tidak berpengaruh kepada profesionalitas mereka dalam mempersiapkan pementasan. Untuk menjaga jarak tersebut, Linda meminta Jason, lebih fokus dan mereka berdua tidak saling berdekatan lagi. Ternyata, setelah berhubungan intim tersebut linda, mempunyai rasa yang lebih terhadap Jason. mantan muridnya. Halle, salah satu pemeran wanita yang ada dalam pementasan tersebut, menjadi korban dari Linda. Linda mengajaknya berbicara diruangannya. Linda menyampaikan bahwa Halle, tidak terlalu dekat dengan Jason agar tidak ada rasa yang nantinya berpengaruh kepada pementasan yang mereka akan lakoni. Padahal, Linda sebenarnya cemburu dengan Halle karena, lebih muda, lebih cantik dan sedang mendekati Jason. Tak sengaja ketika Linda pergi ke sebuah ruangan, Linda mempergoki jason dan Halle berciuman. Linda marah, dan memberitahukan kepada Halle, rekomendasi beasiswa yang akan ia dapatkan dicabut. Linda benar-benar terbkar cemburu. Meski ia tidak mau jujur untuk mengatakannya. Linda lantas mengatakan kata-kata yang kasar kepada Halle, ia membully Halle dengan mengatakan Halle Trashy, yang berarti sampah. Linda pergi meninggalkan ruangan tersebut. Jason berlari mengejar Linda dan memberikan penjelasan kepada Linda. Ia sudah terburu marah dan cemburu, hingga tak mau mendengarkan alasan. 

Bagaimana kelanjutannya? bagaimana juga dengan nasib pementasan yang akan dilakukan? Nonton sendiri ya! hahahahaha.

Jumat, 17 Mei 2013

Tentang nama I (baca; ai)

Perkenalkan nama I Ridhwan. Sebelumnya disini I gunakan kata I. Biar kamu bisa bebas, ya, mau mengartikan I itu saya, gue, aku, akyyyuuu, AQoeH, eke atau apa saja terserah. Apalah arti sebuah nama, begitu kata pepatah. Bagi I, nama itu berarti. Kadang I berfikir kenapa I di beri nama Ridhwan. Katanya, nama itu adalah doa atau harapan orang tua buat anaknya. Ada teman I ,namanya nurjannah, artinya cahaya surga, wuih. Firdaus, artinya surga paling baik. Rahman, Rohim, pengasih, penyayang. Lah I, Ridhwan. Penjaga pintu surga.

Apa mungkin waktu mau kasih nama gitu, orang tua I berfikir gini, pas I baru lahir, bapak I lihat I yang lagi nete, terus bapak I bilang ke mama I "mah, kita sudah beri nama anak kita ridhwan. Syukur mah, pintu surga sudah ada yang jagain buat kita. Anak kita. Si Ridhwan." Terus mama jawab, Alhamdulillah ya pak. Sesuatu." Tar-ntar itu kata syahrini. Bukan emak I dia. Kalo dia emak I, I netek ama Syahrini dong?

Kebayang gitu ya suatu saat di akhirat kelak. Ada orang yang melambaikan tangan. Manggil nama I. Ridhwan. Ridhwan. Siapa ya itu? Ini bapakmu nak. Oh bapak, sini pak masuk surga. Terus ada lagi. Ridhwan. Ridhwan. Ini mama nak. Oh mama, masuk surga. Ridhwan. Ridhwan. Ternyata dua orang. Oh itu adik-adik saya, masuk. Terakhir ada lagi. Ridhwan. Ridhwan. Eh siapa itu? Sambil memincingkan mata karena mata I dulu pernah minus, ini aku, Mantan kamu. Tiba-tiba I langsung galau. Langsung berdoa pada Tuhan. Ya Tuhan, apa yang harus I lakukan ya Tuhan. Bantu hamba ya Tuhan.  Kata Tuhan. Ridhwan, ini di akhirat, move on dong move on. Akhirnya dengan penuh kekuatan I mengatakan. Kita harusnya tidak bertemu lagi disini. Silahkan pergi dari depan muka I. Tiba-tiba ada orang yang narik tangan tu cewek. Dia bilang, sayang, udah ku bilang jangan lagi pergi ke dia. Mending kamu sama aku aja. Cewe itu pun di bawa sama dia. Nama cowok itu Malik. I pun akhirnya bahagia.

Namanya hidup ya, kita harus tetap bersyukur ya. Meski kadang sedih juga kenapa ya I diberi nama Ridhwan. Apakah orang tua I hanya ingin I jadi penjaga pintu surga saja, gak masuk surga? Tapi ya itu kita emang harus bersyukur. I bersyukur karena bukan cuma I yang diberi nama Ridhwan ternyata, banyak juga orang Indonesia yang diberi nama Ridhwan. Men, I gak sendirian men. Kadang juga I mikir, gila kalau orang-orang yang namanya Ridhwan se Indonesia di kumpulin rame-rame, kita udah bisa buat Laskar Ridhwan. Alias, laskar penjaga pintu surga. Itu keren banget men. Lebih keren daripada the avengers men.

Heran juga, kenapa ya banyak yang namanya Ridhwan. Saking banyaknya nama Ridhwan itu pasaran banget. Apa waktu itu pas mama I lagi hamil tua, terus bapak I pergi ke pasar beli belanjaan gantiin mamak gitu, terus ada yang jualan nama murah. Mari pak mari, dibeli, mumpung lagi murah. Buat calon anak, Ridhwan pak Ridhwan. Obral nama Ridhwan. Akhirnya bapak I beli satu nama, itu pun juga antri sambil desak-desakkan dan dapat. Terus pulang sambil bawa belanjaan bilang ke mama, ma tadi bapak beli belanjaan terus ada yang jual nama Ridhwan jadi bapak beli aja sekalian.

Nama itu memang penting ya. I anak pertama dari saudari-saudari I. Makanya sebagai anak pertama nama itu tidak terlalu penting. Yang penting dikasih nama. Untuk pembelajaran kalau mau jadikan anak lagi, lagi dan lagi.

Jadi anak pertama itu ada enaknya ada juga tidak enaknya ya. Enaknya kalau ada apa-apa selalu di dahulukan. Makan, duluan. Ada oleh-oleh dibagi duluan. Cobain nasi basi, duluan. Eh itu kan yang tidak enak ya. Tidak enaknya itu, anak pertama konon harus jadi contoh buat adik-adiknya ya. Kalau dia berhasil maka adik-adiknya juga ikut. Terinspirasi. Kalau dia gagal, atau nakal, dia disalahin kenapa jadi nakal dan gak boleh di contoh sama adik-adiknya. Tahu gitu dulu I ga usah minta adik aja ya, sama bapak sama mama. Lagian kalaupun I gak minta pasti mama atau bapak yang minta adik. Nasib.

Sebagai anak laki-laki paling ganteng di rumah I senang banget. Soalnya kalau kumpul bersama saudara atau teman ganteng I selalu tenggelam. Ya gak apa, hidup itu harus disyukuri. Karena setidaknya di keluarga I paling ganteng, saingan berat I juga paling poll ya bapak. Sayangnya bapak I ganteng. Makanya I bangga dengan status I sebagai anak laki-laki paling ganteng  bukan laki-laki paling ganteng di keluarga.

Sekian dari I. Sampai ketemu di surga. 

Rabu, 01 Mei 2013

Menanti hujan

Aku menyukai hujan. Aku suka diguyur hujan. Karena dalam hujan, tak ada orang yang tahu air mataku menetes karena sedih. Di dalam hujan, tak ada orang yang tahu, seberapa besar keringat yang mengucur atas kerja kerasku. Di dalam hujan, aku bisa memaki siapa pun tanpa ada yang tahu seberapa banyak air liurku membuncah dari mulutku. Hujan, tempat aku mengeluarkan segala rasa. Sekarang, sudah bukan musim hujan, haruskah menunggu hujan untuk mengeluarkan segala rasa?

Tuhan memang baik

Orang-orang seringkali berkata, Tuhan itu baik. Tuhan Maha baik. Bahkan tak jarang diantara mereka memberikan ekspresinya dengan berbagai bentuk. Tuhan memang baik?

Mungkin orang-orang yang menganggap Tuhan itu baik, karena setiap keinginan yang mereka minta pada Tuhan, selalu terkabul. Ya, terlepas dari, apakah dia berusaha lebih keras atas keinginannya atau berusaha biasa-biasa saja. Bagi mereka, Tuhan memang baik. Saya kadang berfikir, tanpa dikabulkan segala keinginan atau permintaan pun, Tuhan itu baik dan selalu baik. Buruk itu hanya datang dari prasangka kita yang menganggap Tuhan itu buruk, jahat, tidak adil, dan sebagainya. Coba ya, kita lihat, baik ke dalam diri kita sendiri, atau lihat disekeliling kita. Orang-orang disekitar kita, keluarga, sahabat, kenalan, orang lain, alam, binatang, segala hal di sekitar kita. Bukan sekedar dilihat. Setelah melihat, coba kita renungi, ya, memikirkan sejenak. Kita kan manusia yang jarang berfikir, jadi cobalah sedikit berfikir tentang hal ini. Ada orang yang taat sekali beribadah, bisa kita lihat dari sudut pandang agama kita masing-masing. Seperti saya, Islam misalnya. Ada seseorang yang seringkali ke masjid. Shalat atau entah apalah yang dia kerjakan. Kalau senin kamis, ia seringkali terlihat atau memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia sedang berpuasa. Orang ini, karena ibadah yang ia lakukan, mendapatkan kesuksesan yang berlimpah ruah. Rejekinya bagus, jodohnya cantik atau rupawan, meski dia tidak demikian. Hartanya melimpah dan suka melakukan aksi sosial dengan memberikan bantuan dalam bentuk harta, minimal dia tersenyum. Iya, minimal. Dengan kehidupannya yang seperti itu, belum lagi ia di posisikan mulia di antara orang lain di sekitarnya, menunjukkan bahwa Tuhan itu memang baik kan? Ia lantas selalu mengucapkan syukur. Ya, ucapan syukurnya kadang di dalam hati, kadang di media sosial atau kadang ia tuliskan sampai masuk ke media massa dan elektronik. Seisi dunia tahu ia bersyukur kepada Tuhan yang memang baik itu. Karena keinginannya di penuhi oleh Tuhan. Lantas, Tuhan memang baik bukan? Apa yang ia kerjakan, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Tuhan menjadi baik, sekali, menurut dia.

Di sisi lain, ada orang-orang yang seringkali lalai. Ya, secara kasat mata, orang lain ke masjid, shalat berjamaah, dia asik sendiri di rumah. Main game, baca buku, menulis, bercinta (dalam arti yang sebenarnya) atau tertawa tawa dengan temannya. Diberikan kehidupan, ya minimal,  meski kecil tapi berharga, yakni nafas. Selain itu juga di berikan akal yang sehat, meski tak pernah di gunakan atau sedikit sekali digunakan. Paras cantik, ganteng, yang seringkali jadi alat pamer, juga kaya dan miskin. Dari segala kenikmatan ( katakan saja itu kenikmatan meski benar-benar nikmat) ia jarang beribadah. Tuhan memang baik bukan? Tuhan (tetap) baik.

Tak peduli, ia yang kafir, yang sholeh, yang jahat, yang baik. Diberikannya kebaikan. Tentu dalam kadar Dia. Lalu, bagaimana yang mendapatkan kesusahan setiap harinya. Sudah jelek, miskin, mau melakukan segala sesuatu, selalu saja tak pernah mulus. Bahkan ia sering berdoa, berkali-kali. Tapi tak kunjung dapat apa yang dia mau. Apakah Tuhan tetap baik? Jawabannya ya tetap baik. Karena, baik dan buruk ada dalam prasangka kita terhadap Tuhan. Orang yang ingkar dan lalai, dapat kebaikan dari Tuhan, orang yang taat pun dapat kebaikan dari Tuhan. Tuhan memang baik.

Nah, mulai sekarang, marilah kita berprasangka kalau Tuhan itu mrmang baik. Meski kita merasa seakan dan seolah-olah mendapatkan kehidupan yang tidak adil, dipermainkan, hina dan sebagainya. Tetaplah berprasangka Tuhan itu baik. Kalau memang tak mau berprasangka demikian, silahkan menganggap Tuhan itu tidak ada. Meski anggapanmu itu hanya ada di pikirannu. Tuhan itu tetap ada, dan baik.

Jumat, 26 April 2013

Aku (sudah biasa) sendiri

9 tahun merantau, jauh dari rumah orang tua, jauh dari keluarga, juga sahabat lama, telah membuatku terbiasa dengan kesendirian. Biasa melakukan segala hal sendirian. Berdiam diri seorang diri, merasa sendiri, sepi, sunyi, bahkan seperti tak berarti. Meski nyatanya, aku tak pernah dibiarkan sendiri. Selalu saja ada yang menemani, walau hanya seekor nyamuk, yang itu pun jika ia tak malang di makan oleh cicak di dinding. Tapi bagaimana dengan kedua adikku? Yang terbiasa hidup bersama, dengan kedua orang tua, dengan keluarga lainnya, dengan sahabat-sahabatnya? Akankah mereka kuat dalam menghadapi kesendirian? Merasa sepi, sunyi, bahkan berteriak pun dianggap gila, ditinggal, tak dihiraukan. Sejatinya memang kita tak sendiri, ada Tuhan, ada dua malaikat yang selalu mencatat perbuatan, disisi kanan dan kiri. Ada jutaan setan, ada iblis, yang selalu menggoda kita, juga ada malaikat kematian yang selalu membuntuti, menunggu menepati waktu, menjalankan tugasnya atas kita. Kita? Ya, kita. Aku, kamu, dia, dan mereka. Kita.

Tak ada manusia didunia ini yang mampu hidup sendiri. Atau paling tidak betah sendirian. Sampai sekarang aku terus berfikir dan berfikir. Lalu aku menulis, agar waktu sendiriku berlalu cepat tanpa sadar hingga ada yang menemaniku. Adik-adikku, bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian siap? Aku yakin kalian siap. Meski aku berharap kalian akan lebih siap dan tak sepedih aku dulu, menjalani hari-hari kesendirian yang berat dan kadang menyiksa. Inilah jalan hidup kita, jalan yang telah menjadi bagian rencana sang Maha Kuasa. Adik-adikku, jangan merasa sendiri, ada aku, abangmu, yang sudah terbiasa sendiri. Datanglah padaku, kurangkul kalian, lalu kita tertawa seperti biasa.

Teruslah bermain hingga berhenti

Berdiri aku diantara langit dan bumi. Tegak, dengan kepala menantang menghadap ke atas. Merasa dipermainkan oleh Tuhan, aku menatap langit, jauh, mencoba melawan sinar matahari. Mataku tak kuasa menahan. Telah ku siapkan liur terbusuk dari mulut ini, ingin ku ludahkan pada Dia yang konon bersemayam di atas langit sana. Sia-sia. Liur busuk itu, jatuh, tepat dimuka ku. Bau. Semakin marah aku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku berfikir, mengapa aku berani melakukan ini? Bukankah aku seringkali mempermainkan perintah Tuhanku? Meremehkan bahkan menyia-nyiakanNya? Lantas kenapa aku marah kepadaNya? Permainan, dibalas dengan permainan. Aku mempermainkanNya dengan caraku.Dia mempermainkan kehidupanku dengan caraNya. Apa yang salah? Mengapa aku tak bisa bersikap adil atas semua permainan ini? Apakah karena Dia sebegitu Maha besarnya dibandingkan aku yang kecil bak aku melihat debu ditanah? Lantas kenapa juga aku yang sadar atas kekerdilan tubuh ini masih juga berani melawanNya. Karena, aku, manusia. Bukan malaikat. Bukan juga iblis. Tapi, sebentar, bukankah Iblislah satu-satunya makhluk yang berani menentang TuhanNya? Benarkan? Iblis kan? Hanya iblis?
Akhirnya aku tersadar, aku bukan lagi manusia, aku telah berada dalam golongan iblis, budak iblis, hamba iblis, yang lemah dan hina. Aku kemudian bertekuk lutut, takluk, dan menjatuhkan kepalaku ke tanah. Meski tak ada tanda air mataku yang jatuh walau sebulir. Mungkin aku masih marah, mungkin juga, aku masih belum menjadi manusia kembali. Manusia, yang punya rasa sedih, lalu menangis. Manusia, yang punya rasa takut, lalu berlindung. Manusia yang punya rasa lemah, yang selalu meminta kekuatan. Manusia, aku bukan manusia. Meskipun aku saat ini menulis, aku tak yakin, aku bukan manusia, atau masih manusia.

Aku pergi, berlalu, setelah banyak debu di jidatku. Tak ku seka, ku biarkan menempel. Bukankah kotornya debu yang menempel masih lebih suci daripada jiwaku, perbuatanku? Aku pergi, aku berlalu. Entah kemana aku pergi, dunia ini bukan milikku. Terpaksalah aku, mengikuti permainanNya. Hingga aku berhenti sampai disini.

Senin, 22 April 2013

Negeri Para Bedebah

Thomas, seorang konsultan keuangan terkenal baru saja pulang ke Indonesia dari seminar keuangan yang diikutinya bersama dengan para konsultan keuangan dunia, tiba-tiba mendapat kabar penting dari keluarganya. Tante Liem, istri om Liem, yang sejak kecil membantu merawat Thomas, selepas meninggalnya kedua orang tuanya, jatuh sakit. Thomas yang sudah sangat lama tidak bertemu dengan Tante Liem, dengan berat hati, pergi untuk menemui beliau yang sedang terbaring di rumah. Rasa berat hati Thomas disebabkan karena ia harus beretemu dengan Om Liem, orang yang paling tidak ingin ia temui selama ini setelah kejadian besar yang di hadapi oleh kedua orang tuanya. Setelah thomas menjenguk Tante Liem, ia pun menjadi tahu apa penyebab jatuh sakitnya Tante Liem. Tante Liem jatuh sakit, karena mendengar kabar, akan bangkrutnya Bank yang di miliki dan dikelola oleh Om Liem, dan dampak dari kondisi tersebut, Om Liem akan di bawa polisi, ditangkap. Thomas yang dalam kondisi ini tidak ingin membantu Om Liem mau tidak mau terpaksa harus membantu, bukan karena Om Liem tetapi karena tante Liem. Bank Semesta, nama Bank yang sedang dalam kondisi krisis, dimiliki oleh Om Liem. Karena persoalan ini pula, Om Liem akan ditahan oleh pihak kepolisian. Sebagai konsultan keuangan profesional, Thomas tak mau tinggal diam melihat kondisi ini, ia mencoba sekuat tenaganya untuk membantu, meski itu adalah keterpaksaan, hanya karena balas budi tante Liem ia mau berbuat demikian. Thomas merancang strategi dan skema penyelamatan Bank Semesta dan juga Om Liem. Thomas membawa kabur Om Liem, sehingga mereka berdua menjadi buronan kepolisian. Thomas, yang bergabung dalam sebuah klub tinju, yang beranggotakan para profesional dari berbagai bidang, beruntung, karena ternyata pelariannya di lindungi oleh beberapa temannya di klub tinju. Bukan karena Thomas anggota klub tersebut, melainkan karena Thomas menjadi jawara di klub tersebut dan disegani beberapa lawannya yang teman-temannya di klub tersebut. Thomas mempunyai waktu yang sangat singkat, ia butuh waktu dua hari untuk menunda terjadinya penutupan Bank Semesta. Dalam pelariannya ia juga dibantu oleh Julia, seorang jurnalis dari majalah terkenal yang dijanjikan sebuah tawaran berita  paling menarik, karena Thomas memegang informasi mengenai Bank semesta dan juga seluk-beluk perbankan yang hampir bangkrut tersebut. Selain Julia, thomas juga melibatkan beberapa anggota setianya di kantor, salah satunya adalah Maggie, sekretaris kepercayaan Thomas, yang membantu memberikan informasi dan mengurus segala keperluan Thomas dalam pelarian. Tujuan Thomas dalam penyelamatan ini adalah bertemu Menteri keuangan, anak sang pemimpin partai besar yang punya kuasa dalam menentukan penyelamatan Bank Semesta dan juga mengubah opini media massa yang memberikan informasi kepada publik. Ditengah upaya pelariannya Thomas bertemu segala bentuk rintangan dan halangan, termasuk bertemu dengan dua orang penting yang telah menghancurkan keluarga Thomas, membunuh kedua orang tuanya. Berhasilkah Thomas?

Buku Negeri para bedebah ini, menyajikan cerita yang sangat menarik. Sejak awal membaca buku ini saya diajak untuk mengikuti Thomas, mengikuti cari ia menyelesaikan dan menjelaskan segala persolan yang dia hadapi. Buku ini juga menceritakan mengenai kondisi yang pernah terjadi di Indonesia. Kalau kita sering mengikuti berita tentang kasus Bank Century, maka buku ini adalah novel yang menceritakan bagaimana Bank century, Bank yang tutup karena bangkrut dan di duga menggunakan dana negara yang cukup besar hingga mencapai trilyunan, yang hingga kini belum bisa terungkap siapa aktor intelektual di belakangnya. Dalam buku ini sang penulis menceritakan bagaimana sebuah bank itu beroperasi, bagaimana, krisis ekonomi yang dihadapi oleh bank-bank di dunia, serta mekanisme Bail out yang selama ini mungkin kita hanya bisa mendengar atau membaca di berita elekstronik maupun cetak, tanpa kita mengerti artinya. Buku ini juga menceritakan bagaimana, para aparat, bahkan hingga sebuah partai besar pemenang pemilu dapat mengubah keputusan yang akan berpengaruh kepada sebuah bank kecil. Buku yang di tulis oleh Tere Liye ini memberikan sebuah pandangan tentang mencerna kondisi sosial pilitik dan ekonomi yang terjadi di Indonesia. Tema yang sebenarnya jarang diangkat atau mungkin jarang saya baca dan temui di antara buku-buku yang ada di Indonesia.

Bagi kamu, yang tertarik membaca buku ini, silahkan membaca dan merasakan bagaimana buku ini mengajak kita, berlari-lari mengejar waktu.

Minggu, 21 April 2013

Uang siapa?

"Ini uang siapa? Darimana? Siapa yang harus bertanggung jawab atas uang ini?" Tanya pimpinan dinas pendapatan daerah. Pak Subargya. Ia telah memimpin dinas ini selama lebih dari lima tahun. Bukan instan untuk menjadi pimpinan dinas ini. Karirnya ia rintis sejak awal masuk pada dinas ini. Mulai dari menjadi pegawai harian, bulanan, hingga ia ditetapkan menjadi pegawai tetap. Ia meniti karirnya dengan pendidikannya dan kerja keras. Terpilihnya ia sebagai pimpinan tak lepas dari performa kerja yang ia jalankan selama bertahun-tahun. Prestasinya dalam mendongkrak pendapatan daerah dari pungutan retribusi dan pajak selalu berhasil. Para pengusaha nakal yang ingin usahanya lancar dengan cara suap, sudah lelah menghadapi bargya, bagi mereka ia bak malaikat penjaga pintu neraka. Kejam, tegas dan tak kenal kompromi. Kalau salah, harus dihukum, menghindari pajak, tak membayar retribusi maka tahu sendiri akibatnya. Ia, pak Bargya, tahu betul bagaimana mencari uang yang "halal". Ia bahkan tak berani menerima suap sekecil apapun itu. Baginya integritas, jauh lebih penting dari pada popularitas. Ditempat tinggalnya jayapura, hampir semua orang mengejar popularitas, popularitas ada karena mobil mewah, rumah mewah, perhiasan mewah, segala hal yang berhubungan dengan kemewahan. Negeri yang rata-rata masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan ini begitu silau dengan harta. Maka siapapun yang berjalan dengan penuh kemewahan di tubuhnya, ia akan segera menjadi orang populer baru, masuk dalam tangga popularitas daerah. Hal itu, jelas dibenci oleh pak bargya. Ia terkenal, masuk dalam tangga popularitas, bukan karena kemewahan hartanya  melainkan karena kemewahan prestasinya, kecerdasannya dan mewahnya ia dalam membantu sesama.
Seisi kantor akan heboh karena adanya berita ini. Laporan keuangan bulanan mendadak menjadi ganjal, ganjil. Tak seperti biasanya, ada pemasukan, tapi uang  begitu besar masuk memenuhi ke dalam rekening. Rekening pun mendadak menjadi gendut. Sebagai pimpinan, tentu saja pak Bargya tahu ada ketidakberesan. Capaian realisasi target yang dibuat tak mungkin secepat ini tercapai. Dalam perhitungannya, paling lambat dua tahun daerah mencapai target sebesar itu. Sedangkan target lain, akan di capai paling lambat enam bulan. Baru sebulan mereka bekerja, capaian target itu sudah terpenuhi, bahkan melebihi target. Tak logis, tak bisa dipercaya. Pasti ada dana siluman yang nyasar masuk didalam rekening dinas mereka. Hartoyo, bendahara dinas meyakinkan kepada pak Bargya bahwa benar dana tersebut ada. Tapi tak jelas ia masuk darimana. "Kemarin saya sedang mempersiapkan laporan triwulan pak, untuk dijadikan alat analisa perkembangan target dan untuk keperluan evaluasi, namun saya menemukan hal ini" sambil menunjukkan laporan keuangan triwulan kepada pak Bargya. "Saya juga kurang tahu pak kenapa pada sektor pajak, kita mendapat pemasukan yang sedikit, namun pada pos retribusi dana kita membludak. Tidak seperti biasa ini pak, program pengetatan retribusi di area pariwisata, pasar, dan juga area mall, tak mungkin bisa mencapai angka segini." Hartoyo masih berusaha keras menjelaskan kondisi kepada pak Bargya meski ia sendiri masih bingung dengan kondisi ini. "Kalau begitu, coba ditelusuri dengan baik, darimana ini bisa muncul angka sebesar ini. Besok kumpulkan kepala-kepala bidang, tolong sampaikan pada Roberth. Buat jadwal, besok pagi kita rapat. Seluruh kepala bidang dan seksi harus hadir. Kecuali mereka mau masuk penjara beramai-ramai." Pak Bargya kembali menyeruput teh manis yang sudah mulai mendingin di meja ruang tamunya. Hartoyo pun menutup lembaran buku keuangan, dan ikut menikmai hidangan teh serta pisang goreng bersama pak Bargya. Sore yang seharusnya tenang dikediaman pak Bargya, menjadi terganggu dengan berita yang baru saja dibawakan oleh Hartoyo ke kediamannya.
****
"Memangnya kamu siapa? Enak saja, kamu pikir uang akan datang sendiri ke kamu? Kerja saja tidak. Bikin malu diri sendiri. Nanti kalau sudah begitu baru mengoceh bilang, kalau pendatang datang ke sini bikin kacau daerah lah, bikin kabur air lah, bikin persaingan tidak sehat lah, padahal kalian sendiri yang tidak mau menunjukkan diri. Bahwa saya itu rajin, saya itu tidak kalah dengan pendatang. Bikin malu diri. Sudah dikasih kesempatan, dikasih pekerjaan, tapi datang kerja saja, tidak. Dasar pemalas." Soni, mengeluh pada Marni rekan kerja disampingnya. Ia sebagai anak putra daerah kesal dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang sedaerahnya. Putera daerah. Menurutnya orang-orang putera daerah itu memalukan. Hanya bisa berbicara, tapi tak mau bekerja. Sebagai putera daerah, ia menganggap kalau pendapat pendatang dan putera daerah selalu mengalami ketimpangan dalam dunia kerja, dimana selama ini para pendatang lebih baik saat melakukan pekerjaan, karena mereka pendatang, itu salah besar. Menurut ia, Soni, putra daerah lah yang kurang tahu diri. Sudah diberi kesempatan, tapi malas-malasan, tak mau bekerja, maunya,uang datang mengetuk pintu-pintu rumah mereka. Sungguh perbuatan yang mencederai pandangan mengenai putera daerah. Keberhasilan daerah itu ada ditangan putera daerah dan juga pendatang. Seharusnya putera daerah juga punya andil yang lebih besar daripada pendatang. Kesadaran yang besar, kepedulian yang besar terhadap daerahnya. Menjadi tuan dinegeri sendiri adalah menjadi contoh bagi para pendatang yang ada. Menunjukkan bahwa, putera daerah dapat berkarya lebih, prestasi lebih bukan sebaliknya, hanya duduk manis, uang datang. Bak raja yang menunggu upeti-upeti rakyat datang, mengeyangkan perutnya hingga gendut. Marni, sambil mengetik, menatap layar komputernya dengan teliti hanya bisa berdengung menanggapi keluhan Soni. "Hhmmm...". Sesekali ia mengiyakan ocehan Sony dengan kalimat " itu sudah." Namun tetap fokus pada pekerjaannya sebagai sekretaris dinas. Masih pagi, mereka berbincang sambil melakukan tugas masing-masing. Multitasking. Bagi mereka berbicang sambil bekerja mampu mengurangi tekanan dalam bekerja, stress dengan pekerjaan yang mereka hadapi. Konsentrasi mereka pun juga tentu menurun. Hasilnya, kerjaan lama selesai. Kerjaan cepat juga tak banyak berarti. Lambat asal selamat, itu prinsip mereka. Marni sangat memahami perasaan Soni, segala kerja kerasnya dalam membangun citra baik, tekun, disiplinnya putera daerah, dikacaukan oleh perilaku segelintir oknum yang memang putera daerah.
*****
Tulisan lama, tak selesai, jadi harus diselesaikan saja disini, daripada di simpan jadi draft, hehe, dipublish sajalah. 

Pantai Depapre

Kemarin, saya bersama mama, Ian dan Tasya pergi ke sebuah pantai. Pantai Depapre, begitu awalnya Ian memberi tahu kepada saya, tentang rencananya. Pergi ke pantai Depapre adalah tujuan ia dan teman-temannya, teman-teman KKN lebih tepatnya. Ian, baru saja menyelesaikan salah satu kegiatan perkuliahannya di fakultas pertambangan Uncen, yakni KKN, Kuliah kerja nyata. Pergi ke pantai Depapre, ialah dalam rangka merayakan telah selesainya KKN. Saya juga bingung, kenapa harus dirayakan di pantai?

Libur, hari minggu, daripada tidak melakukan kegiatan apa-apa dirumah, akhirnya saya mau ikut dalam bagian rencana Ian, tentu saja ebrsama mama dan Tasya. Kami pun pergi ke pantai. Pantai Depapre, begitu namanya, pantai ini, terletak di kabupaten Depapre, Jayapura. Kalau dari Jayapura, kita harus menempuh perjalanan darat, melewati kabupaten Sentani, Doyo, Dosai, lalu Depapre. Salah satu pantai yang terkenal di Depapre, namanya pantai TablaNusu. Tujuan kita kali ini bukan pergi ke Tablanusu, kata salah satu teman Ian, ini pantai baru. Belum banyak orang yang tahu, belum banyak juga yang mengunjungi. Wuih, dalam benak saya langsung muncul, ekspektasi, wah mungkin bakal keren ini pantai. Apakah pantai ini sebagus pantai Harlen? ya pantai harlen juga salah satu pantai terbaik di Jayapura yang pernah saya kunjungi, sampai sekarang, rasanya belum ada pantai sebagus itu yang saya temui, selain Harlen. Dimulai pukul 9.00 WIT, kami berangkat dari rumah, singgah sebentar di rumah teman Ian, untuk mengambil beberapa makanan yang telah disiapkan sebagai bekal di pantai. Dalam kelompoknya ini, Ian, beserta teman-teman KKNnya ternyata mempunyai tugas kecil-kecilan, ya bisa dibilang panitia, pembubaran kelompok pasca KKN, dimana mereka masing-masing membuat makanan, memesan mobil yang akan mengangkut mereka, dan mencari tempat atau lokasi mereka "menghabiskan" waktu bahagia mereka ini. Di salah satu rumah teman IAn, di Hamadi, kami mengambil makanan, nasi, lauk, dan juga sayuran, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh mereka. Setelah dari tempat makan itu, kami melanjutkan perjalanan, bersama tambahan penumpang di mobil, dua orang teman Ian. Perjalanan kami berhenti, di Uncen tepatnya di fakultas kedokteran. Ternyata disana, makanan di turunkan, dan dimasukkan ke bus, yang angkat mengangkut mereka hingga ke pantai. Di sana juga banyak teman-teman Ian lain yang berkumpul. Jam 10 WIT, belum juga berangkat, padahal sesuai pesan, SMS, jika peserta terlambat kumpul, jam 8 WIT, bus jalan, meninggalkan yang terlambat. Kenyataannya berbeda. Bus, menunggu para peserta. Ada dua Bus yang menanti dengan entah setia entah bersungut, peserta yang terlambat. Akhirnya, jam 11, baru bus, berangkat, saya, Ian, mama dan Tasya, berangkat mendahului bus, karena kami harus mengisi bensin mobil yang kami gunakan, terlebih dahulu. 

Perjalanan menuju Pantai Depapre kurang lebih membutuhkan waktu selama dua jam. Kondisi jalan setelah melewati Sentani, tidak begitu baik, banyak jalanan yang belubang-lubang, sehingga kita perlu lebih berhati-hati dalam mengendarai mobil.Setelah melewati tulisan selamat datang di kabupaten Depapre, lantas iringan mobil kami, bersama dua bus, mengambil jalan ke kanan. Kalau perjalanan kami lurus tanpa mengambil jalur ke kanan, kami pergi ke arah pantai Harlen dan juga Tablanusu. Jalan menuju ke pantai Depapre, menanjak. Kondisi jalannya tetap sama, berlubang, disana-sini. Setelah sabar melewati jalan tersebut, kami sampai di pantai Depapare. Mobil dan Bus, kami parkir diatas, karena untuk sampai ke pantai Depapre, kami harus jalan ke bawah, menuruni, bukit kecil. Sesampainya di pantai, ternyata saya mendapati kenyataan, bahwa ekspektasi saya tentang pantai baru buyar. Ternyata pantai ini, hampir sama seperti pantai Tablanusu, pasirnya hitam, bukan putih seperti pantai Harlen. Namun okelah, tinggal di Jayapura, dan menemukan pantai dengan pasir hitam, itu adalah suatu hal yang berbeda, karena pada umumnya pantai disni punyai pasir putih. 

Hal yang menggelikan lalu muncul ketika kami sampai di pantai, untuk menyebrang ke tempat kami berteduh nanti, kami harus melewati sebuah kali kecil. Pantai Depapre ini, adalah pantai yang mana terdapat aliran air dari kali yang langsung menyambung ke pantai. jadi ada pertemuan air tawar dan air asin. Dari sini lantas saya mulai paham mengapa ada ungkapan air itu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, dari kali hingga ke laut. heuheuheu. Kami menyebrang menggunakan dua cara, pertama menggunakan perahu kecil, yang kedua kami harus melewati jembatan kecil yang tersusun dan terikat dari bambu. Beberapa teman-teman ian sudah menyebrangi kali kecil, karena mereka sudah tidak tahan untuk menyentuh air laut yang bercampur dengan air kali. Sedangkan beberapa lainnya memilih untuk menyebrang menggunakan perahu kecil, agar tidak basah. Sesampianya di tempat berteduh, barulah mereka mulai mengganti pakaian dan juga ikut mand-mandi. Peraturan kecil dibuat oleh mereka, yang menaiki perahu, hanya perempuan, ibu-ibu dan makanan, laki-laki, apapun kondisinya harus melewati jembatan. Bisa berenang atau tidak, semua laki-laki lewat jembatan. Tak jarang juga ada beberapa laki-laki yang jatuh, termasuk saya. Awalnya sih, saya sudah berhasil berjalan hingga ke tengah jembatan, dengan hati-hati dan memegang kedua sandal saya, sambil menjaga keseimbangan tubuh. Naas, di akhir jembatan, ketika sudah sangat dekat dengan daratan, salah satu bambu yang saya pijak, ikut turun kebawah air, mungkin karena berat badan saya yang terlalu berat, akhirnya saya hilang keseimbangan dan jatuh dengan badan bagian kanan terlebih dahulu di air. Basah deh. Mungkin karena saya tidak mengindahkan usulan Ian, yang sebelumnya sudah mengusulkan kalau mendingan saya naik saja itu perahu daripada basah. 

Hampir empat jam kami di pantai Depapre ini. Kono, pantai ini adalah pantai "pribadi" bukan pantai yang diperuntkkan untuk umum. pantas saja tidak banyak orang yang datang ke pantai ini. Selama di pantai, banyak aktivitas yang dilakukan oleh kami, ada yang bermain sepak bola, mandi di air kali, makan-makan, bakar ikan, bermain gitar dan bernyanyi, juga foto-foto. Kata salah seorang teman Ian di pantai ini, sangat bagus pemandangan di sore hari. Karena kita bisa melihat Sunset di antara dua gunung. Sayang sore kemarin, ada gumpalan awan yang cukup tebal, sehingga keindahan sunset itu tidak terlihat. Saya, tidak ikut maen sepak bola, tidak ikut mandi-mandi, tidak ikut bakar ikan, bergamain gitar dan bernyanyi. Saya, hanya ikut makan-makan, dan foto-foto. heuheuheu. Sebenarnya saya ingin menjaka beberapa teman saya juga ikut ke pantai ini, untuk mengajarkan saya cara memotret dengan baik dan benar. Namun saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengajak mereka. Saya bersyukur sekali pemandangan yang indah itu tidak muncul, sore kemaren. Kalau muncul, saya tidak bisa membayangkan bagaimana menyesalnya saya karena tidak bisa memotret dengan baik dan benar keindahan sunset itu. Banyak sekali obyek foto yang saya ambil secara "asal-asalan". Mungkin itu sudah jadi resiko orang, yang bisa memotret tapi tidak bisa memotret dengan baik dan benar. Hasilnya pun tak bagus. Mungkin juga hal itu yang membuat saya ditakdirkan datang ke pantai yang tak sebagus Harlen. Coba kalau saya ke Harlen, pasti mubazir sekali itu pemandangan, tidak mampu dilukiskan dengan cahaya kamera yang saya pegang. heuheuheu. 

Setelah lama kami beraktivitas di pantai, akhirnya kami pulang. Dengan membawa kenangan masing-masing, di benak setiap orang. Ada yang bisa di bawa pulang dalam bentuk foto ada juga yang cuma bisa di bawa pulang, bersama dengan isi otak dan disimpan di alam bawah sadar. 



Kamis, 04 April 2013

Teman sejati di kala sendiri

Sudah sebulan saya di jayapura. Seharusnya sudah berbulan-bulan disini namun baru kesampaian pulang bulan lalu. Ngapain? Apalagi kalau bukan mengumpulkan data buat thesis. Iya, tahun lalu saya kesini mengambil data untuk thesis, sayang data tersebut tak berbuah hasil. Thesis saya mengambang, tak selesai. Hingga akhirnya mengharuskan saya mengambil data lain untuk menyelesaikannya. Sayangnya waktu yang butuhkan terlampau lama, satu tahun.

Tak ada pekerjaan lain yang bisa saya lakukan disini selain mengambil data di tempat penelitian. Kerja tak ada, mau bersosialisasi, teman-teman akrab saya sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang kerja, ngurus istri, anak, dan ngurus diri sendiri yang tak kunjung benar. Akhirnya waktu untuk bersua hanya sebentar. Tak seperti dahulu, ketika saya disini, di kota kelahiran dan dibesarkannya saya, sosialisasi masih menjadi hal yang menyenangkan. Sekarang semua jauh berubah, berbeda. Waktu telah mengubahnya. Jadi, kerjaan saya disini ya bengong, kalaupun ada, saya jadi supir, dari pagi hingga malam. Mengantarkan adik saya sekolah, mama saya kantor, jemput adik sekolah, jemput mama kantor, antar bapak kuliah, ngajar, tugas, atau beraktivitas. Beruntunglah, saya masih punya minat baca (baca:suka membaca). Dari Jogja saya membawa tiga buah buku bacaan, satu majalah, dan tiga buku teori untuk penelitian. Jadi, disini saya membaca buku-buku tersebut. Habis baca buku-buku tersebut, saya yang masih diberikan uang sama orang tua (meski tak pernah meminta, kecuali untuk isi bensin mobil pa bos) suka pergi ke toko buku. Cari buku bacaan. Beberapa buku sudah pernah kan saya tulis resensi kecil-kecilannya di blog ini? Udah baca? (Berasa ada yang baca ini blog)

Sebulan sudah dan ternyata ditengah kesibukan saya (sok sibuk padahal cuma jadi supir) saya bisa membaca buku dan menyelesaikan buku-buku tersebut. Meskipun ada beberapa yang tak ku selesaikan (sengaja tak diselesaikan karena susah dicerna). Ibarat makanan, ada makanan yang mudah dicerna  ada yang butuh usaha sedikit, dan ada yang butuh usaha besar untuk mencernanya, itulah buku-buku yang saya baca dan beli. Diantaranya yang butuh usaha besar untuk dicerna, buku Casual vacancy, Amba, lauh mahfudz dan bedil, kuman, baja. Kalau judul yang terakhir disebut memang bacaan non fiksi, jadi bacanya sambil berfikir, karena berhubungan dengan sejarah masyarakat dunia. Selain itu fiksi, namun karena penulisnya adalah para penulis handal dibidangnya jadi bahasanya agak "membingungkan" saking handalnya saya tidak mengerti beberapa cerita didalamnya. Namun buku-buku itu akan saya baca lagi ketika frekuensi baca saya sudah kembali pada kondisi normal. Maklum saat ini kondisi baca saya memang rendah. Tak seperti beberapa tahun lalu. Karena saya lebih suka menghabiskan waktu maen game online dan memikirkan thesis (seandainya saya menulis tak hanya memikirkan).

Sore tadi, hadir buku yang baru saya beli, berjudul Pulang, setelah saya menyelesaikan buku Kala kali, buku duetnya penulis gagas dan Negeri para bedebah (yang masih menggantung) serta mitos dan fakta kesehatan. Nanti kedua buku (kala kali dan negeri para bedebah) tersebut saya resensi ya. Tunggu saja (masih berbaik sangka ada pembaca blog). Masih sore tadi, ada kutipan bagus dari akun nulisbuku yang saya follow di twitter, bunyinya seperti ini: " Membaca membuat kita sadar bahwa kita tak sendirian" saya memilih kutipan ini sebagai kutipan terbaik hari ini. Ya benar, selama membaca saya merasa asik dengan penulis buku tersebut. Rasanya, ia sedang berbicara dengan saya, bercerita dan uniknya saya sabar dalam menyimaknya. Kadang saya tersenyum, marah, bahagia, bingung, dan tertawa karenanya. Benarlah adanya, buku itu teman sejati. Membuat kita merasa tak pernah sendirian. Setia menemani kesendirian, penantian, maupun kebimbangan ditengah kesepian juga keramaian. Entah apa jadinya kalau saya tidak punya buku dan tidak punya minat membaca buku, mungkin saya selalu merasa sendirian. Tak ada teman, karena berbeda kepentingan.

Selasa, 02 April 2013

Persipura Mania yang tidak mania

"Persipura Jayapura, kaptennya, Boas Sallosa, ku yakin, hari ini, pasti menang. Ayo-ayo. Persipura".

Yel-yel, sorak sorai teruntuk Persipura itu selalu terdengar jika pertandingan laga kandang Persipura di stadion Mandala, Jayapura. Bagi penggemar sepakbola tanah air, Persipura Jayapura, bukan tim sepakbola yang asing. Sudah banyak yang mengenalnya. Bahkan, tim berjuluk mutiara hitam ini menjadi salah satu klub sepakbola yang diwaspadai oleh klub-klub sepakbola lain yang ada di Indonesia. Prestasi Persipura pun begitu baik. Tiga gelar liga Indonesia telah disandangnya. Dari keseluruhan kerja keras tim kebanggaan masyarakat Papua ini, tak lepas dari dukungan penggemar atau supporter setianya Persipura Mania.

Namun, berbeda dengan supporter yang ada di Indonesia, supporter Persipura tidak semania supporter lainnya. Entah kenapa. Coba kalau kita lihat Persija, Arema, Persela, Persebaya, Sriwijaya, Persib atau tim-tim yang ada di luar Papua, fanatismenya terhadap sepakbola begitu besar. Saya sempat berdiskusi sama Pa bos, kenapa ya Persipura mania itu tak seperti supporter lainnya. Kalau di stadion mandala Jayapura, tak pernah ada ceritanya stadion di penuhi warna merah hitam lantas sekumpulan manusia itu bergoyang, berdiri dan melakukan gerakan yang sama sambil menyanyikan lagu, meneriakkan yel-yel dukungan untuk Persipura. Kebanyakan yang saya lihat, hanya seperti kumpulan penonton yang sedang menyaksikan pertandingan layaknya menonton di televisi. Makan kacang, minum minuman, lalu sambil bercerita tentang jalannya pertandingan bersama penonton disebelah, depan atau dibelakangnya. Sesekali melontarkan makian dan teriakan histeris jika terjadi gol.

Sore ini, saya menonton langsung pertandingan Persipura vs Persija. Di stadion, penonton tak ramai. Biasa saja, namun tak juga sepi. Tak tahu apa penyebabnya. Hal yang paling mengecewakan saya bukanlah permainan Persipura yang jelek atau Persija yang bagus atau sebaliknya. Melainkan sikap supporter yang sama sekali tidak menunjukkan kepeduliannya dalam mendukung total Persipura. Satu kejadian tadi misalnya, seorang Patrich Wanggai, beberapa kali mendapatkan kesempatan, peluang untuk mencetak gol namun gagal memberikan hasil buat Persipura. Apa yang dilakukan oleh Persipura mania sungguh membuat saya ingin marah. Mereka meneriakkan kata "Ganti, ganti, ganti, ganti." Tentu saja hal ini sungguh aneh dan mengecewakan. Seorang pemain yang seharusnya mendapat dukungan dari supporternya malah mendapatkan caci maki hingga meneriakkan kata ganti yang ditujukan pada pemain tersebut. Jelas mental dari pemain akan jatuh, apalagi teriakan itu dilontarkan di kandang, dan dari Persipura Mania. Seharusnya para supporter memberikan motivasi agar si pemain tersebut bisa mencetak gol. Menaikkan moril sang pemain. Mendukung hingga si pemain diganti pelatih. Selalu memberikan kesempatan bukannya tekanan yang berlebihan. Heran, sungguh mengherankan. Kalau si pemain mencetak gol ia dipuja-puji dengan kata-kata yang berlebihan. Namun ketika pemain tidak dalam performa terbaik, atau sedang mencari bentuk permainannya kembali, supporter yang seharusnya turut membantu, malah memberikan kata-kata yang sangat menyakitkan seperti itu. Ya, oke, katakanlah itu sebagai sebuah pelajaran berharga. Dengan melontarkan kata tersebut agar sang pemain bisa berubah di kemudian hari. Namun sebagai supporter kita harus mendukung sepenuhnya apa yang terjadi pada tim kesebelasan Persipura termasuk sang pemain. Bukan menjatuhkan mental pemain kita sendiri. Kejadian ini hanya akan memberikan keuntungan bagi lawan. Karena ternyata mendapatkan dukungan dari supporter yang bukan supporternya, secara tidak langsung. Mental pemain yang jatuh teraebut dapat dimanfaatkan untuk semakin mengacaukan permainan tim Persipura. Alhasil, hasil yang didapatkan sore ini tidak maksimal. Supporter yang seharusnya paling pantas mendapatkan kepuasan gol yang bisa lebih dari satu akhirnya harus puas dengan kemenangan satu gol dari titik penalty yang dicetak oleh kapten tim Boas.

Ketidakkompakan dari supporter, dan kecenderungan menjadi penonton saja tidak menjadi supporter sekaligus penonton membuat saya berfikir, apakah pantas Persipura Mania disebut Persipura Mania. Beri saja gelar Penonton Persipura. Daripada menamai Persipura Mania tapi tak ada manianya sama sekali dengan tim. Ya kalaupun ada hanya sedikit dan segelintir saja. Payah. Maaf, ini sekedar opini saya saja. Kadang saya membayangkan andai saja tak ada alat semacam drum yang ditabuh saat pertandingan berlangsung di stadion mandala, pasti sepi. Tak ada yel-yel dan juga lagu-lagu yang menyemangati tim Persipura. Sehingga Persipura benar-benar main sebelas pemain. Tak ada pemain kedua belas, yakni supporter setianya.

Rabu, 27 Maret 2013

Dikibulin tukang kibul

"Emang enak dikibulin?" Familiar kan pasti ditelinga kita atau pandangan kita ungkapan tersebut? Responnya pasti beragam. Ada yang merasa sakit hati, kesel, jengkel namun juga ada yang merasa senang, bahagia. Tak jarang juga ada yang masing bingung dikibulin. Sore ini saya dikibulin oleh seseorang. Erikarlebang namanya. Dia bilang bahwa dia itu emang tukang kibul. Nah, saya merasa tidak dirugikan olehnya, malah merasa tercerahkan, sedikit. Awalnya saya mengikuti (baca: follow) akun twitter @erikarlebang. Saya mengikuti akun tersebut karena direkomendasi oleh penulis. Memang akun twitter saya (yang baru) hanya mengikuti para penulis. Singkat cerita saya mengikuti tema-tema oleh para penulis. Erikarlebang ini sering menceritakan tentang kesehatan. Pola hidup sehat dan yang paling membuat shock saya adalah kibulan tentang susu. Kata dia, anak sapi aja udah ga menyusui ibunya lagi ketika besar, masa manusia ngotot menyusu pada ibunya (sapi). Kira-kira begitulah. Lantas saya mulai terheran-heran, ada apa dengan susu sapi. Selain keanehan susu sapi yang dijelaskan lewat twit-twitnya, saya juga mulai familiar dengan kalimat food combining. Apa itu? Entahlah, yang jelas saya penasaran bukan main. Saya ikutilah lebih lanjut penjelasannya. Tapi tetap juga tidak mengerti. Hingga beberapa followernya, memberi testimoni tentang buku yang dia tulis, tentang food combining. Agak jenuh membaca bacaan fiksi, akhirnya ketika menemani adik saya ke toko buku untuk membeli bukunya, saya mulai mencari buku food combining tersebut. Sial, buku tersebut di Gramedia Jayapura habis. Lalu saya mulai berkeliling cari-cari bukunya di rak buku kesehatan. Dan akhirnya, tetep tidak juga ketemu. Malah ketemu buku lainnya, dengan penulis yang sama Erikarlebang, judulnya Mitos dan Fakta Kesehatan. Tanpa mikir-mikir panjang, saya buka dompet, cek uang didalamnya, nah ada duit. Cukup nih buat beli buku tersebut. Belilah.

Sesuai judulnya, buku ini menceritakan mitos dan fakta kesehatan yang berbeda dari sepengetahuan orang secara umum. Pengetahuan yang tidak maen stream. Uniknya lagi diceritakan oleh seorang sarjana lulusan design visual. Itu sebabnya dikatakan setiap pembahasannya dengan kibulan. Meski ia bukan lulusan kedokteran atau ahli gizi, Erikar, hidup dalam lingkungan dokter. Ayah dan kakeknya dokter . Lingkungan dokter itu mempengaruhi dirinya yang kemudian akrab dengan persoalan kesehatan. Kibulan-kibulan yang disampaikan memang detail. Sia juga tidak hanya "nyerocos" begitu saja tapi punya rujukan. Dibuka dengan memperhatikan kehidupan yang sehat, dimulai dari rongga mulut. Kita diajak untuk mengenali sistem pencernaan, dimulai dari mulut, lambung, hingga sistem pencernaan tubuh. Begitu juga dengan apa yang kita masukkan kedalam perut. Tidak boleh sembarangan, tidak boleh ngaco, jika kita ingin mendapatkan kesehatan. Persoalan sebenarnya kesehatan itu tidak melulu dari makanan, melainkan bagaimana kita memperlakukan makanan, menyeleksi dan mengatur pola makan. Hal inilah yang di ceritakan oleh Erikar dalam bukunya tersebut.

Buku ini adalah rangkuman twit-twit yang selama ini di kicaukan oleh Erikar. Meskipun twit, tulisan dalam buku ini teratur, sistematis dan rapih. Memang tak sedetail membaca buku kesehatan, gizi atau kedokteran lainnya. Membaca buku ini membuka wawasan kita bahwa ada hal-hal yang terlupakan dalam kehidupan kita, terutama terkait makanan. Rasanya akan lebih baik jika dibaca sendiri ya heuheuheu. Buku ini saya baca tidak sampai sehari. Memang buku ini ringan, karena hanya seperti obrolan. Kalau mau membuktikan kebenaran dalam buku ini, mungkin sudah saatnya mencoba beberapa tips perubahan yang ada di dalamnya. Salah satunya dengan mulai mencoba mengkonsumsi sayuran dan buah, serta protein dari hewani yang berimbang. Seperti dikatakan didalam buku tersebut, kombinasi yang baik dalam makanan diantaranya adalah pati (nasi) dengan sayuran. Protein hewani dengan sayuran. Kombinasi yang salah atau tidak baik dan tidak berguna buat tubuh adalah pati dengan protein hewani. Contoh sederhananya adalah makan nasi dengan ayam. Nah lo, bingung kan. Mungkin karena saya tidak (ingin) menjelaskannya secara detail, atau emang lebih baik baca bukunya sendiri. Heuheuheu. Kalau saya ceritain ntar ga seru. Mending baca sendiri, kalau ga bisa beli, pinjem aja, saya bersedia kok meminjamkan, asal dibalikin selesai baca. Beberapa fakta dan mitos mengenai makanan dan hidup sehat dibahas. Hanya saja penulisnya memang sudah membatasi diri dengan tidak berdebat panjang lebar dalam urusan hidup sehat ini. Kalau percaya, silahkan dicoba dan dijalani sendiri. Kalau tidak ya silahkan. Bagi yang suka membaca namun tidak begitu mempercayai isi buku ini, silahkan membaca beberapa referensi lainnya. Baik yang tertera di buku atau sumber lainnya. Jelasnya, buku ini memberikan perspektif lain bagi kita, untuk dapat hidup sehat dengan pola makan sehat dan bagaimana memakan makanan yang (seharusnya) sehat dan berguna bagi tubuh kita.

Selamag membaca, silahkan menikmati kibulan dari tukang kibul. Heuheuheu.